
Setelah semua orang terduduk dan suasana menjadi hening, Mella mulai menceritakan semua yang ia ketahui tentang sang Ratu. "Aku bertemu dengannya berpuluhan tahun yang lalu. Saat itu aku cuma salah satu pekerja di toko Madu Manis milik nenekku." Ia menuangkan teh hangat dan membagi-bagikannya ke semua orang. Lexy meminumnya tanpa membantah.
"Sang Ratu terus menerus memuji-muji kecantikanku. Ia berkata bahwa aku adalah gadis Fae tercantik yang pernah ia temui." Mella berkata sambil meminum tehnya. Lexy teringat dengan perkataan sang Ratu saat ia menjadi pelayannya. Hal pertama yang selalu dikatakan olehnya adalah tentang wajahnya.
"Apakah setelah itu kamu menjadi pelayannya?" Tanya Lexy. Mella mengangguk. "Aku pikir hidupku akan lebih baik. Kenapa tidak?" Ia tertawa kecil. "Siapa yang akan menolak tawaran emas itu? Menjadi pelayan seorang Ratu tentu lebih menguntungkan daripada menjadi pelayan rendahan di sebuah toko kecil."
Yang lain hanya terdiam. Xiela lalu berkata, "Lalu apa yang terjadi?"
Lexy langsung bisa menebaknya. Dugaannya benar. Mella menjadi pelayan pribadi sang Ratu. Pekerjaannya tak jauh berbeda darinya. Membersihkan dan mendekorasi kamar sang Ratu, sekaligus menjadi penata riasnya. "Aku sangat menyukai pekerjaan itu. Tak pernah sekalipun aku mendapat pekerjaan yang sangat mudah dengan gaji yang tinggi."
"Apakah sang Ratu melakukan suatu hal buruk kepadamu?" Tanya Naomi. Mella mengerutkan dahinya. "Tidak. Ia justru telah berbuat banyak hal baik. Bukan cuma untukku, namun untuk para gadis pelayannya."
"Apakah mereka mengatakan hal yang sama? Bahwa sang Ratu telah menyelamatkan mereka dari sang Raja?" Potong Lexy. Lotus yang daritadi terlihat bosan langsung duduk tegak. "Ada Raja Peri Lebah juga? Apakah ia pria yang tampan?"
"Oh, diam saja kamu," kata Lilies dengan kesal. Dua Fae itu sudah saling membenci. Sana hanya menggeleng-geleng. "Ada apa dengan Raja tersebut?"
Mella menjawab, "Aku hanya pernah mendengarkan rumor dari para pelayan. Katanya dulu mereka saling mencintai, namun tak lama mereka berpisah. Hingga saat ini Ratu tinggal di Alther Suavis."
"Jadi dulunya istana peri lebah terletak di Alther Suliris?" Tanya Lexy untuk meyakinkan. Mella mengangguk. "Lalu, kenapa kamu bisa berhenti menjadi pelayannya?" Tanya Lexy lagi. Mata Mella menyorotkan ekspresi kesedihan. Ia menghela nafas dan menjawab, "Waktu itu aku menemukan sesuatu yang mencurigakan, jadi aku mulai menyimpulkan sesuatu, dan segalanya menjadi lebih jelas untuk dipahami."
"Maksudmu?" Xiela melipat kedua tangannya di atas meja. "Apa yang kau curigai?"
Mella menggigit bibir bawahnya, lalu melirik Ella. Gadis itu sedang tertidur nyenyak sambil bersandar di dinding. Flora memeluknya agar tidak kedinginan. Fae Blossom itu juga sibuk mengikat rambut panjangnya dan diselipkan oleh bunga. Setelah yakin bahwa putrinya sedang tertidur, Mella melanjutkan ucapannya. "Sesuatu tentang Madu Susu."
Jantung Lexy berpacu. Apapun kaitannya dengan cairan tersebut, Lexy yakin itu bukanlah hal baik. Agar teman-temannya lebih memahami perkataan Mella, Lexy buru-buru menjelaskan, "Madu Susu itu membantuku untuk menyamar menjadi sang Ratu waktu itu."
Val menyipitkan matanya. "Benarkah? Madu itu bisa berbuat demikian?"
"Ya, bukankah aneh?" Kata Mella sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Tidak ada seorangpun yang pernah meminumnya kecuali sang Ratu. Pada suatu malam, aku sangat kelelahan dan tanpa disadari, aku tertidur di dalam bak mandi sang Ratu."
"Astaga," Lilies terkesiap. "Sungguh tidak beretika." Mella memberikannya tatapan tajam, dan Lilies langsung berdeham. "Silahkan lanjutkan ucapanmu."
"Aku panik dan buru-buru keluar dari toiletnya. Untung saja waktu itu langkahku tidak terdengar, karena akhirnya aku melihat wajah asli sang Ratu."
"Wajah asli?!" Lotus langsung memajukan kursinya agar bisa mendengarnya lebih jelas. Lexy mengepalkan tangannya. Ia lalu berbisik, "Jangan bilang selama ini ia menyimpan seluruh Madu Susu untuk kepentingannya sendiri."
Lilies menutup mulutnya yang ternganga. "Jadi Ratu cantik itu...sebenarnya sangat buruk rupa?!"
"Aku tidak mengatakan buruk rupa," kata Mella sambil menekankan kalimatnya. "Aku cuma..." Ia lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin apa yang kulihat waktu itu. Tanpa adanya penerangan, langit malam yang gelap sama sekali tidak membantu penglihatanku."
"Katakan semuanya yang kau lihat waktu itu," kata Xiela. Sana mengangguk. "Iya, katakan semuanya."
"Ah." Ia hendak berbicara, namun tampaknya agak ragu-ragu. "Sayap kuningnya tidak ada. Bahkan telinga serta tubuhnya ikut berubah." Mella menelan ludah. "Aku harap aku salah lihat. Mu-mungkin saja waktu itu ia sedang menyamar-"
Langkah Val tiba-tiba terhenti saat Mella akhirnya menjawab, "Aku melihat seorang gadis. Cantik. Dan dia adalah seorang manusia."
***
Aku terbangun oleh suara bisikan Callum di telingaku. Aku mengerjapkan mata, dan mendapatkan mulutnya yang tersenyum. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangannya, dan menatap langsung ke arahku. Aku jadi teringat oleh masa lalu, saat aku terbangun dan mendapati sang pangeran dengan posisi yang sama persis.
Bedanya, kali ini aku tidak berteriak histeris. Aku malah tersenyum. Aku benar-benar tidak dapat menahannya. Senyum Callum sirna dan tanpa aba-aba, ia menyerangku. Aku mendapatkan ciuman bertubi-tubi darinya.
Rasanya menggelikan saat ia mencium bagian leherku. Aku tertawa dan memprotes. "Callum, ini masih pagi."
"Aku tahu," bisiknya di leherku. Ia memelukku sangat erat, lalu menghirup aroma tubuhku. Ia lalu menggigit sedikit hidungku. "Bangun, Alena. Badai sudah berakhir."
Setelah aku berhasil melepaskan diri darinya, aku bangkit berdiri dan membenarkan bajuku. Rasanya malam itu seperti mimpi untukku. Aku sudah merasakan hampir semua inci dari tubuhnya. Rasa bibirnya di mulutku yang lembut dan tatapannya yang menggoda-
"Jangan melamun." Callum tiba-tiba berdiri di hadapanku. Ia memasangkan mantel di sekitar tubuhku, lalu menuntunku keluar gua. Ia menggunakan tangannya untuk menepis tanaman yang tumbuh menjalar dari langit-langit gua. Salju yang menempel pada dedaunan jatuh ke atas kepala kami. Callum buru-buru menghilangkan salju di atas kepalaku.
Aku harus menghalangi pandanganku dengan sebelah tanganku karena matahari bersinar sangat terang. Callum benar. Badai salju sudah reda. Namun, tumpukan salju semakin tinggi, dan hawa dingin masih merasuki tubuhku.
Callum melingkarkan lengan kirinya di leherku, lalu menggosok-gosok lenganku agar tidak kedinginan. Tiba-tiba aku melihat sesuatu diantara tumpukan salju. Sesuatu yang tampaknya seperti bulu mantel berwarna abu-abu. Callum sepertinya melihat hal yang sama. Kami bersama-sama berjalan mendekati benda itu, dan aku terkesiap saat melihat apa yang muncul dibalik tumpukan salju.
Beberapa tubuh Egleans. Ada yang masih dalam wujud rupa monster, ada juga yang sudah berubah menjadi manusia kering. Bukan hanya satu, bukan lima. Namun beratus-ratus jumlahnya. Kondisi mereka sama; mereka telah mati dalam keadaan beku dan kedinginan.
Aku langsung merinding karena jarak para Egleans dengan gua sangat berdekatan. Aku tak dapat membayangkan nasib kami kalau aku tidak menumbuhkan tanaman yang menutup mulut gua dan melindungi kami dari badai semalam.
"Callum, apakah menurutmu..." Aku tak berani mengatakannya. Apakah Egleans kembali menyerang wilayah Fae pada malam itu?
Ia menggeleng-geleng. "Aku tidak tahu. Kalau kita benar berada di area perbatasan, maka besar kemungkinannya kita akan menemukan Egleans dalam jumlah yang besar."
Kami berjalan melewati mayat-mayat monster tersebut. Kalau di area perbatasan saja sudah sebanyak ini, berapa jumlahnya yang sudah berhasil meloloskan diri dari kabut dan memasuki wilayah Fae?
Callum menghentikan langkahnya dan memutar tubuhku agar ia bisa langsung menatapku. "Kurasa aku harus menggunakan sihirku lagi."
"Apa?! Kau gila?!" Teriakku. Bayangan Callum yang terkulai lemah di atas lantai gua yang dingin kembali mengisi pikiranku. "Kalau kau sampai terluka-"
"Tidak. Maksudku, aku akan mencari tahu hal ini sendirian." Ia melepaskan tangannya dari kedua pundakku. "Aku akan mencari tahu keberadaan tempat ini. Sementara aku pergi, kau harus bersembunyi. Kembalilah ke gua. Nyalakan api. Buat tubuhmu sehangat mungkin. Jangan kemana-mana," perintahnya kepadaku. Aku menatap salju yang kuinjak, tidak yakin harus berkata apa. Callum menyentuh daguku dan menaikkan kepalaku dengan lembut. Ia mengecup bibirku untuk sesaat. Tubuhku lagi-lagi terasa hangat hanya karena sebuah gestur yang simpel.
"Ini akan berbahaya untukmu kalau kau mengikutiku. Dan juga berbahaya untukku." Ia memelukku, lalu berkata, "Aku tidak akan lama-lama. Aku pasti akan mengeluarkan kita berdua dari tempat asing ini."
Ia melepaskan dekapannya. Aku menatap wajahnya. Wajah tampan, wajah yang tanpa kusadari sudah menemaniku selama berhari-hari di tempat asing ini. Wajah yang tidak pernah akan kulupakan. Aku mengangkat tanganku dan menyentuh pipinya dengan lembut. "Hati-hati, Callum. Aku akan menunggumu."
Senyumannya adalah hal terakhir yang kulihat sebelum cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya, dan Callum sudah menghilang. Aku memandang tempatnya berdiri. Jantungku berdegup dengan kencang. Rasa khawatir mulai melandaku. Namun, kuusir pikiran negatif yang tiba-tiba muncul di benakku. Callum akan berhasil. Ia akan selamat. Maka aku mengambil langkah, dan berjalan kembali ke gua dengan perasaan hampa. Lamunanku langsung buyar saat mendengarkan suara gemerisik dari semak-semak di dekatku.