Wings & Dust

Wings & Dust
Rapat Ketua Golongan



Karena hampir semua kamar sudah terisi penuh oleh para Fae yang mengungsi di istana Amarilis, Callum menyuruhku untuk beristirahat di kamar pribadinya. Tentu saja aku langsung menolak. Ia lalu menertawakanku dan berkata, "Aku harus mengurusi mayat-mayat Egleans yang bergelimpangan di depan istanaku dan baru akan kembali subuh-subuh." Ia lalu meninggalkanku seorang diri di dalam kamarnya.


Aku melongo, masih menatap pintu kamar yang sudah tertutup. Aku? Tidur di ranjang mewah milik seorang pangeran? Aku buru-buru mengusir perasaan aneh yang mulai melandaku, dan menghampiri sebuah pintu kecil di samping lemari. Benar saja, toilet, pikirku. Memangnya apa yang akan kutemui? Ruangan penuh dengan Chrysos?


Aku langsung menanggalkan pakaianku dan menghabiskan bermenit-menit di dalam bak mandi yang besar. Kemewahan ini hanya akan berlangsung selama beberapa hari, karena setelah ini aku akan kembali menjadi gadis tanpa rumah.


Faedemy sudah hancur lebur oleh api. Tempat yang kupikir akan menjadi rumahku. Kemana aku harus pergi setelah ini? Kembali ke Amalthea Halley dan menjadi tawanan Lilies karena sudah gagal mendapatkan warna sayapku? Sekarang sayapku sudah berfungsi dengan benar. Mungkin ia akan meringankan hukumanku. Setidaknya aku diberi tempat teduh nantinya.


Aku menenggelamkan wajahku ke dalam air busa yang wangi. Rambutku menjadi basah, dan ini mengingatkanku pada Fae Aqua yang tempo hari menjahiliku. Aku mengingat tubuhnya yang tak berdaya di atas lantai. Darah yang menetes keluar dari sayatan lengannya. Dan bagaimana Sana hampir mengerahkan seluruh tenaganya untuk memulihkannya. Seharusnya aku bersenang hati dan membunyikan terompet karena gadis itu hampir saja tumbang. Namun, aku malah merasa kasihan dan peduli padanya. Apakah dia berhasil mengungsi ke istana Amarilis? Saat kami sibuk melawan Egleans, Lotus sudah mampu untuk menggerakkan sayapnya, lalu terbang keluar gedung. Kuharap ia baik-baik saja.


Aku segera mengenakan pakaianku yang masih terdapat noda darah Egleans. Meskipun aku sudah mencucinya, noda tetap tidak menghilang total.


Aku kembali ke kamar dan hampir terperanjat saat melihat Fae Cosmos yang sebelumnya pernah memasuki ruangan ini untuk menjemput Xiela. Rambut pirangnya mengingatkanku pada Lilies. Aku tersadar bahwa ia mengenakan seragam pelayan. Ia pasti salah satu pelayan istana ini.


"Aku akan membantumu," kata Fae itu. Ia mulai membuka lemari dan mengeluarkan sebuah baju yang kuduga adalah milik Callum. "Karena sang pangeran tidak memiliki baju wanita, ia bersikeras untuk meminjamkan semua baju miliknya."


"Se-semua?!" Aku hampir menjatuhkan handuk yang membungkus rambutku. "Umm, kurasa aku hanya akan mengenakan pakaian lamaku."


Fae itu menatapku sedikit terkejut, dan untungnya ia mengangguk tanda mengerti. "Makanan akan segera diantar," ujarnya sebelum ia membungkuk kepadaku dan meninggalkanku seorang diri.


Ranjang ini sangat empuk dan halus. Saat aku membalikkan tubuhku, aku dapat mencium aroma bunga pada matras ranjangnya. Pipiku mulai memanas. Aroma ini adalah aroma tubuh Callum. Aku menendang-nendang selimut, bukan karena kegirangan, melainkan malu pada diriku sendiri karena lagi-lagi memikirkan sang pangeran.


Saat Fae itu sudah datang kembali sambil membawakan nampan makanan, aku segera menghabiskannya dan kembali berbaring di atas kasur. Perasaan lelah langsung menghantamku karena akhirnya aku terlelap.


***


Fae itu membangunkanku pagi-pagi. "Bangun, Miss. Rapat sebentar lagi akan dimulai."


Aku mengerjapkan mataku, lalu meregangkan seluruh otot-otot tubuhku. Tidurku bisa dibilang nyaman, meskipun kadang aroma bunga dapat tercium setiap kali aku membalikkan tubuh. Aku mengintip ke jendela dan tidak melihat adanya sinar matahari.


"Pagi sekali," gumamku malas, lalu membalikkan tubuh dan hendak memejamkan mataku lagi. Fae itu menggerak-gerakkan tubuhku. "Anda tak bisa berlama-lama. Aku masih harus memperbaiki penampilanmu. Rapat akan dihadiri oleh seluruh Ketua Golongan. Miss tentu harus berpenampilan baik dan rapi."


Aku menggeleng lemas. "Kalau begitu, aku tidak akan ikut rapat." Aku lalu membalikkan badan lagi, dan memeluk sesuatu yang sangat empuk. Aku tersenyum, lalu mendekatkan diri dan menggeliat-geliut dengan benda yang terasa empuk ini. Benda aneh ini memiliki aroma bunga, kali ini jauh lebih tajam dibandingkan matras yang kutiduri. Aku meraba-rabanya, dan mulai merasakan sesuatu yang menonjol, hampir mirip seperti otot perut seseorang.


Aku membuka mataku dan berteriak sekeras mungkin. Aku segera melemparkan bantal ke arah sang pangeran yang sibuk menertawakanku. Ia sedang menopangkan wajahnya dengan tangan kanannya.


"Kamu! Sedang apa kamu disini?!" Sudah tidak terpikir olehku untuk membungkukkan badan dan memberi salam kepada sang pangeran yang terhormat. "Ini adalah kejahatan!" Aku buru-buru menarik selimut untuk membungkus tubuhku, padahal usaha ini sia-sia dan hanya menambah rasa maluku.


Callum langsung melambaikan tangannya untuk mengusir pelayan itu yang ternyata juga menertawakanku diam-diam. Kemudian tawanya sirna dan ia berdeham, meninggalkanku seorang diri dengan Callum.


"Syukurlah kamu terbangun." Ia segera bangkit dari kasur, dan berjalan menghampiriku. "Kupikir kamu akan terus membasahi ranjangku dengan air liurmu."


Aku mendengus kesal. "Seharusnya kamu berada di ruang rapat sekarang."


"Memang." Ia melipat tangannya ke dada. "Sampai akhirnya aku tidak melihatmu. Kuduga kamu sedang tertidur pulas layaknya seorang putri raja." Ia mengedipkan matanya. "Bagaimana? Nyaman?"


Aku menjerit lagi karena kesal, lalu mengacak-ngacakkan rambutku. "Jangan lakukan itu lagi! Aku membencinya!" Aku lalu meninggalkannya dan masuk ke toilet untuk membersihkan diriku.


Lama sekali untuk sekedar membasuh wajahku yang berantakan karena ulah perbuatan Callum. Aku menekan wastafel dengan kedua telapak tanganku, dan menatap air yang mengalir deras dari kran air. Aku akan menghadiri rapat yang bisa dibilang sangat penting. Kenapa aku diundang? Aku bukanlah siapa-siapa. Aku tidak pandai berbicara di depan umum. Aku tidak memiliki informasi yang berguna yang harus kusampaikan. Kalaupun aku bersikap tenang dan pura-pura memperhatikan pernyataan yang akan disampaikan oleh masing-masing Ketua Golongan, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan menyumbangkan suaraku.


Lamunanku buyar karena suara ketukan pintu. Lalu, terdengar suara halus milik si pelayan. Rupanya ia sudah kembali. "Miss, saya sudah membawakan gaun untuk dikenakan. Anda hanya mempunyai waktu 10 menit sampai rapat dimulai."


Aku menatap diriku di cermin. Kedua lenganku kini memiliki bekas luka cakaran Egleans. Serta goresan kecil di pipi kiriku. Aku membasuh wajahku sekali lagi, lalu membuka pintu toilet.


***


Gaunku berwarna merah muda persik, dengan balutan sutra halus yang menjuntai pada rok panjangku. Bentuk gaun ini mengepas pada tubuhku, sehingga lekukan tubuhku dapat terlihat. Gaun tanpa lengan ini berleher tinggi. Aku tak bisa menahan senyumku karena pelayan ini sudah sukses mengubah penampilanku seratus delapan puluh derajat.


Si pelayan menuntunku melewati lorong luas dan panjang ketika akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu. Suara khalayak sampai bisa terdengar dari luar ruangan. "Silahkan." Ia membukakan pintu untukku sambil membungkukkan badan.


Bak seorang putri raja, aku mengepakkan sayapku dan terbang rendah memasuki ruangan. Empat meja panjang yang disusun seperti sebuah persegi panjang terlihat di hadapanku. Di ujung sana, Callum duduk sendirian. Ia mengenakan sebuah jas yang dilengkapi oleh kerah dan segala macam perhiasan yang tergantung pada saku bajunya. Rambutnya ditata sehingga terlihat lebih menawan dan formal. Aku dapat melihat Xiela diantara orang-orang ini. Val berdiri di samping Callum, dengan postur tubuh yang tegak ia menggenggam gagang pedangnya.


Awalnya mereka semua tengah berdiskusi sebelum aku memasuki ruangan. Aku masih bisa melihat ke jendela raksasa bahwa matahari sudah mulai muncul di balik bukit, menandakan pagi telah tiba.


Sontak mereka bangkit berdiri dan mengawasiku dengan mata elang mereka. Aku tidak mengenali semua Ketua Golongan, namun aku dapat melihat Ledion diantara orang-orang yang pastinya berpangkat tinggi. Jantungku hampir terlepas saat menyadari Fae yang duduk disampingnya adalah Lilies. Kali ini rambutnya digerai dan ia mengenakan baju keperakan yang menurutku agak ketat.


Aku tetap berusaha menegakkan tubuhku sambil mendekati mereka. Callum tersenyum simpul kepadaku. Aku membungkukkan badan tanda hormat, lalu bergegas menduduki bangku terakhir yang masih kosong.


"Jadi, kita semua sudah berkumpul disini," kata Callum sebagai pembukaan. Ia segera menggerakkan tangannya, mempersilahkan para hadirin untuk kembali duduk sementara ia berdiri tegak. "Pada pertemuan kali ini, aku akan membahas mengenai insiden mengerikan yang terjadi di wilayahku kemarin."


Sontak semua orang mulai mengeluarkan suara dan pendapat mereka. Callum mengangkat sebelah tangannya. Sebuah gestur yang seringkali kutemui di Kelas Melody waktu itu. Semua orang kembali terdiam.


"Kapten Ledion disini akan menjelaskan kronologi singkatnya." Ia kemudian melirik Ledion dan mengangguk sedikit. Fae Ripper itu bangkit dari kursinya dan menjelaskan semuanya.


Saat ia yakin sudah menceritakan kronologi persis penyerangan para Egleans yang dimulai dari Faedemy, salah seorang Fae yang kuduga adalah Kapten Fire mengangkat tangannya. Rambutnya yang kemerahan terlihat mencolok di bawah penerangan lampu. "Tak bisakah kau menceritakan darimana asal usul Egleans ini?"


Beberapa orang bergumam tanda setuju. Fae Blossom di seberangku yang kemarin sempat kulihat menyerang Egleans di balkon kamar Callum juga mengangguk setuju. Rambut coklatnya hampir mengenai wajahnya.


Ledion mendesah. "Penyerangan ini dilakukan secara mendadak. Berkat pencarian yang dilakukan oleh timku, kami menduga mereka melewati Hutan Greensia, lalu menyerang wilayah Amarilis yang merupakan wilayah terdekat dari hutan."


"Tapi, kabut seharusnya melindungi wilayah Fae!" Seorang Fae Ventus memukul meja. Aksinya itu menyebabkan lembaran-lembaran kertas di meja beterbangan dan melayang-layang. "Kalau mereka bisa menembus kabut, itu artinya-"


"Artinya mereka bisa memasuki wilayah Fae kapan saja," seseorang memotong perkataan Fae Ventus itu.


Khalayak mulai membicarakan pendapat mereka masing-masing mengenai rencana rekonstruksi kabut yang melindungi wilayah Fae. Aku menggigit bibir bawahku dan melirik Xiela. Ia sedang berbicara kepada Lilies dengan suara yang tak dapat kudengar sekalipun dengan telinga lancip ini. Andaikan Naomi berada disini, pikirku bersedih. Mungkin aku bisa lebih terbuka mengenai masalah ini.


Callum lagi-lagi harus mengangkat tangannya agar orang-orang kembali terdiam. "Fae Healer sedang menggunakan waktu istirahat mereka. Sampai mereka pulih total, aku akan mengatur semuanya agar mereka dapat menciptakan kabut lagi, sekalipun itu membutuhkan waktu yang cukup lama."


Orang-orang terdiam, sibuk berpikir. Kalaupun mereka berhasil menciptakan kabut, aku tidak yakin hasilnya akan sekuat dulu. Apalagi Egleans yang sekarang sudah semakin kuat dan mampu berevolusi berulang kali. Aku menelan ludah.


"Bagaimana dengan sekolah Faedemy? Tempat itu sudah seperti tempat suci dan bersejarah bagi kaum Fae. Kita harus membangunnya kembali." Seorang Fae Light mengangkat bicara. "Dan semua kerusakan di gerbang istana. Semua yang disebabkan oleh para Egleans ini."


Terdengar bunyi desahan dari orang-orang. Suasana menjadi semakin panas. Kami semua tahu akan membutuhkan waktu yang lama juga untuk membangun kembali Faedemy. Pada saat itu, mungkin bocah-bocah yang kutemui sudah bertumbuh besar, bahkan menyaingi kemampuanku sekarang.


"Sebenarnya siapa yang menyebabkan kebakaran pada gedung Faedemy?" Fae Light itu berbicara lagi. "Dari mana gentong-gentong minyak itu berasal?"


"Siapa lagi? Tentu saja para Egleans!" Seru Fae Blossom yang tadi. "Semua kerusakan tentu disebabkan oleh mereka!"


"Apakah mereka mampu berpikir menggunakan akal logika mereka?" Fae Fire yang tadi menggelengkan kepalanya. "Maksudmu, mereka tahu cara membakar sebuah gedung?"


Aku menatap lantai sambil meremas rok halusku. Aku tidak dapat berkata apa-apa untuk menguatkan suara pendapat dari mereka. Perkataan Fae Fire itu ada benarnya. Egleans mungkin lebih kuat dan pintar dari perkiraan kita.


"Itu bisa saja terjadi." Xiela berdiri dan mengeluarkan pendapatnya. "Saat aku membantu mengevakuasi orang-orang, mereka susah untuk dibunuh. Mereka tidak dapat mati jika hanya sekedar dibakar oleh sihir apiku."


"Jadi, kita bisa menarik sebuah kesimpulan disini." Fae Fire itu berbicara lagi. "Manusia sudah semakin canggih. Kita akan kalah!" Ia mulai membuat suasana menjadi dramatis. "Kita akan kalah! Kalah!"


Semua orang mulai angkat bicara. Mereka setuju para Fae akan kalah jika harus berhadapan dengan Egleans.


"Tidak jika kita berusaha." Semua orang langsung terdiam, terkejut atas ucapan itu. Mereka menoleh kepadaku, dan menatapku seolah-olah aku muncul secara tiba-tiba di hadapan mereka.


"Tujuan rapat ini adalah untuk menyusun rencana. Bukan hanya sebatas menyerahkan diri begitu saja." Aku bangkit berdiri, kedua tangan sudah diletakkan di atas meja.