Wings & Dust

Wings & Dust
Permulaan



Takdir. Aku dan Lexy sama-sama sudah mengetahui bakat kami masing-masing. Namun, apa jadinya jika kami dipertemukan? Sang Ratu ingin sekali untuk mempertemukan kita, sementara para Fae tidak ingin hal itu terjadi.


Aku merasakan kekuatan dahsyat yang menimpaku berulang kali. Saat Lexy menaruh tangannya di atas pundakku, aku sudah bisa merasakan setruman listrik di sekujur tubuhku, namun kutepis saja perasaan itu.


Gaun pestaku tiba-tiba ikut berubah. Rok yang sudah tersobek karena kupotong dengan pedang mulai memanjang. Mungkin karena cahaya baru yang kuciptakan, seluruh penampilanku menjadi berbeda. Gaunku menjadi bersih dan tidak ada noda darah sedikitpun. Roknya pun jadi lebih mengembang.


"Alena," Lexy menatapku tak percaya. Aku mengikuti arah tatapannya dan melihat jari Callum yang mulai bergerak.


"Callum." Aku buru-buru berlutut. Sesuai insting, aku menyelimutinya dengan cahaya pelangiku. Tak lama, matanya terbelalak dan ia terkesiap.


"Callum!" Aku memeluknya, sedikit syok karena akhirnya ia membuka matanya. Callum menggunakan sikunya untuk bangkit, kemudian terbatuk-batuk. Suara napasnya berat, dan ia mengedipkan matanya berulang kali saat melihatku.


Wajahnya tidak lagi memiliki bekas sengatan lebah. Cahayaku benar-benar sudah memulihkannya. Ia menelan ludah, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Alena." Aku dapat mendengar suaranya yang kecil.


Aku memeluknya sambil mengeluarkan air mata bahagia. Tubuhnya sempat bergetar, namun kemudian ia balas memelukku. "Alena, aku merindukanmu."


Aku tersenyum. "Ya, aku juga." Tangannya tiba-tiba menyentuh ujung sayapku. Aku bergetar, merasakan sensasi aneh seperti menggelitik. Belum pernah ada yang menyentuh sayapku. "Sayapmu..." ujarnya tak percaya.


Aku melepaskan dekapannya untuk menatap wajahnya. Tak lama, suara hentakan kaki terdengar dari luar gua. Lexy segera bangkit untuk mengecek keadaan luar. Aku melihat semua teman-temanku. Xiela, Naomi, Sana, Val, Lotus, Lilies, Flora, kemudian seorang anak kecil yang masih sangat muda. Mereka semua tampak terkejut saat menemukanku terkapar di tanah bersama Callum.


"Kalian!" Naomi memeluk kami. "Kami sangat khawatir dengan kalian! Kupikir Sang Ratu-"


"Dimana wanita itu?!" Xiela sudah bersiap siaga dan mengeluarkan api dari tangannya. "Kalau dia sampai bersembunyi-"


"Dia sudah tidak ada," jawabku dengan tenang. "Setidaknya, untuk saat ini."


Val menghampiri kami, lalu membungkuk untuk memberi hormat kepada Callum. "Apa yang sudah terjadi dengan kalian?"


"Nanti akan kuceritakan semuanya," kataku. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, senang rasanya bisa bertemu dengan teman-temanku lagi. Di ujung ruangan, Lotus dan Lilies hanya melipat tangan mereka, sama sekali tidak menyambutku. Aku tahu Lotus sebal denganku karena sudah melihat aku memeluk Callum. Meskipun demikian, tiada lagi rasa benci atau dendam di dalam hatiku. Aku tersenyum saat mata kami saling bertemu. Lotus hanya menggeleng-geleng dan memalingkan wajahnya.


"Kurasa, aku ingin tahu bagaimana caranya kamu mendapatkan warna sayapmu," kata Sana saat kami sudah berjalan keluar dari gua. Aku mengaitkan tanganku dengan Lexy, adik kembarku yang sekarang sudah bersamaku. Aku menoleh kepadanya. "Wa-warna?"


"Demi Dewa Pengampun," kata Naomi. "Kau tidak sempat melihat kondisi sayapmu sendiri?"


"Tidak. Memangnya kenapa?" Aku hendak memutar kepalaku. "Kupikir cuma ukurannya saja yang-"


Aku terkesiap. Ternyata bukan hanya bertambah besar seperti ukuran sayap normal seorang Fae, sayapku pun tidak lagi tak berwarna.


"Sayapmu seperti ketumpahan cat," kata Lilies dengan nada mengejek. Aku tidak menghiraukannya, masih terus menatap sayapku yang baru. Callum tiba-tiba sudah berada di sampingku.


Senyumannya membuat pipiku merona. "Pelangi? Warna yang sangat pas untukmu."


Lexy mengeluarkan suara tawa kecil. "Lihat saja penampilannya. Sulit rasanya membayangkan gadis ini sudah terjebak di tempat menyeramkan ini selama berhari-hari."


Flora yang berada di depanku sampai menoleh ke belakang. Ia masih sibuk menggendong gadis Ventus yang kini sedang terlelap. Di sebelah bahunya lagi, Cashew sedang tertidur pulas. Ia pun terkagum melihat sayapku. "Kalau begitu, dia termasuk golongan apa?"


Golongan? Ada golongan bangsawan seperti Callum yang memiliki sayap emas. Lalu ada golongan penjiwaan khusus Fae Ripper dan Healer. Kemudian ada golongan pemanggil alam, yang terdiri dari lima macam warna. Yang terakhir ada golongan seni. Bakat simpel namun cukup memukau.


Bagaimana untuk golongan dengan sayap pelangi? Aku belum pernah mendengar seorang Fae yang bersayap pelangi. Aku mungkin saja hasil percobaan Sang Ratu, namun aku tak pernah membahayakan kaum Fae.


Aku meremas tangan Lexy. Adikku ini jadi lebih pendiam saat kami melewati pepohonan ditengah salju. Meskipun matahari bersinar terik, suasana masih terasa menyeramkan. Sekumpulan mayat Egleans masih bergelimpangan di tanah. Mereka hanya muncul dan melewati tempat ini saat malam hari.


"Adik tercintamu itu adalah Egleans, makhluk kotor hasil percobaan manusia." Aku tak ingin mengingat perkataan wanita itu. Wanita yang ternyata adalah seorang manusia. Usianya pun lebih muda daripadaku. Aku bergidik saat menyadari bahwa seorang manusia muda lah dalang di balik ini semua.


***


Callum menemukan gadis itu yang sedang termenung di balkon kamarnya di istana Amarilis. Sudah tiga hari semenjak peristiwa di dalam gua itu terjadi; peristiwa yang tidak ingin diingat olehnya. Dan selama tiga hari ini, ia menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pangeran. Ini sangat melelahkan. Membereskan sisa-sisa kehancuran Sang Ratu dan sebagainya. Ia baru bisa bertemu dengan Alena saat ini.


Setelah Sang Ratu menyerangnya dengan sengatan lebah, ia tak ingat apa-apa lagi kecuali saat ia berada di sebuah tempat tanpa adanya cahaya. Tempat dimana sulur-sulur bayangan kegelapan menjadi temannya.


Tempat itu sangat menyeramkan. Bukan kegelapannya, bukan juga suasananya yang mencekam, melainkan ketidakpastiannya. Ketidakpastian kapan ia bisa terbebas dari tempat tersebut. Ia sempat tidak mengingat namanya sendiri. Ia lupa akan jati dirinya. Rasanya seperti isi kepalanya dikerak habis dan seluruh memorinya diserap tak bersisa.


Callum pun kehilangan jejak waktu. Ia juga kehilangan kesadaran dan kontrol atas tubuhnya sendiri. Ia tidak mengingat apa-apa, namun di lubuk hatinya, ia tahu ia belum pernah merasakan kehilangan. Ia yakin dengan kehidupan masa lampaunya, bahwa di masa kehidupannya, ia selalu merasa ada sesuatu yang kurang dari dalam dirinya.


"Callum." Ia mendengar sebuah suara asing yang menyebut nama asing. Ia memfokuskan pendengarannya, dan samar-samar suara itu menjadi semakin jelas. Ia tidak mengenali suara itu, ataupun nama yang terngiang-ngiang di kepalanya. Namun, ia merasakan kepedihan yang mendalam di hatinya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, dan ia tidak yakin apa penyebabnya.


"Callum," ia membisikkan nama itu. Nama yang hampir dilupakannya. Callum, tolong bangunkan dia. Ia menutup kedua telinganya. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit.


Aku menyukaimu juga. Suara itu terlintas di kepalanya. Diantara ribuan memori yang tak bisa digapainya, Callum memilih untuk mengikuti sumber suara itu. Diantara kepingan kenangan yang pecah-pecah, ia memilih salah satu kepingan yang berisikan tentang kenangannya bersama seorang gadis.


Kepalanya berdengung. Ia membolak-balikkan dirinya di atas lantai yang sangat dingin. Tubuhnya menggigil, dan ia mulai menangis tak karuan. Ia masih tidak mengerti kenapa hatinya merasakan pedih yang amat mendalam. Kepedihan yang menyayat-nyayat dan akan selalu berbekas.


Ia menarik kedua lututnya di depan dada, lalu memeluknya erat-erat. Air mata sampai membasahi lantai. Sekarang ia benar-benar sendirian. Tidak ada lagi yang menemaninya.


"Callum," ia membisikkan nama itu. Nama yang sekarang sudah terbawa angin, nama yang membangun sesuatu dalam dirinya.


Segalanya menjadi hening. Tak ada lagi bisikan suara halus seorang gadis. Ia baru akan yakin akan terjebak selamanya disini saat ia mendengarkan sebuah alunan melodi yang sangat indah.


Jantungnya berdegup kencang. Nyanyian gadis itu kembali menenangkannya. Tubuhnya tak lagi gemetar. Rasanya ia bisa memejamkan matanya dan terlelap dalam nyanyian yang halus itu.


"Alena." Sebuah nama terlintas di pikirannya. Dadanya lagi-lagi terasa sesak setiap kali ia mengulangi nama baru itu. Nama seorang gadis yang hampir saja dilupakannya.


Fragmen memori kembali menghantamnya. Kali ini, rasa sakitnya jauh lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya. Ia berteriak, namun sakitnya tak tertahankan. Akhirnya, tenggorokannya tak mampu mengeluarkan suara lagi. Ia jatuh pingsan di atas tanah. Kedua kelopak matanya sudah hampir tertutup, ketika tiba-tiba sebuah cahaya warna-warni menghampirinya.


"Alena..." Ia berusaha meraih cahaya itu, dan tiba-tiba cahaya yang sangat terang membuatnya kembali tersadar.


***


"Sedang memikirkan apa?" Sekarang ia menghampiri gadis itu. Gadis penyelamatnya yang memandunya kembali ke cahaya kehidupan. Bukan hanya secercah harapan. Gadis yang berada di sampingnya ini merupakan seluruh harapan hidupnya.


Gadis itu mengangkat bahunya, pandangannya masih tertuju ke bawah balkon. Callum tahu pikiran gadis ini sedang melayang. Maka ia berhati-hati dalam memilah kalimat dan berkata, "Kalau kamu terus memasang muka murung seperti itu, aku hanya akan memandangi bintang di langit."


Ia disambut oleh pukulan tinju di lengannya seperti biasa. "Lagi-lagi bintang?! Bahasa puitismu itu jelek, tau gak?!" Callum rasanya ingin tertawa, namun gadis ini masih memberikan tatapan sedih.


"Hei." Ia merangkul gadis kecil ini. Sulit rasanya untuk membayangkan gadis muda ini sudah mendapatkan warna sayapnya. Warna dan bakatnya yang juga unik. Callum belum pernah melihat dan merasakan cahaya pelangi yang hangat. "Ada apa, Alena?"


Gadis itu akhirnya menoleh kepadanya. "Bukan apa-apa." Namun ia mendesah. "Bagaimana dengan tugasmu akhir-akhir ini? Masih sibuk?" Bahkan gadis ini sampai mengalihkan pembicaraan.


Callum tidak mau membahas kewajibannya sebagai seorang pangeran. Ia juga tidak bisa memaksakan gadis ini untuk memberitahukan hal yang sedang dipikirkannya. Maka ia berjalan ke belakang punggung Alena, kemudian melingkarkan kedua lengannya ke pinggang gadis itu. Ia merasakan tubuh gadis ini yang bergetar karena menggigil.


"Saat aku menghadapi kematian, suaramu lah yang menuntunku," bisiknya di telinga gadis itu. "Aku tidak ingat siapa namaku. Aku juga tidak ingat kehidupan lamaku."


Gadis itu terdiam. Pada akhirnya ia melanjutkan pembicaraannya. "Aku mendengar nyanyianmu. Itu membantuku mengatasi rasa takutku."


Kali ini, gadis itu mengangkat bicara. "Kamu mendengarnya?"


"Ya." Ia tersenyum sambil menghirup aroma tubuh gadis ini yang sudah sangat familiar. "Benar kan, kataku? Suaramu paling indah sejagat raya."


Alena tertawa. "Sejagat raya?" Gadis itu menggeleng-geleng. "Waktu itu aku sangat takut, Callum. Aku takut akan kehilangan dirimu. Mungkin saja cahaya pelangi itu tercipta berkatmu."


"Hmmm." Ia menaruh dagunya di atas kepala Alena. "Sekarang aku sudah disini, Alena. Aku sudah kembali." Ia lalu memutarkan tubuh kecil gadis itu sehingga bisa berhadapan dengannya. Hatinya terasa pedih saat melihat air mata yang berlinang di pipi Alena. Tubuhnya bergetar, dan tangan gadis itu dikepal.


"Alena." Ia mengecup kedua pipinya berulang kali, sampai air matanya terhapus. "Aku sudah kembali." Ketika akhirnya gadis itu menatap matanya, Callum tak bisa lagi menahan dirinya. Ia meraup pipinya yang kedinginan, kemudian menyatukan bibir mereka.


Rasa rindu yang tak tertahankan mulai meruak-ruak dari dalam dirinya. Kini, tubuh mereka sudah sangat berdekatan. Gadis itu tidak lagi bergetar. Callum tiba-tiba terjatuh ke belakang. Namun tangannya masih melingkar pada tubuh gadis itu.


Bermenit-menit mereka saling melepas rindu. Gadis itu kini kembali bercahaya. Cahaya pelangi yang pernah ia temui saat ia berada dalam kegelapan. Cahaya spesial milik gadis ini. Hanya milik gadis ini seorang.


"Golongan Pencipta," bisik Alena pada mulutnya. Callum meninggalkan jejak di tenggorokannya. Masih setengah memejamkan matanya, Callum berbisik pada leher Alena, "Hmm? Jangan bilang daritadi kamu termenung memikirkan nama golongan baru untukmu."


Gadis itu tertawa kecil. Suara tawanya yang manis semakin membangkitkan hasratnya untuk menyentuh dan menjelajahi gadis ini. "Fae God," bisik Alena lagi. "Sayap pelangi. Sebutan baru untukku."


Dalam sekejap, tubuh mereka menghilang dan muncul kembali di atas ranjang luas Callum. Ia tak dapat menemukan kain bajunya, karena gadis ini sudah menatapnya lekat-lekat. Menatapnya penuh harapan.


Malam itu pun ia habiskan bersama gadis tercintanya ini. Di sela-sela lirihan yang kadang disertai juga oleh suara tawa yang mencicit seperti tikus. Malam paling indah yang belum pernah terbayangkan olehnya. Gadis yang kini menyatu dengannya, gadis yang merupakan harapan hidupnya.


 


Tamat Season1 :D


Sampai jumpa di Season berikutnya!