
Lexy menekan ujung meja dengan telapak tangannya. Di satu sisi, ia lega karena Alena belum tertangkap, namun di sisi lainnya ia merasa marah terhadap sang Ratu yang menyerang Amalthea Halley agar bisa menemukan Alena. Ia teringat dengan anak-anak Fae yang suka tertawa dan bermain dengannya sewaktu ia memasuki wilayah tersebut. Ia ingat dengan atap rumahnya yang berwarna-warni, dengan halaman belakang yang dikelilingi oleh berbagai macam bunga.
"Kita harus pergi ke Amalthea Halley. Sekarang." Lexy tidak tahu kenapa ia sampai berpikiran seperti itu. Yang jelas ia tidak menerima kenyataan bahwa tempat itu diserang oleh sang Ratu.
"Aku setuju," balas Naomi. "Untuk sekarang, biarkan Fae Ripper mencari Alena dan Callum. Kita harus bertemu dengan Mella di Amalthea Halley, dan mencari tahu rahasia sang Ratu."
Tidak ada yang menyangkal pendapatnya itu. Maka semenit kemudian, semua Fae sudah bersiap-siap. Val mengenakan baju zirah yang biasa digunakan untuk perang. Ia menggantungkan pedangnya di sabuk pinggang, sementara itu beberapa pisau lempar kecil diselipkan di antara sepatunya.
Sana kemudian menghampirinya dan memberikan Lexy sebuah belati yang tajam. "Aku tahu kamu belum memiliki kemampuan untuk berperang, tapi kamu harus berjaga-jaga." Ia menaikkan bahunya. "Aku sendiri juga tidak bisa berperang. Aku akan membantu mereka sebisanya dan melindungi mereka dengan sihirku."
Lexy mengangguk tanda terima kasih, lalu mulai mengikat rambut panjangnya. Ia teringat dengan Mella, Fae Ventus yang ternyata adalah teman lama sang Ratu. Ia tidak yakin Mella berada di pihak siapa; teman lamanya yang sudah membahayakan kaum Fae, atau para Fae yang sudah mulai mencurigai sang Ratu karena penyelundupan Egleans yang dilakukan olehnya. Lexy tidak bisa berpikiran jernih.
Ia hendak menyentuh pintu gagang ketika Xiela menepuk pundaknya. Ia berbalik dan mendapati gadis itu yang sibuk menelaah penampilannya. "Wah, kau mengingatkanku dengan Alena sewaktu ia menyanyikan sihir Melody dengan percaya dirinya."
"Sihir Melody? Apa maksudmu?"
"Alena, kakakmu," jelas Xiela. "Dia juga unik, sama sepertimu. Dia sudah menciptakan sihir Melody, Fire, Ventus, kemudian saat ia melihatmu berdansa dengan Callum, tanpa disadari ia sudah mengeluarkan sihir Aqua."
Lexy ternganga. Alena, saudari kembarnya, sudah berhasil mengeluarkan beberapa sihir Fae selama ini? "Dia...bagaimana itu bisa terjadi?"
"Itulah yang akan kami cari tahu," Xiela mengarahkan pandangannya ke Fae lainnya yang masih sibuk mempersiapkan dirinya. "Aku dan Naomi ingin sekali membantunya menguasai sihir miliknya, namun sekarang..."
Ia tak perlu melanjutkan perkataannya. Lexy mengerti maksudnya.
"Jadi, mereka ini yang akan melatih sihir Alena?" Tanya Lexy. "Bahkan sihir penjiwaan seperti milik Sana dan Ledion?"
"Itu bukan bagian tersulitnya," kata Naomi yang ternyata sudah menghampiri mereka. Rambutnya sudah dikepang satu ke belakang, dan berbagai macam senjata sudah tergantung di sabuk pinggang serta belakang punggungnya. Lexy hampir terkesiap karena gadis imut ini terlihat begitu sangar. Ia menggelengkan kepalanya. "Alena juga harus mempelajari sihir milik Fae Royal."
Sihir Fae Royal. Sihir yang tak perlu dilatih, sekaligus sihir yang paling misterius di antara semua kaum Fae, karena sihir Royal bukan sihir sembarangan. "Memangnya apa sihir Fae Royal?"
"Tidak ada yang tahu pasti kecuali si Fae Royal itu sendiri," balas Xiela. "Yang jelas, kalau mereka menggunakan sihirnya di luar batas kemampuan mereka, nyawa mereka akan terancam."
Jantung Lexy mulai berpacu. Rasanya menjadi seorang Fae Royal tidak semewah yang dibayangkan. "Memangnya seorang Fae bisa menggunakan sihir di luar batas kemampuan mereka?"
Naomi mendesah. "Tidak. Iya. Gak tahu. Anggap saja kalau seseorang ingin mengorbankan dirinya demi orang yang ia cintai, ia akan melakukan apapun, bahkan jika bayarannya adalah nyawanya sendiri."
***
"Sial!" Aku setengah berteriak, dan buru-buru bangun dan bangkit dari lantai yang dingin. "Callum!"
"Ada apa?!" Ia sedang duduk di tepi mulut gua, menggunakan batang kayu kecil untuk menggambar sesuatu di atas salju. Ia langsung menoleh ke arahku saat aku berteriak memanggil namanya. "Kenapa tidak membangunkanku?! Aku mungkin saja sudah tertidur selama...8 atau bahkan 12 jam!"
"Ya, aku tidak mau mengganggu istirahatmu," katanya sambil mengangkat bahu. "Aku lebih suka memandangimu tertidur. Dengan begitu, aku bebas melakukan apa saja dan tidak akan disuruh-suruh."
"Kamu ini!" Aku memukul lengannya, dan ia langsung tertawa terbahak-bahak. "Benar kan? Kamu langsung memukulku."
"Huh!" Aku memeluk tubuhku sendiri yang mulai menggigil. Meskipun matahari sedang bersinar, udara masih tetap terasa dingin. Aku duduk disampingnya, sambil memandangi hutan di luar gua. Salju sudah kembali menutupi jalan secara total. Aku tidak tahu kapan badai salju akan datang kembali. "Katamu kemarin, kita harus segera pergi dari sini."
Ia masih memainkan batang kayunya di atas salju putih yang lembut. Berkat sinar matahari yang memantulkan cahayanya, salju terlihat gemerlapan olehku. Ia menarik garis dan menggambar sebuah lingkaran. "Iya. Kita harus mencari tempat yang lebih banyak ditumbuhi bunga, sekaligus tersembunyi dari pandangan orang-orang."
Aku terdiam. Aku tidak tahu dimana kita berada, jadi percuma saja karena kita akan kehilangan arah. "Apa yang sudah kau lakukan waktu itu, Callum?" Bisikku sambil memandangi salju yang berjatuhan dari langit.
Ia berhenti memainkan batang kayunya, namun masih tidak menatapku. Ia menelan ludah, lalu hanya mengatakan, "Aku menyelamatkanmu."
"Kau tahu bukan itu maksudku," kataku lagi. "Apa yang sudah kau perbuat sampai kekuatan fisikmu bisa melemah seperti itu? Kamu adalah petarung yang hebat, Callum. Tubuhmu tidak serentan itu."
Ia baru menatapku selesai aku berbicara. "Darimana kau tahu hal itu?"
Aku mendengus. "Siapa yang gak tahu kalau sang pangeran termuda jago bermain pedangnya? Dan siapa yang gak tahu kalau kamu itu kuat?" Aku bangkit berdiri. "Aku gak bisa memahamimu Callum. Lain kali, jangan buat aku khawatir." Aku lalu berjalan ke luar gua. Angin dingin lagi-lagi berhembus dan menusuk kulitku. Callum berdiri dan hendak mengikutiku, namun aku melarangnya. "Aku akan mencari bunga untuk kita. Sampai kamu memberitahuku kemana kamu akan membawaku, aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini." Aku lalu berjalan meninggalkannya.
Aku menggosok kedua lenganku dengan telapak tanganku. Aku tidak bisa memercayainya karena ia masih belum membuka suara dan menjelaskan apa yang sudah ia perbuat pada malam itu. Aku takut ia akan menggunakan cara yang sama dan menguras banyak tenaga demi menyelamatkanku dari sang Ratu. Aku tidak mau diselamatkan, kataku dalam hati. Kalau resikonya besar, aku tidak mau melakukannya.
Aku merenung sambil memikirkan kira-kira apa yang dilakukan oleh Callum waktu itu. Aku mengingat cahaya keemasan yang menyelimutiku. Cahaya hangat dan nyaman, sekaligus menyeramkan dan misterius sehingga membuatku tak sadarkan diri.
Aku menoleh ke belakang. Rambut panjangku tertiup angin dan menghalangi pandanganku. Sebagian dari diriku ingin kembali kepada Callum dan memaafkannya, namun sebagian lagi merasa kecewa dengannya.
Aku terus berjalan tanpa arah selama beberapa menit. Tidak, aku tidak tahu berapa lama lebih tepatnya. Ini mengingatkanku dengan perjalananku dengan Lexy sewaktu di Hutan Greensia. Tidak pernah sekalipun terpikirkan olehku untuk mencari bunga. Yang terpikirkan hanyalah dimana kaki ini akan membawaku.
Aku memfokuskan pandanganku dengan apa yang berada di hadapanku sekarang. Jantungku berdegup dengan kencang. Tubuhku gemetaran, bukan karena dinginnya hawa yang menusuk, melainkan apa yang kulihat sekarang.
Sekelompok manusia kering yang menatap langsung ke arahku. Bukan manusia. Napasku tercekat, dan aku mundur perlahan-lahan. Sekelompok manusia jelmaan Egleans.