Wings & Dust

Wings & Dust
Kabur dari Rumah (Extra-Last)



(Lanjutan dari extra part yang sebelumnya, sekaligus extra part terakhir dari kisah ini :D)


Aku terbangun dan melihat wajah Miss Gray. Setelah aku mengumpulkan kesadaranku, barulah aku menyadari dimana aku sedang berbaring, kamarku sendiri.


"Uhh," aku mencoba bangkit dan duduk, dan Miss Gray langsung membantuku. "Pelan-pelan, Alena, kau masih belum pulih total."


"Apa yang terjadi?" Bisikku kepadanya. "Aku tak ingat apa-apa."


Ia mulai menjelaskan semuanya. Tentang bagaimana aku pingsan ditengah-tengah pelajaran. Setelah ia mengecek kondisiku, ia menduga bahwa tubuhku tak mampu menahan rasa sakit yang luar biasa. "Alena, pasti ada hal yang belum kau ceritakan kepadaku."


Aku mengangguk. "Aku akan menceritakannya padamu, Miss. Tapi sebelumnya, dimana adikku?"


***


Saat aku menggunakan kedua kakiku, punggungku lagi-lagi terasa nyeri. Aku mengerang, sambil membungkuk untuk meredam rasa sakit yang berkepanjangan ini. Aku sudah seperti nenek-nenek saja.


Aku terus berjalan melewati lorong. Kamar Lexy hanya terletak di seberang kamarku. Aku baru akan membuka pintu saat suara teriakan namaku terdengar dari arah berlawanan.


"Alena! Sini bantu Ayah!" Pria tua itu melambai-lambai tangannya, mengisyaratkanku untuk mengikutinya. Aku mendesah, kemudian menyeka keringat yang sudah membasahi dahiku. "Iya!"


Ayahku pria yang sudah sangat berumur, umurnya sudah lebih dari setengah abad. Janggutnya sudah memutih, dan kepalanya sudah dipangkas hingga botak. Hobinya adalah tidur dan pergi kerja hingga malam. Aku tidak tahu pekerjaannya seperti apa. Yang kutahu, pria yang bukan ayah kandungku itu menghasilkan banyak uang, sehingga ibu bisa menggunakannya untuk berfoya-foya, dan kami bisa tinggal di rumah besar dan mewah seperti ini.


Matanya yang sudah berkeriput menatapku dengan tajam. "Kenapa mukamu pucat sekali?"


"Bukan apa-apa," jawabku singkat. Aku kembali meluruskan punggungku, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang masih saja kurasakan. Aku tahu dari tatapan Ayah bahwa ia tidak mengetahui kejadian yang sudah menimpaku. Aku sudah berhutang budi pada Miss Gray karena tidak membuka suara.


Wanita itu tahu seperti apa Ayah dan Ibuku. Mereka adalah orangtua yang kejam, mengurungku di dalam rumah, kemudian suka memerintah dan melarangku serta Lexy.


"Bawa ini semua ke gudangku," perintahnya sambil menunjuk ke beberapa tingkat kardus yang sudah terisi. Aku tidak tahu apa isinya.


"Baik, Ayah." Aku hendak mengangkatnya, namun tubuhku tidak mau diajak kerjasama. Aku menggigit bibir bawahku karena tidak mampu mengangkat beban seberat ini. Urat di punggungku serasa sudah ditarik.


Ayah sudah memicingkan matanya. "Gak mau angkat? Malas?"


"Bukan begitu," kataku sambil memaksakan sebuah senyuman. "Akan kuangkat."


"Jangan lama-lama. Aku mau lima puluh kardus ini sudah dipindahkan kurang dari sejam. Sebentar lagi klienku akan tiba. Jangan keluar dari kamar dan menampakkan dirimu."


Hal ini sudah biasa bagiku. Aku juga tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan orang luar selain Miss Gray. "Baik, Ayah."


***


"Dua sembilan," bisikku disela hembusan napasku. Aku menoleh ke arah jam dinding dan melihat waktu yang kuhabiskan sudah lebih dari 40 menit. Kardus ini terisi oleh alat-alat aneh, mungkin penemuan lain Ayah.


Mataku mulai buram, dan kepalaku berkunang-kunang, namun aku harus segera menyelesaikan tugasku.


"Alena?" Aku menoleh dan melihat Lexy. Gadis itu juga sedang mengangkat kardus yang sama. "Kamu bodoh ya. Harusnya minta bantuanku saja."


Aku merasa lega melihat sosok penyelamatku. "Haha, aku tidak mau mengganggu istirahatmu."


"Kamu kan, masih belum pulih punggungnya," sengal Lexy.


"Kamu juga," balasku tak mau kalah.


Berkat bantuan Lexy, aku jadi lebih mudah memindahkan kardus. Hal penyemangat untukku selain kehadirannya adalah jendela kecil yang dipasang di lorong.


Jendela itu memampukanku untuk melihat dunia luar. Pohon rindang yang mengelilingi area rumah kami, serta pagar besar yang memisahkan rumah kami dengan hutan yang terletak tidak jauh dari sini. Selain dari hewan buas, pagar bercat hitam itu juga menghalangiku agar tidak pernah keluar dari zona rumah.


Lexy menyadari tatapanku terhadap jendela. "Rasanya membosankan ya, tidak pernah menapakkan kaki di luar pagar hitam itu?"


Aku mengangguk, masih memandangi dunia luar. Sekarang matahari sudah terbenam, artinya aku sudah tidak sadarkan diri selama berjam-jam, mengingat bahwa jam pelajaran Miss Gray dimulai pagi-pagi sekali tadi.


"Mana kutahu?" Lexy mengangkat kedua bahunya. "Kita cuma gadis kecil berumur 17 tahun."


"Alena!" Suara teriakan Ayah lagi-lagi terdengar. "Sudah selesai dengan pekerjaanmu?!" Teriaknya lagi.


"A-aku-" Aku menoleh ke arah kardus. Sial. Masih tersisa 5 kardus.


"Aku gak peduli kamu sudah selesai atau tidak! Segera masuk ke kamarmu! Klienku sudah sampai!" Tak lama, terdengar suara hentakan kaki Ayah yang sedang berlari ke arah pintu rumah.


"Ayo," ajak Lexy.


Saat kami ingin memasuki kamarku, aku terdiam. "Ada apa-"


Ucapan Lexy juga terpotong. Tampaknya ia juga merasakan hal yang sama.


Punggungku terasa aneh. Rasanya seperti ada yang menggelitikinya. Kulitku lagi-lagi seperti mau robek, namun kali ini terasa lain.


Aku bersandar pada dinding. Adikku itu juga melakukan hal yang sama. Kakiku tidak mampu menopang tubuhku. Kali ini aku benar-benar bisa merasakannya. Sesuatu yang mulai tumbuh.


Tanpa berpikir panjang, aku segera menarik lengan Lexy, dan berlari ke arah toilet. Aku ingin melihat apa yang kira-kira terjadi pada tubuh kami.


Kami membuka luaran baju kami, dan aku terkesiap saat melihat pantulan kaca. Sepasang sayap kecil yang terus tumbuh dan keluar dari rongga kulit.


Suara hentakan kaki tiba-tiba terdengar dari luar. "Sial," gumam Lexy.


"Alena, Ayah menyuruhmu untuk tetap tinggal diam-" Ibu terkesiap. Kedua matanya melebar, dan ia menutup mulutnya yang terbuka. "Gak mungkin," suara gumaman Ibu masih dapat kudengar. "Kalian memanglah Fae."


Lexy mengerutkan dahinya, meskipun aku dapat melihat ekspresi bahagianya sekaligus bangga terhadap sepasang sayap kami. "Memangnya kenapa-"


"Ayah! Ayah!" Ibu langsung teriak memanggil Ayah. "Ke sini! Ke sini! Cepat!"


"Ada apa?!" Aku mulai panik dan segera mengambil kembali bajuku yang sebelumnya terlempar ke lantai. "Ayah sedang sibuk-"


"Kenapa teriak-teriak, istriku?" Ayah sudah muncul. Matanya langsung menjelajahi tubuh telanjang kami, namun bukan rasa malu yang menggerogotiku.


Senyum menyeringai menghiasi wajahnya. "Sayap Fae. Bukankah itu berharga?" Pria tua itu mengarungi jarak diantara kami. Matanya masih terpaku pada tubuh kami secara bergantian, meskipun aku sudah menutupi dadaku dengan kedua lenganku. Aku tahu pantulan punggungku masih terlihat lewat cermin.


"Ma-mau apa kau?" Ucap Lexy terbata-bata. Namun Ayah tak menghiraukannya. Ia sudah seperti kerasukan setan karena terus-terusan terfokus pada punggung kami.


"Sayap. Kecil. Pasti mahal sekali," gumamnya berkali-kali. Matanya sudah berbinar-binar. "Kalian tahu apa yang sudah kalian perbuat?"


"A-apa?" Aku memberanikan diri untuk membalasnya.


"Sudah saatnya." Ayah akhirnya melepas pandangannya dari tubuh kami, kemudian meraih pisau cukurnya yang sebelumnya terletak di dekat wastafel. "Saatnya kalian membayar kebaikanku karena sudah merawat dua anak Fae."


.


.


.


Akhirnya semua extra part sudah tamat, yeyy XD. Author janji ini part terakhir, jadi gabakalan ada update lagi karena status cerita ini memang sudah TAMAT.


Catat tanggalnya ya! Season 2 tanggal 19 Oktober 2020 :) Kalian bisa klik profilku untuk membacanya nanti.



Makasih atas support2nya selama ini, dan juga likenya XD Meskipun author gapernah nagih vote, like atau komen, author mo nagihnya sekarang aja deh, hehe 😁 Selain like, kolom komentar juga sangatttt membantu author dalam memperbaiki diri, dan agar cerita ini bisa berkembang. Kritik dan saran sangat berguna guysss...


Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa di season 2!!!