Wings & Dust

Wings & Dust
Kesalahpahaman



Lexy berlari melewati deretan pepohonan yang bersalju. Kedua kakinya hampir tidak mengenai tanah, karena kecepatan yang diambilnya sangat tinggi. Ia merasa seperti seekor beruang kutub. Dengan tubuh barunya ini, ia tidak merasa kedinginan. Bulu-bulu tebal yang tumbuh di kulitnya sudah seperti mantel hangat.


Kedua kakinya yang sudah seperti kaki hewan membawanya melewati desa Duncart yang kini juga sudah hancur. Pasukan peri lebah benar-benar sudah menyerang seisi hutan Greensia.


Tubuhnya melayang, dan tanpa mengambil ancang-ancang, Lexy langsung melompat setinggi mungkin. Ia melewati jalanan yang tidak beraturan dan berliku-liku. Rasa panik yang membara dalam dirinya membuatnya melaju semakin kencang.


Kini, ia harus menyusul sang Ratu dan menyelamatkan Alena. Ia tidak peduli jika ia mampu menjelma menjadi seekor beruang kutub, sekalipun menjadi monster pembunuh seperti Egleans yang baru saja dibasminya. Sekarang semuanya terasa lebih jelas. Kekuatan yang diciptakannya saat itu di istana Amarilis bukanlah kekuatan seorang Fae. Lexy menduga tubuh Fae yang selama ini digunakannya bukanlah wujud aslinya yang sebenarnya.


***


Pada saat aku tertidur tengah malam, Callum tiba-tiba membangunkanku. Jarinya sudah diletakkan di bibirnya, dan ia mengisyaratkan untuk tetap tenang. Aku mengikutinya ke luar gua, masih didera oleh rasa kantuk. Semua perasaan itu menghilang saat aku mengintip di balik bahu Callum.


Karena badai salju sudah tidak ada, puluhan Egleans terlihat di luar sana. Mereka semua muncul dari arah yang sama. Beberapa monster itu mempunyai sayap. Aku bisa mengenali beberapa hewan Fae yang mempunyai gerak-gerik mencurigakan. Seekor burung hitam bertengger di atas tanduk kepala lembu. Burung itu tiba-tiba mematuk kepala lembu tersebut, namun lembu itu tidak bergerak untuk menyerangnya. Seperti sebuah patung, lembu itu hanya mengedipkan matanya.


Mereka adalah Egleans, ujarku dalam hati. Mereka tidak bersikap layaknya seekor hewan Fae.


"Mereka berdatangan dari wilayah manusia," bisik Callum di dekatku. "Makhluk penjelma ini memanfaatkan cuaca dingin untuk menembus kabut."


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanyaku dengan suara kecil. "Dan kenapa mereka bisa menembus area ini?"


"Berdasarkan pengamatanku kemarin," imbuh Callum, "mereka melewati Goa Kora dan berjalan menuju Alther Suavis."


"Alther Suavis?!" Aku tak dapat menahan rasa terkejutku. Kalau monster-monster ini mengarah ke kota tersebut, berarti peri lebah lah pelakunya. "Tapi mereka berdatangan dari wilayah manusia, artinya manusia yang melakukan hal ini juga."


Callum mengangguk. "Manusia dan peri lebah. Aku tidak tahu kenapa sang Ratu bisa sampai bekerjasama dengan mereka." Callum menarikku kembali ke dalam kegelapan di gua. "Katakanlah. Tadi kamu sempat menyebutkan soal peri lebah. Apa maksudmu?"


Aku tahu aku tidak memiliki banyak pilihan, jadi aku menceritakan semua kejadian yang kualami, kecuali mimpi gelap yang kurasakan saat aku tak sadarkan diri. "Bella mengenali Lexy. Lexy sempat bekerja di bawah istana peri lebah."


"Dan gadis itu malah menghilang setelah ia menyerangmu?!" Callum mengepalkan tangannya. "Dia pasti sudah melaporkan keberadaanmu kepada Ratu."


Aku mematung. Perkataan Callum ada benarnya. Fae Ripper sudah menyerang istana peri lebah, jadi wajar saja Bella tidak lagi memercayai kaum Fae. "Kalau begitu, kita akan menggunakan sihir Royal bersama-sama," kataku. "Tempat ini berbahaya. Karena tubuh kita sudah pulih, dan karena aku sudah ada pengalaman melakukan teleport, maka aku akan-"


"Alena." Ia menekan bahuku. "Kamu hanya pernah menggunakannya sekali. Sihir Royal bisa berakibatkan fatal."


"Tapi kita tidak boleh terus menerus bertahan di tempat ini. Kita harus cepat mencari teman-teman kita."


Callum menggarukkan kepalanya. "Kau benar. Kita harus berangkat sekarang." Ia meraup pipiku yang kedinginan. "Apapun yang terjadi, fokuskan pikiranmu. Aku akan terus berada di dekatmu. Aku tidak akan membiarkan dirimu tersesat." Ia menyandarkan dahinya padaku dan memejamkan matanya. "Dalam hitungan ketiga."


Aku membuang napas dengan gugup dan ikut memejamkan mata. Jantungku sudah berpacu. Aku ragu akan berhasil mengeluarkan sihir sesuai kemauanku sendiri, namun nyatanya aku sudah mengetahui triknya. Aku hanya perlu membuka diri dan bersatu dengan bakatku. "Cobalah berkenalan dengannya," kata-kata Miss Farloe terngiang-ngiang di isi kepalaku. Aku teringat bagaimana aku berhasil menerbangkan sayapku untuk yang pertama kalinya. Waktu itu aku tidak ragu-ragu dan percaya pada diriku sendiri. Sekarang, aku harus berhasil melakukan ini.


"Oh, lihatlah pasangan baru ini!" Aku dan Callum sama-sama membuka mata, dan melihat sang Ratu yang tengah melayang di hadapan kami. Aku terkesiap dan Callum langsung menarik tubuhku ke belakang.


"Ah, betapa irinya." Sang Ratu mendesah. Matanya menjelajahi tubuh Callum dengan malas. "Pangeran tampan yang terpikat pada gadis menyedihkan. Bukankah itu aneh?"


"Aku bukan gadis menyedihkan," balasku dengan geram. "Lihat saja. Aku akan membongkar kedokmu karena sudah bekerjasama dengan para manusia."


Aku memutar otakku. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, karena yang kuprioritaskan adalah keselamatan dan keamanan Lexy. "Kenapa?" Pertanyaan itu keluar dari mulutku sebelum aku dapat mencegahnya.


"Teman-temanmu itu sudah pernah menculiknya. Untungnya ia sampai di istanaku, jadi aku menyelamatkannya dan menjadikannya pelayan pribadiku."


Menculik Lexy? "Kau berbohong," balasku tak percaya.


"Hmm? Kalau begitu coba tanyakan saja kepada pangeranmu itu." Sang Ratu tersenyum. Sayap kuningnya berdengung seperti hewan lebah. Ia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol.


"Madu Susu," bisikku tak percaya. Sang Ratu merasa puas melihat ekspresi yang tersirat di wajahku. Setelah ia membuka tutup botol dan meminumnya, wujud rupanya mulai berubah. Rambut coklatnya digantikan oleh rambut pirang. Dalam sekejap, penampilannya sudah berubah. Aku melihat tubuh Val.


"Callum, apa maksud perkataannya?" Aku menggerakkan tubuh Callum, namun ia tidak menoleh untuk melihatku. Matanya malah terbelalak saat menatap sang Ratu yang kini menjelma menjadi Val. "Ka...kamu, kamu yang merencanakan ini semua."


"Oh, pangeranku pintar sekali!" Katanya sambil cekikikan. "Aku hanya pernah menyiksa Lexy sekali pada waktu itu, namun karena dendam pribadi, gadis itu terus-terusan melawan Fae Light yang tidak tahu apa-apa," lanjutnya lagi. Callum hanya terdiam, masih tidak memberikanku penjelasan.


"Kenapa?" Bisiknya. "Kenapa kamu sengaja membuat kesalahpahaman antara mereka?"


"Hmm, katakanlah aku sedang bosan, jadi aku membuat suatu pertunjukkan." Sang Ratu menaikkan tongkatnya, dan seketika wujud rupanya berubah kembali seperti semula. "Jadi, bagaimana Alena? Masihkah kamu mempercayai pangeran ini? Pangeran yang sudah berdansa dengan adikmu sendiri yang saat itu sedang berada dalam efek sihir Madu Susu," jelasnya sambil menggoyangkan botol madu itu.


Aku tidak dapat menahan amarahku. "Sudah cukup!" Teriakku. Aku merentangkan tanganku, kemudian sihir Fire sudah muncul dalam telapak tanganku. Aku menyerang sang Ratu, namun terlambat. Ratu itu tiba-tiba muncul dari belakangku. Ia memukul kepalaku dengan tongkatnya.


Hantaman keras di kepalaku membuat tubuhku terpental ke depan. Aku jatuh dan terhantam dinding gua yang tajam. Kepalaku berkunang-kunang.


"Alena!" Callum hendak menghampiriku, namun sang Ratu menghalanginya. Ia hendak menyerang Callum dengan tongkatnya, namun aku buru-buru menciptakan angin. Tongkat itu terlepas dari genggaman wanita itu.


"Kamu!" Wanita itu menoleh kepadaku. "Sejak kapan kamu sudah bisa mengontrol sihirmu?"


Aku sudah bangkit berdiri. Sambil mengepalkan tanganku, aku menjawab, "Simpel saja. Fokus dan percaya diri." Aku membuat tubuhku tak terlihat dengan cahaya Light, dan seketika sudah muncul di hadapan sang Ratu. Ekspresi terkejut wanita itu memuaskan diriku. Aku membuat diriku terlihat kembali.


"Kau pikir cuma kalian yang mampu melakukan teleport?" Kata Ratu geram. Ia lagi-lagi menghilang, kemudian muncul kembali saat ia sudah mencekik Callum. Aku berlari ke arahnya, namun ia merentangkan tangannya yang satu lagi, dan lagi-lagi tubuhku terhempas ke belakang.


"Sebenarnya ini bukan rencana awalku untuk membunuh kalian," kata wanita itu. Tongkat panjangnya yang semula berada di tanah, mulai terangkat dan sudah berada kembali di tangannya. Di saat itulah aku merasa panik karena ia menggunakan tongkatnya untuk menciptakan lebah. Hewan-hewan berbahaya itu mengelilingi Callum. Saking padatnya, aku tak dapat melihat Callum dari kejauhan.


"Tidak," aku menggunakan sikuku untuk menyeret tubuhku. "Jangan sakiti dia."


"Percuma." Wanita itu masih mengunci pandangannya ke Callum. "Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, Alena." Ia mengarahkan tongkatnya kepadaku, dan semakin banyak lebah yang bermunculan dan menyerangku. Ayo, Alena, kau bisa melakukan ini, kataku dalam hati. Aku bisa menciptakan angin untuk mengusir lebah ini, namun tubuhku tak dapat digerakkan. Rasanya seperti tubuhku dikontrol oleh sang Ratu.


"Teman-temanmu sudah mengetahui jati dirimu dan Lexy. Kalian sama-sama unik, maka dari itu mereka berusaha sangat keras untuk memisahkan kalian." Terdengar suara teriakan Callum dari balik ribuan lebah yang mengelilinginya. "Tapi, takdir berkata lain. Kurasa ini saatnya kamu menemui adikmu."


Suara remukan tulang yang keropos membuatku berteriak. Sang Ratu menarik kembali tongkatnya, dan lebah-lebah tidak lagi mengelilingi tubuh Callum dan juga diriku.


Aku mengabaikan rasa sakit yang luar biasa akibat sengatan mematikan lebah-lebah itu. Aku tak dapat mengeluarkan suara karena melihat kepala Callum yang sudah berada dalam posisi aneh. Sekujur tubuhnya sudah tersengat oleh lebah, dan ia tergeletak tak berdaya.


Sambil menggigit bibir bawahku, aku berhasil menyeret tubuhku sendiri dan menghampiri tubuh Callum. Aku terisak, kemudian menaruh telingaku pada dadanya. Aku tak dapat mendengar suara detak jantungnya.