Wings & Dust

Wings & Dust
Lexy Sherman



Segalanya terasa kacau balau. Lexy tidak memercayai apa yang sekarang dilihatnya; puluhan prajurit peri lebah yang membawa senjatanya masing-masing. Mereka langsung menyerang para Fae tanpa ampun. Hutan yang semula hening menjadi ricuh. Dari sudut matanya, Lexy bisa melihat cahaya warna-warni yang dipadu dengan suara pedang. Semua sibuk menggunakan sihirnya untuk melawan para peri lebah.


Gadis kecil itu terpuruk di tanah. Egleans itu sudah membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan taring tajam yang berlendir. Mata monster itu sudah terpaku dengan sayap Ella. Monster itu mengeluarkan suara keras, lalu segera menggigit ujung sayap Ella.


Suara teriakan Ella yang melengking membangkitkan sesuatu dari dalam diri Lexy. Darah mengucur sangat deras dari sebelah sayap Ella. Terdengar suara kunyahan monster itu samar-samar.


Tidak. Lexy mengepalkan tangannya. Ia tak rela melihat pemandangan mengerikan itu. Wajah Ella yang pucat pasi, noda darah yang menempel pada mulut monster itu, serta sayap indah Ella yang sudah-


Lexy tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Segalanya terasa begitu cepat. Dalam sekejap kedua tangannya sudah mencengkeram leher monster itu, lalu tubuh besarnya sudah terpental ke belakang dan menabrak pohon. Monster itu mengaum karena kesakitan, namun Lexy tidak mengenal kata ampun. Ia merasakan tubuhnya menjadi lebih ringan, lalu dalam sekejap mata, ia sudah berdiri di hadapan Egleans itu.


"Matilah kau," kata Lexy dengan suara yang asing. Suara yang bercampur dengan suara latar pertempuran di belakang sana. Belum sempat monster itu bangkit berdiri, Lexy sudah menancapkan sesuatu langsung ke dadanya. Entah kenapa, suara jeritan manusia kering malah memuaskan dirinya. Tubuh besar monster itu sudah berubah kembali menjadi manusia tengkorak. Makhluk menjijikan itu membuka mulutnya lebar-lebar, namun suara teriakannya tidak kunjung terdengar, karena Lexy sudah menggerakkan tangannya dan memperdalam tancapannya sambil tertawa puas.


Dada monster itu terasa keras, namun itu tidak menghambat pergerakan tangan Lexy. Ia terus memutar tangannya, dan saat tangannya berhasil merasakan sesuatu yang lembek, ia berhenti sejenak dan menarik kembali tangannya. Cairan kotor berwarna hitam kental sudah melumuri tangannya. Lexy berhasil mencabut jantung Egleans itu.


"Lexy!" Teriak Naomi dari belakang. Ia menoleh dan melihat teman-temannya yang kewalahan akibat serangan terus menerus dari peri lebah. Dari sudut matanya, ia melihat suatu pergerakan yang sangat cepat. Salah satu peri lebah bermaksud untuk menyerangnya. Lexy melempar tinjunya tepat waktu saat peri lebah itu sudah mendarat di hadapannya.


Peri lebah itu tampak terkejut dengan kekuatan baru Lexy. Ia buru-buru menghunuskan pedangnya, namun tertahan oleh genggaman tangan Lexy pada bilah pedangnya. Lexy merasakan dirinya menyeringai. Rasanya seperti tubuhnya bergerak sendiri. Semua lompatan dan tendangan yang ia lakukan, serta gerakan tubuhnya yang gesit berhasil menghindari serangan si peri lebah. Tubuhnya seperti disetrum oleh semangat yang membara dari dalam dirinya. Rasanya memuaskan sekaligus menyenangkan dapat melawan seseorang seperti ini. Ia bahkan tak bisa mengontrol dirinya saat peri lebah itu akhirnya gugur dan tak sadarkan diri di tanah. Lexy menginjak sayap kecil peri lebah itu, lalu hendak melakukan hal yang sama pada jantungnya saat tangan kanannya ditahan oleh seseorang.


"Lexy!" Val menahan pergelangan tangannya dengan kuat. Kondisi Fae Light itu sangat menyedihkan. Darah sudah mengotori baju serta wajahnya. Matanya terbelalak saat ia menatap Lexy. "Apa...apa yang sudah kau lakukan?"


Lexy tidak bisa menahan suara tawa yang keluar dari tenggorokannya. "Apa? Tidakkah kau lihat peri ini?" Lexy mengarahkan pandangannya lagi ke peri lebah yang sudah tewas di tanah, namun yang ia jumpai bukanlah prajurit yang sebelumnya menyerangnya, melainkan seorang Fae Ventus. Mella.


Seolah-olah disambar oleh petir, Lexy mengedipkan matanya berulang kali, namun pemandangan yang ia lihat masih tidak berubah. Tubuh Mella yang sudah babak belur dan berlumuran darah.


Tungkainya melemas, dan Lexy jatuh berlutut di hadapan Mella. Ia menyeka keringat yang membasahi lehernya, namun yang ia lihat justru darah yang terciprat di wajahnya. "A...aku-"


"Apa maksudnya?" Naomi menghampiri mereka sambil tergopoh-gopoh. Ia berteriak saat matanya sudah mendarat ke Lexy. Di saat itulah ia menyadari sesuatu yang janggal. Lexy mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia melihat sejumlah peri lebah yang sudah tewas di tanah, namun bukan itulah yang menyebabkan suasana menjadi hening. Semua orang sedang menatap dirinya. Ella bergetar ketakutan dan menangis sejadi-jadinya. Xiela mengepalkan tangannya yang masih menggenggam pedangnya, sampai-sampai darah menetes dari telapak tangannya. Dan terakhir, ia melihat tangannya sendiri.


Tangan besar dengan kuku panjang dan tajam. Serta kedua kaki yang berbulu dan berukuran besar.


***


Suara tawa yang menggelegar langsung meningkatkan kewaspadaan semua orang. Lexy menoleh ke sumber suara dan mendapati sang Ratu yang tengah menyandarkan diri di atas batang pohon. Rambutnya digerai, dan wanita itu mengenakan gaun cantiknya seperti biasa. Sang Ratu menepuk tangannya saat matanya mendarat ke Lexy. "Teman-temanku. Bagaimana kabar kalian?"


Val kembali mengeluarkan pedangnya. "Apa yang kamu inginkan dari kami?!"


"Oh, Fae Light yang katanya sangat setia dengan pangeran Callum?" Sang Ratu menggerakkan sayapnya, dan terbang mendekati mereka. Teman-teman Lexy sudah bersiap siaga dan membentuk barisan. Lexy hanya mematung.


"Syukurlah teman lamaku sudah dijemput ajalnya," lanjut Ratu itu. Ia tersenyum manis, masih tidak melepaskan pandangannya terhadap Lexy. "Itulah akibatnya kalau seseorang sudah membongkar rahasia kita. Rahasia yang bahkan sepadan dengan nyawa mereka."


Rahasia. Mella sudah tahu akibatnya akan seperti ini. Ia sudah menceritakan rahasia kelam sang Ratu kepada mereka semua, dan sengaja mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan wilayah Fae. Dia sudah mempersiapkan kematiannya sebelum semua ini terjadi.


Ratu menggeleng-geleng. "Sayang sekali Fae itu harus mati, padahal dulunya dia sangat cantik." Sang Ratu lalu melirik tangan serta kaki Lexy. Senyumannya mengembang. "Kamu beruntung sudah menguak wujud rupamu yang asli, Lexy. Dengan begitu, mungkin aku tak lagi membutuhkanmu sebagai pelayanku." Wanita itu kembali melayang di udara. "Ketahuilah hal ini, Lexy. Bahwa segala sesuatu pasti ada bayarannya. Karena aku tidak menyukai penampilanmu yang sekarang..." Sang Ratu mendecakkan lidahnya, "aku terpaksa akan menjadikan kakakmu sebagai pelayanku."


Sang Ratu mengayunkan tongkatnya, dan sebelum ia menghilang, wanita itu berkata dengan lembut, "Mungkin kamu harus mengejarku sampai ke Goa Kora. Temanmu yang bernama Bella itu sudah membantuku mencari Alena."


Dan dalam sekejap mata, sang Ratu sudah menghilang.