
Aku tidak tahu seberat apa tugas seorang Kapten Ripper itu. Yang kutahu hanyalah, aku diberi waktu bebas seharian. "Kalau besok aku masih belum kembali, Miss Farloe akan menggantikanku."
Aku tidak pernah sesenang ini ketika mendapat hari libur. Saat Miss Gray memberikanku dan Lexy hari libur, aku malah menangis dan memaksanya untuk terus mengajariku. Aku tidak tahu akan sebenci ini dengan sesi latihanku di Kelas Awal.
Sana mengajakku ke perpustakaan besar, jantung dari gedung Faedemy. Berbeda dengan rak buku kayu di kamar lamaku yang sudah keropos karena digerogoti oleh serangga, rak buku di perpustakaan ini sangat besar, dan lagi-lagi terbuat oleh bahan langka Chrysos.
Kami duduk di ujung ruangan. Sana duduk di atas kepala sebuah patung singa besar yang tergantung di dinding. Kedua kakinya diayunkan dengan santai. Perasaan iri lagi-lagi merambatiku. Jika aku bisa terbang, aku pasti sudah mengangkat tubuhku sendiri setinggi mungkin, sambil merasakan angin sejuk di udara. Namun sayapku yang kecil dan lemah tidak bisa diajak kompromi.
Sana menceritakan hal-hal yang dialami olehnya saat mengajar di Kelas Healer. "Salah satu murid tidak mau mendengarkanku. Ketika kami sedang melakukan uji coba di ruang laboratorium, dia tidak menyembuhkan seekor katak yang sedang terluka," ia menghela napas. "Ia malah membuatnya mabuk."
Aku menahan diriku untuk tidak tertawa. Aku bisa melihat rasa letih yang tergambar di wajahnya. Aku tidak tahu rasanya mengajar di sebuah kelas dan menjadi guru. "Apa yang terjadi kemudian?"
"Katak itu malah menari-nari mengitari ruangan," jawabnya. Lalu, sebuah senyuman mulai mengembang di wajahnya. "Aku harusnya tidak tertawa pada saat itu. Harusnya aku memarahi murid itu."
Aku mengangguk setuju. Kami jarang sekali bisa menghabiskan waktu bersama akhir-akhir ini. Rasanya juga sudah lama sekali bisa mengobrol santai dengan seseorang. Sambil menatap buku yang sedang kubaca, aku berkata, "Apakah sesibuk itu? Menjadi... ummm... guru?"
Sana mengepakkan sayap putihnya, lalu menghampiriku. "Oh, tentu saja! Menjadi guru itu banyak tanggung jawabnya!" Balasnya. "Tapi jika mendengar suara tawa murid-murid, dan memandang wajah serius mereka saat sedang giat belajar, rasanya menyenangkan dan membuatku makin giat mengajar."
Rupanya temanku ini memang menyukai tugasnya sebagai seorang guru. Berbeda denganku, seorang murid yang sudah berkali-kali mengecewakan gurunya. Seorang murid yang keterampilannya tidak membaik. Seorang murid yang menjadi musuh satu sekolah karena sebuah fitnah yang menyatakan dirinya Egleans.
Aku menutup bukuku, lalu bersandar pada kursi sandarku. Sudah lama sekali sejak aku melihat rak yang dipenuhi oleh buku-buku tebal. Suara hening ruang perpustakaan dapat menidurkanku. Aku memejamkan mata, hendak merasakan angin sepoi-sepoi yang masuk melalui celah-celah jendela di samping kiriku.
"Alena? Apa semua baik-baik saja?" Temanku sekarang sudah duduk di sampingku. "Aku tidak pernah melihat kamu bergaul dengan Fae lainnya disini. Aku tidak memaksamu, tapi sebaiknya... cobalah berdamai dengan mereka," lanjutnya lagi. Aku bisa merasakan getaran pada suaranya. Kentara sekali ia sempat menimbang-nimbang perkataannya itu.
Aku menutup kelopak mataku. "Merekalah yang harus berdamai denganku. Aku tidak pernah berbuat salah. Mereka sudah menghakimiku hanya karena sebuah rumor belaka."
"Aku tahu, Alena," katanya lagi. "Susah memang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita bukan seperti yang dipikirkan oleh mereka. Meskipun begitu, kita tetap harus berusaha. Cobalah untuk berbuat sesuatu agar pendapat mereka tentangmu bisa berubah."
Aku membuka mataku, lalu menatap Sana tak percaya. "Sudah telat untuk meyakini mereka. Dan tahukah kamu? Sekarang aku juga mulai mencurigai diriku sendiri. Bagaimana jika aku ini memang benar seperti yang dikatakan orang-orang? Bagaimana jika aku benar seorang Egleans?" Kataku setengah berteriak. "Orangtuaku adalah manusia. Bagaimana jika mereka memang menciptakanku dan menjadikanku Egleans?!" Aku mengepalkan tanganku. Kupingku mulai terasa panas. Aku bisa merasakan luapan emosi yang sebentar lagi akan meledak dari dalam diriku.
Sana menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu! Aku yakin kamu bukan Egleans! Kamu masih memiliki perasaan, dan kamu tidak pernah membahayakan kaum Fae!"
Sekarang hampir seisi ruangan melemparkan pandangan ke arah kami. Aku buru-buru membalasnya, "Tapi aku tidak bisa terbang. Mungkin itu sudah cukup untuk meyakini diriku sendiri." Aku lalu pergi meninggalkannya. Sambil menatap lantai marmer yang berwarna putih, aku keluar dari ruang perpustakaan.
Air mata membuat pandanganku buram. Sambil berjalan melewati tatapan sinis seperti biasanya, aku mulai memikirkan ucapanku barusan. Orangtuaku manusia. Bisa jadi mereka menciptakanku dan Lexy. Bisa jadi kami adalah Egleans.
Namun Sana sempat meyakiniku. Ia berkata bahwa aku masih memiliki perasaan, dan aku tidak pernah membahayakan kaumnya. Memang benar. Aku tidak memiliki hasrat untuk menelan serbuk sayap Fae. Aku tidak pernah menargetkan sayap-sayap indah mereka yang selalu dilipat di belakang punggung setiap kali aku berada di dekat mereka. Aku berbeda dengan makhluk buas yang menjelma menjadi rusa Greensia putih. Darahku tidak berwarna hitam kental.
Aku menggelengkan kepalaku. Sebenarnya, setiap kali seseorang memanggilku Egleans, aku tidak pernah menyimpannya dalam hati. Namun, aku malah teringat dengan manusia kering yang ditikam jantungnya oleh pedang Ledion. Aku tidak mau bernasib sama seperti manusia itu. Aku tidak akan mati diburu oleh kaum Fae.
Kata-kata yang pernah diucapkan oleh Lilies terngiang-ngiang di otakku. Sudah hampir seminggu aku menjadi murid di Faedemy, tetapi untuk sekedar menerbangkan sayapku saja aku sudah gagal. Bagaimana caranya untuk mengetahui bakatku sendiri?
Aku tidak menyadari ada seseorang di hadapanku saat aku menabrak tubuhnya. "Ah! Maaf!" Ucapku padanya. Aku hampir terjatuh, tapi untungnya dinding di sampingku menahan tubuhku yang terpental.
Seorang Fae Light. Dia laki-laki yang kulihat bertarung dengan sang pangeran. Rambut pirang ikalnya hampir menutupi matanya. Tubuhnya sangat kekar, sampai-sampai aku bisa melihat jiplakan otot perutnya yang tembus dari baju yang dikenakannya. Ia menggeram kesal. Suaranya mirip dengan beruang yang pernah kutonton di televisi.
"Hati-hati kalau lagi jalan!" Gerutunya. Ia lalu hendak pergi melewatiku saat matanya mulai melebar. Ia memandang wajahku seperti aku adalah hantu yang menyeramkan. "Kau! Bagaimana caranya kau bisa lolos dari tempat itu?!" Ia lalu menarik lenganku dengan kuat, dan menyeretku ke sebuah tempat yang sepi, dimana tidak ada satupun Fae yang akan melihat kami.
"Hei! Lepaskan aku!" Aku mencoba menarik kembali lenganku yang ditarik dengan keras. Pergelangan tanganku sampai memerah, dan tulang lengan atasku serasa mau copot. Ia menarik tubuhku ke arahnya, dan kepalaku hampir menabrak dadanya yang keras. "Jika Callum sampai mengetahui hal ini, bisa-bisa aku dipenggal," katanya lagi.
Aku menatapnya dengan kesal, tidak mengerti maksud ucapannya. Aku yakin aku tidak mengenalnya sama sekali, namun dia berlagak seperti sudah mengenalku dengan baik. "Katakan atau kulempar ke kandang Egleans!"
"Hah?" Tanpa kusadari, aku mengeluarkan suara tawa yang amat keras. Aku, seorang Egleans, diancam akan dilempar ke kandang kaumku sendiri? Fae itu langsung mendorong tubuhku ke arah dinding, dan menutup mulutku dengan telapak tangannya yang basah. "Kau sengaja ya?! Jangan berisik atau-"
"Atau kulempar ke kandang Egleans?" Sebuah suara familiar terdengar lagi olehku. Aku menoleh, dan lagi-lagi mendapati sang pangeran yang tengah melipat lengannya ke dada. Ia menyandarkan diri ke dinding dengan santai. Ia mengenakan baju kasual, dan aku membenci diriku sendiri karena Fae itu semakin enak dipandang.
Masih sambil menatap mataku, ia berkata, "Lepaskan dia, Val. Atau aku sendiri yang akan melemparmu ke kandang Egleans."
Seperti anjing yang menuruti perkataan majikannya, Fae Light itu langsung menurunkan tangannya. Matanya masih menatapku penuh dendam. "Tapi gadis ini sudah berhasil kabur dari kita. Harus kuapakan dia-"
"Tinggalkan dia sendiri," balas sang pangeran singkat. "Sekarang, enyahlah."
Fae itu langsung pergi meninggalkanku dengan sang pangeran. Setelah ia menghilang dari pandanganku, sang pangeran berjalan mendekatiku. Senyum menghiasi wajahnya yang bersinar. "Kalau setiap kali ia mengancammu, cobalah untuk tertawa lebih keras. Aku jamin ia akan kewalahan."
Aku tertawa mendengar ucapannya itu. Aku masih ingat dengan jelas wajah Fae Light itu saat aku membalasnya sambil tertawa. Wajahnya seperti habis ditimpuki batu. "Mungkin ia akan lebih takut jika aku berubah menjadi gila."
Sang pangeran balas tersenyum. Senyumannya melebar. Lagi-lagi, ia membungkuk dan menjajarkan wajahnya dengan wajahku. "Kita belum sempat berkenalan sebelumnya. Aku sang pangeran termuda, Callum Lantski."
Aku mendengus. Ia tidak perlu memberitahuku namanya sendiri. Semua orang juga sudah tahu ia adalah sang pangeran yang tinggal di istana Amarilis.
Saat ia tersadar wajahku mulai mengerut, ia menyentil dahiku dengan jari tangannya. "Alena Sherman. Si gadis Egleans."
Ingin rasanya aku meninju wajahnya yang sempurna. Namun, aku urungkan niatku. Kemungkinan besar aku langsung dipenggal jika berani menyentuh sang pangeran. Atau aku akan dilempar ke kandang Egleans. Lagi-lagi, aku tersenyum geli mengingat perkataan Fae Light yang barusan.
Sang pangeran memalingkan wajahnya, melirik lorong yang mulai dipenuhi oleh Fae lainnya. Alisnya berkerut. Ia menghela napasnya. "Kurasa sebaiknya kau harus segera pergi. Gurumu pulang lebih awal. Mungkin ia sedang mencari muridnya yang berkeliaran dengan si pangeran tampan."
Aku langsung mendorong tubuhnya, lalu berjalan meninggalkannya. Tanpa menoleh ke belakang, aku terus melangkahkan kakiku. Entah kenapa, perasaanku jadi membaik. Mungkin, menjadi si gadis Egleans akan lebih baik dari dugaanku.