
Badai berlangsung selama berhari-hari. Kami hanya menggunakan alat seadanya untuk menghangatkan diri dan mengisi perut kami. Tidurku tak pernah nyenyak karena hawa dingin yang merasukiku sampai ke tulang-tulang. Meskipun canggung, kami sepakat untuk tidur berdekatan agar aku tidak kedinginan.
Setelah ia menjelaskan kepadaku bahwa kami mungkin saja berada di area perbatasan dengan wilayah manusia, aku tidak lagi merasa ketakutan. Tiada rasanya takut mati yang tersisa di benakku. Setidaknya kami masih berada di area perbatasan, pikirku secara positif. Itu artinya wilayah ini bukan wilayah manusia, ataupun milik Fae.
Sekarang, setelah memakan tanaman kering yang sudah terasa sangat membosankan, aku berbaring dalam dekapan Callum. Kepalaku terkubur di dalam dadanya yang bidang. Aroma tubuhnya yang biasa masih dapat kucium. Seketika pipiku merona. Aku belum pernah tidur berdekatan dengan seorang pria sebelumnya. Ayah tidak pernah menemaniku tertidur, terlebih lagi Ibuku. Setiap malam pada waktu musim salju adalah hari terdingin yang pernah kurasakan, meski tidak sedingin sekarang. Sambil memejamkan mata, aku mencoba untuk mengusir rasa canggung dengan cara berbicara.
"Dulu saat aku-"
"Tahu tidak dulu-"
Aku membuka mata dan menatap wajah Callum. Tak lama, ia tertawa terbahak-bahak. Aku dapat merasakan getaran suara beratnya di dadanya. Aksinya itu membuatku ikut tertawa. "Kamu dulu, Alena."
"Oh?" Kataku, masih sambil tertawa. Aku lalu memukul pelan dadanya. "Tidak. Aku perlu mengetahui ceritamu sebagai seorang pangeran termuda."
"Hmmm..." Ia menaikkan bola matanya, berpura-pura untuk berpikir. "Yahh...begitu saja. Setiap hari aku harus menandatangani surat-surat dari rakyat Amarilis. Belum lagi tugasku di kerajaan Bougenville yang pastinya jauh lebih memusingkan. Terkadang aku harus pergi jauh-jauh ke utara untuk membereskan masalah seperti...yahh, pokoknya banyak." Ia menghembuskan nafas yang menerbangkan poni rambutku. Aku menyelipkan satu helaian ke belakang kupingku.
"Ceritakan lagi," pintaku kepadanya. Aku tak yakin kenapa aku ingin mendengarkan semua cerita yang keluar dari mulut itu. Kisah-kisah hebat yang mungkin dilakukan oleh seorang pangeran. Di buku ceritaku, tugas seorang pangeran hanyalah berfoya-foya dan bermain bersama para wanita. Hatiku tiba-tiba menciut. Mungkin bermain bersama wanita ada benarnya untuk pangeran yang satu ini.
Ia mengacak-ngacak rambutku. "Hidupku membosankan. Aku mau mendengar kisah dari mulutmu," katanya sambil tersenyum. Ia sempat melirik bibirku sebentar, namun ia berdeham dan berganti pandangan ke tanah gua tempatnya berbaring.
Ditengah-tengah ributnya badai di luar, aku membesarkan volume suaraku agar terdengar. "Aku...orangtuaku adalah manusia," kataku ragu-ragu. Aku takut ia akan menghakimiku, namun ia hanya menatapku dengan rasa penasaran. Akhirnya aku melanjutkan pembicaraanku. "Setiap hari, setiap waktu, mereka selalu melarangku dan Lexy untuk keluar rumah. Aku tidak pernah mengetahui alasannya. Kupikir aku bisa menyenangkan diriku sendiri dengan melakukan hobiku, yaitu membaca buku. Namun, sejak aku berusia enam tahun-"
Tenggorokanku tercekat. Rasanya aku tak dapat melanjutkan ucapanku sendiri. Inilah kisah sebenarnya yang terjadi padaku. Saat aku berusia tepat enam tahun, telingaku berubah menjadi lebih lancip. Tak lama setelah itu, aku jadi menyadari kemampuan fisikku yang jauh lebih hebat daripada kedua orangtuaku. Akhirnya aku menceritakan hal itu kepada Callum.
"Aku pikir tubuh mereka lebih lemah karena mereka sudah tua," lanjutku. "Tapi ternyata Miss Gray juga tak dapat mendengar suara yang jaraknya bermil-mil."
"Miss Gray?"
"Guru privatku," kataku sambil menatapnya. "Dan aku sudah menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Dia sangat baik dan selalu menjaga kami setiap kali orangtuaku pergi dari rumah untuk berbagai urusan."
Aku masih ingat dengan jelas terakhir kali aku bertemu dengan Miss Gray. Wanita berusia 20 tahunan dengan warna kulit sawo matang, serta rambut coklat ikal yang manis. Wanita yang telah merawatku sejak kecil, sekaligus wanita yang menerima diriku sebagai seorang Fae.
Callum menyentuh sedikit bekas lukaku dengan buku-buku jarinya. Tubuhku gemetar karena terkejut dan gugup atas sentuhannya. Callum menyadari perbuatannya, dan langsung menarik kembali tangannya.
"Apakah...uhmm, apakah itu sakit?" Tanyanya. Aku tiba-tiba tidak berani menatap wajahnya. Aku takut akan menemukan ekspresi jijik atau mengejek, jadi aku mengangguk dengan perlahan. Luka di pahaku baru menutup kembali sebulan kemudian, dikarenakan kepingan kaca yang harus dikeluarkan dari kulitku. Aku bergidik dan tidak mau memikirkan kembali prosesnya saat itu.
Callum tidak berkata apa-apa lagi. Ia memelukku semakin erat, dan mencium keningku. Aku sudah terbiasa dengan afeksinya yang seperti ini. Mungkin ia juga sudah terbiasa mengecup kening para wanita, pikirku sambil membalas dekapannya. Tubuhnya ramping sekaligus berotot, dan aku merasa nyaman saat memeluknya.
Tubuhku terasa lebih hangat. Aku merasa aku harus menceritakan kehidupanku lebih banyak lagi kepadanya. Aku ingin sekali memercayainya. Sekali saja, pikirku dalam hati. Aku ingin memercayai seseorang sekali saja.
Matanya menatapku dengan lekat. Bulu matanya yang lentik mengenai wajahku. Aku tersadar bahwa wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku. Nafasnya hangat di mulutku. Wajahnya sangat memesona. Bibirnya terlihat lembut dan berwarna natural. Kulit mukanya halus dan sangat pucat. Tanpa kusadari, aku sudah menggerak-gerakkan jariku dan menyentuh wajahnya yang bersih dan tanpa noda.
Matanya membesar. Aku tidak peduli. Aku teringat lagi dengan gadis yang sudah berdansa dengannya, bagaimana cara Callum menatap gadis itu. Aku sangat iri kepada gadis itu. Namun, aku tidak peduli.
Jariku sudah mendarat di bibirnya. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdegup dengan kencang. Suasana hangat sekaligus mendebarkan mulai mengisi hatiku. Aku ingin menceritakannya bagaimana aku kabur dari orangtuaku dan akhirnya sampai di wilayah Fae.
"Callum." Aku tidak mengenali suaraku sendiri. Suara memelas dengan nada lembut yang bahkan bisa memikat pangeran ini. "Aku-"
Bibirnya menyentuh bibirku. Aku tak bisa melanjutkan perkataanku. Ia menciumku dengan perlahan. Bibirku yang kedinginan jadi bergetar karena mendapat sentuhan halus dari bibirnya.
Ia tidak melepaskanku, ataupun menepisku. Ia malah mempererat dekapannya, dan pada akhirnya ciuman kami menjadi semakin intens. Aku memejamkan mataku, merasakan sensasi aneh yang menjalar pada sekujur tubuhku. Pada akhirnya, tubuhku sudah berada di atasnya. Ia membelai rambutku yang sudah kusut. Aku juga melakukan hal yang sama. Rambut hitamnya terasa begitu halus di telapak tanganku.
"Alena, Alena." Namaku terus dibisikkannya di sela-sela ciuman kami. Mulutnya mendarat di leherku, lalu ia mendaratkan ciuman di sepanjang tenggorokanku. Aku mengeluarkan suara aneh, merasakan tubuh kecilku yang sudah bergetar tak karuan.
Aku meraba-raba lengannya yang berotot, serta punggungnya yang lebar. Aku ingin menyentuh tubuhnya, merasakan aroma mawar yang sudah sangat familiar.
Tubuhku kembali berada di atas tanah. Ia masih melekatkan bibirnya pada bibirku. "Alena," ia membisik lagi. Tangannya sudah berada diatas lenganku. Tubuhku tiba-tiba terasa hangat oleh sentuhannya. Ia kemudian menahan pergelangan tanganku. Jemarinya terasa kasar. Rasanya aku ingin mengeluarkan sihir dan menghilangkan semuanya yang menghalangi kami.
Aku tak peduli lagi. Aku tak ingin lagi memikirkan gadis bergaun kuning pada malam itu. Maka aku menggerakkan tanganku, dan pada akhirnya berhasil menyentuh kulitnya di balik bajunya. Aku meraba otot perutnya yang kencang dan halus. Segalanya terasa begitu lambat. Ia mencium pipiku, lalu menghisap bibir bawahku. Rambutku diangkat, memperlihatkan leherku. Matanya setengah tertutup, dan ia menandakanku di leherku. Aku mengikat tubuhnya dengan kedua kakiku.
Malam ini terasa begitu hangat. Sesekali aku dapat mendengar suara mengerang dari tenggorokan Callum yang sedang kucium. "Alena," bisiknya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia melepaskan bibirku. Aku tidak mengingat apa-apa lagi selain tangan besarnya yang menyelimuti tubuh kecilku, lalu kaki kami yang saling mengekang. Akhirnya aku tidur terlelap di dalam dekapannya.