Wings & Dust

Wings & Dust
Pangeran Callum



Selesai mengikuti kelas dari Miss Farloe, aku membaca buku yang Sana berikan kepadaku. Buku tebal bersampul coklat ini memuat informasi mengenai sihir dan bakat Fae. Aku menghabiskan waktuku dan membaca terlebih dahulu sejarah dibentuknya golongan Fae, daftar nama jenis makhluk buas pemakan Fae, sampai akhirnya aku menutup buku karena mataku sudah terasa berat.


Ketika aku terbangun dari tidurku yang tidak nyenyak, aku menoleh ke jendela dan sinar matahari sudah masuk menyinari kamarku. Aku terkesiap, lalu buru-buru meraih mantelku dan berlari ke luar ruangan. Sial, aku telat bangun.


Miss Farloe sangat murka ketika ia melihatku. "Kamu telat setengah jam! Tidak ada istirahat untukmu! Dan jangan harap bisa menyelesaikan kelasku sebelum pukul 9 malam!"


Aku menggaruk-garuk kepalaku. Dengan berat hati, aku melanjutkan latihanku sampai badanku terasa letih. Kali ini, Miss Farloe tidak ada ampun-ampunnya. Ia membentak dan meneriakiku berkali-kali, sampai aku kehilangan kesabaran dan sengaja menjatuhkan diri dari pilar-pilar di langit. Tulang-tulangku rasanya sudah remuk, dan kakiku rasanya seperti mau patah, namun beban di pundakku terasa jauh lebih ringan.


"Mau bunuh diri ya?" Sebuah suara yang familiar terdengar di telingaku. Aku menoleh ke sumber suara, dan melihat Ledion yang sedang menyilangkan tangannya. "Kalau begini saja sudah emosian, bisa-bisa sayapmu sudah patah duluan saat aku melatihmu."


Aku bergeming, tidak yakin ucapan yang kudengar itu benar. "Kamu mau me-melatihku?"


Miss Farloe entah sejak kapan sudah terbang menghampiri Ledion yang berada di dekat pintu. "Ledioonn!!" Ia memeluknya dengan erat, sampai-sampai tubuh Ledion hampir terjatuh. Aku memutar bola mataku dan teringat dengan Lilies. Apakah semua Fae wanita akan bereaksi seperti ini saat mereka melihatnya?


"Farloe! Kau masih belum berubah! Pelukanmu selalu berlebihan." Ledion menyambut pelatihku dengan baik. Ia balas memeluknya. "Kau boleh beristirahat. Aku akan melatihnya mulai dari sekarang."


Aku tidak pernah melihat mata Farloe yang berbinar-binar seperti ini. Ia langsung mencium pipi Ledion, lalu bergegas keluar ruangan.


"Farloe adalah adikku," kata Ledion saat ia menghampiriku. "Seharusnya aku yang menjadi pelatih di Kelas Awal. Namun karena kesibukanku, Farloe menggantikanku untuk sementara."


Huh. Aku mengerutkan keningku. Kalau Farloe saja sudah galak seperti ibu-ibu yang sedang emosian, reaksi macam apa yang akan kuterima dari Ledion?


Teknik yang diajarkan oleh Ledion sedikit berbeda. Ia lebih tegas dan disiplin. Meskipun ia tidak memukulku atau meneriakiku, aku merasa lebih takut jika harus berlatih dengannya. Tatapannya selalu membuatku merinding. Aku menjadi tidak fokus karena matanya yang selalu mengawasiku.


"Jika kamu mengikuti perintahku, aku yakin kamu akan baik-baik saja," katanya sesudah aku selesai berlatih, tepatnya pukul 10 malam. Kantong mata yang gelap sudah menghiasi kedua mataku. Tubuhku susah untuk digerakkan. Ledion sampai menaburkan serbuk putih di sekitar tubuhku. "Beristirahatlah. Datang kembali besok subuh-subuh."


"Subuh-subuh?!" Aku berteriak tepat di depan wajahnya. Ia menyipitkan matanya. "Iya, subuh. Bukannya biasanya kamu juga berlatih subuh-subuh? Dilihat dari kemampuanmu yang sangat payah, kamu harus berlatih selama kurang lebih 15 jam perhari."


Rasanya aku ingin tertawa, namun hanya angin yang keluar dari mulutku. Aku menggeleng kepalaku. Kepalaku sudah pusing, dan aku tidak mau beradu mulut dengannya. Sambil terhuyung-huyung, aku berjalan kembali ke kamarku.


Aku tidak bisa langsung tertidur karena Sana lagi-lagi mengunjungiku. Saat aku berlatih, dia ternyata mengajar di Kelas Healer. Sebagai seorang guru, tentu dia mengerti rasanya menjadi murid di Kelas Awal saat ia masih balita. "Ledion adalah guruku juga saat aku ditempatkan di Kelas Awal," katanya sambil membelai rambutku. Fae Aqua yang sekamar denganku lagi-lagi tidak terlihat batang hidungnya. Aku pun tidak peduli dengan ketidakhadirannya. Mungkin ia diusir oleh Sana, atau bermalam di kamar temannya karena takut harus berbagi ruangan denganku.


"Jadi, berapa kira-kira usianya?" Tanyaku.


"Kalau harus kutebak, mungkin... sekitar 500 tahun?"


"500 tahun?! Tua sekali!"


Sana menutup mulutnya dan tertawa. "Usiaku sebenarnya lebih tua dari perkiraanmu."


Aku mengedipkan mataku. "Berapa? 100 kah?"


"Lebih tepatnya, 180 tahun."


Aku ternganga. Usiaku saja belum mencapai seperempat abad, bahkan jauh dari itu. Aku tahu usia Fae jauh lebih lama dibanding manusia yang rata-rata hanya bisa bertahan satu abad. Inilah salah satu keunggulan kami.


"Omong-omong, aku kesini untuk memberitahu suatu kabar baik," ucap Sana tiba-tiba. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tertidur. "Apa itu?" Aku sudah tidak sabar untuk mendengarnya. Suatu kabar baik mungkin bisa menceriakan suasana hatiku. "Pangeran Callum akan tiba di Faedemy besok!" Jawabnya dengan girang.


Hatiku entah kenapa terasa menciut, kecewa dengan jawabannya. Baiklah. Aku berharap pangeran ini adalah suatu 'kabar baik' bagiku. Aku berdoa dalam hati kepada Dewa Pengampun, semoga pangeran ini berbaik hati dan tidak mencampuri urusanku.


***


Lexy membuka matanya. Ia lagi-lagi melihat pemandangan yang sama setiap harinya; ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya api perapian, dua gadis Fae yang sedang bersantai di sofa, dan laki-laki itu yang langsung menghampirinya begitu ia terbangun. Kali ini, ia tidak menemukan keberadaan Val. Fae Royal itu menghampirinya, lalu mengelus pipinya dengan lembut.


"Maafkan temanku yang selalu bersikap kasar itu," katanya pelan. Mata birunya memancarkan kepedihan. Lexy hanya menatap kosong ke arah lantai. Ia tidak tahu Fae ini pandai berakting. "Aku terpaksa menyembunyikanmu disini. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menderita," lanjutnya lagi. Ia lalu hendak memeluknya. Lexy mencoba untuk mendorong tubuh Fae itu, namun usahanya sia-sia.


Untungnya Fae itu hanya bermaksud untuk melepas ikatan yang membelenggu tangannya. "Aku janji akan mengeluarkanmu dari sini," katanya sambil menatapnya lekat-lekat. "Namun, kau harus berjanji satu hal padaku."


***


Sebagian besar Fae wanita langsung merapatkan diri ke arah pangeran Callum. Ada yang berteriak kegirangan, ada juga yang hampir pingsan. Suara kegaduhan mereka sampai membuatku pergi meninggalkan ruangan.


Aku tidak tahu harus pergi kemana. Maka, aku kembali ke ruanganku dan lanjut membaca bukuku.


Aku lagi-lagi telat. Karena membaca buku hingga larut malam, mataku terasa sangat berat. Seperti biasa, ranjang Fae Aqua itu sudah kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Mungkin ia baru kembali ke kamarnya saat aku sudah tertidur, dan buru-buru meninggalkan ruangan sebelum aku terbangun.


Aku mengenakan mantelku, lalu tanpa menyisir rambutku, aku sudah menyusuri lorong kamar-kamar menuju Kelas Atas.


Anehnya, aku tidak melihat seorang Fae pun yang sedang melintas. Lorong terasa sepi. Saat aku melewati ruang Kelas Fire dan Kelas Ventus pun, tidak ada tanda keberadaan para murid. Aku terus berjalan melewati lorong-lorong yang hening, padahal ini sudah hampir tengah hari.


Saat aku hendak memegang gagang pintu, barulah aku mendengar suara teriakan dari arah taman. Tak lama, terdengarlah suara sorakan dan tepuk tangan. Penasaran, aku berlari menuju taman, hendak mengetahui apa yang sedang terjadi.


Aku melihat pangeran itu yang sedang sibuk berlatih bela diri bersama Fae laki-laki lainnya. Ia tidak mengenakan apapun untuk menutupi dadanya yang berkeringat. Suara keras pedang yang saling bertemu tidak bisa mengalahkan suara sorakan para penonton. Mereka tidak menggunakan sayap mereka. Pangeran itu terus-terusan berhasil menghindari serangan lawan, lalu dengan cepat menggerakkan tubuhnya ke samping dan menyerang balik.


Lawannya adalah seorang Fae Light. Aku harus melangkah lebih dekat karena gadis-gadis Fae menghalangi pandanganku. Mereka sampai tidak menyadari kehadiranku saat aku menggunakan tanganku untuk membuka jalan di antara keramaian.


Terdengarlah suara Buukk!! Saat akhirnya aku melihat dengan jelas, Fae Light itu sudah terkapar di atas tanah. Ujung pedang sang pangeran sudah berada tepat di lehernya. Suara sorakan terdengar lebih keras, disertai oleh suara tepuk tangan yang membahana.


Pangeran itu melambai-lambai ke arah penonton, sambil sesekali melempar kecupan ke arah gadis-gadis yang berteriak memanggil namanya. Aku menggelengkan kepalaku, tidak berani melihat lebih lanjut.


Aku hendak pergi meninggalkan taman saat aku bertatapan mata dengannya sekilas. Mata birunya lagi-lagi membuatku salah fokus. Pangeran itu hanya tersenyum, kemudian melambai-lambaikan tangannya lagi dan menggoda gadis-gadis lainnya.


Wajah pangeran itu terus menghantuiku saat aku melakukan sesi latihanku bersama Ledion. Aku tidak mendengar perkataan guruku sampai ia berteriak dengan keras dan lantang. "Lakukan lagi, Alena!"


Aku sedang berada di atas pilar, berusaha untuk mencapai dan mendarat di atas pilar lainnya. Aku tahu aku harus menggunakan sayapku agar mampu mendarat di atas pilar terdekat. Maka aku kepakkan sayapku, mengambil ancang-ancang, dan kakiku sudah tidak menyentuh pilar. Aku melompat, bisa merasakan angin yang menghantamku sekilas, lalu entah bagaimana berhasil mendarat di pilar terdekat.


Ledion berdeham. "Bagus, meskipun awalnya kamu tidak mendengar ucapanku." Ia lalu terbang menghampiriku. "Seharusnya kamu tidak melompat, melainkan terbang menuju pilar."


Aku menatapnya tak percaya. Bukankah dia menyuruhku untuk mendarat di pilar terdekat, bagaimanapun caranya? Aku mengangguk. "Baiklah. Anggap saja yang tadi pemanasan," balasku. Lalu aku menggerakkan sayapku lagi. Tubuhku mulai terangkat dari pilar. Aku bisa merasakan kakiku di udara. Sedikit lagi, pikirku bersemangat. Aku tidak pernah berhasil melayang di udara lebih dari 2 detik. Mungkin akhirnya kemampuanku sudah mening-


"Kapten Ledion!" Pintu dibuka dengan keras secara tiba-tiba. Aku terkejut, dan langsung jatuh terguling-guling di atas tanah. Aku menggeram, meninju lantai yang keras berkali-kali. Aku kesal karena siapapun Fae itu, dia sudah membuyarkan konsentrasiku. Padahal sedikit lagi tadi, pikirku kesal.


"Ada apa?" Ledion menghampiri Fae yang masuk ruangan secara tiba-tiba itu. Aku menoleh, dan melihat seorang Fae Ripper lainnya. Pria itu sepertinya bawahannya. Aku teringat dengan perkataan Sana. "Sekarang ia menjabat sebagai Kapten untuk Fae Ripper."


"Kami berhasil menangkap beberapa Egleans," jawab Fae Ripper itu. "Namun, sepertinya ada yang salah."


Ledion menepuk sebentar pundak bawahannya itu. "Ceritakan kepadaku." Lalu, mereka berdua pergi meninggalkan ruangan.


Aku terdiam. Berkat ucapan Fae Ripper itu, Ledion langsung melupakanku dan mengemban tugasnya sebagai seorang Kapten. Aku memutar otakku. Fae Ripper memiliki kemampuan bertarung yang paling hebat dibanding Fae lainnya. Mereka dipilih langsung oleh Raja untuk mengabdi kepada negara ini. Fae Ripper yang tidak menjadi prajurit untuk kerajaan ini, otomatis menjadi pembunuh bayaran, bahkan bekerjasama dengan para manusia.


Aku bangkit dari lantai yang dingin, lalu menggerakkan sayapku. Beda dengan Fae normal lainnya, sayapku tidak menghasilkan serbuk. Aku menatap pilar-pilar tinggi yang menjulang di hadapanku, lalu memejamkan mataku. Aku membayangkan diriku seandainya aku bisa terbang. Aku membayangkan diriku terbang mengitari pohon-pohon Greensia, duduk di atas dahan pohon yang sangat tinggi, dan pada akhirnya mendapatkan warna sayapku sendiri.


Hobiku hanyalah membaca buku. Bakat apa yang kira-kira akan kumiliki? Aku tidak mau menjadi Fae Ripper untuk permulaan. Aku akan membenci diriku sendiri jika harus membunuh makhluk lain. Bahkan, rusa Greensia putih itu masih menghantui mimpi-mimpiku. Aku tidak sanggup melihat mayat, sekalipun itu adalah kedua orangtuaku sendiri.


Ledion tak kunjung kembali untuk melatihku. Maka, aku berinisiatif untuk melatih sayapku sendiri. Kemampuanku belum juga berkembang, maka aku menyerah dan memutuskan untuk lanjut keesokan harinya.


Aku berjalan melewati lorong yang sudah gelap dan sepi. Suara langkah kakiku terasa menggema. Lentera yang tergantung di dinding adalah satu-satunya penerangan.


Mataku terasa sangat berat. Sambil meraba-raba dinding yang menuntun jalanku, aku berhenti pada salah satu kamar. Aku meraba plang nomor yang dipaku di depan pintu. Aku bisa merasakan ukiran nomor '60' disana, maka aku menyentuh gagang pintunya dan hendak membukanya saat aku mendengar sebuah suara yang asing.


"Itu kamarku." Pangeran Callum berbisik di telinga kananku. Aku terperanjat, lalu membalikkan tubuhku. Fae Royal itu kini berdiri tepat di hadapanku. Ia berdiri sangat dekat dengan tubuhku, sampai-sampai napasnya mengenai pipiku. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, dan ia sampai membungkuk untuk menjajarkan wajahnya dengan wajahku.


"Ini sudah larut malam, Alena," lanjutnya lagi. Mataku sudah tidak merasakan kantuk. Aku kembali sadar sepenuhnya. Jantungku berdebar-debar, mungkin merasa ketakutan. Aku tidak tahu darimana ia mengetahui namaku.


"Kalau mau tidur denganku, boleh-boleh saja," katanya sambil tersenyum manis. "Tapi tidak malam ini. Aku lagi gak tertarik," lanjutnya lagi. Ia lalu mengacak-ngacak rambutku, dan meninggalkanku seorang diri, masih mematung di lorong.


Ketika nyawaku sudah terkumpul, aku melihat nomor kamar di hadapanku lagi. 90. Aku merasakan pipiku yang mulai hangat, merasa malu karena sudah salah membaca nomor kamar. Akhirnya, aku berjalan menjauhi pintu kamar sang pangeran. Tidurku pun tak nyenyak karena pangeran itu malah menghantui mimpiku.