
Hal lain yang kuketahui selanjutnya adalah para penjaga yang tiba-tiba muncul di hadapan kami. Tentu saja mereka adalah Fae Ripper. Semuanya mengenakan seragam resmi. Sayap hitam mereka seolah berbaur dengan bayang-bayang hutan. Diantara jumlah mereka yang berpuluhan, aku bisa mengenali salah satunya; Ledion.
Wajahnya tampak kelelahan. Saat ia melihatku, aku bisa merasakan amarah yang meluap-luap dari dirinya. Ia segera mengeluarkan pedangnya, dan tak lama kemudian Ripper lainnya menahan kami.
"Kini kau tak bisa kabur kemana-mana lagi, Alena." Suara berat Ledion membuat bulu-bulu tanganku naik. "Kecuali kau ingin merasakan tajamnya pedangku."
Ledion segera mengambil langkah maju. Pandangannya lalu berpindah ke arah Naomi dan Xiela. "Dan kalian. Aku takjub dengan rencana brilian kalian. Sengaja menggunakan sang Monster Pendengar untuk mengalih perhatian kami agar temanmu ini bisa kabur dari Kelas Tahanan."
"Oh, begitulah kami!" Sahut Naomi sambil tertawa penuh percaya diri. Suara tawanya bagaikan bel berbunyi di tengah-tengah pesta natal yang tiap tahun dirayakan oleh manusia. Sayapnya mengepak penuh kegirangan, meskipun sekarang kami sudah sial tertangkap dan tak bisa kabur kemana-mana lagi. "Tapi kalian juga melupakan siasat kami yang sebenarnya," lanjut Naomi lagi. Mimik wajahnya berubah menjadi serius.
Tiba-tiba para penjaga yang semula menahan kami menggunakan pedang mereka, langsung berlutut di atas tanah. Apa-apaan ini? Tanyaku dalam hati.
"Oh, halo teman lama!" Sebuah suara terdengar dari balik kabut malam. Aku tidak bisa melihat dengan jelas orang itu, namun aku mengenali suaranya. "Bagaimana kalau kamu mengucapkan salam kepadaku?"
Fae Royal itu terbang menggunakan sayap emasnya. Gerak-geriknya yang elegan sempat membuatku terpana. Rambut hitamnya yang halus beterbangan. Di sampingnya, aku bisa melihat sosok Val yang setia mengikutinya.
Ledion langsung membelalakkan matanya. Aku bisa melihat tangannya menggenggam pedangnya dengan erat. Ia langsung berlutut, lalu memberi hormat. "Yang Mulia Pangeran," ucap Ledion dengan nada terpaksa. "Aku tidak tahu akan menjumpai Anda di hutan malam-malam."
"Begitu juga denganku," balas Callum sambil menyeringai. "Toh, biasanya aku selalu melihatmu bersama Fae Healer itu. Apa jangan-jangan, kalian sudah lama berpisah?" Celetuknya.
Tubuh Ledion terlihat tegang. Aku sempat takut karena mengira ia akan menyerang sang pangeran yang bermulut besar. Untungnya, ia hanya makin menundukkan kepalanya dan tidak membalasnya. "Ada perlu apa, Yang Mulia?"
Callum sudah berdiri tepat di hadapannya. Sambil sengaja menendang-nendang tanah, ia meletakkan kedua tangannya di dalam saku celana dan menjawab dengan malas, "Lepaskan teman-temanku."
"Tapi, aku tidak bisa melakukannya!" Protes Ledion. Ia menatap wajah sang pangeran, dan dahinya berkerut. "Mereka ditempatkan di Kelas Tahanan. Dan sekarang karena berniat untuk kabur, hukuman mereka diperpanjang."
"Lepaskan mereka," perintahnya sekali lagi.
"Tapi mereka sudah melanggar-"
"Atas titahku, lepaskan mereka."
Aku tidak pernah melihat sang pangeran yang mampu menundukkan seseorang hanya dengan beberapa kata. Fae yang ceria dan suka bermalas-malasan. Fae yang suka menggoda gadis-gadis lainnya, dan Fae yang tukang pamer. Aku belum pernah melihat sisinya yang seperti pangeran betulan.
Dengan berat hati, Ledion memerintahkan rekan-rekannya untuk membebaskan kami. Tangan kami yang semula terkekang sudah terlepas. Aku menghela napas lega, dalam hati bersyukur sang pangeran tiba disini tepat waktu.
Naomi segera berlari ke arah Callum, dan melingkarkan kedua lengannya di lehernya. Mereka tampak seperti sepasang Fae yang sudah lama tidak bertemu. Hatiku terasa sedikit menciut karena lagi-lagi iri atas afeksi persahabatan mereka.
Ketika pasukan Ledion sudah terbang meninggalkan kami, aku diam-diam menghampiri teman-temanku yang sibuk menceritakan kejadian yang sudah menimpa kami. Aku tidak tahu apakah mereka berniat menceritakan kekuatan baruku kepada si Fae Royal.
Mataku bertemu dengan mata Callum. Ia tersenyum nakal. Wajah seriusnya tadi saat bersama Ledion sudah benar-benar lenyap. Ia kembali menjadi Fae yang biasa kukenal. "Jadi, gadis Egleans ini mampu mengeluarkan sihir?" Katanya tiba-tiba.
Aku berdeham, entah kenapa merasa gugup atas pertanyaannya yang simpel itu. Aku mengangguk. "Ya, umm, begitulah."
"Bagus! Itu artinya dia bukan lagi gadis Egleans!" Ujar Naomi sambil menepuk pundakku. "Oh, aku perlu menceritakan ini kepada semua orang. Aku pasti tak sanggup menyembunyikan tawaku saat melihat reaksi orang-orang, terutama reaksi Lotus."
"Lotus?" Aku mengernyitkan dahiku.
"Teman sekamarmu," jawab Naomi. Ia lalu menutup mulutnya yang sudah terbuka lebar. "Jangan bilang kau tidak mengetahui namanya."
"Memang tidak," jawabku tanpa ada rasa bersalah. Dan tidak peduli juga, lanjutku dalam hati.
"Bagus. Karena kita sudah menukar salam, kusarankan sebaiknya kita pergi dari hutan ini. Kecuali kau ingin disantap oleh para Egleans," kata Val yang masih berada di samping Callum. Aku hampir melupakan dirinya yang sedari tadi membisu. Rasa canggung mulai merambatiku. Aku tidak pernah berdamai dengan Fae Light yang satu ini, dan aku jelas-jelas tidak ingin melakukannya.
Kami semua sepakat untuk kembali ke gedung Faedemy. Sepanjang perjalanan, tiada tawa dan suara yang terlontar dari mulut kami. Kami semua sudah menguras banyak tenaga dan energi. Aku pun sampai tak sanggup menggerakkan kedua kakiku. Aku menoleh dan melihat wajah Xiela yang mulai terlihat lebih kusut. Luka-lukanya menghiasi kulit mulusnya. Aku memandangi luka bakar di pundak lengannya yang tidak tertutupi oleh kain baju. Aku tidak bisa membayangkan ini sudah ke berapa kalinya seorang Fae Fire seperti dirinya terkena luka bakar dari api hasil ciptaannya sendiri.
Sadar akan tatapanku, Xiela berkata tanpa menoleh ke arahku. "Luka ini bukan apa-apa. Aku pernah mengalami yang lebih parah."
"Begitu," balasku, mencoba untuk terlihat tidak peduli. Aku tahu gadis ini anti dengan simpati seperti ini. "Omong-omong, maafkan aku."
"Buat apa?" Ia menaikkan alisnya. "Sudah kubilang, ini bukan apa-apa."
"Tapi, tetap saja," aku mulai mengeluh. "Kalau bukan berkat Naomi, aku tidak tahu nasib kita bakal berakhir seperti apa. Kamu benar. Ini salahku. Seharusnya aku tidak bernyanyi sampai menarik perhatian monster itu. Aku pun tidak melakukan apa-apa saat kau menyerangnya."
"Karena kau belum terlatih," katanya lagi.
"Karena aku payah."
"Dan sayapmu masih belum berfungsi dengan benar."
"Seperti ucapanku sebelumnya, karena aku payah."
Aku menggigit bibir bawahku. "Terima kasih," gumamku kepadanya. Ia tidak membalasku, namun aku bisa membayangkan bibirnya yang lagi-lagi terangkat.
***
Matahari sudah terlihat dari kejauhan. Sinar mentarinya membangunkan seluruh penjuru hutan. Hewan-hewan kecil seperti serangga dan burung mulai menampakkan dirinya. Kami sudah hampir sampai di wilayah Amarilis. Meskipun kami sempat beristirahat barangkali sebentar, aku tidak yakin kalau aku bisa mengikuti sesi latihanku dengan kondisi yang seperti ini. Apalagi untuk membayangkan jika aku bertemu lagi dengan pelatihku. Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak yakin mesti mengucapkan apa setelah aku dibebaskan dari hukumanku.
"Sibuk mengusir lalat yang berdengung di telingamu?" Callum terbang rendah di sampingku. Ia menatapku dengan mata birunya. "Aku tahu ini karena tubuhmu yang berlumpur dan kotor."
Aku refleks memukul lengannya karena kata-katanya yang menyebalkan. Ia lagi-lagi menertawakanku. Kepalanya sampai ditarik ke belakang. "Omong-omong, kapan aku bisa mendengar nyanyianmu?"
Wajahku mulai memanas. "Tidak akan pernah."
"Oh? Kenapa tidak?"
Aku mendengus. "Karena aku belum leluasa menggunakan sihirku." Ia mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Kantong mata berwarna hitam menghiasi kedua matanya. Aku baru menyadari sepasang sayapnya yang terlipat di belakang punggungnya. Teman-temanku juga sampai menggunakan kaki mereka karena sudah tidak sanggup untuk sekedar mengepakkan sayap.
"Sangat disayangkan. Padahal aku yakin kamu bisa memenangkan kontes bernyanyi."
"Kau mengejekku?!"
Matanya memandangi jalanan yang terbentang di hadapan kami. Di depan sana, aku bisa melihat atap istana Amarilis, yang seolah-olah bercahaya terang berkat sinar matahari pagi. Sulit untuk memahami bahwa Fae yang sedang berjalan di sampingku adalah pemilik dari istana indah itu.
Ia meniup poni rambutnya yang menusuk-nusuk matanya. "Maksudku, dengan wajahmu yang cantik itu, kau bisa memenangkan hati juri, meskipun kamu bernyanyi dengan suara yang sumbang."
Aku terdiam. Cantik? Bercanda. Aku tahu pangeran ini suka sekali menggoda wanita. Jadi, ku abaikan saja perkataannya. "Omong-omong, bagaimana caranya sampai kamu bisa menemukan kami?"
Callum kembali menatapku. Ia mengedipkan matanya. "Gini-gini, aku masih ada rasa setia dengan teman-temanku. Tentu kau tidak berpikir mengapa Naomi tetap membuatmu mengikuti Kelas Melody, padahal ia tahu resikonya adalah membuatmu ditempatkan di Kelas Tahanan?"
Sejujurnya, aku tidak memikirkan hal itu. Aku tidak pernah berpikir seseorang akan menjerumuskanku ke dalam bahaya begitu saja. Terutama Naomi.
"Jangan memasang wajah kecewa seperti itu. Dia tahu aku pasti datang," ucapnya terkekeh. Ia lalu menggoyangkan kepalanya, dan mulai melantunkan sebuah melodi dengan suaranya yang sumbang. Aku memutar bola mataku.
Kalau Naomi sampai bergantung dan mengandalkan pangeran ini untuk datang dan membebaskan kami, apakah aku bisa memercayainya?
***
Bau madu yang manis dan menyengat tercium dimana-mana. Lexy berjalan di atas dahan pohon yang ternyata berajaib. Tahu-tahu sekarang ia sedang berjalan memasuki sebuah gua yang ujungnya tidak terlihat.
Tanah yang diinjaknya serasa lembek. Ini sudah pasti lumpur. Gua terasa sangat gelap, dan suara tetesan air membuyarkan konsentrasinya. Suara langkah kakinya pun bahkan terdengar sangat keras.
Terowongan gelap ini membuat dirinya semakin meningkatkan kewaspadaan. Ia tidak membawa serbuk Light sama sekali. Seharusnya ia berpikir lebih bijak dan mencuri serbuk sayap Val saat ia masih ditahan waktu itu.
Lexy membiarkan dirinya terlarut dalam pikirannya. Fae Royal itu pasti adalah seorang pangeran. Dunia Fae dipimpin oleh Raja dan Ratu Fae. Miss Gray mengatakan bahwa mereka mempunyai dua orang putra dan satu putri. Salah satunya pasti adalah Fae itu.
Namun, buat apa pangeran itu menculik dirinya? Ia tidak memiliki sesuatu yang berharga. Ia juga bukan siapa-siapa. Sayap cacatnya ini tidak menghasilkan serbuk, jadi tidak menguntungkan jika mereka mencoba menjualnya.
"Kau harus berjanji satu hal padaku."
Ucapan Fae itu masih terngiang-ngiang di pikirannya. Ia dapat terbebas dari ruangan itu berkat dirinya. Namun, tentu harus dibayar sangat mahal.
"Jangan pernah lagi bertemu dengan kakak kembarmu. Percayalah kepadaku."
Menjaga jarak? Ia dan Alena adalah saudari yang tak dapat dipisahkan. Apa alasannya sampai berbuat demikian? Dan apa pula urusannya? Hanya semudah itukah dirinya bisa terbebas seperti saat ini? Memberikan jawaban palsu?
"Ya. Aku berjanji."
Kalimat itu terdengar memilukan di telinganya. Namun, jika ia sudah terbebas darinya seperti ini, tentu sang pangeran tidak akan mengetahuinya jika ia bertemu lagi dengan Alena. Atau mungkin Fae itu sudah melupakan janjinya, dan hidup bersenang-senang di istananya.
Lexy tidak menyadari kakinya yang sudah membawa dirinya masuk semakin dalam ke pusat gua. Mungkin ia bisa menemukan takhta sang Ratu Lebah di pusat gua.
Tanah semakin melandai, dan ia bisa mendengarkan suara kepakan sayap dari atas kepalanya. Ia mendongak, dan melihat sekumpulan kelelawar dengan warna tubuh yang aneh. Ada yang berbulu putih, ada juga yang berbulu merah-jingga, seakan-akan seseorang sudah mencelupkannya ke dalam cat warna.
Suara air mengalir mulai terdengar. Lexy mempercepat langkahnya, dan melihat arus air yang tidak terlalu lebar. Sebuah formasi batuan membatasi aliran sungai dengan tanah. Arus itu bergerak ke arah kanan. Ia mengikuti arus itu, sampai akhirnya ia bisa melihat ujung arus. Ia segera tersadar bahwa ia sedang melihat sebuah air terjun kecil.
Sambil berhati-hati, ia menyesuaikan pijakan kakinya agar tidak terjatuh. Ia menginjak bebatuan yang berada di dekatnya, lalu menggunakan tangannya untuk memanjat batu-batu yang keras tersebut. Ia lalu merentangkan kaki kirinya untuk mencapai bebatuan yang berada di seberang arus kecil ini. Dengan cekatan, ia berhasil menggapai bebatuan itu. Kini di bawah kakinya, arus itu menjatuhkan air dari ketinggian kira-kira 5 meter, menciptakan kabut tipis yang terbentuk pada sebuah danau.
Lexy tersenyum. Ia bisa membayangkan dirinya yang akan melompat dan terjun ke danau yang mengilap. Lalu, ia akan berenang ke tepi dan berjalan menuju ke sebuah celah yang terletak jauh pada dinding gua.
Lexy mengambil ancang-ancang, dan setelah ia menekuk kedua lututnya dan merentangkan kedua tangannya, ia melompat ke dasar danau.