When I ...

When I ...
Sembilan



"Siapa dia?" gumam Vika.


Pertanyaan itulah yang ingin diketahui oleh Reza. Cowok tampan berperawakan lebih tinggi darinya dan berbadan atletis itu mengenal kekasih tercintanya.


Melihat reaksi Reza, Vika berpikir untuk memakai kesempatan ini. Ia melirik Reza, kembali bergumam.


"Apa dia pacar barunya Dea? Secara, Dea kan gatel. Pantes kalau banyak cowok yang gampang kecan...."


Reza yang telinga dan hatinya cukup panas termakan ucapan Vika, tiba-tiba pergi dengan derap langkah yang menghentak.


Vika tersenyum puas melihat hasil pancingannya. Sebentar lagi, hubungan Dea dan Reza pasti putus. Langkah kakinya terasa ringan saat berjalan, mengejar calon kekasih hatinya.


Sementara itu, Dea masih tercengang sampai tak menyadari kepergian Reza dan Vika.


"Hei! Kenapa bengong?" seru Dean, melambai-lambaikan tangan.


Dea menghela napas. Apa sikap pria ini suka mencemooh orang? Menyebalkan! "Kamu ngapain di sini?"


"Aku?" Tunjuk Dean pada diri sendiri. "Nganterin adikku. Dia kuliah di sini. Nggak nyangka kamu sama dia sekampus. Oh, ya. Ngomong-ngomong, kamu bisa nggak anterin aku jalan-jalan?"


Dea mendecak. "Kamu punya adik yang kuliah dan tinggal di sini 'kan? Minta dia aja yang anterin," kata Dea ketus.


Ya ampun, judes banget. Bikin Dean makin penasaran oleh cewek ini. Ia sama sekali tak kesal meski kata-kata yang agak sedikit kasar diucapkan oleh gadis cantik ini. Malah, ia menanggapinya dengan senyuman.


"Mana mau dia. Adikku itu tipe cewek yang suka diem di rumah kamu tahu...."


Sebelum Dean menyelesaikan ucapannya, Dea main pergi begitu saja. Buang-buang waktu mendengarkan dia, sementara ia harus bergegas ke kelas untuk ujian.


-;-;-;-


Rasanya sulit menjalani waktu yang berjalan 24 jam ini, dengan masalah yang mengganjal di hati. Dea menghela napas sambil memangku dagu, melirik jam dinding yang ada di atas papan tulis kelasnya.


Sudah pukul 3 sore. Seluruh siswa telah pulang sejak tadi. Kelas sudah kosong, hanya ada Dea yang sengaja berdiam diri di bangkunya. Alih-alih membaca buku, ia sebenarnya ingin menghindari Reza.


Cowok itu pasti sudah pulang, pikirnya.


Dea membereskan bukunya, meraih tas selempang warna kuningnya, lalu keluar dari kelas.


Ia berjalan di lorong ini dengan langkah pelan dan waspada. Ponselnya berdering, dari Alena. Dia pasti cemas karena dirinya tak kunjung muncul di tempat kost.


"Gue lagi OTW, jangan khawatir," tulis Dea di dalam pesannya. Ia tidak mau Alena tahu kalau dirinya masih di kampus. Alena kan kepo.


"Gue mau kasih tahu. Tadi Reza nanya," balas Alena.


Reza? Dea mengernyit. Ternyata pria itu masih memiliki perasaan padanya. Senyumnya terkembang, tapi ia ingin menuntaskan rasa keingintahuannya dulu sebelum menduga.


"Tanya apaan?"


"Katanya: 'o udah punya pacar?'."


Pertanyaan macam apa itu? Dea berpikir keras kenapa Reza sampai terbesit menanyakan hal itu, sampai ia teringat pada kejadian tadi pagi.


Apa dia melihat Dean mendekatinya, lalu cemburu?


"Terus, lo jawab apa?" balas Dea lagi.


"Gue jawab: 'iya kali? Dia kan cantik, yang deketin kan banyak', gitu."


Idih, si Alena! Masa jawab gitu? Kalau Reza sampai salah paham gimana? Makin keruh aja permasalahan ini.


"Terus, dia bilang apa?"


"Nggak ada. Dia langsung pergi."


Dea bingung. Ini artinya cemburu atau nggak? Huft! Kayaknya Reza semakin marah? Apa sebaiknya ia tak menghindarinya dulu?


Pada saat ia menyimpan ponselnya di saku celana, ia dikejutkan oleh keberadaan Reza di tempat parkir. Spontan Dea bersembunyi di balik tembok, mengintainya yang saat ini tengah berdiri di samping motornya.


Kenapa cowok itu balik lagi ke kampus? Apa dia sengaja menunggu Dea?


Benar-benar! Keteguhannya hampir runtuh.Dea yang begitu berharap dengan yang dipikirkannya, hampir saja keluar dari persembunyian dan hendak menghampiri Reza.


Tidak! Ia tak boleh terlalu gampangan. Yang salah Reza. Jika dia masih ingin memperbaiki hubungan, maka dia yang harus mendatanginya dan minta maaf.


Dea menyandarkan kepalanya. Keputusan yang begitu menyakitkan harus ditahannya dalam beberapa menit, sampai cowok itu pergi dengan motor sport hitamnya.


Ia melongokkan kepalanya, mengikuti arah pandangannya pada kepergian Reza. Barulah ia keluar dari persembunyian, bergegas ke tempat parkirnya agar segera pulang. Awan mendung sudah mengepung langit Yogyakarta sore ini.


-;-;-;-


Beberapa bujangan tanggung duduk di ruang tamu kost-kost sambil menonton TV. Deru motor berbarengan dengan suara guruh di langit. Ketiga cowok itu menoleh ke arah pintu. Reza muncul tak lama kemudian dengan wajah kusut.


"Gimana ujiannya?" tanya cowok yang bernama Taufan.


"Biasa aja," jawab Reza sembari mengacak rambutnya.


"Kusut amat tuh muka?" celetuk teman yang kamarnya bersebelahan dengan Reza, dan berambut agak gondrong.


Reza tak menjawab, hanya duduk di sofa tunggal lalu merebahkan diri. Naufallah yang kemudian menjadi penyambung lidah buat Reza, meskipun ucapannya sekadar tebakan asal.


"Ada masalah sama si Dea kayaknya." Kemudian, Naufal dan kedua temannya tertawa.


"Eh, gue mau tanya. Udah sampai mana hubungan lo sama si Dea? Udah pernah ... 'ehem ehem', nggak, sama dia?"


Reza yang sebenarnya merasa tersinggung dengan candaan Naufal, menanggapinya sambil terkekeh. "Apaan sih?"


"Jujur aja sama kita. Ya, nggak?" timpal si cowok kurus yang lengannya bertato.


"Hubungan gue belum sampai sebatas itu," jawab Reza akhirnya meski malu-malu.


Jawaban itu mendapatkan seruan cemooh dari ketiga cowok itu. Kemudian, Naufal berseru:


"Cupu! Nggak asik banget gaya pacaran lo? Kita-kita aja udah pernah. Iya, nggak." Kemudian ucapannya itu mendapatkan timpalan dari dua cowok yang ada di samping kanan dan kirinya.


"Iya, Rez," timpal Gilang, si cowok tatoan. "Begituan itu enak lho! Cewek-cewek kita aja sampai ketagihan."


"Tapi gue sama dia udah sepakat ngelakuin 'itu' pas nikah. Gue juga takut nanti dia hamil," Reza berkilah, walaupun rasa penasaran akan nikmatnya **** ingin dicicipinya juga.


"Alaaah!" tukas Taufan. "Ngapain nunggu sampai lama gitu! Lo sama Dea kan udah lama pacaran, cinta sehidup-semati, terus mau nikah juga. Nggak apa-apa 'kan mengelakuin 'itu' sebelum nikah. Dea nggak rugi juga. Kalau dia hamil, tinggal nikahin. Atau nggak, kasih dia pil anti hamil. Entar gue beliin deh."


Teman yang seharusnya memberi nasihat baik, malah menjerumuskannya. Alhasil, setan sempat menggebu nafsu Reza yang terus dicoba dihalaunya. Dilema antara prinsip dan gairah yang membara, memerangi batinnya.


-;-;-;-


"Gue penasaran," cecar Alena, yang tangannya tak pernah melepaskan camilan--mentang-mentang tidak bisa gemuk. "Reza kok nanya begitu ya, sama gue?"


Dea yang sedang berkutat dengan bukunya, menaikkan kedua bahunya.


"Eh, iya! Lo tadi ke mana? Kok baru balik?"


Dea terpelatuk, seketika wajahnya memucat dan gugup. "Kenapa emang? Kalo gue pulang, itu artinya gue lagi kelayapan. Udah sana! Belajar!" Kemudian, ia bergumam, "Ganggu aja deh!"


"Emang, lo bisa belajar di saat kayak gini?" celetuk Alena, nadanya agak menyindir.


Antara bisa dan tidak. Kalau Alena tak membicarakan soal Reza, seluruh materi yang ada di buku akan ia serap semua dalam otaknya.


Alena menghampiri Dea. Wajahnya didekatkan, menatapnya yang sedang berpura-pura konsentrasi belajar. "Mau sampai kapan hubungan lo gantung sama si Reza? Entar jadi celah buat Vika untuk ngerebut Reza lho?"


Ucapan yang cukup membuat Dea bergidik. Tentu saja itu menakutkan. Kehilangan Reza, seperti kehilangan separuh hidupnya.


"Berisik!" sergah Dea. "Gue yakin Reza nggak begitu. Dia cinta banget sama dia. Lagian, gue cuma mau kasih waktu buat dia untuk memikirkan tindakannya waktu itu."


Siapa pun juga tahu, cowok perfect selamanya akan egois. Reza tidak akan menyesal dengan yang dikatakannya, apalagi berubah.


Alena berjalan mundur ke ranjang sambil berkata sarkartis. "Yakin?"


Dea menggigit bibir bawah, menggenggam erat pena hijaunya. Ucapan Alena mempengaruhinya, membuatnya berpikir akan kemungkinan itu dan goyah.


Semoga apa yang dikatakan Alena tidak benar.


-;-;-;-


Di luar hujan, suasana kamar Reza menjadi sejuk. Biasanya, ada seseorang di samping dikala seperti ini. Namun, ia tak lagi ada, hanya fotonya saja yang tampak di depannya.


Reza mengambil bingkai foto yang ada di atas nakas, memandanginya sambil berbaring. "Aku merindukanmu, sayang," ucapnya lirih dan serak.


Bukan hanya merindukan kasih sayangnya, melainkan belaiannya, bibir ranumnya yang ia kecup, dan pelukan tubuh indahnya yang hangat.


Ia meraih bantal guling yang ada di sampingnya, mengkhayalkan semuanya dan kejadian yang dilaluinya bersama dengan Dea di ranjang ini. Sial, 'dia' menegang!


Sekujur tubuh mengigil menahan gairah gila itu. Pikirannya mulai berhalusinasi ke arah sebuah kenikmatan yang diidamkan dan dibicarakan oleh ketiga temannya tadi.


Ia melenguh. "Dea...."


Namun, saat ia mencapai klimaks, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia kembali pada kesadarannya, lalu mendesis kesal.


Siapa yang datang? Mungkin Dea? Ia berharap begitu, tapi yang muncul bukan gadis yang diharapkannya.


"Vika?"


Gadis itu tersenyum sembari mendekap tubuhnya dengan kedua lengannya. Giginya gemeretak, menggigil kedinginan. Blus putihnya basah kuyup, hingga bra-nya yang berwarna hitam tercetak jelas.


"Boleh aku masuk?" tanya Vika.


"Masuklah." Reza mengangguk, lalu menggeser tubuhnya.


"Maaf, Kak. Tadi aku habis dari rumah teman. Karena naik motor, aku kehujanan, sedangkan rumah aku masih jauh. Boleh 'kan aku berteduh di sini?"


"Boleh," jawab Reza.


Karena tidak mungkin meminjamkan baju, Reza hanya memberinya handuk. Dia duduk menepi di meja belajarnya sambil membaca sebuah buku, sementara Vika mengeringkan rambutnya di kursi yang ada di sudut lain.


Reza yang saat itu masih belum terlalu pulih dari gairah gilanya, mengalihkannya dengan membaca buku. Tahu-tahu dua buah lengan menyusup ke pinggang dan memeluknya. Terasa dingin karena pakaian Vika yang basah mengenai tubuhnya.


"Kak, dingin," bisik Vika sensual.


Jantung Reza berdetak kencang, gejolak nafsunya belum stabil. Gadis ini membangkitkan kembali gairah itu, meminta untuk segera dipuaskan.


"Sebenarnya, aku cinta sama Kakak."[]