Wings & Dust

Wings & Dust
Ratu Peri Lebah



Wanita itu menatapnya lekat-lekat. "Siapa kamu dan apa maumu?"


Lexy memberanikan diri untuk menatap mata sang Ratu. "Aku kesini untuk meminta sedikit madu premium buatan kaummu yang katanya sangat lezat." Ia lalu tersenyum. "Jika Ratu berkenan, izinkanlah aku untuk mengambilnya sedikit."


"Dan atas dasar apa kamu memiliki hak untuk berbuat demikian?" Suara tegasnya menggema. Lexy buru-buru menjawab, "Aku hanyalah salah seorang pekerja dari seorang Fae Ventus yang bernama Mella Ealark."


"Mella Ealark?" Lexy bisa merasakan getaran pada suaranya. Sang Ratu mulai salah tingkah. "Maksudmu, Mella sang Fae Ventus, teman lamaku yang sudah lama tidak mengunjungiku?"


Lexy tidak yakin harus membalas apa, jadi ia hanya membalas, "Ya, Yang Mulia Ratu."


Keheningan mulai tercipta. Sang Ratu tak kunjung memberikan respons. Wanita itu masih menatapnya dengan mata hitamnya yang besar. "Kenapa ia menyuruh salah satu pelayannya untuk menemuiku?" Bisiknya curiga.


"Aku hanya akan memintanya sedikit," lanjutnya lagi untuk mengingatkan sang Ratu. "Sudah sepantasnya madu hasil ciptaan peri lebah dinikmati oleh berbagai kalangan. Madu murni kalian dijual sangat mahal di pasaran."


Sang Ratu tampak mempertimbangkan perkataannya ini. Ia menjilat bibir bawahnya, lalu bersandar kembali pada kursinya. "Baiklah. Anggap aku memberikanmu satu botol maduku. Dengan apa kau akan membayarnya?"


Miss Mella tidak pernah memberitahunya ia harus membayar. Walau begitu, Lexy tetap berusaha untuk terlihat tenang. "Apa saja, Ratuku."


Tak disangka-sangka, sang Ratu yang awal mulanya terlihat serius dan penuh perhitungan langsung menepuk tangannya. "Bagus! Kalau begitu, kamu akan menjadi salah satu pelayanku!" Matanya berbinar-binar di bawah cahaya kemilau lampu kandelir. "Jarang sekali ada gadis cantik sepertimu. Rambut pirangmu membuat parasmu semakin mirip dengan peri lebah."


Lexy tidak yakin harus bergembira atau bersedih karena ia tidak bisa kembali ke Amalthea Halley. Membuat aliansi dengan Ratu Lebah tentu akan lebih menguatkan karena kekuasaan yang dimilikinya, namun bekerjasama dengan Miss Mella akan membuatnya lebih mudah untuk menjangkau Alena di pondok Lilies.


Ia menunduk dengan rasa hormat, lalu membalas, "Terima kasih, Yang Mulia."


Sang Ratu memerintahkan salah satu pelayannya untuk memberinya sebotol madu. Madu murni itu terlihat kental dan menggiurkan. "Bella akan mengantarmu ke kamar barumu. Datanglah ke ruang perjamuan untuk makan malam nantinya." Sang Ratu langsung menepuk tangannya, tak lama seorang gadis terbang menghampirinya. Rambutnya juga digerai, dan mahkota bunga melingkar di atas kepalanya. Ia mengenakan baju pelayan, namun berbeda dari yang ditemukannya di lorong, bajunya terlihat lebih indah dengan mutiara-mutiara yang menghiasi rok panjangnya yang anggun.


Gadis yang bernama Bella itu mengantarnya keluar dari ruang singgasana. Ia harus mempercepat langkah kakinya karena peri itu bergerak sangat cepat. "Aku akan memberikan botol ini kepada Miss Mella nantinya," suaranya terdengar lembut dan manis.


"Ah," Lexy mengangguk, lalu memberikan botol yang sebelumnya berada dalam genggamannya. Lexy dibawa ke ruangan lainnya, dimana banyak terdapat pintu-pintu berborder emas. Bella menghampiri salah satu pintu yang terdapat corak bunga matahari, lalu membukanya. Sebuah kamar yang layak dipakai, dilengkapi dengan perabotan seadanya dan jendela yang langsung menghadap ke pepohonan di luar istana.


"Istirahatlah terlebih dahulu," Bella segera menutup pintu kamarnya. Lexy sebenarnya ingin bertanya dimana ruang perjamuan yang akan dihadiri olehnya nanti, namun ia urungkan niatnya.


Ia menghampiri ranjang bersprai kuning, lalu merabanya. Halus dan lembut. Sama sekali layak dipakai. Ia langsung merebahkan diri di atas ranjang empuk ini, dan memejamkan matanya. Rasanya sudah lama sekali semenjak ia tertidur di atas ranjang. Selama ini, ia terpaksa tidur di atas tanah kasar, ditemani oleh katak dan jangkrik. Terkadang, cuaca tidak menyambutnya dan hujan membasahi tanah.


Ia tidak tahu sudah berapa lama ia terlelap saat pintu diketuk berulang kali. Ia hanya membuka kedua kelopak matanya dengan pelan, masih terasa malas untuk langsung bangkit dari ranjang. Ia dapat mendengarkan suara kepakan sayap yang berdengung. Selang beberapa detik, pintu ditutup kembali.


Ia memaksa dirinya untuk menoleh dan melihat benda yang tadi dibawa oleh salah seorang pelayan. Gaun sutra keemasan dengan mutiara putih yang terlipat dengan rapi. Mahkota bunga yang melingkar di atas lipatan baju. Ia langsung beranjak dari kasur dan membuka lipatan.


Gaun ini memiliki ukuran yang pas untuk tubuhnya. Ia langsung menanggalkan baju kotornya yang bau dan sudah tersobek-sobek, lalu masuk ke dalam toilet. Ia terkesiap saat melihat bak mandi yang sudah terisi penuh dengan air busa dan gelembung. Bak mandi ini tercium manis seperti madu. Ia merendamkan tubuhnya ke dalam air yang ternyata juga hangat dan nyaman. Kemudian, ia mulai membersihkan rambutnya yang sudah sangat kusut dan berantakan. Ia mengeluarkan suara tawa kecil. Bagaimana caranya sampai Ratu bisa memandanginya sebagai makhluk yang berparas rupawan saat penampilannya saja sudah seperti gadis desa yang miskin?


Setelah ia yakin sudah membersihkan seluruh bagian tubuhnya, ia mengeringkan diri dan mengenakan gaun yang diberikan oleh pelayan tadi. Gaun ini tidak terasa gatal saat dikenakan, meskipun renda pada bagian lehernya terlihat sedikit norak.


Ia berbalik badan dan memandangi pantulan dirinya di kaca cermin. Ia harus mengakui bahwa gadis yang dilihatnya itu mengingatkannya pada Alena, saudari kembarnya. Wajah mereka sangat identik. Perbedaan mereka hanya terletak pada sifat mereka yang bertolak belakang. Alena mempunyai sifat yang pemberani dan ambisius serta rasa keingintahuannya yang besar. Sejak dulu, kakaknya itu menguasai hampir seluruh mata pelajaran yang diajarkan oleh Miss Gray. Walau begitu, kadang ia juga mempunyai sisi yang mudah menyerah saat ia yakin bahwa ia tidak mungkin berhasil.


Lexy tidak sadar perutnya yang sudah berbunyi saat ia keluar dari ruangan. Ia mencoba mengingat-ngingat jalan yang pernah dilalui olehnya. Ketika ia sudah melihat ruang singgasana, ia memberanikan diri untuk berbicara kepada salah seorang pelayan dan menanyakan arah. "Pintu itu ruang perjamuannya," katanya, masih sambil menyapu lantai dari debu.


Lexy berterima kasih dan segera membuka pelan pintunya. Ia dapat melihat meja besar yang bundar. Banyak peri lebah yang sibuk berbincang-bincang. Di atas meja, banyak mangkuk porselen dengan ukirannya yang rumit. Selain madu murni yang tentu akan dijamu, Lexy bisa melihat camilan yang sepertinya berbahan dari kelopak bunga matahari atau sejenisnya. Ia tersenyum lega saat menyadari makanan yang dihidangkan tidak jauh berbeda dari makanan yang biasa disantap oleh Fae.


Semua orang mulai memperhatikannya saat ia mengambil langkah memasuki ruangan. Ia dapat melihat sang Ratu yang duduk di meja terpisah, yang tentunya terlihat lebih mewah dan luas. Ia melambaikan tangan ke arahnya, dan dengan canggung, Lexy menundukkan kepalanya tanda hormat. "Terima kasih sudah mengundangku ke acara perjamuan malam ini," katanya kepada Ratu yang kini berbusana elegan.


Sang Ratu mengangguk dengan cepat. Mahkotanya sudah terlihat berbeda. Kali ini ia mengenakan mahkota yang berwarna biru kelam. "Tentu, tentu. Silahkan, umm..."


"Lexy," sahutnya kepada Ratu. "Namaku Lexy Sherman, siap menjadi pelayanmu," lanjutnya lagi dengan nada yang meyakinkan.


"Lexy! Sungguh sebuah nama yang cantik!" Sang Ratu segera memerintahkan beberapa pelayan untuk mencarikan kursi untuknya. Semenit kemudian, ia sudah memakan salah satu hidangan yang dijamu.


Di sekelilingnya, beberapa gadis sibuk berbicara mengenai gaun apa yang akan dikenakannya pada pesta ultah yang diadakan oleh sang pangeran termuda. "Sudah lama sejak aku menemui sang pangeran! Aku tak bisa melupakan wajah tampannya saat ia memandangiku dengan matanya yang sebiru langit!" Salah satu gadis berambut coklat gelap memandangi langit-langit sambil tersenyum memikirkan sesuatu. "Menurutmu, apakah aku mempunyai kesempatan untuk menikahinya?"


"Kau gila, ya?" Temannya yang sedang duduk di sebelahnya berkacak pinggang. "Dia pasti akan menikahi orang yang sederajat. Menurutku, Ratu kita sangat cantik dan akan menjadi pasangan yang cocok untuknya."


Lexy pura-pura tidak mendengar dan menelan sup hangat yang berisikan biji pohon palma. "Tapi, ia sampai mengundangku ke acara ultahnya!" Gadis itu menggerutu. "Ia pasti mengingat namaku dengan jelas!"


"Lebih tepatnya, ia mengundang seluruh rakyat Bougenville," Bella tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya. "Pestanya akan diadakan di istananya sendiri. Aku tahu hal itu karena ia menulisnya dalam surat."


Gadis-gadis itu langsung terkesiap, dan tatapan jengkel mulai mengarah kepadanya. "Jangan bilang gadis Fae ini juga diundang."


Lexy hampir tersedak mendengar ucapannya. Ia baru menyadari gadis itu sedang menatapnya. Ia hanya mengelap bibirnya yang basah, lalu menjawab dengan singkat, "Aku tidak."


Mereka mulai menghela napas dan kembali tertawa. "Syukurlah. Berarti saingan kita berkurang!"


Lexy tidak ingin mendengarkan semua ini. Ia bahkan tidak yakin jika harus memercayai ucapan mereka mengenai sang pangeran. Ia pernah bertemu dengan seorang Fae Royal, dan Fae itu tidak memperlakukannya dengan baik. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Fae Light yang bernama Val itu menarik rambutnya hingga rontok. Ia bergidik mengingat hal itu.


"Lexy, apa kau baik-baik saja?" Bella ternyata memperhatikannya sedari tadi. "Kupikir kamu akan menyukai sup ini. Aku sengaja membuatnya karena kedatanganmu ke istana kami."


"Oh, sup ini enak! Terima kasih," Lexy berusaha tersenyum, lalu lanjut meminumnya kembali. "Aku hanya sedang berpikir..."


"Berpikir tentang Callum?" Bella tertawa cekikikan. "Jangan khawatir. Biasanya dia akan mengundang para Fae dan peri lebah. Bahkan, terkadang aku melihat hewan Fae seperti burung yang sampai memasuki istana Amarilis."


"Oh ya?" Lexy mengusap kepalanya. "Ceritakan kepadaku mengenai Callum."


"Hmm? Belum pernah melihatnya?" Bella memetik kelopak bunga mawar yang masih mentah, lalu menggigitnya. "Rambutnya berwarna hitam. Matanya sebiru langit. Wajahnya mudah dikenali, karena menurutku, diantara Fae Royal lainnya, dialah yang paling memukau."


Lexy hampir menjatuhkan garpunya. "Bagaimana dengan...umm...pangeran lainnya?" Ia tidak dapat menahan rasa gugup yang mulai menjalari tubuhnya.


"Hmm, bagaimana ya? Aku belum pernah menemui pangeran tertua secara langsung. Namun, semua pangeran dan putri tidak memiliki rambut hitam seperti dirinya. Pangeran Callum adalah pangeran terunik, dan yang paling menonjol diantara kalangan gadis-gadis." Bella cengar cengir saat memikirkan sesuatu. "Yahh, walaupun menurut temanku, pangeran Dexter lah yang paling tampan. Karena..."


Lexy tidak dapat mendengar perkataan Bella yang selanjutnya. Karena kedua tangannya sudah meremas rambutnya. Tubuhnya gemetaran. Callum. Ternyata Fae Royal yang mengurungnya tak lain adalah sang pangeran termuda. Pangeran yang sudah pernah ia temui, dan sosok yang selalu menghantuinya tiap malam.


***


Aku terbang secepat mungkin, melewati pepohonan rindang. Aku menoleh ke belakang dan melihat gedung istana Amarilis yang mulai mengecil dari pandanganku. Tiba-tiba, suara raungan keras terdengar dari depan dan untung saja aku berbelok secepat kilat ke arah berlawanan, karena salah satu Egleans hampir menangkapku.


Aku harus fokus, kataku pada diri sendiri. Aku harus segera menemui Sana agar ia dapat menyembuhkan Naomi. Sekarang ini nyawa temanku berada di tanganku.


Setelah berkali-kali berhasil menjauhi serangan dari Egleans, aku dapat melihat gedung Faedemy yang kini terlihat mengerikan. Kaca jendela sudah rusak, dindingnya retak dan gedung itu sendiripun terlihat hampir roboh. Air kolam tidak berfungsi dan padang rumput mulai dipenuhi oleh genangan darah dan mayat-mayat yang bergelimpangan.


Aku melihat rombongan murid yang sudah berhasil keluar dari gedung Faedemy. Beberapa Fae bersayap putih rupanya berhasil mengevakuasi sebagian besar dari mereka.


Aku melihat seorang Fae kecil yang kira-kira masih berusia lima tahun menangis karena terjebak dan tubuhnya tertimpa oleh kayu-kayu. Aku langsung terbang menghampirinya dan mengangkat kayu itu sekuat tenaga. Jari-jariku hampir terpelintir dan tertusuk oleh kayu, namun perasaan lega mulai menenangkanku saat melihat kaki si bocah yang tidak terluka sedikitpun.


Aku langsung menggendongnya dan membawanya kembali ke rombongan yang sudah terbang menjauh. Tepat saat aku ingin mengikuti mereka, sebuah teriakan terdengar dari dalam gedung.


Aku langsung menyerahkan si bocah kepada salah seorang Fae Healer. "Jangan lewati gerbang istana! Masuk melalui jendela yang terbuka! Lakukan segala cara! Pecahkan jendela kalau bisa!" Aku memerintahkan mereka semua, lalu terbang kembali ke gedung Faedemy.


Pintu terhalang oleh salah satu Egleans yang berbadan kecil seperti kucing. Makhluk itu mendesis, kemudian melompat dan menerjang ke arahku. Aku langsung menendangnya sekuat tenaga, dan tahu-tahu makhluk itu sudah tidak bernyawa karena perutnya tertusuk oleh serpihan kayu besar.


Aku buru-buru memasuki gedung, menoleh ke sana kemari, mencoba untuk mengeluarkan Fae yang masih terperangkap. Saat aku yakin lantai satu sudah kosong, aku mulai terbang ke lantai dua.


Aku melihat gadis berambut pirang yang familiar. Ia sedang berlutut dan membelakangiku. Cahaya putih menyala-nyala, dan aku melihat pangeran Callum yang sibuk membasmi para Egleans yang berani mendekati Sana. Di dekatnya, Val juga sibuk bertarung melawan Egleans, berusaha melindungi sang pangeran.


Aku menghampiri mereka sambil tergesa-gesa. "Di mana Xiela?" Masih sambil menyerang Egleans, Callum berteriak, "Kupikir ia sedang bersamamu!"


Aku menggelengkan kepalaku, lalu segera berlutut dan mendekati Sana. Gadis itu sibuk menyembuhkan seorang Fae berambut hitam lebat. Aku mengintip di balik bahunya dan melihat Lotus yang berdarah-darah. Tubuhnya terkulai lemah, dan kedua matanya terpejam.


"Sana, aku membutuhkanmu! Naomi sedang terluka parah!" Aku menggerak-gerakkan tubuhnya. "Cepatlah! Waktunya tidak banyak!"


Ia tidak merespons. Ia masih memfokuskan diri untuk menyembuhkan luka di lengan Lotus. "Aku tidak sanggup lagi...aku-"


Sana mulai terhuyung-huyung, dan cahaya putih pun memudar. "Tenaganya sudah hampir habis!" Val yang tiba-tiba berlutut di hadapannya langsung membopong Sana. "Cari Healer lainnya! Ia harus beristirahat!"


Aku menggigit bibirku sampai berdarah. Aku bangkit berdiri, kemudian setelah melihat luka di lengan Lotus yang mulai merapat, aku segera terbang meninggalkan teman-temanku.


Callum masih sibuk menyerang para Egleans yang tak kunjung-kunjung berkurang. Aku bisa merasakan bobot belati yang sedari tadi kugenggam. Lalu, setelah mengambil satu langkah ke depan, aku berlari kembali ke belakang, menghampiri teman-temanku. Aku tidak akan meninggalkan mereka seorang diri.


-----


Halo, semua! Apa kabar? Baik-baik aja kan, pastinya :D


Author cuma mau nyampaiin sesuatu nih, (kabar baik tentunya hehe)


Eps selanjutnya adalah episode bonus, dimana seluruh tokoh yang pernah muncul di kisah ini akan direkap agar tidak membingungkan para pembaca.


Segala macam sihir dan cahaya masing2 golongan Fae juga akan dijelaskan, agar semakin mudah dipahami juga.


See you in next eps!! Bye~ 😁👋


-Ellen