
"Kamu!" Xiela tiba-tiba menghentakkan kakinya, lalu menggunakan jarinya untuk membakar ujung rambut Lilies. Wanita itu langsung berteriak. "Apa yang sedang kamu lakukan?!"
"Balasan atas perkataanmu di ruang rapat kemarin." Xiela menggertakkan giginya. "Aku tidak tahu sifatmu semakin keterlaluan."
Lilies hanya terus menyentuh ujung rambutnya yang kini mengeluarkan asap kecil berbau gosong. Ia terisak. "Aku sudah keramas padahal..."
Aku memutar bola mataku. Tak bisakah Fae Cosmos ini melupakan penampilannya barangkali sebentar? "Aku juga sangat bahagia bisa melihatmu lagi," balasku mengejek.
Lilies melemparkan ujung rambutnya ke belakang leher, lalu berjalan memasuki ruangan. Rok gaunnya lagi-lagi berkibar-kibar. Ia tersenyum saat menatapku. "Bagaimana Alena? Sudah tidak sabar menjadi mata-mata?"
Oh, saking sabarnya sampai ingin membakar seisi gedung, pikirku jengkel. "Dan bagaimana denganmu? Sudah tidak sabar untuk tidur bersama sang pangeran?"
"Apa?! Kau ini!" Ia mengangkat tangannya dan hendak memukulku, namun dengan sigap aku berhasil menghindarinya. "Jangan kurang ajar mentang-mentang Callum menyukaimu!"
Aku tidak tahu kenapa, tapi rasa puas memuncak dalam diriku dan aku tersenyum saat melihat raut wajahnya yang berkerut. "Mungkin memang begitu," gumamku padanya.
"Cukup Lilies." Naomi menyipitkan matanya. "Aku tidak ingin melihatmu di ruanganku. Pergilah." Ia lalu menggerakkan tangannya tanda mengusir. "Aku lebih memilih Egleans yang mengunjungiku dibanding Fae sombong sepertimu."
Muka Lilies sudah memerah, sampai-sampai kupikir akan meledak. Untungnya, ia hanya menatapku dengan amarah, dan berbalik badan.
"Yang tadi itu...intens," kata Sana tiba-tiba. Aku hanya mengangkat bahu, ingin menunjukkan bahwa hal yang tadi itu bukan apa-apa untukku. "Lain kali ingatkan aku untuk membakar rambutnya setiap kali ia beromong kosong," lanjut Sana lagi. Kita hanya membalas dengan tawaan.
***
Lexy mulai terasa bosan karena pekerjaannya itu-itu saja. Ia bahkan mengatakan kepada diri sendiri bahwa menjadi pelayan normal dengan tugas bejibun jauh lebih baik dibanding pelayan yang mendapat perhatian lebih banyak dari sang Ratu seperti dirinya.
Selama kehidupannya di istana sang Ratu, Lexy sudah mempelajari banyak hal dan mulai mengerti pola kehidupan para peri lebah. Sebagian besar pelayan ditempatkan di ruang pabrik pembuatan madu. Madu murni sang Ratu yang sudah sangat terkenal di seluruh penjuru wilayah Fae. Lexy pernah mencoba memasuki ruangan itu diam-diam dan benar seperti dugaannya; wanginya sangat harum. Bagaikan bunga yang menarik perhatian serangga, aroma madu itu sempat membuatnya oleng dan ia hampir meneteskan air liurnya. Untungnya suara gaduh yang dibuat oleh salah seorang pekerja menyadarkan lamunannya.
Madu itu berwarna kekuningan emas, pekat dan kental. Katanya madu itu dapat menyembuhkan tubuh yang sakit serta dapat dijadikan sebagai obat penyembuh luka, dari yang paling ringan sampai yang terberat sekalipun. Madu itu juga dikatakan bisa mengubah penampilan seseorang. Bella sampai memberitahunya bahwa kecantikan sang Ratu yang tiada batas dan tak tertandingi adalah hasil dari madu tersebut.
"Tentu saja, itu hanya rumor," kata Bella. "Belum ada yang sempat mengonfirmasikannya."
"Memangnya kalian tidak pernah coba meminumnya sendiri?" Tanya Lexy saat mereka sedang berada di ruang perjamuan untuk makan malam.
"Kami para pelayan rendahan tidak akan mampu membelinya," sahut seseorang yang duduk di seberangku. Seorang gadis berambut hitam seleher. Keperawakannya seperti seorang gadis bocah. "Madu murni yang dijual sangat mahal di pasaran Fae, kami menyebutnya Madu Susu. Untuk kaum kami, susu sangatlah terbatas dan hanya golongan teratas yang mampu membelinya."
"Tapi, kalianlah yang mengolahnya," kata Lexy. "Tidakkah kalian pernah mencoba untuk...barangkali mencicipinya?"
"Sang Ratu tidak memperbolehkan kami untuk melakukan itu," sahut seseorang lagi di samping gadis berambut hitam itu. Gadis itu berambut putih seperti salju. Kepakan sayapnya berdengung di telinga Lexy. "Peraturan utama seorang pelayan; turuti kemauan sang Ratu tanpa pernah mempertanyakannya."
Lexy menelan sebuah cairan kental berwarna hijau kekuningan. Ia tidak sempat memikirkan bagaimana makanan yang menjijikan ini disuguhkan dalam menu, karena pikirannya sedang melayang. "Jadi secara teknis, kalian boleh memakan madu jenis apa saja, kecuali Madu Susu yang dihasilkan berkat kerja keras tangan kalian sendiri."
Bella tertawa kecil. "Kalau dipikir-pikir, memang tidak adil." Ia meletakkan sendok dan garpunya. "Tapi, semua gadis yang tinggal di istana ini memiliki hutang budi terhadap sang Ratu. Ia memang seharusnya dihormati."
Lagi-lagi, pernyataan itu. Lexy ingin sekali mempertanyakan lebih detil apa yang sang Ratu lakukan terhadap mereka semua sehingga mereka semua berhutang budi padanya.
Walau begitu, ia harus mengetahui hal lain. "Siapa sang Raja Peri Lebah?"
Seketika suasana menjadi hening. Semua orang yang berkumpul satu meja dengannya langsung menatapnya. Ada yang berdeham, ada yang pura-pura terbatuk.
"Raja...dia peri jahat untuk Ratu kami," balas gadis berambut putih tersebut. "Sebagian besar gadis disini sudah pernah menemuinya. Entah apa yang telah sang Raja lakukan sampai membuat mereka semua stres dan trauma."
Lexy hampir menumpahkan isi minumannya. Ia lalu menoleh kepada Bella. "Kamu tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku."
Ia menghela napas. "Aku tidak mau mengingatnya lagi."
"Sebenarnya apa yang ia lakukan sampai membuat gadis-gadis pelayan merasa trauma?" Tanyanya dengan hati-hati. Ia baru bisa melegakan hatinya karena Bella akhirnya menjawab, "Ia selalu datang ke dalam mimpi kami, menghantui kami setiap malam."
***
Musim dingin sudah hampir tiba. Angin yang berembus sangat kencang di halaman istana membuatku menggigil. Aku sampai harus menahan rambutku agar tidak berantakan. Aku tidak tahu kapan salju pertama turun, namun ketika tiba saatnya, aku harus sudah bersiap.
Aku sedang berjalan mengelilingi halaman istana yang luas. Beberapa Fae Blossom sedang sibuk merawat dan menumbuhkan kembali tanaman dan pohon-pohon yang rusak akibat penyerangan Egleans waktu itu. Aku dapat melihat Callum dari kejauhan. Ia sedang berbicara dengan salah satu Ripper bawahan Ledion. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya, jadi aku terbang menghampiri salah satu paviliun yang terletak di antara padang rerumputan.
Paviliun berlapisan ornamen Chrysos ini sudah cukup untuk menghalangi sinar matahari yang terik dan panas. Aku bersandar pada salah satu pilar, lalu mengembuskan napasku. Aku hendak memejamkan mata dan bersantai, menikmati angin sepoi yang menggelitik di wajahku ketika aku mendengar sebuah suara berat.
"Suka tidur berduaan dengan Callum?" Fae Light itu sedang menatapku dengan tatapannya yang tajam dan menyeramkan. Ia melipat kedua lengannya ke dada, dan menyeringai. "Sudah bisa kutebak dari ekspresi wajahmu."
Kalau Val suka bercanda, aku mungkin sudah memukul lengannya. Namun, kalau aku sampai melakukan hal itu, ia akan menganggap kalau perilaku itu adalah sebuah peringatan, ancaman yang bisa kulakukan kapan saja.
Aku berharap sedikit saja bahwa pria ini memiliki rasa humor.
"Aku terpaksa karena tidak ada lagi ruangan yang tersisa," balasku dengan padat dan jelas. Pria itu tidak tertawa sama sekali. Ia tetap mengawasiku dengan mata elangnya.
"Kalau bukan gara-gara Callum, aku pasti sudah membunuhmu," katanya lagi dengan nada rendah. Aku tahu perkataannya serius. Anehnya, aku tidak bergidik dan merasa takut akan ancamannya.
"Kupikir kamu membenciku karena aku ini Egleans," kataku, tidak merasa takut sedikitpun. Ia membuka mulutnya, memperlihatkan gigi taringnya. "Dan sekarang kamu sudah membuktikan dirimu sendiri bahwa kamu juga bukan seorang Fae."
Val ada benarnya. Aku membenarkan rokku yang tertiup angin. Aku mengingat dirinya saat ia menolong Sana, dan saat ia setia mendampingi Callum, bahkan saat Egleans menyerang kami dan ia bisa saja menyelamatkan diri sendiri dan meninggalkan tubuh Sana begitu saja. Val pasti adalah teman terbaik Callum. Bahkan saat para gadis sibuk mengerumuninya, Val tetap berada di sampingnya. Pria ini begitu setia dengan sang pangeran.
"Bersikap baiklah dan tolak undangan dari Callum," ucapnya tiba-tiba. Aku menoleh kepadanya. "Apa?"
Val mengepalkan tangannya. Aku bisa melihat rahangnya yang mengeras serta pernapasannya yang tidak teratur. "Jangan pura-pura gak tahu. Besok malam pesta akan diadakan di istana ini. Aku tidak ingin kamu mengikutinya."
Aku mendesis. "Aku gak akan mendatangkan bahaya."
"Oh ya?" Ia lagi-lagi tersenyum miring. "Akan ada banyak tamu yang hadir besok. Seluruh pelayan dari istana Peri Lebah, bahkan Fae dari Kerajaan Bougenville sekalipun. Akan ada banyak tamu, jadi keamanan sang pangeran akan diperketat." Ia mencengkeram pedangnya kuat-kuat. Otot lengannya sampai terlihat. "Kalau kamu sampai mendatangkan Egleans lagi-"
"Huh!" Aku melipat lenganku. "Yang benar saja! Mau sampai kapan kamu bakal terus mencurigaiku?"
Val tiba-tiba mencengkeram leherku. Saking cepatnya, aku tidak dapat menghindar. Ia menekan leherku kuat-kuat, sampai aku tidak bisa mengambil nafas. Yang benar saja, ujarku dalam hati. Dia ingin membunuhku di depan banyak orang?
"Le...lepaskan a...aku," ujarku lirih. Aku menarik-narik tangannya, mencoba untuk melepaskan diri. Aku melihat ke sekeliling, berusaha untuk mendapatkan perhatian dari banyak orang agar mereka bisa menolongku. Namun, tidak ada satupun yang dapat melihatku.
"Pembelokkan cahaya." Fae Light itu tertawa puas. "Aku membuat kita berdua tak terlihat." Ia mempererat cengkeramannya, lalu menaruh bibirnya di telingaku. "Kalau kamu sampai membahayakan nyawa Callum, aku tidak hanya akan melemparkan sisa-sisa organmu ke dalam kandang Egleans." Napasnya sampai mengenai pipiku. "Aku juga akan berbuat hal yang sama untuk saudari kembarmu."
Rasanya baru sekarang aku tidak bisa bernapas. Fae ini baru saja mengungkit soal Lexy. Aku tidak tahu darimana ia mengenal Lexy. Aku sampai meremas pergelangan tangannya. Entah kenapa tangannya terasa hangat.
Tiba-tiba, secara ajaib, Val berteriak kesakitan. Ia lalu melepaskan cengkeramannya pada leherku. Aku menarik napas sebanyak-banyaknya, mencoba untuk mengatur kembali pernapasanku yang sempat terhambat. Aku sampai terbatuk-batuk dan memukul dadaku.
Callum sampai menoleh ke arahku dan berlari tanpa memerdulikan Fae Ripper yang tengah berbicara dengannya. "Ada apa?" Ia melirik ke Val dan aku secara bergantian.
"Dia...dia baru saja mencekikku," aku kesusahan berbicara, jadi aku menyandarkan diriku pada pilar. Val masih tetap berteriak kesakitan. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Kalau ia sampai berakting di depan Callum-
"Kamu! Apa yang telah kau perbuat?!" Val menatapku penuh dengan amarah. Ia sampai meraba-raba pergelangan tangannya yang tadi kuremas.
Callum segera mengangkat tangannya. Setelah beberapa detik, barulah aku tersadar apa yang telah kuperbuat. Di pergelangan tangannya, tercipta semacam jejak tanganku.
Aku telah membakar tangannya.