Wings & Dust

Wings & Dust
Pesta Topeng Amarilis



Malam itu, pelayan Cosmos yang sama sedang membantuku memilih gaun yang cantik untuk pesta yang diadakan oleh Callum nantinya. Ia berkata bahwa sang pangeran ingin orang-orang menyebutnya sebagai 'Pesta Topeng Amarilis', yaitu sebuah pesta topeng dimana setiap Fae akan membuat diri mereka masing-masing tampil secara misterius.


"Setiap Fae yang hadir pasti akan menonjolkan penampilan mereka," jelas sang pelayan. Aku sedang duduk di depan meja rias. Pelayan itu sedang menata rambutku yang berwarna pirang.


"Tahun lalu, Fae Aqua tampil paling memukau menurutku," lanjutnya lagi. "Rok gaun mereka sampai terbuat oleh permata air, dan perhiasan mereka seperti gelembung yang tidak bisa dipecahkan." Pelayan itu mendesah. "Waktu itu aku ingin sekali bertemu dengan pelayan yang sudah mendandani mereka seperti itu."


Aku mencoba untuk membayangkan hal yang diucapkan oleh pelayan itu. Sebenarnya sejak awal, hatiku sudah berdebar-debar. Aku belum pernah menghadiri pesta seperti itu dan, aku takut akan menjadi Fae terjelek karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa ditonjolkan.


"Setiap gadis yang kutemui pasti berpenampilan lebih cantik dari sebelumnya." Aku tersenyum mendengar perkataannya. Fae Cosmos tentu memiliki pekerjaan yang rumit. Mereka tidak memiliki sihir ataupun cahaya, namun tangan mereka sangat terampil. Walaupun aku bukan seorang Fae Cosmos, aku tetap menyukai hasil kerja keras mereka. Mereka sangat brilian jika menyangkut soal baju dan ide-ide kreatif pasti selalu muncul.


"Nah, bagaimana dengan Miss Alena?" Tanya pelayan itu kepadaku. Lamunanku langsung buyar dan aku menatap matanya lewat cermin. "Bagaimana apa?"


"Warna apa yang paling kamu sukai? Apakah biru langit seperti Fae Aqua, atau putih keperakan seperti Fae Healer?" Pelayan itu kini mengobrak-abrik sebuah tas koper. Tas itu katanya berisi gaun-gaun bekas milik putri Abigail, kakak perempuan Callum yang kini tinggal di istana pribadinya di Wilayah Lavender. Wilayah itu dekat dengan taman Musim Semi, dan berada pada sebelah barat Kerajaan Bougenville.


"Warna kuning keemasan seperti Fae Light? Sepertinya cocok juga untuk rambut pirangmu," gumamnya lagi sambil mencari-cari gaun yang tepat untukku.


Aku menatap diriku di depan cermin. Rambutku sudah disanggul dan diberi jepitan manik-manik berwarna keemasan. Aku tidak tahu harus memilih warna apa; terlebih lagi karena aku masih belum mempunyai bakat yang jelas.


"Bagaimana dengan Fae Melody?" Aku mengusulkan. Ia berhenti memainkan tangannya dan menoleh kepadaku. "Fae Melody? Ungu?" Ia langsung memilah gaun-gaun yang kini sudah berada di atas ranjang dan lantai, lalu mengambil salah satu gaun berwarna ungu lavender. "Hmm, ini adalah gaun kesukaan putri Abigail dulunya."


Aku mencoba gaun itu yang ternyata sangat pas untuk tubuhku. Meski begitu, gaun ini berlengan panjang dan aku tidak terlalu menyukainya. Roknya terlalu mengembang dan aku takut kalau aku berjalan, rokku akan tersangkut karena sudah pasti akan terinjak-injak.


Aku menggeleng, lalu pelayan itu mendesah. "Sudah kuduga. Putri Abigail memiliki selera baju yang buruk." Aku tertawa saat ia lagi-lagi memilah baju untukku.


Bermenit-menit kami menghabiskan waktu untuk memilah baju gaun yang pas untukku, namun kami masih belum bisa mendapatkan gaun yang pas untukku. Sayapku nantinya pasti akan diperlihatkan. Sayap tak berwarna tentu akan mengundang banyak mata. Mungkin jika aku menghadiri pesta dengan baju kaos dan celana panjang seperti para manusia, baru aku akan menarik perhatian, pikirku.


Xiela memasuki ruangan kamar Callum tanpa mengetuk terlebih dahulu. Aku hampir terserang penyakit jantung karena pada saat itu aku tidak mengenakan apa-apa.


"Kesusahan memilih gaun?" Aku terkesiap saat melihat penampilannya. Xiela yang selalu tampak dingin dan cuek, kini sedang mengenakan sebuah gaun berwarna merah api. Bagian bawah roknya bergradien emas, dan kalau gadis ini sampai memutarkan roknya, warna rok akan menipu mata sehingga tampak seperti api yang terbakar.


Rambut pendek Xiela diberi mahkota emas yang melingkar. Aku melihat lebih dekat dan menyadari bahwa mahkota itu berukiran tubuh Phoenix. Phoenix adalah hewan langka Fae, burung api yang hanya dapat ditemukan di dalam Kerajaan Bougenville.


"Kau tampak...cantik dan-"


"Feminin?" Ia terkekeh. "Asal tahu saja. Aku tidak suka jika harus berdandan seperti seorang putri raja."


Xiela mengibarkan kedua sayap merahnya, dan aku hampir menangis. Memang benar. Setiap Fae yang kutemui nantinya pasti akan tampil memukau sesuai dengan warna sayapnya. Dadaku langsung terasa sesak mengingat sayap cacatku.


Naomi muncul tiba-tiba dari ambang pintu. Ia menggunakan sebuah tongkat panjang untuk membantunya berdiri. Perutnya masih terluka, namun Sana mengatakan bahwa ia sudah boleh bangkit dari ranjang.


Gadis itu sangat imut dan cantik. Gaun ungunya memiliki renda transparan yang membuatnya terlihat elegan. Ia mengenakan kalung yang berkilauan. Rambutnya digerai sehingga membuatnya terlihat lebih muda.


"Kalian benar-benar...aku tidak tahu harus berkata apa," aku benar-benar kehabisan kata-kata. Naomi mengeluarkan dua topeng dari saku roknya. Yang satu berwarna ungu untuk dirinya sendiri, dan yang satu berwarna putih.


"Aku pikir kamu harus mengenakan ini." Dia memberikan topeng berwarna putih kepadaku. Aku menerimanya dengan ragu. Aku masih belum memiliki gaun.


"Jangan khawatir. Aku tahu kau harus mengenakan apa." Naomi mengedipkan matanya kepadaku, lalu mulai bersiul.


Aku bisa mendengar suara kepakan sayap dari balkon. Aku menoleh dan mendapati sekawanan burung warna warni yang terbang menghampiriku. Bulu-bulu mereka berjatuhan di hadapanku dan seketika sudah menjadi bukit.


"Bulu mereka...apa yang kau lakukan?" Tanyaku heran. Bulu-bulu halus mereka yang berwarna pelangi kini sudah terkumpul di lantai. Kemudian mereka menghilang lagi.


Tanpa mengatakan apa-apa, Lilies menghampiri bulu-bulu tersebut, lalu meraba-rabanya. Selang beberapa detik, aku tidak yakin apa yang sedang dilakukannya. Pelayan Cosmosku langsung mengangguk tanda mengerti dan membantu pekerjaannya.


Mereka tampak sedang...menjahit? Tapi, untuk apa? Aku hendak menanyakan hal ini kepada Naomi saat matanya mulai berbinar-binar dan ia bertepuk tangan. "Ohh! Persis seperti bayanganku! Bahkan, lebih tinggi daripada ekspektasiku! Gaun itu sangat cocok untuk Alena!"


Aku mendekati para Cosmos dan mengintip dari balik punggung Lilies. Aku terkesiap. Sebuah gaun dengan rok yang berwarna pelangi.


"Cobalah gaun ini, Alena!" Pelayan itu mengangkat gaun itu, dan berkat cahaya dari lampu, gaun ini terlihat lebih indah. Aku segera mengenakannya dan tersenyum saat melihat penampakan diriku.



"Urusanku sudah selesai kan?" Lilies segera pergi meninggalkan kami yang masih sibuk memuji-muji penampilanku.


Pelayan Cosmos itu mulai membuka jepitan yang semula menahan rambutku, dan rambut pirangku jadi terurai. Rambut yang semula lurus menjadi agak bergelombang, dan aku sampai memeluknya karena terharu.


"Nah," kata Xiela saat aku sudah menyelipkan sekuntum bunga Lavender pada rambutku. "Mari kita tunjukkan kepada semua orang, betapa mengagumkannya gadis tanpa golongan ini."


***


Istana Amarilis terlihat sangat megah, bahkan dari kejauhan. Atap bangunannya berwarna persik kemerahan, sama seperti warna bunga Amarilis. Kata Miss Gray, Amarilis berasal dari bahasa Yunani, salah satu bahasa manusia yang mempunyai arti "kemegahan" atau "berkilau."


Lexy berjalan mendekati bangunan istana tersebut. Dari kejauhan, lampu-lampu yang berkelap-kelip tampak seperti salah satu bintang yang gemerlapan di langit malam. Meski pesta belum dimulai, Lexy sudah melihat banyak Fae yang berbaris untuk memasuki istana. Lexy tidak sempat menghitung berapa banyak jumlah Fae yang hadir di Pesta Topeng Amarilis, namun yang pastinya, ia mendapatkan misi dari sang Ratu.


Lexy merogoh saku gaunnya yang berwarna kuning keemasan. Roknya sampai menyentuh tanah, dan rambut pirangnya disanggul ke belakang. Sang Ratu sudah menaruh beberapa perhiasan kupu-kupu berwarna kuning untuk menghiasi rambutnya sambil memuji-muji kecantikan dirinya.



Ia membuka tutup botol Madu Susu, lalu meminumnya dengan perlahan, mencoba untuk merasakan setiap tetes madu tersebut. Madu ini sangat manis, dan seperti seorang pecandu, Lexy ingin merasakan lebih banyak lagi.


Ia menggelengkan kepalanya dan buru-buru membuang setengah isinya. Ia tidak mau menjadi pecandu seperti Ibu. Ia harus tetap fokus mengikuti perintah sang Ratu, yaitu menyembunyikan identitasnya, sekaligus menarik perhatian banyak orang. Sebuah misi yang sulit sekaligus mudah untuk dilakukan.


Lexy terkesiap. Ia dapat merasakan wajahnya yang mulai berkedut-kedut. Ia dapat merasakan tubuhnya yang mulai mengecil dan pinggangnya yang semakin ramping. Sang Ratu benar. Madu ini sudah mengubah penampilan wajahnya.


Setelah berbaris selama beberapa menit, akhirnya ia telah sampai di depan gerbang istana Amarilis. Dua penjaga Ripper membentuk tanda silang dengan pedangnya.


"Sebutkan namamu," kata Ripper yang berdiri di sebelah kirinya. "Akulah sang Ratu peri lebah," katanya dengan suara tegas dan lantang. Ia berusaha untuk memimik intonasi suara sang Ratu.


Dua penjaga Ripper itu saling memandang. Lalu, penjaga yang satunya lagi berkata, "Lepaskan topeng emasmu."


Jantung Lexy tiba-tiba berdebar sangat keras. Kalau dia membuka topengnya, akankah para penjaga mengenalinya? Tidak, tidak, pikirnya dalam hati. Mereka masih belum melihat sayapku. Aku pasti terlihat normal seperti Fae lainnya.


Namun, bagaimana jika Madu Susu tidak bekerja pada dirinya? Bagaimana jika penampilannya tidak terkesan seperti sang Ratu? Bagaimana jika madu ini justru menggagalkannya?


Tidak, ia sudah sampai di titik ini. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan olehnya. Maka Lexy melepas ikatan topengnya, dan menunjukkan wajahnya.


Kedua penjaga langsung terkesiap. Lexy bisa melihat pipi mereka yang mulai merona. Salah satunya kemudian berdeham. "Umm, maaf...Yang Mulia Ratu. Silahkan masuk."


Lexy tetap menjaga ekspresinya yang bosan dan cuek, lalu dengan langkahnya yang percaya diri, ia berjalan memasuki gedung istana. Setelah mengikuti arus keramaian, akhirnya ia bisa melihat ruangan dansa itu.