Wings & Dust

Wings & Dust
Mella Ealark



Keesokan paginya, Lexy terbangun dari mimpi buruknya mengenai Val yang mencambuki punggungnya dengan tali rotan. Kemarin malam, Ledion dan timnya sudah memulai pencarian terhadap Callum dan Alena. Untungnya berita kehilangan sang pangeran belum menyebar. Lagipula Xiela dan Naomi tidak ingin orang luar mengetahuinya.


Lexy bermalam di salah satu ruangan di dalam istana Amarilis. Hari ini, dia beserta teman-temannya akan memulai pencarian Callum dan Alena. Lexy langsung membasuh wajahnya, kemudian berjalan secepat mungkin memasuki ruangan pertemuan.


Disana, ia sudah melihat beberapa Fae selain Xiela dan Naomi. Ia melihat seorang Fae Blossom dengan tanaman yang melilit pada kedua lengannya. Lalu ada Fae Aqua berambut hitam yang pernah menyalahkannya karena sudah merusak suasana pesta. Namanya ternyata Lotus. Kemudian ada Lilies, Fae Cosmos yang dibencinya. Perutnya melilit saat melihat Val yang berdiri tegak disamping Xiela.


Ia mengepalkan tangannya dan tanpa disadari, ia berteriak, "Kenapa banyak sekali Fae disini?! Kukira pencarian ini bersifat rahasia!"


Xiela bertopang dagu pada meja, lalu dengan malasnya menjawab, "Kita membutuhkan lebih dari seorang Fae agar berhasil. Kecuali kamu tidak ingin menemukan mereka?" Ia menaikkan bahunya. "Lagipula, aku memercayai orang-orang ini."


Lexy menghentakkan kakinya, lalu melotot kepada Val. "Aku tidak suka ini." Fae Light itu balas menatapnya dengan tajam. Lexy gemetaran, namun ia tidak suka menunjukkan sisi lemahnya di depan banyak Fae.


"Lexy, aku tahu kamu membenci Val," kata Naomi pelan sambil menepuk pundaknya. Ia sampai harus berjinjit karena tubuh Lexy jauh lebih tinggi. "Dan aku tahu kamu memiliki dendam kepadanya, namun kita membutuhkan kekuatan dari semua golongan untuk mencari mereka."


"Kenapa?" Tanya Lexy. Ia melihat ke sepenjuru ruangan, dan benar saja. Masing-masing Fae dengan warna sayap berbeda. Hanya satu golongan yang masih kurang, tentu itu tidak termasuk Ripper karena mereka sudah berangkat beberapa jam sebelumnya, dan juga tidak termasuk Royal. "Aku tidak melihat seorang Fae Ventus."


"Sewaktu rapat beberapa hari yang lalu, Ketua Ventus sudah menginformasikan kepada kami bahwa seluruh Fae Ventus akan berlatih bersama-sama di pegunungan Arietes. Mereka akan memanggil angin topan yang sangat besar, dan agar tidak membahayakan Fae lainnya, mereka memilih tempat yang tidak berpenghuni," jelas Sana. "Dan mereka berharap angin topan berhasil diciptakan dan semoga saja bisa menjadi senjata yang ampuh untuk melawan Egleans nantinya."


Lexy melipat lengannya ke dada. "Bahkan Mella juga?"


"Siapa Mella?" Tanya Fae Aqua yang menyebalkan itu. Ia menaruh beberapa helaian rambutnya ke belakang telinga, dan itu membuatnya semakin terlihat menyebalkan. "Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya."


"Mella Ealark," balas Lexy lagi. "Fae Ventus. Dia memiliki toko Madu Manis di Amalthea Halley. Kalian benar-benar tidak mengenali mereka?"


Sesaat, semua Fae terdiam. Akhirnya Naomi mengangkat bicara. "Aku belum pernah mendengar namanya."


Lotus mendengus. "Ya, mungkin dia cuma salah satu Fae Ventus yang gak penting. Kalau tidak ada satupun dari kita yang mengenalinya, artinya dia bukan orang berpangkat tinggi," katanya sambil menaikkan dua kaki ke atas meja.


Suasana kembali hening. Perkataan Lotus ada benarnya. Mungkin Mella juga ikut berlatih bersama Fae Ventus lainnya di pegunungan Arietes. Tiba-tiba ia ingat bahwa Mella mengenali sang Ratu. Ia ingat reaksi sang Ratu saat mendengar nama Mella yang keluar dari mulutnya.


"Mella Ealark? Maksudmu, Mella sang Fae Ventus, teman lamaku yang sudah lama tidak mengunjungiku?"


"Kenapa mukamu jadi seperti itu?" Tanya Naomi kepadanya. Pikiran Lexy buyar dan ia tersadar semua orang sedang menatap ke arahnya. "Mella. Dia teman lama sang Ratu. Kita membutuhkan dia."


Naomi mengikat daun kertas itu di leher burung yang akan mengantarkannya. Ia lalu berbisik "Mella Ealark" sebelum burung itu terbang meninggalkannya. "Kalau Mella ikut berlatih di pegunungan Arietes, aku akan membicarakan hal ini kepada sang Ketua Ventus. Kita akan mendapat balasan beberapa hari lagi."


"Beberapa hari?!" Lexy menggeleng tak setuju. "Alena bisa saja kelaparan di luar sana, dan kita harus menunggu beberapa hari?!"


"Kita harus bersabar," Val tiba-tiba mengeluarkan suara. Suara beratnya lagi-lagi membuat dirinya merinding. Lexy menatap Fae itu dingin dan terpaksa menjawab, "Aku tak bisa bersabar."


Sana bangkit berdiri dan menghampirinya. Wajahnya menggambarkan ekspresi khawatir. Ia berbisik, "Lexy, aku tahu kamu mengkhawatirkan Alena. Kami semua juga mengkhawatirkan dia. Percayalah kepada Naomi. Kita pasti bisa membawa serta Fae yang bernama Mella itu."


Lexy tidak yakin jika perkataannya itu menenangkan dirinya, namun ia tetap mengangguk agar Sana tidak lagi mengkhawatirkannya.


"Jadi, mari kita kembali ke topik awal kita," kata Xiela yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak-gerik Lexy. "Tentang dimana Callum dan Alena mungkin berada."


***


Kami terus berjalan selama berjam-jam. Berkat cahaya Light yang tiba-tiba saja muncul dari dalam diriku, aku berhasil membawa kita keluar dari kedinginan yang menusuk kulit. Matahari pagi sudah terlihat, menerangkan seisi hutan. Angin berhenti berhembus, dan itu melegakanku.


Tubuh Callum terasa semakin panas, dan ia jadi lebih sering batuk-batuk. Aku hampir saja menyerah saat akhirnya melihat sesuatu dari kejauhan.


"Sebuah gua," bisikku lirih. Aku dapat merasakan kepala Callum yang bergerak sedikit untuk mengikuti arah tatapanku. Ia tidak mengeluarkan suara, namun aku sudah bisa menebak isi hatinya.


Dengan susah payah, aku berjalan menuju gua terpencil itu. Mulai terdengar suara burung berkicau, kadang disertai oleh suara katak yang mungkin masih bersembunyi di balik batu.


Gua itu tidak dalam dan sudah cukup menjadi tempat peristirahatan kita. Aku membaringkan tubuh Callum yang lemah di atas tanah yang dingin, dan buru-buru mengambil sesuatu untuk dijadikan alas ataupun selimut. Aku melihat sebuah pohon dengan daun lebar. Aku memanjat dan memetik daun-daunnya.


Setelah membersihkan sisa-sisa salju yang masih terdapat pada daun-daun tersebut, aku membuat semacam alas dan membantu Callum agar bisa berbaring. Ia tidak memprotes dan masih tidak mengatakan apa-apa. Matanya hanya memperhatikan gerak-gerikku dengan saksama.


Setelah berhasil membuat selimut untuk Callum, aku akhirnya berbicara kepadanya. Tenggorokanku terasa sakit dan kering. "Aku harus mencari makanan. Tunggu disini." Aku lalu bangkit dan berjalan keluar gua tanpa mendengarkan balasan dari Callum.


Sambil berjalan seorang diri, aku terus memikirkan bagaimana caranya kami sampai disini. Aku tahu akan mendengarkan penjelasan dari mulut Callum sendiri. Namun, ia masih terlalu lemah untuk sekedar berbicara. Aku harus menemukan sesuatu untuk mengobatinya.


Aku juga masih penasaran kenapa cahaya selalu datang disaat aku tidak memanggilnya. Mungkinkah sihir datang tanpa adanya panggilan? Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus memikirkan kondisi Callum terlebih dahulu. Maka aku terus berjalan melewati pepohonan kurus nan tinggi.