Wings & Dust

Wings & Dust
Rapat Ketua Golongan (2)



Ketua Fire itu tertawa mengejek. "Dan siapa kamu sampai bisa memberikan pendapat?" Ia menatap diriku rendah. "Gadis tanpa golongan? Siapa yang sejak awal mengundangnya untuk mengikuti rapat?"


"Aku." Semua orang langsung menoleh kepada Callum. "Aku yang mengundangnya."


Lilies langsung berdiri tegak. Kursi yang semula didudukinya langsung terpental ke belakang. "Cal-maksudku, pangeranku, kenapa Anda sampai mengundang gadis itu? Anda tentu tahu dia tidak memiliki hak untuk menyumbangkan suara, apalagi untuk sekedar berada dalam satu ruangan dengan para Ketua Golongan." Banyak yang mengangguk setuju. "Lagipula, dia bisa saja berbahaya."


"Menurutku, setidaknya ia sudah bisa menciptakan cahaya sendiri." Ledion mengangkat bicara. Aku tidak yakin ia bermaksud untuk membelaku. "Meskipun tidak ada yang mengetahui asal usulnya."


Semua orang lagi-lagi menoleh kepadaku. Aku meremas rokku kembali sambil memasang muka datar. Jadi inikah yang harus kulakukan sekarang? Membuka diri kepada mereka dan menyebarkan segala informasi mengenai kehidupan pribadiku? Atau mereka hanya ingin bukti bahwa aku bukanlah ancaman bagi kaum Fae. Aku tidak mengeluarkan suara untuk membela diriku sendiri.


"Mari kita kembali ke topik utama kita, para ketua sekalian," sela Callum sambil tersenyum. "Kita harus membahas mengenai biaya pembangunan beserta para pekerjanya. Mari kita mulai."


Dalam waktu setengah jam, Callum beserta para Ketua Golongan sibuk membahas segala hal mengenai pembangunan infrastruktur gedung-gedung yang memiliki dampak saat penyerangan terjadi. Unsur-unsur diplomatik juga sampai dibawa-bawa. Aku memijat dahiku yang terasa pusing. Bagaimana caranya Callum menghadapi pertemuan semacam ini? Tentu, ini bukan yang pertama kalinya sang pangeran mengadakan rapat pertemuan untuk menjalani tugasnya sebagai seorang pemimpin.


Seiring berjalannya waktu, aku makin tidak kuat menyerap segala informasi yang disampaikan oleh para Ketua. Sebagian berusaha untuk meyakinkan orang lain bahwa pendapatnya yang paling tepat. Sebagian tidak berani angkat bicara, mungkin karena ketegasan si Ketua Fire yang membuat semua orang menciut. Aku sudah tidak menyukai Fae itu.


Sambil membunuh waktu, aku mencoba untuk mengamati masing-masing Fae, dimulai dari yang terbawel sampai yang paling tenang dan hanya mengeluarkan suara saat dibutuhkan. Selain Ketua Fire tentunya, Ketua Light, Ketua Ventus dan Ketua Blossom memegang prinsip yang sama; yaitu menyerahkan nasib kaum Fae di tangan Dewa Pengampun. Mereka sudah sangat yakin bahwa para manusia bisa jadi melepaskan Egleans itu sebagai bahan percobaan. Mereka sangat yakin bahwa para manusia sudah menyiapkan suatu kejutan yang jauh lebih berbahaya.


"Dan apa yang membuatmu berpikir demikian?" Ketua Aqua mengangkat bicara. Ia adalah seorang pria yang memiliki warna mata biru yang sangat jernih. Aku menyukainya karena kecakapannya saat berbicara dan menyampaikan gagasannya. Suaranya tenang seperti air laut yang mengambang. "Kita belum memiliki bukti."


"Menurutku, kita harus melakukan penyelidikan secepat mungkin," balas Ketua Melody. Wanita itu memiliki suara yang merdu, bahkan saat berbicara dengan serius. "Kita harus menempatkan Fae Ripper di tiap perbatasan wilayah. Buntuti para Egleans yang masih hidup. Kita harus bisa memasuki wilayah para manusia dan menggali informasi sebanyak-banyaknya."


"Ingin berlagak menjadi mata-mata?" Hina si Ketua Fire lagi. "Bagaimana jika ini semua perangkap agar kita memasuki wilayah manusia? Sejak dulu, kaum mereka sulit untuk ditebak."


Atau mungkin kalian yang belum memahami mereka dengan baik, pikirku sambil menghela napas. Matahari kini sudah berada di atas langit dan bersinar terang. Ini sudah hampir tengah hari.


Lilies akhirnya berbicara lagi. Ia memiringkan sedikit kepalanya. "Aku setuju dengan sang Ketua Melody. Tempatkan juga gadis itu sebagai mata-mata untuk kita." Ia mengacungkan jarinya kepadaku. Aku langsung terbelalak. Callum yang sedari tadi hanya menguap sambil bersandar dan mengangkat kedua kakinya di atas meja, langsung kembali duduk dengan tegak.


"Kenapa harus Alena?" Tanyanya dengan nada tidak setuju. "Dia masih sangat muda."


"Dia tidak bisa digolongkan sebagai Fae. Dia juga tidak bisa digolongkan sebagai Egleans. Dia bisa menjadi mata-mata untuk kedua bangsa," jawab Lilies dengan tenang.


Aku hampir tidak percaya dengan perkataan wanita itu. Lilies yang sekaligus adalah Ketua Cosmos. Dia menyarankan agar aku menjadi mata-mata untuk mereka.


"Aku tidak setuju," balas Xiela. Matanya menatap Lilies dengan tajam. "Ia tidak terlatih sama sekali. Ia tidak akan siap jika harus diberi tugas seberat ini."


Lagi-lagi, alasan itu, pikirku kesal.


"Jadi, kita hanya akan mengabaikan gadis itu?" Lilies mengeluarkan suara tawa kecil. "Pikirkanlah hal ini. Pikirkanlah siapa sebenarnya gadis ini. Bisa jadi ia adalah dalang dibalik insiden ini. Menurutmu, apa alasan Egleans menyerang gedung Faedemy terlebih dahulu?" Ia melipat tangannya ke dada. "Karena gadis inilah yang memanggil dan memimpin penyerangan tersebut."


Semua orang terperanjat. Suasana sangat mencekam, dan saking heningnya, hanya terdengar suara paku yang terjatuh dari dinding.


"Aku tidak pernah mengatakan mereka menyerang Faedemy terlebih dahulu," gumam Ledion. "Dan ucapanmu agak sedikit...kelewat batas."


"Oh, yang benar saja!" Lilies berkacak pinggang. "Apakah kalian semua buta?! Peristiwa ini tidak pernah terjadi sebelumnya, dan semenjak kedatangan gadis itu-"


"Semenjak ada kehadiranmu pada tiap pertemuan, dan karena sifat jelekmu yang terus-terusan menuduh orang tanpa bukti, kita tidak bisa berpikir jelas dan tidak pernah menyiapkan rencana matang barang sedikitpun." Callum berdiri dari kursi sandarnya yang mewah, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.


Wajah Lilies mulai memanas karena malu. Meski begitu, kuhargai usahanya karena masih tahan untuk berdiri. "A-aku, kalau seandainya gadis itu...tugas ini akan membuktikan dirinya bahwa ia bukan ancaman untuk kami, sekaligus bisa membuktikan diri bahwa ia setuju bekerjasama dengan kami." Ia menelan ludah, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Silahkan menyangkal pendapatku ini."


Tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang menyangkal, namun tidak ada juga yang mendukung pendapatnya. Semua tampak sedang memutar-mutar otak mereka.


"Aku akan melakukannya."


Callum adalah satu-satunya yang bereaksi saat mendengar perkataanku. "Kau gila?! Ini sangat berbahaya untukmu!"


"Aku tahu," balasku dengan pelan. Aku menatap mata birunya, mencoba untuk menjelaskan kepadanya bahwa aku tidak takut. "Aku akan membuktikan bahwa aku dan saudari kembarku, dimanapun ia berada, kami berdua bukanlah ancaman untuk negara ini."


Aku menoleh, berusaha untuk mencuri pandangan dari masing-masing Fae yang hadir disini. "Aku Alena. Akan kubuktikan kepada kalian semua bahwa aku juga berguna."


***


Sudah berhari-hari semenjak Lexy mendarat dan memasuki istana Peri Lebah. Dan pekerjaannya sebagai seorang pelayan juga tidak begitu buruk, meskipun banyak yang memprotes karena pekerjaan mereka sangat berat.


Sebenarnya ia sudah mempertanyakan hal ini berulang kali dalam otaknya. Sang Ratu memberikannya tugas yang paling ringan. Beda dengan pekerjaan pelayan lainnya, ia hanya harus mendekorasi bilik pribadi sang Ratu, dan menyemprotkan esensi harum madu manis tiap harinya di sudut-sudut ruangan. Lalu, tiap malam, ia akan melayani sang Ratu. Ia akan memijatnya, lalu melakukan segala macam tarian atau nyanyian untuk menyenangkan sang Ratu.


Untung saja kemampuan menarinya tidak seburuk Alena. Lexy hampir tersedak mengingat memorinya mengenai suara sumbang Alena setiap kali ia bernyanyi.


Ia juga akan menyempatkan diri untuk membantu pelayan lainnya. Ia akan menawarkan diri untuk membersihkan kaca jendela, atau memangkas rumput di halaman istana yang luas yang rasanya bisa selamanya.


Ia baru saja selesai memetik beberapa tangkai bunga untuk dijadikan dekorasi di ruang kamar sang Ratu saat ia berpapasan dengan Bella. Gadis itu selalu mengenakan gaun yang lebih elegan dibanding pelayan lainnya. Kali ini, ia menutup setengah wajahnya dengan kain halus yang diikat pada telinganya. Ini membuat parasnya semakin misterius dan cantik.


"Lexy!" Sapa Bella saat ia berjalan mendekatinya. Ia tampak sedang mengendus-ngendus sesuatu, lalu matanya berbinar-binar. "Bunga matahari! Untuk sang Ratu?"


"Begitulah." Lexy balas tersenyum. "Aku harus menaruh beberapa tangkai bunga di dalam lemari bajunya." Ia buru-buru melanjutkan ucapannya saat Bella menaikkan sebelah alisnya. "Sebagai pewangi ruangan."


Bella mengangguk. "Dan kamu tampak cantik seperti biasanya." Lexy tertawa geli mendengar ucapannya. "Kau mengatakan hal itu setiap kali aku berpapasan denganmu."


Bella juga ikut tertawa. Suara manisnya sampai menggema di lorong ruangan. "Karena itu memang fakta." Ia membenarkan lengan gaunnya, lalu membuang napas. "Dan kerjaanku tiap hari cuma mengeluh karena harus mengenakan gaun panjang yang terasa gatal."


"Memangnya harus mengenakan gaun-gaun ini?" Tanyanya penasaran.


"Sang Ratu memintaku untuk melakukan ini."


Lexy mengedipkan matanya berulang kali karena terkejut. "Benarkah? Kenapa?"


"Aku tidak tahu. Aku hanyalah seorang pelayan. Aku tidak patut mempertanyakan sang Ratu." Ia lalu kembali mengelap kaca jendela yang menyuguhkan pemandangan indah dari luar. "Walau begitu, hidupku sudah sangat baik. Sang Ratu menyelamatkanku dari sang Raja."


Lexy hampir menjatuhkan bunga-bunga yang digenggamnya. "Raja? Adakah Raja Peri Lebah di sekitar sini?"


Bella menatapnya tak percaya. "Demi Dewa Pengampun," umpatnya. "Kau berasal dari mana, nak?"


"Itu tidak penting," Lexy menggelengkan kepalanya. "Siapa Raja ini? Kenapa aku baru mendengarnya sekarang?"


Bella menaruh kain yang digunakannya untuk membersihkan kaca jendela. "Raja Peri Lebah. Sarangnya terletak di pedalaman di Alther Suliris."


Lexy memutar otaknya. "Alther Suliris," gumamnya. Sebuah kota yang juga terbengkalai. Kota itu terletak sangat jauh dari Alther Suavis, dekat dengan pegunungan Arietes. Kota yang terletak jauh di barat laut Kerajaan Bougenville.


"Memangnya, ada apa dengan Raja?" Lexy tidak sempat mendengar balasan dari Bella. Gadis itu buru-buru membersihkan kaca jendela lainnya. "Sebentar lagi makan siang. Aku harus menyelesaikan tugasku sebelum Ratu sempat berjalan-jalan di lorong ini." Ia lalu terbang meninggalkan Lexy.


Lexy hanya menatap punggung temannya itu. Entah apa masa lalu yang dimilikinya, ia yakin itu adalah sesuatu yang sangat privasi. Ditebak dari raut wajahnya sebelumnya, memori masa lalu gadis itu pasti sulit untuk dilupakan.