
Ruangan dansa persis seperti yang tergambar di buku dongengku. Lampu kandelir emas yang tergantung di langit-langit, tangga besar menurun yang rasanya memiliki ribuan anak tangga, serta karpet merah yang menjalar dari pintu masuk sampai ke panggung aula.
Aku bisa melihat segala jenis Fae yang berada disini. Semuanya berpenampilan formal dan menawan. Aku bisa mengenali Ledion, sang Kapten Ripper yang memakai setelan jas berwarna hitam. Rambut putih keperakannya tampak mencolok dan mudah dibedakan dari yang lain. Ia sedang meminum sebuah gelas berisikan suatu minuman berwarna hijau. Dan di paviliun emas yang terletak di atas panggung, tampak sang pangeran termuda. Callum mengenakan jas yang sepertinya terbuat dari sutra, bahan langka dari hewan Fae yaitu Cacing Emas. Sayap emasnya tampak berkilauan di bawah penerangan lampu kandelir.
Saat aku berjalan memasuki pintu ruangan, semua orang langsung menoleh kepadaku. Ruangan menjadi hening. Callum yang semula tengah meminum minuman berwarna hijau itu sambil tertawa terbahak-bahak, langsung menoleh kepadaku. Meskipun aku berjalan bersama Xiela dan Naomi, pandangan mereka tetap menuju ke arahku. Aku mengangkat sedikit rokku yang panjang, lalu berjalan menuruni tangga dengan hati-hati. Aku dapat mendengar beberapa gadis yang berbisik mengenai gaunku. Sebagian membicarakan sayap kecilku. Kuduga mereka adalah Fae berpangkat tinggi yang tinggal di Kerajaan Bougenville. Bukan hal yang tidak biasa untuk membicarakan sayapku yang cacat ini.
Aku berusaha untuk tidak memerdulikan tatapan sinis yang ditujukan kepadaku sambil meraih salah satu gelas berisi minuman dingin yang menyegarkan. Untungnya, topeng putih yang kukenakan ini menyembunyikan dengan baik wajahku. Aku dapat melihat Lotus dari kejauhan. Ia mengawasiku sambil melipat tangannya. Aku hanya berharap ia tidak mengenaliku.
"Kamu sangat cantik hari ini." Callum tiba-tiba sudah berdiri di belakangku. Aku menoleh dan mendapati senyumannya yang biasa ditujukan kepadaku. Aku dapat merasakan tatapan iri dari gadis-gadis yang berada di sekelilingku. Mereka semua kembali berbisik, mencoba menebak-nebak siapa gadis dibalik topeng yang berhasil merebut perhatian Callum.
"Terima kasih," aku tersenyum kepadanya. Mata laki-laki itu langsung terbelalak. Aneh, ucapku dalam hati. Tidak biasanya ia mudah terkejut saat melihatku tersenyum.
Ia lalu berdeham, dan mengulurkan tangannya. "Temanilah aku saat...berpes...eh, maksudku...nanti saat aku mulai berdansa." Ia mulai berbicara dengan gugup. Perilaku ini juga membuatku gugup. Aku hendak membalasnya saat Naomi sudah menarik lenganku.
"Alena, mau kuperkenalkan kepada sang Ketua Melody?" Aku mengangguk sekali, lalu hendak pamit kepada Callum saat ia sudah menghilang ditelan massa. Dengan kecewa, aku tidak sempat mencarinya karena aku sudah ditarik oleh Naomi.
Kami bersama Xiela yang sudah ada didekatnya berjalan melewati orang-orang yang sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku tahu beberapa masih menatapku, namun ini sudah jauh lebih baik.
Ketua Melody itu tengah berbicara dengan Miss Solla, mantan pelatih Kelas Melody sebelum gedung sekolah itu terbakar. Naomi bersiul sedikit untuk memanggil wanita itu sampai ia menoleh kepadanya.
"Ah, Naomi! Putriku!" Wanita itu memeluknya, lalu mencium kedua pipinya. "Kamu terlihat sangat cantik hari ini!"
"Hehe, terima kasih Ibu!" Naomi membalas pelukannya. Aku hanya berdiri mematung. Ketua Melody ini kemarin mengusulkan bahwa kami harus memasuki wilayah manusia dan mencari tahu rencana mereka. Ternyata wanita pintar ini adalah Ibunya Naomi.
Wanita ini lalu menghampiriku dan tersenyum. "Alena. Bahkan dengan topengmu, aku dapat mengenalimu." Ia lalu membungkuk sedikit. "Senang bertemu denganmu."
"Ah," aku membungkuk juga, tidak yakin harus bersikap seperti apa. "Senang juga bertemu dengan Anda, Ketua."
Naomi langsung menertawakanku. Suara tawanya lagi-lagi terdengar melodis di telingaku. "Jangan terlalu formal begitu!"
Aku menggaruk-garuk kepalaku. "Ah, maaf."
"Tuh kan, lagi-lagi!" Naomi menepuk pundakku. "Ayo kita menepi. Ibu, kurasa kamu harus membantu kami."
Dari balik topengnya, aku bisa membayangkan wanita itu sedang menaikkan sebelah alisnya karena kebingungan. "Apa yang bisa kubantu, nak?"
"Sesuatu yang sangat penting. Tapi, kita harus mencari tempat privasi. Di sini terlalu ramai," saran Xiela, lalu segera memimpin jalan dan membukanya untuk kami.
"Ayo, ayo!" Naomi terus mendorong tubuhku dari belakang sampai aku berhasil memasuki sebuah ruangan yang dipilih oleh Xiela. Wanita itu segera menutup pintu, dan mengangkat kedua tangannya. Cahaya keluar saat ia mulai bernyanyi, dan seketika ruangan kami diselimuti oleh cahayanya yang berwarna ungu.
"Peredam suara," jelas wanita itu sebelum ia menghampiri kami. "Jaga-jaga jika sampai ada yang menguping."
Kami berempat duduk di kursi yang sudah tersedia di dalam ruangan. Aku melihat banyak kardus yang berserakan di lantai. Ini pasti sebuah ruangan penyimpanan.
"Kami ingin meminta bantuanmu terkait dengan pelatihan Alena dengan bakatnya," kata Xiela untuk memulai. "Karena Faedemy sudah terbakar, Alena tidak bisa melanjutkan pelatihannya."
"Itu benar," timpalku. "Seperti yang semua orang ketahui, sayapku masih belum memiliki warna."
Wanita itu melepaskan topengnya, dan memperlihatkan wajahnya. Aku ternganga karena wajahnya itu terlihat berbeda dengan wajah yang kutemui kemarin di ruangan pertemuan. Sebuah bekas cakaran tertoreh pada pipinya yang semula halus.
"Bekas cakaran Egleans." Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Beberapa Ketua Golongan ikut membantu tim Ledion untuk menyelidiki para Egleans, dan sialnya aku tertangkap saat tengah membuntuti salah satu Egleans di Hutan Greensia."
Aku mengangguk tanda simpati. Wanita itu melanjutkan pembicaraannya. "Pencarian ini sangat sulit. Setiap kali kamu menemukan salah satu Egleans, pada detik berikutnya, makhluk itu menghilang dalam sekejap mata." Ia menggeleng lemah. "Manusia pasti sudah memperhitungkan ini. Entah apa yang dapat diperbuat oleh para Egleans, mereka jauh lebih pintar dibanding kami."
Xiela menarik napas dalam-dalam. "Bagaimana progresnya?"
Naomi menyela. "Kalau begitu, rencana ini sepertinya gagal. Serbuk sayap kita lah kelemahannya. Para manusia sengaja memanfaatkan itu untuk mengontrol Egleans. Karena mereka sangat tertarik pada sayap kita, sehingga mereka gunakan itu untuk melacak keberadaan kita."
Wanita itu menatapku lekat-lekat. "Disaat itulah peranmu sangat penting. Alena sudah bisa menerbangkan sayapnya. Ia juga tidak menghasilkan serbuk sayap sebagai jejaknya."
Aku menelan ludah. "Ya. Maka dari itulah aku mengajukan diri sebagai mata-mata."
"Jadi, kita tunggu apa lagi?" Tanya wanita itu. "Saranku sih batalkan pencarian Egleans, dan manfaatkan gadis ini untuk langsung melacak dan mencari sarang Egleans."
"Ibu!" Naomi memukul meja. "Jangan ngomong sembarangan!" Kemudian ia tersadar sedang memarahi Ibunya di depanku dan Xiela, jadi ia memelankan suaranya. "Itulah yang hendak kami lakukan sesudah Alena berhasil mendapatkan warna pada sayapnya."
Aku menghembuskan napas karena gugup. Sesaat sebelum kami memasuki ruangan dansa, Xiela dan Naomi menceritakan rencana mereka kepadaku. Mereka ingin aku segera mencari bakatku. Mereka sudah bisa menebak bahwa rencana awal para Ketua Golongan tidak akan berjalan dengan mulus.
Wanita itu melipat tangannya ke dada. "Jadi, apa rencana kalian?"
Kali ini, Xiela yang menjawab. "Aku ingin kamu mencari pelatih pribadi khusus untuk Alena. Masing-masing satu untuk setiap golongan." Ia lalu melanjutkan perkataannya. "Mungkin kita harus menjalani rencana ini diam-diam."
"Kenapa?" Tanyaku karena penasaran. Xiela belum membicarakan hal ini kepadaku. "Jadi, tidak ada Ketua Golongan selain Anda yang akan mengetahui rencana kami?"
"Kita ingin mengurangi resiko, nak," kata wanita itu untuk menyelesaikan perkataan Xiela. "Karena bisa saja ada orang dalam dibalik ini semua."
***
Lexy baru saja melihat pemandangan aneh di depan matanya. Seorang Fae Melody yang rasanya tampak familiar baginya. Fae itu sibuk mendorong tubuh Fae lainnya dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Ia tidak sempat melihat lebih jelas Fae bergaun pelangi itu. Dadanya langsung terasa sesak karena Fae itu mengingatnya dengan gadis yang pernah menertawakannya saat ia dikurung.
Setiap kali seseorang menyapanya atau memandanginya, Lexy selalu menundukkan kepalanya. Ia takut kalau-kalau seseorang mencurigainya, padahal ia pasti terlihat seperti Fae lainnya.
"Pastikan pandangan semua orang terpaku pada dirimu yang cantik jelita," ucap sang Ratu waktu itu. Ia tidak mengetahui alasannya, namun apapun rencana sang Ratu, ia tidak boleh mempertanyakannya. Itu adalah peraturan utama para peri lebah.
Haha, Lexy tertawa pelan. Sejak kapan ia menganggap dirinya sebagai bagian dari peri lebah? Semenjak ia merasa diterima oleh banyak orang? Ia menggeleng pelan. Apapun. Apapun harus kulakukan untuk membentuk aliansi dengan sang Ratu.
Namun, bagaimana jika ia salah membentuk aliansi? Bagaimana jika sang Ratu ternyata berbahaya? Ia tidak yakin harus menganggap siapa saja yang berbahaya saat seorang Fae Royal, pemimpin negeri ini dimasa depan, ternyata sudah sempat menculiknya.
Sambil mengibarkan rok gaunnya yang berwarna kuning, Lexy berusaha untuk mengangkat wajahnya dan berjalan dengan anggun. Ia tidak ingin lagi bersembunyi. Ia harus bisa berlagak seolah-olah ia adalah sang Ratu itu sendiri, menawan dan percaya diri.
Di balik topengnya, Lexy bisa melihat Fae Royal itu. Callum. Fae yang pernah menculik dan mengurungnya ke dalam sebuah ruangan.
Fae itu tampak mabuk. Ia sibuk berdansa dengan gadis lainnya. Tangannya yang nakal meraba-raba punggung seorang gadis Light. Ia tertawa dan menari-nari seperti orang gila.
Lexy berjalan mendekatinya, berusaha untuk memikatnya. Ia belum pernah memikat seorang laki-laki sebelumnya, namun ia mengingat pesan Ratu sebelum ia berangkat ke istana Amarilis. "Kamu adalah gadis tercantik yang pernah kutemui. Tidak ada yang bisa menandingimu."
Pangeran itu akhirnya menatap dirinya. Lexy tidak ingin mengambil resiko tertangkap, jadi ia tetap mengenakan topeng emasnya.
Pangeran itu langsung terhuyung-huyung menghampirinya, lalu memegang kedua pundaknya. "Ka-kamu..."
Jantung Lexy langsung berdebar-debar. Fae Royal ini masih terlihat tampan, bahkan saat ia sudah menyimpan dendam padanya. Lexy mengepalkan tangannya, berusaha untuk menyalurkan emosinya.
"Yang Mulia Pangeran." Lexy menunduk untuk memberi hormat. Ia dapat merasakan tatapan iri dari gadis yang semula berdansa dengan sang pangeran.
Pangeran itu tidak mendengarkan ucapannya. Ia malah melingkarkan kedua lengannya pada pinggangnya, dan meletakkan bibirnya pada lehernya.
"Temani aku berdansa. Kamu sudah berjanji denganku sebelumnya."