
Lexy tahu ia sudah telat saat ia melihat wanita itu. Sang Ratu yang memunggunginya sedang melipat lengannya ke dada. Sayap kuningnya membantunya melayang di udara. Amarah kembali memuncak dalam dirinya. Ia mengambil ancang-ancang, lalu bersiap untuk menerkam sang Ratu dari belakang. Namun, tiba-tiba wanita itu menghilang dan mengakibatkan tubuhnya mendarat di atas tanah gua.
Lexy menoleh kesana kemari, mencoba untuk mencari keberadaan sang Ratu. Ia langsung mematung saat menyadari kehadiran dua Fae lainnya di dalam gua. Seorang gadis yang terluka parah sedang menatapnya dengan terkejut. Sementara Fae lainnya sudah tergeletak di tanah, sepertinya tewas.
Lexy tidak memercayai kedua matanya sendiri. Gadis yang dilihatnya itu tidak lain adalah Alena, kakak kembarnya sendiri.
***
Aku berteriak, menggerak-gerakkan tubuh Callum. Rasa sakit tak tertahan di dadaku ini lebih parah daripada luka sengatan lebah. Aku memanggil namanya berulang kali, memohon-mohon kepada siapa saja untuk menyelamatkannya. "Callum, bangun!" Aku menggeleng-geleng. Tidak. Ini tidak boleh berakhir seperti ini. Callum harus tetap hidup.
"Aaa!" Aku menjambak rambutku sendiri. Aku tidak peduli lagi dengan sang Ratu yang menertawakan kegilaanku. Aku hanya ingin mendengar detak jantung Callum lagi. Hanya itu kemauanku saat ini.
"Sudahlah, Alena," kata wanita itu sambil menggeleng-geleng. "Kau tak bisa membangkitkan Fae yang sudah mati."
"Diam kau!" Aku melempar tinju ke tanah gua, dan seketika tanah bergetar. Sulur-sulur tanaman mulai muncul dari bawah tanah dan mengikat wanita itu. Aku mengeluarkan cahaya lagi, dan menyerangnya secara bertubi-tubi. Namun, wanita itu berhasil menangkis serangan dariku.
"Aku akan membantumu, Alena," katanya saat aku hendak menyerangnya lagi. Aku tak memberinya ijin untuk berbicara. Aku bangkit berdiri dan muncul di hadapannya. Lalu, aku melempar tinju ke wajahnya. Wanita itu menikam perutku dengan ujung tongkatnya. Aku jatuh tersungkur ke tanah.
"Aku bisa membangkitkan Callum, asal kamu ikut denganku menjadi pelayan setiaku," katanya lagi. Perutku merasa sakit, dan pandanganku jadi kabur. Ia menaikkan daguku agar bisa menatapnya. "Aku bisa memberikannya beberapa tetes Madu Susu, dan dia akan segera bernapas kembali."
"Bohong!" Aku hendak menyerangnya lagi, namun tanganku tak bisa digerakkan.
"Aku tak pernah berbohong, Alena," katanya sambil menekan pipiku dengan jemarinya yang panjang. Kuku tangannya sampai menggores pipiku. "Pangeranmu lah yang berbohong. Dia yang membuatmu sakit hati pada malam itu. Dialah alasan kamu tak bisa bertemu dengan adikmu."
Ia mengeluarkan botol madu itu lagi. "Tidakkah kamu pernah berpikir kenapa kekuatanmu dan Lexy berbeda dari Fae lainnya?" Ia membuka tutup botol itu, lalu menyengir. "Kurasa percobaanku terhadap Egleans ternyata berhasil."
Aku menatapnya, tidak yakin harus berkata apa.
"Ikutlah denganku untuk mengetahui jawabannya. Adik tercintamu itu adalah Egleans, makhluk kotor hasil percobaan manusia." Ia menggeleng-geleng sambil menatapku dengan sedih. "Kau pikir manusia penjahatnya? Tidak. Justru kaum Fae lah penjahatnya."
Ia melepaskan cengkeramannya dari wajahku, kemudian menghilang dan muncul kembali di dekat mulut gua. "Tolong percayalah kepadaku sekali ini saja. Dalam hitungan detik, semua yang kukatakan akan terbukti."
Aku berdiri, namun kedua kakiku bergetar hebat. Aku menatap wajah sang Ratu, wajah milik seorang wanita kejam yang telah memanipulasi semua orang. Wanita yang lagi-lagi berbohong. Wanita yang-
Terdengar suara raungan keras. Sang Ratu menghilang, kemudian monster berbulu putih lompat dan masuk ke dalam mulut gua.
Aku tak dapat memercayai penglihatanku sendiri. Rasanya seperti aku mengenali matanya. Ekspresinya yang familiar. Monster itu hanya mematung dan tidak menyerangku.
"Alena, perkenalkan. Ini Lexy, saudari kembarmu," kata Sang Ratu kepadaku. "Lexy, perkenalkan. Ini Alena, calon pelayan baruku."
Aku terdiam, tidak berkata apa-apa. Wanita itu tersenyum melihat reaksiku. Ia lalu menepuk tangannya. "Sungguh reuni yang mengharukan! Sekarang, hanya tinggal satu langkah." Ia berjalan menghampiriku. Rok gaunnya teruntai. Ia mengulurkan tangannya, sama seperti yang dilakukannya malam itu. "Ayo ikut denganku, Alena."
Aku menatap tangannya yang terulur padaku, lalu membalas, "Kau benar. Kau tidak berbohong. Lexy adalah Egleans," aku melirik monster itu. Mataku akhirnya beristirahat pada tubuh Callum di atas tanah. "Dan dia memang berbohong. Dia tidak pernah menceritakanku apa-apa soal ini."
"Benar." Sang Ratu mengangguk dengan setuju. "Kau sudah lihat buktinya, kan? Teman-temanmu hanya ingin memanfaatkanmu dan Lexy. Mereka sengaja ingin melatih sihirmu agar bisa mencapai tujuan pribadi masing-masing." Ia masih mengulurkan tangannya. "Jadi, bagaimana Alena? Kalau kamu ikut denganku, kamu bisa memperbaiki ini semua." Ia menaruh botol madu itu di atas telapak tanganku. "Dan ini akan menjadi milikmu."
Aku bisa merasakan bobot botol madu itu diatas telapak tanganku. Madu yang bahkan bisa membangkitkan orang mati. "Akan kupertimbangkan tawaranmu jika kau menjawab pertanyaanku."
Sang Ratu menaikkan sebelah alisnya, mulai merasa waswas. Namun, ia tetap mengangguk. "Baiklah. Apa pertanyaanmu?"
"Madu ini...bagaimana cara kerjanya?" Aku menatapnya dingin. Wanita itu jelas sekali merasa terkejut dengan pertanyaanku. Ia ingin sekali menjadikanku pelayannya, maka ia berusaha menjawab. "Rumit. Sekaligus simpel. Selain bisa membangkitkan orang mati dan mengubah penampilan, madu ini merupakan kunci dari penemuanku."
"Penemuan?!" Semburku. "Apa maksudmu-"
"Bagaimana kalau adikmu saja yang menjelaskan rahasiaku?" Ia menjentakkan jarinya, dan seketika monster berbulu putih itu berubah kembali menjadi wujud rupa seorang Fae. Lexy.
"Dia sudah mendengarkan rahasiaku dari mulut seorang Fae pengkhianat," kata sang Ratu. Lexy berjalan menghampiri kami, namun aku bisa menyadari gerakannya yang seperti dikontrol oleh sang Ratu. "Jelaskanlah semua yang kau ketahui."
Maka Lexy membuka mulut dan menjelaskan semua yang ia ketahui. Tentang bagaimana Mella mengkhianati sang Ratu, kemudian menuduh sang Ratu karena sudah melihatnya menjelma menjadi seorang manusia. Rasanya seperti sang Ratu sengaja mempermainkan Lexy untuk mendapat kepercayaanku. Suaranya terdengar datar, namun aku bisa melihat matanya yang memancarkan kesedihan dan penyesalan. Sekaligus amarah karena sudah dikontrol.
Ketika Lexy sudah selesai menjelaskan, sang Ratu bertanya sekali lagi padaku, "Bagaimana Alena? Sudikah engkau untuk ikut denganku?"
Aku menatap tangannya yang terulur, kemudian menatap wajah Lexy. Wajah adikku yang sudah familiar sekaligus asing. Maka setelah aku melirik tubuh Callum, aku mengangkat tanganku dan menaruhnya di atas telapak tangan sang Ratu. "Aku akan ikut denganmu."
Wajah sang Ratu tampak berbinar-binar. Lexy menggeleng-geleng, ingin mengatakan sesuatu, namun suaranya tidak bisa keluar. "Bagus! Mulai dari sekarang, kamu adalah pelayanku-"
"Tidak!" Sang Ratu teriak penuh amarah. Ia menarik-narik rambutnya sendiri. "Maduku! Apa yang sudah kamu lakukan?!" Ia melototiku, lalu mencekikku dengan kedua tangannya. "Madu itu sangat berharga! Dasar gadis bodoh! Aaa!"
Ia menjentikkan jarinya lagi, hendak mengeluarkan sihir. Namun, itu semua sia-sia karena ia tidak lagi berwujud rupa seorang Ratu peri lebah. Tubuhnya yang semula langsing dan tinggi mulai mengecil. Sayap kuningnya menghilang, rambut coklatnya memendek. Akhirnya, cengkeramannya terlepas dari leherku. Ia sudah menjelma kembali menjadi seorang manusia.
Aku tersenyum. "Madu itu mempertahankan wujudmu sebagai Ratu peri lebah, kan?" Aku membungkuk untuk menyajarkan tubuhku dengannya. "Katakanlah, gadis kecil. Kenapa kamu melakukan ini semua?"
Gadis manusia yang berada di hadapanku itu menangis terisak. "Kalian semua jahat...aku membenci Fae...membenci kaummu..." Ia masih tidak bertemu pandanganku. "Lihat saja! Kalian akan membayar ini semua!" Gadis itu mengambil langkah mundur, kemudian ia berlari ke luar gua.
***
Aku dan Lexy berlutut di samping tubuh Callum yang tidak lagi bergerak. Air mataku mulai berlinang. Lexy merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan sebotol Madu Susu. Aku menatapnya tak percaya.
"Madu ini berasal dari Mella," bisiknya kepadaku. "Cobalah, Alena. Mungkin kamu bisa menyelamatkannya."
Aku membuka tutup botol, kemudian meneteskannya ke mulut Callum yang kering. Namun, tidak terjadi apa-apa.
"Kembalilah...Callum..." Suara parauku terdengar serak. Tenggorokanku jadi sakit. "Tolong..." Aku memohon-mohon kepada Dewa Pengampun. Tolong bangunkan dia. Namun, buat apa aku memohon-mohon kepada Dewa yang tidak pernah mengabulkan permintaanku?
Aku mengangkat kepala Callum, lalu memeluknya. Air mataku membasahi wajahnya yang terkena sengatan lebah.
"Kau terlihat seperti calon putri untukku." Aku teringat dengan perkataan Callum malam itu.
"Aku menyukaimu Alena," katanya lagi sembari mencium bibirku. "Andaikan aku bisa hidup bersamamu selamanya."
"A-apa?" Aku tak dapat memercayai telingaku sendiri. Pangeran tampan ini, sungguh menyukaiku? Ia cengar-cengir, merasa puas melihatku yang salah tingkah.
Waktu itu aku pikir ia hanya bercanda. Mungkin saja ia berkata hal itu kepada semua wanita yang ditemuinya. Aku menyukaimu juga, aku ingin sekali berkata demikian, namun aku masih takut. Aku takut ia akan menertawakanku seperti biasanya dan menolak pernyataan cintaku. Aku teringat lagi dengan gadis bergaun kuning. Bagaimana selama ini Callum sukses menarikku. Buktinya aku memang betul menyukainya.
"Aku menyukaimu juga," bisikku lirih di sela-sela tangisku. Apa gunanya? Ia sudah tiada, dan ia tak dapat mendengar kalimat itu lagi.
"Omong-omong, kapan aku bisa mendengar nyanyianmu?" Ia pernah menanyakan hal itu kepadaku. Waktu itu aku masih tidak percaya diri, dan terus mengatakan kepada diriku sendiri bahwa sihir Melody yang kuciptakan hanyalah kebetulan. Sekarang, keadaannya sudah berbeda. Aku sudah mampu mengontrol sihirku.
Apa gunanya? Aku menyentuh pipi Callum yang sekarang terasa dingin di tanganku. Apa gunanya semua sihir yang kumiliki jika aku tak dapat menyelamatkannya?
Maka aku mengecup keningnya dengan pelan, lalu mulai membuka mulutku. Suaraku masih serak, namun kupaksakan diriku untuk terus bernyanyi.
"Sangat disayangkan. Padahal aku yakin kamu bisa memenangkan kontes bernyanyi."
"Kau mengejekku?!"
Aku tersenyum mengingat kenangan indahku bersama Callum. Aku ingat kali pertama ia mengobrol denganku. Setiap keping kenangan mulai muncul kembali. Callum yang selalu membuatku tertawa. Callum yang selalu menyelamatkanku. Callum yang selalu menempatkan dirinya untuk menggunakan sihirnya agar bisa bertemu denganku.
Bagaimana kalau ia benar menyukaiku? Aku terus bernyanyi. Melodi indah yang kuciptakan sendiri. Melodi yang spesial, melodi yang tidak pernah dinyanyikan sebelumnya. Aku memejamkan mata, merasakan suasana mencekam ini. Aku seperti berada kembali di sebuah ruangan yang gelap. Ruangan yang bahkan tidak ada cahaya sedikitpun. Dunia yang jauh lebih menyeramkan.
"Alena," Lexy menaruh sebelah tangannya di atas pundakku. "Maafkan aku karena tidak bisa membantumu."
Aku menggeleng-geleng. Tidak. Madu ini seharusnya bisa bekerja. Aku terisak. "Kita masih belum mengetahui cara kerja madu ini," lanjut Lexy lagi.
Aku menangis di dalam dekapan Lexy, merasakan bobot kepala Callum yang berada di pangkuanku. Aku terus membelai rambutnya.
"Semua hal yang wanita itu katakan," lanjut Lexy, "tidak semuanya benar. Aku memaafkan teman-temanmu. Mereka tidak bermaksud untuk memisahkan kita, Alena."
"Aku tahu," bisikku lirih. Aku selalu percaya kepadamu, Callum. Aku memejamkan mata, mengingat langit malam yang kulihat terakhir kalinya bersama Callum. Dimanapun kamu berada, aku akan selalu mengingatmu.
Aku tidak mengingat persis kejadiannya, namun tiba-tiba cahaya yang sangat terang muncul dari dalam diriku. Aku membuka mata, kemudian melihat cahaya merah. Tak lama kemudian disusul oleh cahaya kuning, biru, ungu. Semua warna mulai memancar dari tubuhku.
Sayapku terasa dingin. Aku berteriak sejadi-jadinya saat punggungku terasa sangat nyeri. Cahaya berwarna-warni terus keluar dari tubuhku, menyelimuti seisi gua.
Sayapku membuat tubuhku melayang. Setelah semua cahaya memancar dan memantul dinding-dinding gua, akhirnya sebuah cahaya putih yang terang menyelimuti seluruh tubuhku. Aku merasakan sensasi aneh pada kedua sayap kecilku, tak lama sayapku seperti ditarik-tarik oleh suatu kekuatan tak terlihat.
Sayapku membesar. Aku bisa merasakannya. Tak lama, semua cahaya yang semula menyebar, mulai berkumpul kembali. Seperti magnet, tubuhku menarik semua cahaya itu. Saat akhirnya tidak ada lagi cahaya yang tersisa, tubuhku meledakkan cahaya yang membutakan mata.
Cahaya pelangi.