
Suara jeritan seorang gadis langsung membuatku bangkit berdiri dari lantai yang dingin. Di luar balkon, terdengar suara raungan keras, dan tak lama suara kepakan sayap dan teriakan lainnya serasa menggema.
Aku buru-buru membuka lemari yang sebelumnya dibuka oleh Callum. Aku dapat melihat berbagai jenis senjata yang tergantung dan dibiarkan begitu saja disini. Aku mengambil sebuah belati kecil yang ujung gagangnya terdapat permata biru, kemudian berlari ke luar balkon yang semula pintu kacanya dihadang oleh meja.
Di atas balkon, monster bersayap itu meraung kesakitan. Genangan darah berwarna hitam kental mengotori lantai. Tubuhnya diikat ke dinding oleh sebuah tanaman yang menjalarinya. Seorang Fae Blossom sedang mengontrol tanaman itu, lalu dengan tangan satunya lagi, ia melilitkan tanaman pada leher Egleans itu sehingga tercekik.
Seorang pria Fae Healer berambut pirang terbang menghampiri kami sambil tergopoh-gopoh. Ia mengangkat kedua tangannya, dan cahaya sangat terang menyelimuti mayat Egleans itu. Monster itu segera menciut, dan tubuhnya sudah berubah menjadi manusia kering.
"Lagi-lagi," sembur Fae Healer itu. "Ini bukan Egleans biasa."
"Dari mana mereka datang?" Tanya Fae Blossom itu. Rambut merahnya sangat panjang sampai menyentuh lantai. Ia menoleh dan berbicara kepada Fae Healer itu. "Sang Kapten Ripper patut memberikan kita semua penjelasan." Ia mengepalkan tangannya, lalu terbang kembali ke udara dan melawan beberapa Egleans yang masih hidup.
Fae Healer itu segera membusukkan mayat yang bergelimpangan di atas balkon. Lantai marmer yang mengilap sudah sangat kotor oleh darah monster itu. Ia memanggil cahaya lagi, kali ini mayatnya terbakar dan langsung menjadi debu.
Ia menoleh dan terlihat sangat terkejut saat melihatku. "Siapa kamu? Apa yang sedang kau lakukan di istana Amarilis?"
Aku ternganga. Ternyata bangunan mewah ini adalah istana Amarilis. Seharusnya aku mengetahuinya. Pantas saja Callum membawaku kesini. "A-aku..."
"Dia adalah tamu sang pangeran." Xiela tiba-tiba muncul dari belakangku. "Dan dia bersamaku." Rambut merahnya berantakan, dan wajahnya terlihat kusut. "Aku ingin semua Fae Healer mengevakuasi seluruh murid Faedemy, dan bawa mereka kesini. Sang pangeran sedang menjadikan kediamannya sebagai tempat penampungan sementara."
Tanpa basa-basi, Fae Healer itu menunduk sedikit, dan terbang meninggalkan kami.
Aku menghela napas lega dan segera menghampiri Xiela. Dari kejauhan, aku melihat Naomi yang sibuk mengalih perhatian para Egleans menggunakan nyanyiannya. Sayap ungunya menghasilkan serbuk ungu, yang terbang tertiup angin dan jatuh bagaikan bintang-bintang kecil yang bersinar. Itu akan menjadi pengalih perhatian yang sempurna.
"Alena, kamu seharusnya bersembunyi di dalam," kata Xiela. Ia membuka pintu balkon dan masuklah kami ke dalam kamar pribadinya. Ia merentangkan tangannya, lalu terbakarlah gagang pintunya. Logam mulai melebur, dan ini mengakibatkan pintu terkunci total. Tidak ada yang bisa mendobrak masuk.
"Apa yang terjadi? Kenapa Egleans dalam jumlah besar tiba-tiba menyerang Wilayah Amarilis?" Aku masih menggenggam belati pada tangan kananku. Aku meremasnya kuat-kuat.
Xiela menggelengkan kepalanya. "Mereka sudah menembus kabut secara total. Ini bahaya. Ini sangat bahaya." Ia terbang kesana kemari sambil menggigit jarinya. "Jika murid-murid sampai terluka-"
Pintu ruangan dibuka. Seorang Fae Cosmos tampak terkejut saat melihat kami, lalu ia segera menghampiri Xiela. Ia mengenakan baju pelayan, rambut merah mudanya mempercantik penampilannya. "Miss Xiela, Anda harus segera bersiap siaga di depan gerbang istana Amarilis. Para Egleans mulai menyerang pintu gerbang."
Xiela langsung terbang menyusul Fae Cosmos itu. Aku menghalanginya. "Aku mau membantu. Aku tidak akan bersembunyi disini seperti pengecut."
Ia menyangkalku. "Tidak akan. Kamu masih tidak terlatih. Terjun langsung ke lapangan hanya akan membunuhmu." Tanpa babibu, ia menghantam pintu keras-keras, lalu terdengarlah suara percikan api dari luar. Aku bisa melihat gagang pintu yang mulai berubah bentuk. Xiela lagi-lagi meleburnya dan mengunciku disini.
"Xiela! Buka pintunya!" Aku menggedor-gedor pintu, kemudian dengan sekuat tenaga melemparkan tubuhku ke pintu berulang kali. Pintu masih tidak terbuka.
Aku menoleh dan melihat seluruh jendela yang juga sudah dikunci oleh Xiela. Aku terperangkap di dalam ruangan ini.
Aku mengepalkan tanganku. Aku tidak akan bersembunyi disini sementara Fae lain sibuk menyerang para Egleans. Aku sudah pernah melihat cara orang-orang membunuh Egleans. Aku sudah pernah melihat Ledion menikam jantung Egleans. Aku sudah pernah melihat Sana yang membusukkan tubuh Egleans.
Mataku berapi-api. Aku terus menatap gagang pintu yang terkunci. Sambil menfokuskan amarahku, aku mengangkat sebelah tanganku. Logam yang semula berbelit-belit dan menahan pintu, mulai melebur kembali menjadi normal.
Aku menyentuh gagang pintu itu. Logam ini terasa sangat panas, tapi anehnya telapak tanganku tidak terbakar. Aku menarik gagang pintu kuat-kuat, dan robohlah pintu logam ini beserta gagangnya.
Aku terkesiap sambil menatap gagang pintu yang kini terlepas pada telapak tangan kananku. Gagang pintu itu mulai terbakar, dan lama kelamaan mengecil dan menjadi abu. Aku bisa melihat api yang terbentuk pada tangan kananku.
Aku buru-buru mencelupkan tanganku ke dalam sebuah ember yang terisi oleh air. Tanpa berpikir lebih lanjut mengenai api yang tiba-tiba terbentuk di telapak tanganku, aku meraih kembali belati kecil yang terlempar ke lantai dan bergegas menyusul Xiela.
***
Suasana di luar benar-benar menegangkan. Banyak Fae yang sibuk terbang kesana sini. Ada yang sibuk mempersiapkan diri dan memakai baju zirah perang. Ada yang sibuk membawa rombongan anak-anak Fae. Sebagian menangis ketakutan, dan sebagian anehnya terlihat bersemangat. Mungkin mereka berpikir ini hanyalah salah satu adegan dalam film yang terjadi pada dunia nyata. Aku menggelengkan kepalaku. Kaum Fae belum pernah menonton televisi.
Aku menuruni tangga yang berliku-liku. Lampu gantung lilin dengan batu rubi permata menerangi jalanku. Tangga kayu ini dilengkapi oleh karpet antik berwarna merah. Seluruhnya terasa mewah.
Aku tidak tahu harus kemana, jadi kuikuti arah sumber suara jeritan yang paling keras. Aku akhirnya melihat sekelompok Fae dalam jumlah besar yang sibuk melakukan segala upaya untuk terus menutup pintu gerbang. Pintu itu berkali-kali didobrak dari luar.
Aku melihat Ledion yang sibuk menahan batang kayu besar yang mengunci gagang pintu. Beberapa Fae Ventus menggunakan anginnya untuk mendorong pintu agar terkunci. Ada juga Fae Blossom yang mengikat gagang pintu dengan tanaman.
Aku berlari menghampiri mereka. Sambil membuka jalan menggunakan kedua tanganku, akhirnya aku sampai di dekat gagang pintu. Ledion langsung memerintahkanku untuk menjauhi pintu.
"Bawa gadis itu pergi dari sini!" Ia memerintahkan beberapa Fae Ripper untuk segera menarikku. Namun, aku sukses melepaskan diri dari mereka. "Seseorang harus memancing mereka pergi dari sini! Jangan cuma berdiam diri!" Teriakku di tengah keributan.
"Tidak bisakah kamu melihat apa yang sedang kami lakukan?!" Salah satu wanita Ventus membentakku. "Kamu masih muda, nak! Pergilah dari sini!"
"Biarkan aku membantu!" Aku berteriak, berusaha mengambil simpati dari para Fae ini. Namun, tidak seorangpun yang memerdulikanku. Aku mengacak-ngacak rambutku, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Di mana Xiela?!"
Pintu terus didobrak dari luar. Suara raungan Egleans makin terdengar. Ada yang mencakar-cakar pintu dari luar. "Mereka semakin banyak, Kapten!" Seseorang berteriak kepada Ledion. "Kita kalah jumlah!"
"Tapi, bagaimana dengan murid-murid Faedemy?! Para Fae Healer tidak bisa mengevakuasi mereka jika pintu masuknya saja sudah terhalang!"
Aku menggenggam belati di tangan kananku erat-erat, lalu berlari menjauhi pintu gerbang. Aku terus berlari ke ruangan lainnya, mencoba untuk mencari wajah-wajah familiar. Aku ingin membantu menyelamatkan Fae yang masih tertinggal di luar sana. Aku akhirnya menemukan Naomi yang terkapar di lantai. Ia sedang memegang dengan erat bagian perutnya, dan aku bisa melihat darah yang mengucur dengan deras. Wajahnya pucat pasi dan keringat membasahinya.
"Naomi!" Aku segera berlari menghampirinya, lalu menggerakkan tubuhnya. "Kau terluka!" Aku segera menoleh dan mencari-cari Fae Healer yang mungkin bisa menyembuhkan luka di perutnya ini. Namun, tidak ada satupun Fae Healer yang dapat membantu kami. Mereka semua masih berada di luar istana, sedang berjuang mengeluarkan seluruh murid dari gedung sekolah.
"Alena," katanya dengan suara lirih. "Kita tidak akan menang melawan mereka, mereka-"
Ia terkesiap, pupil matanya membesar. Busa mulai keluar dari mulut kecilnya. "Naomi!" Aku berteriak, lalu menggerakkan wajahnya. "Kau akan bertahan hidup! Aku akan mencari Sana untuk menyembuhkanmu!"
"Sudah telat," Naomi memandangiku, lalu ia mulai terbatuk-batuk. Busa putih dari mulutnya sampai menciprati bajuku. "Egleans ini. Manusia sudah semakin kuat, kita-"
"Katakan apa yang harus kulakukan!" Aku menekan kedua bahunya. "Naomi, jelaskan tentang makhluk ini."
Air mata mulai bercucuran. Tubuhnya bergetar, dan darah sampai merembes dan membasahi rokku. "Mereka bertambah kuat. Egleans yang dulu tidak sekuat ini. Sekarang, sepertinya hanya golongan penjiwaan yang mampu membunuh mereka."
Naomi terbatuk-batuk lagi. Aku menyentuh pipinya yang terasa hangat. "Apa maksudmu? Hanya Fae Ripper dan Fae Healer yang mampu membunuh mereka?"
Ia hendak mengangguk, namun lagi-lagi busa memenuhi mulutnya. Sekarang, darah mulai keluar saat ia terbatuk.
Aku segera bangkit berdiri, dan hendak mencari bantuan saat ia menggenggam pergelangan tanganku. "Callum...tolong," Ia mulai berteriak kesakitan. Genangan darah mulai membasahi lantai kayu. "Lindungi dia untukku." Tubuhnya lalu bergulai lemah, dan wajahnya jatuh membentur lantai. Tangannya yang semula menggenggam pergelangan tanganku sudah terlepas.
Aku berteriak sangat keras, tidak percaya apa yang baru saja kusaksikan. Aku menggerakkan tubuh Naomi berkali-kali, namun ia masih saja menutup kelopak matanya.
Aku menangis sambil memeluk Naomi yang kini terjatuh pingsan. Air mataku sampai membasahi rambutnya. Andaikan aku dapat menyelamatkannya. Andaikan aku menemukannya lebih awal.
Aku menahan napasku, lalu menaruh satu jari tanganku di dekat lubang hidungnya. Aku masih bisa merasakan napasnya. Aku buru-buru menaruh telingaku di atas dadanya, dan detak jantung yang sangat lemah masih bisa terdengar.
Aku mengangkat tubuh Naomi sekuat tenaga, lalu menyeretnya ke tempat aman, dimana tidak seorangpun dapat menyentuhnya dan mungkin membakarnya karena mengira ia sudah mati. Aku juga tidak ingin Egleans menemukan tubuhnya yang terkulai tak berdaya.
Aku sudah menyembunyikan tubuh Naomi di samping ranjang yang kutemukan di dalam sebuah ruangan. Pintu itu kebetulan terbuka. Setelah menyelimutinya dengan selimut hangat, aku membuka jendela di samping ranjang, dan menatap ke bawah.
Aku sedang berada jauh dari permukaan tanah. Namun, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku memanjat jendela, lalu setelah menatap tubuh Naomi yang masih terbaring lemah, aku mengepakkan sayapku seperti ajaran Miss Farloe dan Ledion.
"Cobalah berkenalan dengannya."
Aku memejamkan mataku, lalu terjun ke bawah. Angin menyibakkan rambut serta bajuku. Aku dapat merasakan sayapku yang mulai direntangkan, dan setelah aku mempertimbangkan tanah yang terletak hanya beberapa inci dari tubuhku, aku terbang menukik ke atas.
Sayap kecilku membawaku ke atas langit.
***
Istana Ratu Lebah sangat besar. Arsitekturnya menyerupai sarang lebah, namun terkesan lebih indah dan mewah. Lexy dapat melihat para penjaga yang sedang berdiri menjaga pintu gerbang.
Mereka bukanlah Fae atau manusia. Mereka juga bukan hewan-hewan Fae yang memiliki bakat. Mereka adalah spesies peri, yang sangat menyukai madu-madu manis. Ukuran sayap mereka lebih kecil dibanding sayap Fae. Namun, mereka terbang jauh lebih cepat dan bagaikan kupu-kupu, mereka sangat menyukai bunga yang berwarna-warni.
Mereka juga sangat menyukai warna kuning keemasan, kata Lexy dalam hati. Penjaga yang sekarang dilihatnya itu menggunakan zirah yang mengilap. Bahkan ujung rambut mereka diberi warna kuning. Lexy hanya menggelengkan kepalanya.
Kedua penjaga itu langsung membentuk huruf silang dengan pedang mereka, mencegatnya untuk memasuki istana. "Sebutkan namamu dan alasan kamu ingin mengunjungi Ratu Lebah," kata penjaga yang berdiri di samping kirinya.
Lexy merogoh-rogoh tas kecilnya, lalu mengeluarkan papan nama Miss Mella. Si penjaga merebut benda itu dengan kasar, lalu membacanya dengan teliti.
"Mella Ealark," ia langsung bertukar pandangan dengan penjaga lainnya, dan tahu-tahu ia sudah menggigit bibir bawahnya. "Maafkan kami. Kami tidak tahu Miss Mella ingin-"
"Jadi aku sudah bisa masuk, kan?" Lexy merebut kembali papan nama itu, lalu berjalan melewati kedua penjaga itu.
Ia dapat melihat peri lebah lainnya yang berlalu lalang di hadapannya. Sebagian sedang sibuk membawa botol-botol kaca berisi madu kental. Ada juga yang sibuk mengelap kaca jendela besar dengan bersih. Lexy tersadar bahwa semua peri lebah yang dilihatnya sekarang ini hanyalah pelayan dari sang Ratu. Mereka masing-masing mengenakan celemek putih. Rambut mereka dihiasi oleh bunga matahari. Mereka adalah gadis yang cantik. Lexy berpikir sang Ratu tidak menyukai penampilan yang biasa. Seharusnya ia mengenakan baju yang lebih layak. Mungkin sang Ratu akan menyambutnya dengan baik.
Lexy terus berjalan lurus, melewati lukisan-lukisan yang terpampang di dinding. Ada juga sekawanan hewan lebah yang terbang di atas kepalanya. Suara sayap mereka berdengung di telinganya. Sang Ratu pasti memelihara mereka.
Akhirnya ia memasuki sebuah ruangan yang jauh lebih luas dibanding sebelumnya. Sekejap rasa gugupnya pupus karena sudah disodorkan oleh keindahan yang mengelilinginya. Dinding-dinding dilapisi oleh helai sutra berwarna keemasan. Ia menyusuri lorong panjang berkarpet yang ujungnya berpaviliun kuning keemasan di atas panggung.
Jantungnya berdebar-debar di dalam dada. Di depan panggung, segelintir peri lebah berbalut pakaian mewah berlogo bunga matahari mengelilingi kursi bersandaran tinggi. Kursi itu bereboni putih layaknya warna kelopak matahari. Kursi itu diduduki oleh sosok elok bergaun kuning cerah dengan kedua sayapnya.
Sang Ratu sedang bertopang dagu. Salah satu kakinya digerakkan dengan santai. Matanya menatap Lexy dengan bosan. Ia terlihat sangat memukau, dengan wajah lancip dan kecil dan tongkat permata yang digenggamnya. Rambut coklatnya terurai dengan rapi dan halus. Di atas kepalanya, terlihatlah sebuah mahkota yang memantulkan cahaya dari kandelir yang menggantung di tengah langit-langit ruangan.
Lexy mengambil beberapa langkah, lalu membungkuk dalam-dalam. "Yang Mulia Ratu Peri Lebah."