When I ...

When I ...
EPISODE 17



Seperti rencana, Dea pergi membeli nasi padang di tempat langganannya. Pemiliknya adalah seorang janda yang agak sedikit kurang pendengarannya, sehingga Dea perlu menaikkan sedikit volumenya ketika memesan.


Wanita yang senang memakai kaus dan sarung itu menatapnya sembari tersenyum. "Udah lama ndak ka siko? Kama kau? Sibuk bakarajo?"


Dea meringis, agak sedikit mengerti tapi juga bingung dengan bahasa wanita itu. Namun, entah aroma nasi atau aroma bumbu dari masakan, tiba-tiba Dea merasa mual. Meski begitu, tetap ditahannya, sampai ia berkata agak keras:


"Nasi Rames pakai telur dadar sebungkus!"


"Dipisah...."


Sebelum pemilik warung itu menyelesaikan ucapannya, Dea sudah pergi duluan ke luar sambil menutup mulut.


Di saat bersamaan, Reza menoleh karena mendengar suara mirip kekasihnya. Akan tetapi, sosoknya tidak ada, padahal sudah ia cari ke sekeliling tempat itu.


Kecewa, ia menundukkan kepala. Mungkin hanya halusinasinya saja. Begitu pikirnya. Seorang pria kurus, yang merupakan pelayan restoran, menegurnya sambil meletakkan pesanannya.


Setelah merasa agak lebih baik, Dea masuk ke dalam dengan mulut ditutupi oleh tisu. Si pemilik warung heran sambil membungkus makanan pesanan Dea.


"Dek a kau? Damam?" tanyanya cemas.


Dea hanya menggeleng, lalu menerima bungkusan pesanannya. "Berapa, Uni?"


"Biaso."


Uang 10 ribu dikeluarkan dari dompet, yang kemudian diberikan pada pemilik restoran.


"Dea, kau jan pai Malala juo. Iko musim hujan. Beko kau damam," nasihat wanita itu.


Anak perempuannya yang masih remaja, menghampiri mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menegur ibunya, "Amak! Jan kecek bahasa minang. Inyo ndak mangarati do." Kemudian, ia menoleh pada Dea. "Maaf, Kak, ibu nggak bisa ngomong bahasa sini."


"Iyo, ndak lasuah," timpal wanita itu.


Dea terkekeh. "Nggak apa-apa. Saya sedikit ngerti kok. Ya, udah. Saya pergi dulu, ya?"


Meskipun hidup ini penuh kesengsaraan, tapi Dea memiliki orang yang masih memperhatikannya, termasuk mereka. Uni penjual nasi padang itu saja memberikannya bonus kerupuk tadi. Bersyukurnya!


Karena mual, Dea tak menghabiskan makanannya. Ia meminum susu yang sudah dibuatnya, lalu duduk sambil bersandar disebuah kursi kayu, menatap ke luar jendela.


Ia mengusap dadanya. Tadi, sewaktu di restoran, ia merasakan jantungnya berdebar. Entah ada apa? Hal itu langsung mengarahkannya pada ingatannya tentang Reza.


Kenapa harus mengingatnya lagi? Kenapa rindu ini tak mau luruh bersama dengan kebencian? Kenapa air mata harus mengalir demi pria yang telah mencampakkannya?


Dihelanya air mata itu dari pelupuk mata, lalu merutuk, "Emang ya, cowok cuma mau enaknya aja! Anakku, suatu saat nanti, jangan seperti pria itu...."


Ia terdiam. Ia sendiri belum tahu jenis kelamin bayi ini, tapi kenapa sudah menasihatinya begitu. Bagaimana kalau anak ini berjenis kelamin perempuan?


Biarlah. Apa pun jenis kelaminnya, ia tetap berharap:


"Semoga kamu tidak melakukan kesalahan yang sama seperti aku dan ayahmu."


-;-;-;-


Mama pingsan selama lima hari karena penyakit jantungnya yang kumat. Alena yang begitu kasihan dan merasa bersalah, menjenguk wanita itu setelah pulang kuliah hari ini.


Kasihan sekali wanita itu; badannya semakin kurus. Kata papa, mama sering termenung, menangis, dan tidak mau makan.


"Saya coba bujuk, ya, Om," kata Alena, sesaat bertemu papa di koridor depan kamar rawat.


"Entahlah," desah papa pesimis. "Saya sudah coba, tapi gagal. Kalau begini terus, mama bisa...."


"Om, jangan berpikiran buruk dulu." Buru-buru Alena menyela. "Saya masuk ke dalam dulu. Saya akan coba bujuk Tante sebisa saya."


"Terima kasih, Nak," ujar papa sedih. "Masuklah. Tante mungkin sedang melamun."


Perlahan, pintu dibuka tanpa mengeluarkan suara derit, menghampiri wanita setengah baya itu, lalu duduk di sampingnya. Disentuhnya tangan pucat yang berimpus.


Mama menoleh. Senyum lemah dan getir menghias bibir yang pucat sekejab. "Nak Alena."


"Bagaimana kabar Tante?"


Mama menghela napas panjang yang menumpuk di dadanya. "Entahlah. Tante tidak bisa berhenti memikirkan Dea. Bagaimana Tante bisa makan, tidur nyenyak kalau Dea pergi dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kabarnya? Apa dia sudah makan? Tinggal di mana dia?"


"Tante, Dea pasti baik-baik saja," kata Alena.


"Apa kamu bisa jamin itu?" Pertanyaan mama membuat Alena bungkam.


Gagal, Alena sudah menyerah sebelum benar-benar membujuk wanita itu.


"Tante, bagaimana kita bisa tahu keadaannya, sementara kita belum mencari?"


"Papanya Dea sudah memerintahkan supir untuk mencari. Kedua adik-adiknya juga ikut mencari setelah pulang sekolah," jawab mama.


"Terus? Belum ada perkembangan?"


Mama menggeleng lemah. Air matanya kembali keluar, membuat penglihatannya semakin mengabur. Lalu terdengar isakan, yang lantas membuat Alena sigap untuk memeluknya. Gadis itu jadi ikutan sedih.


"Tante, Dea pasti ketemu. Saya akan ke Jakarta untuk bantu cari Dea," janji Alena.


Mama melepaskan diri dari pelukannya, bertanya dengan penuh harap, "Benarkah?"


Alena mengangguk sambil tersenyum. "Kita cari sama-sama setelah Tante sembuh."


"Memang kamu tidak kuliah?"


"Aku libur satu minggu."


Mendung berubah cerah, mama tersenyum dengan secercah harapan yang besar.


"Tapi, Tante harus makan dan minum obat biar sembuh. Kalau nggak gitu, bagaimana bisa sembuh. Bukannya kita mau kembali ke Jakarta dan mencari Dea?"


Mama enggan, tapi akhirnya setuju ketika sesuap nasi masuk ke dalam mulutnya. Meski tidak sampai habis, setidaknya ada makanan yang masuk. Mama juga meminum obatnya. Setelah itu, mama istirahat.


Alena menceritakan semuanya ketika papa mencecarnya di depan kamar rawat mama. Papa juga menyambut buat baik Alena yang mau membantu mencari Dea. Dan mereka akan ke Jakarta lusa, ketika kondisi mama sudah mulai stabil.


-;-;-;-


Dea mendapatkan sebuah panggilan interview di sebuah perusahaan. Dengan status pendidikannya, Dea harus puas meski hanya sebagai cleaning service.


Cuaca cerah, tapi badannya yang tidak fit sama sekali tak mendukungnya untuk menjalani hari ini. Langkahnya sempoyongan, kerap berhenti untuk berpegangan dengan dinding maupun duduk di samping trotoar.


Keadaan tak membuatnya gentar. Demi meneruskan hidup, ia terus melangkahkan kakinya sampai ke kantor.


Napasnya sudah terengah-enggah. Teriknya matahari membuat kepalanya pusing. Dea memijat keningnya ketika memasuki halaman kantor yang dipenuhi oleh para karyawan. Sebagian memperhatikannya yang sedang berhenti sejenak, termasuk seorang satpam.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu.


"Begini, Pak." Dea memperlihat sebuah amplop cokelat pada satpam itu. "Saya mau interview kerjaan."


"Kalau gitu, Mbak ke resepsionis yang ada lobi," kata satpam sambil menunjuk ke arah pintu masuk gedung. "Tanya aja tempatnya di mana. Tapi, Mbak nggak apa-apa? Muka Mbak pucat banget."


"Nggak apa-apa." Dea tersenyum lemah. "Terima kasih, ya, Pak."


Dea berjalan menuju pintu masuk, sementara satpam itu memperhatikannya terus dengan cemas. Dea melakukan semua yang diberitahukan pada satpam tadi. Lalu, si resepsionis mengarahkannya menuju ke sebuah ruangan lantai atas untuk menghadapi seorang manager.


Keadaan Dea menjadikannya pusat perhatian. Tubuh Dea semakin lemah, kakinya sudah tak kuat lagi untuk menopang tubuhnya.


Lift terbuka, ternyata dalam keadaan sepi. Kemudian, ia masuk ke dalam lift. Selang pintu tertutup, tubuh Dea mulai lunglai, lama-lama kesadarannya mulai hilang. Ia terjatuh ke lantai.[]