Wings & Dust

Wings & Dust
Salju Pertama



Suara derap kaki tiba-tiba terdengar dari luar ruangan. Tak lama, pintu dibanting dan Lexy melihat Naomi yang sedang terburu-buru. Rambutnya teracak dan ia sampai ngos-ngosan.


"Callum dan Alena menghilang! Mereka-" Matanya langsung terbelalak begitu melihat darah di tangan Xiela dan Sana yang terkapar di lantai. "Apa yang terjadi pada kalian?!"


"Ya, biasa. Cuma gadis lainnya yang tidak mengetahui bakatnya sendiri," kata Xiela, masih sambil terbatuk-batuk. Ekspresi wajahnya datar, namun Lexy bisa melihat tangannya yang sedikit gemetaran.


"Huh." Naomi menggelengkan kepalanya. "Ini kacau. Semua gara-gara pelayan misterius itu-"


"Ratu Peri Lebah," ucap Xiela lagi. Ia hendak bangkit berdiri, namun tubuhnya terhuyung-huyung. Naomi langsung memapahnya.


"Aku bisa menyembuhkannya." Sana beranjak dari lantai yang dingin. Ia merentangkan tangannya, lalu seketika Cahaya Putih menyelimuti tubuh Xiela. Tak lama, gadis Fire itu bisa bernapas seperti semula.


"Jadi, apa yang terjadi?" Tanya Lexy dengan suara kecil. Ia masih merasa bersalah. Naomi menelan ludahnya lalu menjawab, "Mereka menghilang. Kata Lotus, Ratu Peri Lebah menyerang Alena dengan tongkatnya, lalu Callum muncul dan terbang untuk menyelamatkannya."


Xiela yang sudah sehat kembali mulai menjambak rambutnya sendiri. "Kamu memercayai ucapan Lotus?! Bagaimana kalau ia merekayasa cerita itu?"


"Ia tidak mungkin berbohong soal keberadaan Callum," balas Naomi.


"Dia bisa saja berbohong. Dia cuma gadis murahan yang tertarik pada wajah tampannya."


"Apa hubungannya?" Naomi menaikkan sebelah alisnya.


"Sudah cukup," potong Lexy. Dua gadis Fae itu langsung menoleh ke arahnya. "Gak ada gunanya berdebat. Lihat ke jendela." Ia menunjuk ke arah jendela, dan tampaklah butiran-butiran kecil yang jatuh dari langit.


Sana terkesiap dan menarik gorden jendela agar bisa melihatnya lebih jelas. "Salju. Musim dingin sudah tiba."


***


Aku terkesiap, lalu membuka kedua mataku. Kepalaku terasa sangat pusing dan seperti mau pecah. Pandanganku buram dan aku harus menyesuaikan cahaya remang dari langit malam.


Saat mataku sudah bisa melihat dengan jelas, aku menyadari kedua lengan besar yang sedang memelukku. Aku menoleh ke arah kiri dan melihat Callum yang masih tidak sadarkan diri.


Aku mencoba untuk duduk, namun pinggangku tiba-tiba nyeri dan aku meringis kesakitan.


"Alena...kamu tak apa-apa?" Ucap Callum dengan suara lemas, hampir tidak berenergi. Aku kembali menaruh kepalaku di atas tanah dan baru tersadar kalau kami sedang berbaring di atas padang rumput yang mulai diselimuti oleh salju. Aku menengadah dan melihat butiran-butiran salju putih yang terjatuh dari langit. Tubuhku tiba-tiba menggigil.


Callum masih memperhatikanku. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia mempererat dekapannya. Aku kembali memejamkan mataku, mencoba untuk menghangatkan diri dan merileks tubuhku.


"Dimana ini?" Bisikku, masih sambil menutup mataku. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada disini. Kalau salju turun, kami harus segera mencari tempat berlindung.


Callum semakin mempererat dekapannya. Aku menyadari bahwa kehangatan ini disebabkan oleh tubuhnya yang panas.


"Callum...kurasa...kamu demam," ucapku lagi. Aku membuka mata dan memalingkan wajahku untuk melihatnya. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan kantung mata hitam menghiasi mata birunya. Ia mengerjapkan matanya lalu tersenyum. "Mungkin akhirnya aku berevolusi menjadi seorang Fae Fire." Ia menampakkan gigi-gigi putihnya yang masih bersih.


Aku memukul lengannya yang berotot. Ia mengernyitkan dahinya. "Haruskah kamu memukul orang yang sedang sakit?"


"Ini gak lucu, Callum," balasku dengan serius. "Kita harus bangkit dan mencari tempat teduh, kecuali kamu mau mati kedinginan di tempat terbuka seperti ini."


Callum melepaskan dekapannya, lalu bangkit untuk duduk. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu tangan kirinya menahan lengan kanannya. Aku sudah bisa bangkit berdiri, meskipun kakiku terasa lemas dan bergetar.


Aku memperhatikan lengan kanannya yang masih ditutupi oleh jas setelannya yang berlengan panjang. Setidaknya masih ada kain yang melindungi kulitnya. Aku merasakan hembusan angin yang menusuk kulit lenganku, dan menerbangkan rokku.


Uh, gaun ini sangat tidak berguna, pikirku kesal. Sepatu sebelahku sudah menghilang karena kulempar langsung ke wajah sang Ratu. Dengan kesal, aku membuka sebelah sepatuku, lalu melemparnya jauh-jauh.


Callum tertawa kecil. "Kamu tahu gak kalo sepatu itu ada gizinya? Apalagi kalau sepatu itu milik seorang gadis yang cantik."


"Callum, ayo." Aku tak menghiraukan godaannya, lalu melingkarkan lengan kanannya ke leherku. "Pegangan. Dalam hitungan ke tiga, cobalah untuk bangkit sekuat tenaga."


Aku bisa merasakan hembusan napasnya di kulit leherku yang terekspos. Ia melingkarkan lengan satunya lagi pada leherku. Aku harus menahan tawa karena ia terlihat seperti anak monyet.


Aku menarik tubuh Callum yang ternyata sangat berat. Leherku seperti mau patah dan otot pinggangku lagi-lagi terasa nyeri, namun kupaksa terus diriku untuk menahan berat tubuh Callum.


Callum tiba-tiba berteriak kesakitan. Aku menoleh dan melihat wajahnya yang semakin pucat. Pipinya sangat merah karena tidak mampu menahan dinginnya angin yang berhembus. Namun pada akhirnya, ia sudah bisa berdiri.


"Bertahanlah," kataku untuk menyemangatinya. Aku tidak tahu di bagian mana ia terluka, namun sekarang ini yang paling penting adalah menghangatkan diri dan mencari tempat berlindung. Berada di tempat terbuka seperti ini sangat berbahaya, apalagi dengan ancaman bahaya Egleans dan sang Ratu yang tengah mengincarku.


Aku memimpin jalan. Kedua kakiku ditusuk oleh dinginnya tanah yang bersalju. Aku terus memegang Callum erat-erat, takut kalau-kalau ia pingsan dan aku harus mengangkat tubuhnya kembali.


Ia bisa berjalan. Namun dalam keadaan lemah seperti ini, sesekali ia akan berteriak kesakitan.


Aku tak tahan mendengarnya, jadi aku menyandarkan tubuhnya pada batang sebuah pohon, dan mencari-cari luka yang mungkin terdapat pada tubuhnya. Callum lagi-lagi menertawakanku dengan suara paraunya. "Aku tahu tubuhku seksi. Tapi jangan sekarang." Ia lalu menyengir.


"Oh, tutup mulutmu." Aku menatapnya tajam, sampai ia merapatkan bibirnya. "Beri tahu aku di bagian mana kamu merasa kesakitan." Callum menaruh telapak tangannya di bagian dadanya. Aku memutarkan kedua bola mataku. "Hati? Sakit hati? Yang benar saja-"


"Bukan, aku serius." Callum menatapku lekat-lekat. Aku menggigit bibir bawahku, tersadar bahwa pria ini benar-benar sedang serius. "Penyakit dalam?" Gumamku kepada diri sendiri. Aku ingat pernah mempelajari itu saat iseng membuka buku kedokteran milik Miss Gray. Isinya tentang anatomi tubuh manusia dan bahasa-bahasa asing yang tidak kumengerti.


Ia menggelengkan kepalanya. "Sihirku," katanya lirih. "Sihirku memberi efek pada denyut jantungku. Biasanya, salah satu lenganku akan melemah, lalu selanjutnya-"


Ia terbatuk-batuk, lalu memukul-mukul dadanya. Aku panik dan kembali memapahnya. "Kita harus cepat. Jangan sampai kamu-" Aku tidak berani mengatakannya. Mati. Tidak, ini pasti bisa disembuhkan. Aku yakin dengan hal itu.


***


Lexy sudah mengenakan mantel hangat pemberian Naomi, lalu dengan sigap, mereka langsung berlari keluar istana.


Salju pertama biasanya tidak terlalu dingin. Berkat sihir Xiela, mereka tidak merasakan dinginnya udara ini.


Beberapa Fae Ripper terbang menghampiri mereka. Lexy mengenali salah satunya. Ledion. Sudah lama sekali semenjak ia melihat wajah itu. Fae pertama yang ia temui di Hutan Greensia.


"Ledion, ada apa?" Tanya Xiela yang tadinya memimpin jalan mereka. Mereka saling memberi hormat, lalu Ledion mulai berbicara. "Sepertinya timku berhasil menemukan sarang Egleans."


Naomi langsung mengarungi jarak diantara mereka. "Apa? Dimana itu?"


"Di wilayah manusia tentunya. Salah seorang dari kami melihat beberapa Egleans yang diselundupkan ke teritori Fae."


"Kalian serius?!" Xiela berkacak pinggang. Lexy bisa merasakan cahaya merah yang semula menyelimutinya malah semakin panas. "Teritori Fae dijaga ketat oleh kalian. Dan manusia dengan mudahnya memanfaatkan celah itu untuk menyelundupkan Egleans?!"


"Kami berspekulasi ada orang dalam," jelas Ledion. Matanya sibuk menatap hamparan rumput yang sudah diselimuti oleh salju. "Celah itu terletak di dekat goa Kora."


"Goa Kora?!" Sana akhirnya berbicara. Ia melangkahkan kakinya, lalu menatap Ledion. "Itu termasuk wilayah para peri lebah kan?"


Lexy tidak dapat bernapas. Goa Kora, sebuah gua terpencil yang terletak sangat dekat dengan wilayah manusia. Gua itu juga berdekatan dengan kota terpencil Alther Suavis.


"Ini artinya, sang Ratu memiliki suatu rencana," bisik Lexy pelan. Semua orang langsung menatapnya.


"Kamu katanya pernah bekerja menjadi pelayannya, kan?" Kata Sana kepadanya. "Bagaimana kalau kamu mencari tahu rencana sang Ratu?"


Lexy buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin ia akan menerimaku setelah aku praktis menjatuhkan martabat dan harga dirinya di depan banyak orang."


Xiela menghembus napas di tengah-tengah udara yang dingin. Ledion langsung mengangkat bicara. "Kalau begitu, suruh Alena saja. Dimana dia? Seharusnya setelah para Ripper berhasil menemukan sarang Egleans, ia bertindak sebagai mata-mata untuk kita."


Suasana menjadi hening. Lexy tidak yakin jika ini adalah saat yang tepat untuk melangkah ke belakang dan bersembunyi. Bagaimanapun juga, ia adalah gadis yang pandai bersembunyi.


"Ia menghilang. Bersama Callum," Akhirnya seseorang mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang tidak sanggup diucapkan oleh Lexy. Xiela melanjutkan ucapannya lagi. "Lagipula, Alena belum mempunyai bakat. Resikonya sangat besar."


Kapten Ripper itu tampaknya tidak mendengarkan kalimat terakhir Xiela. Amarahnya mulai terlihat dari rautan wajahnya. "Menghilang?! Di saat genting seperti ini, mereka malah menghilang?!"


Lexy menelan ludah, tidak berani menatap mata Ledion yang sudah sangat menyeramkan. Ia merapatkan kedua tangannya, lalu memejamkan matanya. Ia berdoa kepada Dewa Pengampun, semoga Alena bisa bertahan hidup di luar sana. Karena ia adalah satu-satunya harapan untuk masa depan kaum Fae.