Wings & Dust

Wings & Dust
Alasan Sesungguhnya



Fae Healer itu bernama Sana. Lexy duduk diatas sebuah ranjang, mendengarkan semua penjelasan dari mulut Naomi dan Xiela.


"Jadi, gadis ini...dia saudari Alena?" Tanya Sana tak percaya. Lexy mempunyai perasaan tak nyaman karena terus-terusan diawasi. Ia tetap tidak membuka mulutnya.


"Seharusnya aku mengetahui bahwa Lilies hampir menahan dua gadis waktu itu," lanjutnya lagi. Lexy bergidik mendengar ucapannya. "Lilies?! Kalian kenal dengannya?!"


"Kurasa kita harus meluruskan kesalahpahaman kita, dan saling menceritakan apa yang kita ketahui," ucap Xiela dengan serius. Baru pertama kali Lexy mendengar gadis pendiam itu berbicara lebih dari satu kata.


"Kesalahpahaman?!" Potongnya dengan kesal. "Kalian sudah pernah mengurungku, lalu tiba-tiba memanggilku dengan nama kakakku. Apa mau kalian?!"


"Aku tahu." Naomi menghela napas. Kemudian ia menyenggol bahu Xiela. "Aku tahu ujung-ujungnya akan seperti ini. Seharusnya kita tidak mengajak Val waktu itu," gumamnya pada Xiela. Namun, Lexy tetap bisa mendengar ucapannya.


"Aku akan mencari mereka," balas Naomi, lalu bangkit berdiri dan beranjak keluar dari ruangan. Tak lama, ruangan menjadi hening.


Sana berdeham. "Aku sudah mengenal Alena selama berminggu-minggu. Ia gadis yang baik," katanya sambil tersenyum. Lexy terperanjat mendengar ucapannya. "Berminggu-minggu?! Maksudmu berminggu-minggu ditahan di pondok Lilies?!" Lexy meraih kerah baju Sana, lalu menariknya dengan kasar. Xiela langsung mengeluarkan bola api dan membakar sedikit tangannya.


"Aa!" Lexy meringis kesakitan. "Kukira kamu mengajakku untuk meluruskan kesalahpahaman ini!" Teriak Lexy memprotes. Xiela menyilangkan kakinya, lalu meniup sisa-sisa asap yang mengepul di jari-jari tangannya.


"Memang. Kecuali kamu ingin terus menyerang kami," jawabnya singkat. Ia lalu memperhatikan Lexy dari atas kepala sampai bawah kaki dengan malas. Lexy merasa sudah memperlihatkan seluruh kulit tubuhnya, meskipun gaun kuning membalut seluruhnya. Tatapan matanya seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya kapan saja.


"Alena berhasil keluar dari pondok Lilies karena ia menerima tawaran darinya. Ia bersedia menjadi murid Faedemy," jelas Sana. "Sampai gedung itu terbakar," lanjutnya lagi dengan sendu.


"Faedemy? Maksudmu...sekolah khusus kaum Fae?" Celetuk Lexy. Xiela masih menatapnya dengan malas. "Kurasa gadis ini tahu banyak hal."


"Tentu saja," balas Lexy percaya diri. Berkat Miss Gray tentunya.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Lexy kepada mereka. Sambil melepaskan seluruh perhiasannya, Xiela menjawab, "Ia sudah tinggal di istana ini sesudah penyerangan Egleans terjadi."


"Penyerangan Egleans?!"


"Berhari-hari yang lalu. Penyebab gedung Faedemy terbakar."


"Apakah dia baik-baik saja?"


"Ya."


Rasa lega mulai menenangkan hati Lexy. Rasanya seperti sudah menghilangkan beban yang dipikulnya selama berminggu-minggu, tanpa tahu kapan bisa terbebas dari beban tersebut. "Kalau begitu, dimana dia sekarang? Aku mau melihatnya." Lexy hendak berjalan keluar saat Xiela menahan pergelangan tangannya. "Naomi sedang mencari mereka. Tenang saja."


"Mereka?"


"Ya, mereka. Callum dan Alena. Tidakkah kamu mengetahui alasan Callum mendorongmu?"


Lexy menggeleng dengan ragu.


"Ia melihat Alena yang berlari sambil menangis."


Lexy mematung. "Ia pasti mengira aku ini Alena." Xiela membalasnya dengan anggukan. "Nah, sekarang giliran kamu. Kenapa kamu menyamar menjadi Ratu Peri Lebah?"


Lexy menelan ludahnya. Ia tidak tahu harus menjelaskan hal ini secara jujur kepada Fae yang jelas-jelas sudah menyerahkannya begitu saja kepada Val. Namun, ia juga berhutang budi kepada mereka karena sudah menyelamatkan Alena. Itupun kalau mereka tidak berbohong.


Lexy membuang napasnya. "Setelah Callum melepaskanku, aku pergi ke Alther Suavis dan akhirnya menjadi pelayan sang Ratu Peri Lebah."


"Sang Ratu menginginkanku." Lexy mengangkat bahunya. "Sebagai gantinya karena sudah memberikan madu murni buatan orang-orangnya."


Xiela menggumam. "Aku tidak begitu mengenali sang Ratu. Malah sudah berpuluhan tahun sejak aku melihatnya. Wilayahnya agak terpencil dengan wilayah Fae."


"Dan ia malah menginginkanmu sebagai pelayannya, padahal kamu adalah seorang Fae?" lanjut Sana. "Bukankah itu aneh?"


Lexy tidak yakin arti kata 'aneh' itu apa karena sekarang ia satu ruangan dengan mereka dan saling berbagi informasi. Sungguh ironis, berbagi informasi dengan orang yang pernah melukaimu.


"Callum terlihat sangat mabuk. Aku belum pernah melihat dia semabuk itu sampai-sampai salah mengenali orang," kata Xiela. "Dan di ruangan itu, ada satu pelayan yang sangat aneh. Ia terus menyodorkan orang-orang minuman yang belum pernah kulihat sebelumnya."


"Itu sang Ratu yang menyamar," jawab Lexy tanpa berpikir dua kali. Sana dan Xiela langsung menoleh kepadanya. "Kamu...jangan-jangan kamu bekerjasama dengannya?!" Api mulai muncul dari telapak tangan Xiela. Lexy buru-buru mengangkat tangannya. "I...iya! Tapi, aku tidak mengetahui rencana sang Ratu!"


"Benarkah itu?" Celetuk Sana. Ia menaikkan kedua lututnya, lalu menaruh dagunya disana. "Ratu tidak harus menggunakanmu agar bisa memasuki istana. Parasnya yang rupawan sudah cukup untuk memikat hati penjaga di luar gerbang."


Lexy terdiam, mencoba memproses informasi yang didapatkannya. Ia tidak begitu mengenali sang Ratu. Meskipun ia adalah pelayan yang mungkin menjalin hubungan paling dekat dengan sang Ratu, baginya wanita itu masih menjadi misteri.


Bukan ini informasi yang mau kudapatkan, pikirnya. Selain keselamatan Alena, aku perlu mengetahui satu hal.


"Kenapa kalian menculikku?" Tanya Lexy dengan nada datar. Sana langsung menatap Xiela tak percaya. "Kalian menculiknya?! Buat apa berteman dengan Alena kalau adiknya saja sudah kau lukai?!"


"Lebih tepatnya, Val yang melukainya," jawab Xiela dengan santai. "Dan ya, kami menculiknya."


"Kenapa?" Tanya Lexy setengah putus asa. Ia mengepalkan tangannya. "Dan sekarang kamu berlagak seperti kejadian itu bukan apa-apa?! Kamu tahu apa yang sudah kulewati setiap harinya?! Mimpi-mimpi buruk karena terus-terusan menghisap bubuk tidur yang Val berikan kepadaku!"


Xiela membelalakkan matanya. Baru kali ini ia melihat emosi pada wajahnya yang sedatar dinding istana. "Awalnya, Callum hanya ingin memisahkan kalian. Aku tidak tahu Val menyiksamu."


"Tidak tahu?! Kalian jelas-jelas melihatku dari sofa! Kerjaan kalian hanya menertawakanku dan menelantarkanku!"


"Naomi tertawa karena Val terlihat seperti orang gila!" Xiela bangkit berdiri. "Val terus mengatakan kepada kami bahwa ia sibuk mengobati lukamu, dan ia tidak ingin memperlihatkan kepada kami prosesnya. Jadi ia menggunakan sihirnya dan membuatmu tak terlihat."


"Mengobatiku?! Membuatku tak terlihat?!" Lexy memegang dahinya yang mulai terasa hangat. "Sebentar," Lexy mengangkat tangannya. "Aku tidak mengerti."


"Kami sama sekali tidak menyadari ia bermaksud untuk menyakitimu. Maka dari itu, Callum melepaskanmu. Dan ia berbohong kepada Val bahwa kamu berhasil kabur dari kami."


"Tapi ia jelas-jelas menatapku, bahkan menyentuhku! Callum seharusnya dapat melihatku!" Bentak Lexy. Rasanya ia ingin melempar tinju ke dinding.


"Ya, mungkin sihir Val bekerja juga pada saat itu. Mungkin ia menyembunyikan luka-lukamu. Aku tidak tahu," balas Xiela. "Yang jelas, kamu tidak boleh bertemu dengan Alena."


Lexy berteriak, lalu mencekik Xiela. Ia berharap sihir-sihir apinya akan balas menyerangnya. Namun, gadis Fire itu hanya menatapnya dengan rasa bersalah. "Kenapa?! Apa yang kalian inginkan dari kami?!"


"Lexy, hentikan! Kau membuatnya tidak bisa bernapas!" Sana segera menghampirinya, namun Lexy mengangkat tangannya, dan seketika tubuh Sana terpental ke belakang dan terhempas ke dinding.


Lexy langsung melepaskan cengkeramannya dan menghampiri Sana yang sudah terkapar di lantai. "A-aku...aku tidak bermaksud!" Lexy mencoba menggerak-gerakkan tubuh Sana. "Apakah kau baik-baik saja? Aku...aku tidak tahu aku bisa melakukan sihir." Lexy mengangkat telapak tangannya, menatapnya secara seksama.


Xiela membenarkan bajunya dan berusaha untuk mengatur napasnya. "Inilah sebabnya, Lexy." Ia terbatuk-batuk dan menutup mulutnya. Saat ia menurunkan tangannya, darah membekas disana.


Tubuh Lexy bergemetar. Ia hampir membunuh dua orang Fae. Ia tidak tahu bisa melakukan sihir seperti itu.


"Kalian unik. Kekuatan kalian bisa berbahaya jika digabungkan," lanjut Xiela lagi.