
(Kejadian ini berlangsung saat Alena masih menjadi murid di Faedemy).
Setelah aku selesai mengobati punggungku dengan salep anti pegal, aku memaksakan diriku untuk bangkit dan berkeliling Faedemy. Sesudah pelatihanku dengan Ledion, tubuhku selalu terasa sakit. Aku tidak mau terlelap. Aku lebih memilih untuk melatih otot-otot kaki serta punggungku agar terbiasa dengan rasa sakit ini.
Matahari sudah hampir terbenam, jadi jumlah murid yang berkeliaran juga sedikit, dan ini juga lebih aman untukku.
Aku sampai di depan Kelas Fire. Dari kaca jendela, aku memerhatikan murid-murid yang masih berada di sana untuk berlatih. Seorang pria membakar ujung panah dengan api lalu memanahnya ke papan kayu. Panah itu menancap tepat di tengah, dan seketika papan itu sudah terbakar.
Teman prianya menepuk pundaknya dengan bangga. Aku tak dapat mendengar ucapan mereka, yang pastinya mereka tertawa kegirangan.
"Kenapa kamu disini?" Tanya seseorang di belakangku. Aku terkesiap dan menoleh. Seorang Fae Fire berambut merah pendek. Xiela. "Oh, rupanya kamu, Alena."
Biasanya Fae akan kabur jika melihatku. Dan aku baru mengenalnya kemarin, saat aku bertemu dengan temannya yang bernama Naomi. "Kebetulan aku sedang bosan, jadi aku ingin melihat kemampuan seorang gadis Egleans."
"Apa katamu?" Dua lelaki tadi ternyata sudah berada di ambang pintu. "Xiela, dia berbahaya! Dia bisa menerkam sayapmu kapan saja!"
"Maka dari itu aku menyukainya." Xiela tersenyum kepadaku, membuatku terkejut. Tak biasanya Fae ini tersenyum. "Aku suka hal-hal yang berbahaya."
"Kau gila," kata lelaki lainnya lagi. "Lihat saja nanti. Gadis kecil itu akan menghabisimu."
"Oh ya?" Xiela menatap wajahku dengan malas. "Tapi, bisakah gadis ini mengalahkanku dalam permainan Naga Api?"
Aku melongo, tidak percaya apa yang baru saja kudengar. "Naga Api?"
"Kau sungguh gila, Xiela," Fae Aqua yang sekamar denganku tiba-tiba muncul dari belakangku. "Tapi, gadis ini milikku. Aku ingin mengajaknya bermain...Bunga Teratai." Gadis itu menekan pundakku dengan keras. Aku menegang. Aku tahu ia pasti akan menjahiliku lagi, jadi aku buru-buru menjawab, "Aku akan bermain Naga Api."
"Bagus," kata Xiela puas. Tatapannya entah kenapa menanamkan firasat buruk padaku. Aku menahan emosiku dan tersenyum. Tentu, bermain dengan gadis Fire ini lebih baik ketimbang bermain dengan Fae Aqua itu, kan?
***
Dugaanku salah. Aku ini bukan metal, jadi tak tahan dengan panas api.
Aku sedang berada di atas langit, menunggangi salah satu naga bersisik putih salju. Naga betina yang dewasa ini terus-terusan mengaum dan tidak mau menurutiku. Aku seharusnya mengontrolnya dengan tali yang mengekang mulut moncongnya, namun naga ini sepertinya membenciku.
"Cuma segitu kemampuanmu?!" Teriak Xiela dari kejauhan. Naganya bersisik hitam, dan sepertinya itu juga naga betina, dilihat dari mata besarnya yang berlentik. Naga miliknya mengaum, kemudian mengeluarkan api dari mulutnya. Aku berteriak, menarik tali sekencang mungkin, namun itu malah membuat nagaku kehilangan kendali dan akhirnya tubuhku terbalik dan hampir terjatuh dari punggung naga.
"Aa!" Aku menggoyangkan kedua kakiku yang sudah terlepas di udara. Aku memegang tali kemudi dengan kencang.
"Kontrol nagamu!" Teriak Xiela dari kejauhan. Ia segera menghampiriku, dan naganya berhenti mengeluarkan bola-bola api. Meskipun begitu, aku dapat mencium bau gosong dari rambutku. "Mana kemampuanmu?! Jangan sampai lepas kendali!"
"Aku sedang mencobanya!" Aku mengayunkan kedua kakiku, sampai akhirnya aku kembali ke atas punggung naga. Naga putih ini masih meronta-ronta, sayapnya dikepakkan dengan kencang dan aku sampai menutup mata karena ketakutan.
"Kalau majikannya saja ketakutan, bagaimana dengan hewan peliharaannya?" Teriak Xiela. "Buka matamu! Cobalah untuk lebih berani!"
Aku tidak tahu jika itu hanyalah imajinasiku, karena Fae itu sudah menghilang saat aku mengedipkan mataku. Aku menyadari nagaku yang menjadi lebih tenang. Aku menggunakan kesempatan ini untuk memanjat kembali ke belakang punggung naga.
"Hiya!" Aku menggerakkan tali kemudi, dan naga ajaibnya mengikuti perintahku. Xiela anehnya melihatku dengan bangga. "Bagus. Sekarang, serang aku."
"Apa?" Aku tak dapat mendengarnya karena angin yang berhembus dengan kencang, tercipta berkat kepakan sayap besar sang naga. Namun, ia tak mengulangi perkataannya dan lagi-lagi menghujaniku dengan bola api.
Aku menarik tali dan mengontrol naga. Ke kanan, kiri, atas dan bawah. Aku juga bersembunyi di balik kepala naga. "Ayo, naga putih!" Aku menepuk-nepuk lehernya yang kasar dan bersisik. "Keluarkan api! Serang dia!"
Bermenit-menit aku menghabiskan waktu terbang bersama nagaku. Rasanya seluruh bebanku menghilang. Seandainya aku bisa terbang seperti naga ini. Pasti enak bisa merasakan angin yang menggelitik pada kedua sayap kecilku.
"Kalau Callum sampai mengetahui hal ini, aku akan dipuji terus-terusan!"
"Apa?!" Lagi-lagi aku tak mendengar ucapannya. Ia menyeringai, kemudian melemparkan api dari tangannya sendiri ke arahku. Aku berteriak karena serangan dadakan itu. Meski begitu, aku masih menikmati waktuku dengan Fae Fire ini.
***
Aku kembali ke kamar dengan penampilan lusuh dan kotor. Aku tak menyangka akan menemukan Fae Aqua itu di kamarku. Biasanya ia tidak pernah menampakkan batang hidungnya.
"Sedang apa kamu disini?!"
"Kenapa mukamu seperti arang?"
Kami berbicara berbarengan. Aku hanya menggeleng-geleng, kemudian hendak melangkah ke dalam toilet saat Fae Aqua itu menghalangiku. "Kenapa kamu malah main dengan Fae Fire itu, Egleans?" Lagi-lagi ia menyumpahiku. Ia mendorong tubuhku seenaknya, kemudian membasahi seluruh tubuhku dengan air dingin.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Xiela buru-buru menghampiri kami. "Apa yang terjadi?"
"Gadis ini hendak menyerangku!" Fae Aqua itu berteriak, memfitnahku. Aku melototinya. "Apa kau bilang?! Aku tidak-"
Aku belum selesai berbicara saat Xiela sudah menyelimuti gadis itu dengan cahaya merah miliknya. Gadis Aqua itu berteriak kesakitan. Tangannya menjadi merah, dan ia menangis. "Sakit! Hentikan, dasar gila!"
"Xiela...kurasa kamu bisa menghentikannya," kataku memelas. "Dia kesakitan."
Akhirnya Xiela berhenti memainkan sihirnya. "Beritahu aku kalau dia sampai menjahilimu lagi." Setelah itu, ia menoleh ke arah Fae Aqua itu. "Dan kamu. Jangan pernah lagi memasuki kamar ini, karena sang pangeran sendiri yang memintanya."
"Apa?!" Aku dan gadis itu menatapnya tak percaya. Xiela menghiraukanku dan berdeham. "Maksudku, kalau aku sampai melihatmu mengganggu Alena lagi," ia menunjukkan api di tangannya, "mungkin aku harus membakar rambutmu sampai botak."
Fae Aqua itu bangkit berdiri, kemudian menghentakkan kakinya dan berjalan keluar ruangan. Aku masih diam mematung.
"Terima kasih," ujarku kepada Xiela. Namun, gadis itu bahkan tidak menoleh kepadaku. "Jangan berterima kasih kepadaku." Aku tak mengerti maksud ucapannya, lagipula ia sudah meninggalkanku seorang diri.
Aku mendesah dan memasuki toilet. Betapa terkejutnya diriku saat aku memandangi penampilanku di kaca. Rambutku tidak lagi berbau gosong, dan wajahku tidak lagi hitam seperti arang, meskipun bajuku masih lengket dan berbau. Dalam hati aku bersyukur atas serangan Fae Aqua itu.