Wings & Dust

Wings & Dust
Bertahan Hidup



Bekas cahaya Light yang kukeluarkan tadi membuat suasana lebih hangat dan melelehkan salju. Gundukan salju yang semula menutupi jalan sekarang sudah hilang karena dibelah oleh cahaya terang Light. Aku tidak begitu memahami sihir Fae Light, yang kutahu mereka dapat merubah cuaca dan memberi sinar terang, meskipun tidak sepanas Fire.


Karena salju sudah meleleh, barulah aku melihat jalan setapak yang terbentang di hadapanku. Ini tentu akan memudahkanku berkali-kali lipat. Meskipun cahaya Light sudah benar-benar pudar, aku masih merasa bangga sekaligus takjub dengan sihir Light yang mampu merubah cuaca.


Aku tahu aku tidak mempunyai banyak waktu sampai salju yang terjatuh kembali menutupi jalan, jadi kupercepat langkahku sampai akhirnya aku melihat semak-semak yang ditumbuhi oleh bunga musim dingin dan beberapa tanaman kecil yang liar. Aku buru-buru memetiknya, dan mengantunginya sebanyak mungkin. Kalau aku adalah manusia, mungkin aku tak akan bertahan hidup lama karena membutuhkan setidaknya daging atau dedaunan kering untuk mengenyangkan perut.


Andaikan aku mengeluarkan sihir Fire, pikirku dalam hati. Dengan begitu, aku bisa membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh kami dan melelehkan salju sebanyak mungkin, pikirku sambil berjalan kembali ke gua. Mungkin aku harus membuat api unggun seperti para manusia, yaitu dengan batang kayu sebagai pemantik api. Aku menghela napas karena frustasi.


Sesampainya di gua, aku langsung tersenyum melihat Callum yang sedang tertidur. Kedua lengannya diletakkan di atas perutnya, sementara selimut daun yang kurakit sendiri melapisi setengah tubuhnya. Rambutnya terlihat berantakan, dan keningnya masih terasa hangat saat kusentuh dengan punggung tanganku. Ia terlihat seperti anak laki-laki muda yang membutuhkan perawatan. Seorang pangeran, Alena, ujarku kepada diri sendiri. Mungkin saja dia sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.


Aku meremas bunga-bunga yang kupetik, lalu mencampurinya dengan air bekas lelehan salju di depan gua. Setelah itu kuraup semuanya menggunakan kedua telapak tanganku dan memakannya. Rasanya hambar dan beku di lidah, namun ini sudah cukup untuk sekedar mengisi perut. Aku menggunakan sisanya sebagai makanan untuk Callum. Aku hanya memakan seperenam darinya karena aku tidak lagi merasa lapar.


Matahari sudah berada di atas kepala. Salju mulai menutupi jalan kembali, dan aku sudah mencuci bajuku serta noda darah di kakiku. Aku juga menaruh es dingin di sekitar telapak kakiku yang sempat terluka untuk menahan pendarahan. Gila memang, tapi aku masih lebih khawatir dengan kondisi Callum.


Aku buru-buru membangunkan Callum. Awalnya ia hanya membuka sedikit matanya, lalu memejamkannya lagi. "Apa?" Ucapnya dengan suara serak.


"Kau harus bangun. Makan. Mandi. Jangan cuma tidur sampai mati," kataku. Ia memamerkan gigi-giginya yang putih, lalu mulai menggunakan sikunya untuk duduk. Aku langsung membantunya. Ia lagi-lagi meringis kesakitan. Kondisinya semakin parah.


Aku menelan ludah lalu buru-buru menyuapinya bunga serta tanaman kering yang kutemui. Ia tidak memprotes. Aku lalu menyeka keringat yang membasahi wajahnya. "Aku akan mencuci bajumu. Beristirahatlah." Aku bangkit berdiri dan ia mulai membuka baju pestanya yang sudah tersobek-sobek. "Aku bisa mencucinya sendiri-" Ia lagi-lagi terbatuk. Aku menepuk pelan punggungnya. "Tidak. Kalau kau tidak mau berdiam diri dan beristirahat, kau bisa mati."


Ia menghela napas dan menuruti semua perkataanku setelah itu. Makan. Tidur. Begitu seterusnya. Aku sebisa mungkin menyediakannya makanan saat ia sudah terbangun nantinya.


Saat matahari sudah benar-benar menghilang dan bulan menampakkan dirinya di langit malam, aku berhasil mengumpulkan batang kayu dan membuat sebuah api unggun di dalam gua. Air berhasil kukumpulkan dari salju yang meleleh dan kumasukkan ke dalam wadah dari kayu dan kawat tanaman yang kutemukan.


Aku tidak yakin sudah berapa lama aku menatap kosong lidah api yang menari-nari saat Callum memanggilku dengan pelan. Aku buru-buru menghampirinya dan mengecek suhu tubuhnya. "Ada apa? Mana yang sakit?"


Ia menggelengkan kepalanya. "Gak, aku sudah merasa lebih baik." Benar juga. Suhu tubuhnya sudah menurun. Perasaan lega melandaku. "Aku sudah cukup kuat. Aku akan berjaga sementara kamu tidur," katanya lagi. Ia lalu bangkit berdiri walaupun kakinya masih bergetar.


"Kau yakin? Aku masih belum mengantuk-"


"Alena." Ia tersenyum kepadaku. "Kita berdua membutuhkan istirahat yang cukup. Kau tahu kan kita tidak bisa berlama-lama disini?" Ia mengepakkan sayapnya sedikit, mencoba untuk melakukan pemanasan. "Besok pagi kita harus berangkat. Kemana saja, asal sang Ratu tidak menemukan kita."


Ratu Peri Lebah. Entah apa rencananya sampai ia mengincarku. Perkataannya ada benarnya. Aku membutuhkan istirahat yang cukup agar bisa terus melindungi Callum. "Baiklah. Tapi bangunkan aku setelah beberapa jam." Aku lalu berbaring di atas alas daun yang satunya lagi, dan memejamkan mataku.


***


"Kau gila?! Mereka tidak akan pergi jauh sampai ke utara," kata Xiela dengan kesal. Sudah beberapa menit Lexy mendengarkan ocehan dan pendapat yang berbeda dari Fae yang hadir disini. "Tapi utara adalah tempat teraman dan berada di luar jangkauan sang Ratu," kata Lotus, mencoba untuk menguatkan pendapatnya sendiri.


"Bergerak dengan sepasang sayap mereka di tengah-tengah musim salju? Mustahil," Val menambahkan sambil menggelengkan kepalanya. "Saranku, kita harus pergi ke Alther Suavis dan menyelamatkan mereka. Sang Ratu pasti sudah menangkap mereka."


"Aku tidak yakin mereka sudah tertangkap," timpal Naomi. "Aku tahu Callum, dan ia pintar."


"Kalau begitu, apakah mereka sedang bersembunyi di Hutan Greensia?" Lexy mengeluarkan suara. Ia tidak yakin mengapa ia memilih tempat itu, namun mereka harus mencoba segala peruntungan.


"Fae Ripper sudah menyebar di sekitar hutan Greensia. Kita hanya perlu mencari mereka di bagian utara," kata Lotus lagi. Semua mulai kehabisan akal, padahal Lexy ingin secepatnya memutuskan sebuah rencana untuk mempercepat pencarian mereka. Rasa khawatir terus menerus menghantuinya.


"Bagaimana dengan dunia manusia?" Bisik Fae Blossom yang sedari tadi tidak ikut berdiskusi. Fae itu duduk disampingnya, jadi Lexy bisa mendengar dengan jelas perkataannya. Sementara yang lain sibuk berdebat, Lexy mengajaknya bicara. "Dunia manusia? Egleans sedang berkeliaran. Mereka tidak mungkin berada disana."


Fae Blossom itu mulai mengangguk setuju. Rambutnya yang seperti rumput laut menggelombang saat ia menggerakkan kepalanya. "Omong-omong, aku Flora," sapanya. "Aku pernah bertemu dengan Alena sekali. Adikku pernah menjadi pendampingnya saat ia sibuk menunggu di desa Duncart. Ia berkata bahwa Alena adalah gadis yang baik dan rasa penasarannya tinggi."


Lexy tersenyum ketika mendengar Flora berbicara hal baik mengenai kakaknya. "Aku tahu," bisiknya rindu.


Perdebatan para Fae diganggu oleh suara ketukan di jendela. Naomi segera bangkit dari kursinya dan membuka jendela. Ternyata burung yang tadi sudah kembali kepadanya. Burung itu berkicau, rasanya seperti ia sedang berkomunikasi dengan Naomi.


Lexy melihat mata Naomi yang terbelalak, kemudian disusul oleh tubuhnya yang gemetaran.


"Ada apa?" Tanya Sana khawatir. "Apa yang dikatakan oleh burung itu?"


"Mella," bisik Naomi. "Ia ternyata berada di Amalthea Halley."


"Dan...?" Xiela menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa reaksimu sampai seperti itu?"


Naomi membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun mengurungkan niatnya.


"Katanya Amalthea Halley diserang oleh sang Ratu. Ternyata benar," imbuh Naomi. "Mereka belum tertangkap dan sang Ratu tengah mencari Alena."