Wings & Dust

Wings & Dust
Suasana Hati yang Buruk



Aku sudah pernah mengeluarkan sihir Fire. Namun, aku belum pernah melukai orang lain dengan sihirku. Aku terkesiap, lalu menutup mulut dengan tanganku.


Val meringis kesakitan. Luka bakar yang tercipta akibat cahayaku ternyata lumayan besar. Callum sampai memanggil seorang Fae Healer untuk menyembuhkan lukanya.


Aku masih termenung di paviliun. Aku menatap rumput yang bergoyang karena angin. Pikiranku terus saja mengulang kejadian yang sama. Aku mencoba menjernihkan pikiranku. Bagaimana lebih tepatnya aku dapat mengeluarkan sihir? Apa yang mendorong kekuatanku?


Callum menghampiriku, lalu menyodorkan segelas teh hangat. Aku mengambilnya tanpa mengucapkan terima kasih.


Setelah meneguk teh, ia berpaling kepadaku. "Alena, aku perlu mengetahui segalanya."


Aku menghela napas, lalu menunduk. Aku tahu suatu saat, aku pasti harus menceritakannya kepada Callum. Bagaimanapun juga, ia sudah menjadi temanku.


"Selain Cahaya Hangat," kataku untuk memulai pembicaraan, "aku juga sempat mengeluarkan Cahaya Abu-abu dan Cahaya Fire sebelum aku melukai tangan Val." Aku meremas gelas yang memuat teh hangat. Lagi-lagi, teh ini tidak terasa hangat sama sekali. Mungkin karena dalam diriku sudah ada sihir Fire yang mentah.


Ia tidak berbicara apa-apa. Lalu, ia menepuk pundakku. "Kita bisa pikirkan caranya bersama-sama. Aku akan membantumu." Ia lalu tersenyum kepadaku. "Bagaimana dengan sihir golongan lainnya? Sudahkah kamu mencoba mengeluarkan Cahaya Putih, atau bermain pedang agar bisa menjadi kuat seperti Ripper?"


Aku menatap wajahnya, lalu berpaling kembali ke rumput bergoyang. "Aku belum menguasai sihir apapun. Bagaimana caranya agar aku dapat mempelajari sihir lainnya?"


"Ah, benar juga." Callum menggaruk-garuk kepalanya. Selang beberapa saat, aku menjadi lelah dan tidak ada tenaga untuk berbicara lagi. "Omong-omong, soal pesta besok malam..."


"Ya?" Aku membalas. Kutatap kembali matanya yang sedang melihatku. Mata biru yang selalu bisa menarik perhatian para gadis. Wajah lancip menawan yang dengan mudahnya memikat hati orang-orang. Aku menggeleng pelan, mencoba untuk mengusir pikiranku yang lagi-lagi terbang bebas.


Senyumannya sirna. Ia meniup angin dari mulutnya, lalu bangkit berdiri dan menarik tanganku.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Aku menatapnya tak percaya. Angin meniup semakin kencang. Rambut beserta rokku beterbangan. Aku sampai melindungi mataku terhadap terpaan angin.


"Aku ingin kamu melihat sesuatu," katanya sambil tersenyum. Ia lalu mengepakkan sayapnya, dan membawa tubuhku ke atas langit.


Aku berteriak. Angin yang menerjangku sampai masuk ke dalam mulutku. Aku tidak lagi berselera untuk terbang dalam cuaca berangin seperti ini. Aku mengepakkan sayapku sendiri, lalu mulai menyajarkan tubuhku dengannya.


"Callum!" Aku berteriak di tengah-tengah ributnya angin dingin. "Aku tidak mau terbang! Aku mau kembali!" Aku mencoba melepaskan genggaman tangannya, namun ia memegangnya erat-erat.


"Tidak sampai ekspresi jelekmu itu menghilang." Ia memfokuskan pandangannya ke depan. Ia membawaku keluar dari wilayah istana Amarilis. Aku bisa melihat pepohonan rindang yang tumbuh dari bawah sana. Callum sedang membawaku ke arah gedung Faedemy.


"Rambut panjangmu sampai mengenai lenganku!" Ia berteriak sampai mengeluarkan suara tawa. Aku tidak ikut tertawa. Suasana hatiku sedang buruk, dan berkat Callum, aku jadi ingin menangis karena tiba-tiba teringat dengan gedung sekolahku yang sudah terbakar.


"Kurasa kamu harus mengikat rambutmu!" Callum berteriak. Pandangannya masih terfokus ke depan. Aku tetap tidak mengeluarkan suara. Aku menatap kosong pohon-pohon yang tumbuh di bawah sana. Sudah berapa lama akar-akar mereka bersatu dengan tanah? Sudah berapa lama gedung Faedemy berdiri dengan kokoh, sehingga pada akhirnya runtuh karena serangan Egleans?


"Menurutmu, apa alasan Egleans menyerang gedung Faedemy terlebih dahulu? Karena gadis inilah yang memanggil dan memimpin penyerangan tersebut."


Kata-kata Lilies terngiang-ngiang di otakku. Siapa sebenarnya aku? Apakah para Egleans tertarik denganku, sehingga menyerang Faedemy? Apakah jangan-jangan ucapan Lilies ada benarnya?


Air mata mulai membanjiri mataku, memburamkan pandanganku terhadap pepohonan tersebut. Dadaku terasa sesak. Mungkin aku seharusnya tinggal saja di rumah orangtuaku. Mungkin seharusnya aku membiarkan saja mereka memotong sayapku. Mungkin dengan begitu, aku akan hidup menjadi manusia tanpa ada beban yang harus selalu kutanggung.


Aku terisak, lalu memejamkan mataku. Bagaimana jika sihirku ternyata ujung-ujungnya membahayakan orang lain? Aku tidak mau menarik perhatian para Egleans. Mungkin aku harus mengkhianati para Fae ini. Mungkin saat aku menjalani tugasku sebagai seorang mata-mata, aku akan membongkar seluruh rahasia para manusia dengan imbalan hidupku sendiri. Ini akan sangat menguntungkan bagi kaum Fae.


"Alena." Suara Callum tiba-tiba terdengar sangat halus. Aku membuka sedikit mataku, dan dapat melihat kedua kakiku yang sudah mendarat di atas tanah. Pergelangan tangan kananku masih dipegang dengan erat. Aku terus menunduk, dan dengan mata sembap hanya menatap kosong kedua kakiku yang kecil dan beku.


Tanpa aba-aba, Callum tiba-tiba menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Aku terkesiap. Ia melingkarkan lengannya ke pinggangku, lalu menguburkan kepalanya ke dalam leherku. "Jangan menangis lagi," bisiknya.


Aku bisa merasakan napasnya yang menghangatkan leherku. Ia semakin mempererat dekapannya. Awalnya aku ragu-ragu, namun kuangkat kedua tanganku, dan membalas pelukannya.


Aku memejamkan kembali mataku. Aroma bunga mawar memenuhi penciumanku. Callum tidak berkata apa-apa, hanya memelukku semakin erat tiap menitnya. Aku bisa merasakan detakan jantungnya, dan bagaimana tubuhnya mengembang saat ia bernapas. Isakanku semakin mereda, dan aku merasakan kedamaian yang terpancar dari dirinya.


Callum mengelus rambutku dengan pelan. "Kamu akan baik-baik saja. Kamu tidak melukai Val."


Aku tertawa pelan dalam isakanku. "Kita tidak mengetahui hal itu. Kalau amarahku lebih besar, mungkin aku sudah membakar seluruh tubuhnya."


"Mungkin itu lebih baik. Aku akan memberikanmu penghargaan nantinya."


"Apa?!" Aku melepaskan dekapannya, lalu menatapnya. Ia masih tidak melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku. "Fae itu sangat setia kepadamu! Seharusnya kamu tidak berkata demikian!"


"Tapi kadang aku ingin mempunyai sihir Fire, agar aku bisa membakarnya kapan saja."


"Kenapa?"


Callum mendecakkan lidahnya. Lalu ia memasang ekspresi polos yang kentara sekali dibuat-buat olehnya. "Karena ia temanku?"


Aku mengeluarkan suara tawa dari mulutku. "Yang benar saja!" Aku mengeluarkan air mata lagi, kali ini air mata bahagia karena geli mendengar perkataannya. "Mungkin kamu bisa tinggal menjentikkan jarimu, lalu api akan tersebar pada tubuhnya."


Ia menyandarkan dahinya pada dahiku. Aku bisa merasakan napas kami yang bercampuran. "Hmm? Ternyata selama ini kamu memperhatikanku."


Callum tiba-tiba menggelengkan kepalanya, lalu melepaskan tangannya dari pinggangku. Ia berpaling dariku sebentar, sambil memegang dahinya. Aku mengerut melihat tingkah lakunya yang seperti itu.


"Apa pendapatmu mengenai tempat ini?" Callum akhirnya menoleh kepadaku lagi, lalu meregangkan lengannya. Aku melihat apa yang disuguhkan di hadapanku.



Aku tidak menyadari aku sedang berdiri di antara pepohonan tinggi dengan warna daun kuning keemasan. Daun-daun yang lebat menghalangi sinar matahari. Aku bisa melihat bayangan pepohonan yang berbaur dengan bayangan tubuh kami.


"Ini...pohon musim gugur...artinya-" Aku terlalu terpesona dengan pemandangan, sampai-sampai aku tak dapat melanjutkan perkataanku.


"Kita berada di taman Musim Gugur," katanya kepadaku. "Pohon-pohon disini akan selalu berwarna kuning keemasan. Ayo." Ia menarik lenganku untuk menuntunku.


Selama 17 tahun hidupku di dalam rumah orangtuaku, aku tak pernah melihat pohon musim gugur dengan mata kepalaku sendiri.


Angin sepoi meniup rambutku dengan pelan. Aku melihat beberapa daun yang jatuh berguguran di atas kami. Aku merentangkan tanganku dan menangkap salah satu daun. Aku hendak mengucapkan terima kasih kepada Callum karena sudah membawaku ke sini saat aku menyadari ia sudah menatapku lebih lama.


Callum tampak terkejut saat aku mendapati ia sedang melihatku, namun ekspresi wajahnya langsung berubah. Sambil tersenyum, ia berkata, "Nah, sering-seringlah memasang ekspresi manis seperti itu."


***


Para gadis pelayan makin semangat membicarakan pesta Callum besok malam. Mereka semakin sibuk menyiapkan gaun-gaun serta perhiasan yang akan digunakan. Sang Ratu pun tampak berpikiran hal yang sama juga. Ia sedang bersama sang Ratu di bilik kamarnya yang luas. Ia tengah menyisir rambutnya yang halus dan panjang.


"Lexy, apa menurutmu warna ini bagus?" Sang Ratu memperlihatkan jari-jarinya yang panjang dan kecil. Ia mengecat warna kukunya menjadi putih dengan bentuk matahari kecil.


"Hmm, menurutku, Anda sudah sangat cantik," jawab Lexy simpel. "Mungkin, Anda bisa menambahkan serbuk Fae sedikit agar terlihat mengilap?"


"Oh, kamu sangat jenius!" Sang Ratu menepuk tangannya. Perilakunya ini terkadang seperti anak kecil. "Saat aku berdansa dengan Callum nantinya, orang-orang pasti akan melihat warna kuku jariku saat aku memegang pundaknya." Sang Ratu tersenyum memikirkan hal itu.


Lexy hanya balas tersenyum. Saat ia sudah selesai menyisir rambutnya dan menaruh mahkota bertaburkan permata di atasnya, ia mulai mendadani wajah kecil sang Ratu.


Dan setiap kali ia melakukan hal itu, ia harus pintar menyembunyikan ekspresinya yang sedang terpesona. Wajah sang Ratu saat dilihat dari dekat sangatlah menawan. Bulu matanya kelewat lentik, dan bibir mungilnya terlihat lembut dan halus. Wajar saja orang-orang berkata ia adalah pasangan yang tepat untuk sang pangeran.


Sang Ratu mengajaknya bicara lagi saat ia tengah menepuk pipinya dengan bedak. "Lexy, akankah kamu mengikuti pestanya besok malam?"


Lexy menatap langsung mata sang Ratu. "Tidak," jawabnya singkat. Ia tahu seharusnya ia tidak pernah mengucap kata itu di hadapan sang Ratu. Itu dianggap tidak sopan dalam etika para peri lebah. Namun, sang Ratu sepertinya tidak tersinggung sama sekali.


"Kenapa? Kamu gadis tercantik yang pernah kutemui. Sayang sekali kalau sang pangeran sampai tidak bertemu denganmu," Sang Ratu mengambil sebotol parfum, lalu menyemprotkannya ke tubuhnya sendiri. Parfum itu berwangi madu.


"Aku akan sangat bahagia mengikuti pesta sang pangeran," ia terpaksa mengucapkan dusta itu. "Namun, sang pangeran tidak mengundangku."


Sang Ratu terkesiap. Ia segera menaruh kembali botol parfum ke atas meja. "Callum tidak mengundangmu?! Gak mungkin!"


"Ya, aku bukan Fae biasa," gumam Lexy. "Sang pangeran pun sepertinya tidak mengenaliku juga."


"Tapi kamu adalah bagian dari komplotanku sekarang." Sang Ratu menatapnya lekat-lekat. "Aku ingin kamu pergi ke istana Amarilis dan menghadiri pestanya."


Lexy sama sekali tidak menyukai ide itu. Ia tidak ingin menemui sang pangeran yang sudah mengurungnya selama berhari-hari. Ia juga takut akan berpapasan dengan Fae Light yang bernama Val itu. "Aku...memangnya sopan kalau aku datang tanpa undangan?"


"Jangan khawatir. Aku akan mengurusnya." Sang Ratu membuka laci meja riasnya, lalu mengeluarkan sebotol madu. Lexy tidak bisa berhenti memandang botol itu. Itu adalah madu murni sang Ratu, alias Madu Susu.


Sang Ratu memberikan botol itu kepadanya. "Anda memberikanku Madu Susu?" Lexy memutar-mutar botol itu. Madu itu tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer. Warnanya yang keemasan tampak memantulkan cahaya dari lampu.


"Lebih tepatnya, aku mau kamu meminum ini," kata sang Ratu. "Ini bisa mempercantik penampilanmu. Kamu dapat melewati para penjaga dengan mudah."


Lexy mematung mendengar ucapan sang Ratu. Ternyata rumor itu benar. Madu Susu dapat merombak penampilan seseorang.


"Begitu kamu memasuki istana, pakailah topeng milikku agar para Fae tidak mengenalimu." Sang Ratu membuka lagi laci meja riasnya, lalu mengeluarkan sebuah topeng keemasan.


"Aku...aku tidak tahu kenapa Anda ingin aku menghadiri pesta-"


"Aku mau kamu menyamar menjadi diriku," balas sang Ratu. Lexy yakin telinganya pasti sedang rusak. "Pastikan pandangan semua orang terpaku pada dirimu yang cantik jelita."


Lexy tidak yakin apa maksud sang Ratu. "Anda...bagaimana dengan Anda nantinya?"


Sang Ratu tersenyum licik kepadanya. Rasanya seperti melihat orang yang berbeda. Orang yang selama ini terlihat ceria dan kekanak-kanakan, telah berubah menjadi seorang Ratu yang licik dan penuh rahasia.


"Aku harus membereskan sesuatu."