
Makhluk ini tak kunjung habis berdatangan. Meskipun Callum dan Val sudah melukai mereka dengan pedangnya, makhluk-makhluk tersebut berevolusi dan luka mereka menutup kembali.
Kami pun terpaksa mundur karena sudah dikepung.
Sambil menggendong Sana yang sudah pingsan, Val tetap bertahan sekuat tenaga. Ia membuka jalan untuk Callum dan aku yang sibuk melawan mereka dengan belatiku. Salah satu Egleans hampir saja menggigit sayapku. Untungnya Callum segera menarik lenganku dan menggunakan tangan satunya lagi untuk menikam jantung makhluk itu.
Egleans itu meraung kesakitan. Ia meronta-ronta dan cakarnya mengenai lengan Callum.
"Callum!" Aku berteriak, lalu melemparkan belatiku tepat di dahi monster itu. Akhirnya ia terbang mundur dan meninggalkan kami.
"Mereka tak bisa dibunuh! Kita harus kembali ke istana Amarilis!" Teriak Val yang berada di depan kami. Sambil menahan sakit akibat luka-luka cakar Egleans, kami akhirnya berhasil keluar dari gedung Faedemy.
Sebuah bunyi yang amat keras memekakkan telingaku. Aku menoleh ke belakang dan melihat lampu kandelir raksasa yang tali pengikatnya sudah putus. Lampu itu terjatuh ke lantai, lilin-lilinnya terlepas dari lampu dan apinya mulai membakari lantai.
Cairan minyak ternyata sudah disebarkan di lantai. Aku melihat seseorang yang menyerupai bentuk manusia di balik kobaran api yang sudah membesar. Ia tidak memiliki sayap. Bayangan hitamnya tampak sedang melambaikan tangan ke arahku.
Aku langsung merinding. Tepat saat aku hendak terbang menghampiri orang itu dan menembus kobaran api, Callum menahan tanganku dan menarikku dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan?!" Suaranya bergetar dan aku bisa lihat emosinya dengan jelas. "Kamu mau terbakar oleh api?!" Aku menunjuk ke arah manusia itu. "Manusia! Dia butuh pertolongan kita! Dia-"
"Dia bukan manusia, Alena!" Serunya. "Lihat baik-baik! Dia jelmaan dari Egleans."
Aku menatap manusia itu dari kejauhan. Ia masih melambaikan kedua tangannya ke arahku. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, namun samar-samar, sebuah tanduk mulai tumbuh dari ubun-ubunnya. Tak lama, ekor yang panjang mulai terlihat. Aku bergidik ngeri.
Callum menarikku menjauhi gedung Faedemy yang sudah terbakar. Asap dari kobaran api yang menyala-nyala mulai mengganggu pernapasanku. Aku berharap tidak ada lagi Fae yang terjebak disana. Saat aku sudah menjauhi gedung sekolah itu, aku sempat menoleh sekali lagi dan melihat gedung Faedemy untuk yang terakhir kalinya. Gedung itu sudah dilalap oleh kobaran api yang sangat besar. Gedung tempat memori baruku mengenai dunia Fae. Gedung bersejarah tempat didik kaum Fae. Gedung yang sekarang sudah terbakar habis tak bersisa, melalap habis mayat-mayat Fae yang sudah mati beserta Egleans yang masih berada di dalamnya.
***
Kondisi istana sang pangeran tidak lebih baik dibanding gedung Faedemy. Sepertinya para Egleans dapat mendeteksi keberadaan Fae yang bersembunyi di dalamnya. Mereka pasti mengikuti jejak serbuk sayap mereka.
Berkat Fae Healer yang sudah kembali ke istana, para Egleans menjadi lebih mudah untuk ditangani. Aku melihat dari kejauhan para Healer yang mulai membentuk lingkaran besar. Tangan mereka disatukan, dan setelah mereka menutup mata, sebuah cahaya putih yang terang benderang mulai muncul dari tengah lingkaran. Seperti petir yang menyambar-nyambar, cahaya itu diarahkan tepat ke para Egleans yang sibuk menyerunduk pintu dengan tanduk-tanduknya.
Dalam sekejap mata, semua Egleans langsung mengeluarkan bunyi keras secara bersamaan. Suara itu menggema ke seluruh wilayah Amarilis. Mereka mulai tak terkontrol; terbang kesana kemari, berteriak kesakitan. Tubuh mereka saling bertabrakan, lalu membusuk. Lagi-lagi tubuh mereka menjelma menjadi manusia kering tanpa rambut. Mayat-mayat manusia itu berjatuhan dari langit, menimpa pepohonan dan mengotori tanah Amarilis yang suci dan tak bernoda.
Panah-panah busur langsung dikerahkan dari atap istana oleh Fae Ripper. Panah-panah itu tepat sasaran dan mengenai jantung Egleans yang masih hidup. Tak lama, mereka mulai tumbang, dan tidak ada lagi Egleans yang tersisa di depan pintu gerbang istana.
Sebagian orang mulai bersorak meskipun pintu gerbang terlihat rusak dan hampir saja berhasil didobrak. Mereka semua terlihat kelelahan, terutama para Healer yang menjadi peran utama di balik kemenangan kita.
Saat aku sudah memasuki istana Amarilis, para pelayan yang semula bekerja di istana sedang sibuk merawat luka-luka Fae dan menenangkan tangisan bocah-bocah yang ketakutan. Sang Kapten terlihat sedang berbicara dengan suara pelan kepada salah satu anak buahnya, dan tak lama kemudian anak buahnya itu terbang keluar istana bersama beberapa Ripper lainnya.
"Masih ada Egleans yang bertahan hidup di luar sana," kata Ledion saat Callum menghampirinya. "Orang-orangku juga akan melacak keberadaan Egleans di luar wilayah Amarilis. Jika sampai ada hal yang mencurigakan lagi, kita harus lapor kepada Raja dan Ratu."
Callum hanya melipat tangannya ke dada. "Dari mana asalnya mereka semua? Kamu sudah tahu hal ini jauh sebelum mereka mulai menyerang kita." Ia tetap memasang ekspresi wajah datar, meskipun aku dapat merasakan amarah dan perasaan penuh curiga dari dalam dirinya.
Ledion membungkuk dalam-dalam. "Waktu itu, aku beserta anak buahku tidak begitu yakin...Kupikir mereka hanya...aku tidak menyangka mereka akan menyerang-"
"Lain kali, lapor semua aktivitas kepadaku." Sang pangeran memerintahkannya dengan tegas. "Aku bertanggung jawab atas keamanan wilayah ini. Kamu beserta anak buahmu seharusnya mengetahui hal itu." Ia lalu melambaikan tangannya tanda mengusir. "Pergilah. Urus dulu sisa-sisa pertempuran ini. Besok pagi kita adakan rapat pertemuan mengenai insiden mengerikan ini." Callum lalu terbang meninggalkan Ledion yang masih membungkuk dengan rasa malu. Aku sempat melihat ekspresi kecewa yang terlintas di wajah Callum.
Aku tidak yakin harus menepuk pundak Ledion karena sudah merasa gagal menjalani kewajibannya sebagai Kapten Ripper. Namun, yang kuinginkan sekarang adalah istirahat. Sebelum itu, aku harus mengecek kondisi Naomi.
Aku kembali ke ruangan yang sebelumnya kupakai untuk menyembunyikan Naomi. Seorang Fae Healer sudah berada di sana. Naomi sedang terbaring di atas ranjang. Bajunya dibuka sedikit, memperlihatkan sayatan luka pada perutnya yang dalam akibat cakaran Egleans. Keringat bercucuran dari dahi serta lehernya. Aku bernapas lega saat melihat pernapasannya yang stabil dan busa yang tidak lagi terdapat pada mulutnya.
Fae Healer itu terlihat sangat kelelahan. Cahaya putih hampir memudar, namun dengan tekad dan kemauan yang kuat, ia akhirnya mampu menjahit luka di perut Naomi. Aku menyentuh pundaknya yang menegang, berusaha untuk menguatkannya. Tak lama, ia pamit untuk mengecek kondisi pasien lainnya. Aku mengucapkan terima kasih setulus hatiku.
Aku duduk di samping ranjang Naomi. Temanku sedang tertidur lelap. Aku membenarkan bajunya, lalu menyelimutinya. Aku merasa tenang saat melihat tubuhnya yang bergerak naik turun karena pernapasannya yang sudah stabil.
Aku menundukkan kepalaku, mencoba untuk merileks tubuhku sendiri. Aku mengingat ucapan Ledion barusan. Ternyata selama ini, pikirannya sedang tertuju kepada Egleans. Ia beserta anak buahnya sudah mencurigai sesuatu, jauh sebelum insiden mengerikan ini terjadi. Berapa banyak orang yang bisa tertolong seandainya ia melaporkan kecurigaan ini kepada Callum? Mungkin gedung Faedemy masih bisa diselamatkan. Dan Naomi tidak perlu terbaring lemah seperti ini.
"Kemana saja kamu?" Xiela memperhatikanku dengan mata coklatnya. "Kamu berhasil keluar dari ruangan itu."
Aku mengeluarkan tawa tak percaya. "Seharusnya aku yang bertanya hal itu padamu. Kupikir seharusnya kamu membantu menghadang pintu gerbang."
"Memang. Namun, kulihat mereka bisa melakukannya tanpaku. Jadi, aku membantu para Fae di luar area istana sebisaku." Ia menopang wajahnya, lalu membuang napas. "Bagaimana caranya sampai dia bisa terluka?"
Jantungku terasa disayat-sayat karena mendengar lirihan dari mulutnya. Aku dapat melihat kekhawatiran di wajah Xiela. Aku tahu Naomi adalah teman yang sangat berharga baginya. Aku hanya menggelengkan kepalaku. "Aku pergi mencari Healer untuk mengobati lukanya. Namun, yang kudapatkan hanyalah..." Aku tak berani membayangkan gedung sekolah yang terbakar. "Kata Naomi, Egleans hanya bisa dibunuh oleh golongan penjiwaan."
Xiela tidak tampak terkejut. Ia memandang wajah Naomi dengan lesu. Lalu, amarah mulai terlihat di matanya. "Egleans. Para manusia kejam itu sudah semakin kuat." Ia mengepalkan seprai ranjang yang digenggamnya. "Aku tidak tahu pastinya, namun Egleans memang sudah lebih kuat dibanding sebelumnya." Ia bangkit berdiri, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Biasanya saat aku memburu Egleans, aku hanya harus membakar mereka, dan mereka akan langsung mati. Sekarang, Fae Healer dan Fae Ripper harus bekerja sama agar mereka benar-benar tiada."
Ia menyentuh gagang pintu, kemudian menurunkan bahunya. "Kamu berhutang penjelasan kepadaku nanti." Setelah itu, ia sudah menghilang.
***
Cahaya matahari sudah tidak memasuki jendela. Aku mengerjapkan mataku yang masih terasa berat karena sudah tertidur selama berjam-jam. Naomi masih belum siuman. Aku menyentuh dahinya yang hangat, lalu mengeringkan keringat yang membasahi wajahnya. Setelah itu, aku pergi keluar dari ruangan.
Cahaya dari lampu kandelir terasa jauh lebih terang. Tangisan bocah-bocah sudah tidak ada. Aku masih bisa melihat Fae Healer yang berlalu lalang, dan beberapa Fae yang sibuk membawakan nampan makanan. Tersirat kelelahan di mata mereka yang berkantung.
Aku mengepakkan sayapku, kemudian kakiku sudah tidak lagi menyentuh lantai. Entah karena rasa lelah yang sudah tidak lagi kurasakan, atau perasaan hampa yang terdapat pada diriku, aku tidak merasa bangga pada diriku sendiri karena sudah berhasil menerbangkan sayapku.
Ini bukan apa-apa, kataku pada diri sendiri. Bisa menggunakan sayapmu bukan berarti kamu bisa menyelamatkan seluruh dunia.
Sambil melewati orang-orang, aku terbang menaiki tangga berliku-liku. Lukisan besar yang tergantung di dinding menambah kesan yang luas dan mewah. Semua perabotan indah ini milik Callum. Istana indah ini hanyalah istana pribadinya. Ia masih memiliki ruangan sendiri yang lebih besar di istana megah Bougenville, jauh di pusat sana.
Aku mendapati sang pangeran yang sedang memainkan sebuah bulu angsa. Ia merentangkan kedua kakinya dan meletakkannya di atas sebuah kursi empuk. Pandangannya sedang terarah ke pemandangan di balkon. Bintang-bintang telah bersinar di langit malam. Aku tidak tahu kenapa aku ingin menemuinya di kamar pribadi miliknya. Mungkin aku ingin mencoba menenangkannya karena kejadian yang telah menimpa wilayahnya sendiri.
Karena sayapku tidak bersuara, aku dapat menghampirinya diam-diam. Mungkin aku mulai memiliki sedikit rasa bangga terhadap sayapku yang tidak normal.
"Kota ini akan pulih," aku bersuara sedikit, namun sang pangeran tampak terperanjat saat merasakan kehadiranku. "Ledion pasti akan menebus kesalahannya."
Aku berdiri di sampingnya. Ia berganti pandangan ke arahku. Aku lagi-lagi harus merasa kagum dengan wajah tampannya. Angin malam meniup sedikit poni rambutnya, membuatnya terlihat lebih elegan dan rupawan. Aku merasa lega saat melihat senyumnya yang biasa.
"Aksimu tadi patut kupuji." Ia menjentikkan jarinya, dan sebuah kursi tiba-tiba muncul di belakangku. "Jangan cuma berdiri di sana."
Aku merebahkan diriku pada kursi sandar itu. Sambil menatap bintang-bintang yang gemerlapan, aku mencoba untuk tidak memerdulikan tatapan Callum. Aku berdeham. "Aksi apa?"
Ia kembali memainkan bulu angsa pada jari-jarinya. "Kamu ingin menyelamatkan seorang manusia tanpa berpikir panjang. Meskipun itu bisa dibilang bodoh."
"Bodoh?" Aku menaikkan sebelah alisku. "Mohon maaf. Aku belum bisa membedakan makhluk jelmaan dengan aslinya."
"Permohonan maafmu diterima." Ia mendecakkan lidahnya. "Kau lihat bintang itu?" Ia menunjuk ke salah satu bintang yang paling besar. "Bintang itu adalah sisi bodohmu. Dan itu," ia menggerakkan jarinya dan menunjuk ke bintang lain yang jauh lebih kecil, "Itu adalah sisi pintarmu."
Aku langsung menoleh ke arahnya sambil mengerutkan dahiku. "Harus ya menggunakan bintang sebagai tolak ukur kepintaranku?"
Ia mengeluarkan suara tawa kecil. Aku bisa melihat matanya yang memantulkan cahaya remang bulan. "Itu lebih baik daripada menggunakan otakmu."
Aku refleks mengeluarkan tinjuku untuk memukul lengan kanannya, namun kali ini ia berhasil menghindariku dan menahan pergelangan tanganku. "Alena." Ia menghembuskan napas. "Faedemy sudah benar-benar hancur, ya?"
Aku tidak pernah melihat celah ini dibalik sifat sombong dan kepercayaan dirinya. Kami berdua sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan itu, namun aku tetap menjawab dengan suara kecil. "Iya."
Aku tahu Callum sangat menyukai tempat itu. Aku tidak pernah memikirkan alasan ia tidak tinggal di istana megah Bougenville, dan malah menghabiskan sebagian besar waktu di Amarilis. Aku tahu aku bukan siapa-siapa baginya yang pantas mengorek informasi pribadinya.
Ia menyandarkan diri dan memejamkan matanya. Lama sekali waktu hening yang tercipta diantara kami. Aku menoleh kembali ke langit-langit malam, merasakan bintang yang berkerlap-kerlip. Mungkin bintang bisa dijadikan tolak ukur untukku. Tolak ukur untuk mengetahui sejauh apa kemampuanku untuk membuktikan diri kepada dunia bahwa aku adalah seorang Fae yang berguna.