When I ...

When I ...
Tigabelas



Dea turun dari ranjang setelah diperiksa oleh dokter kandungan. Ia sudah menyatakan keluhannya dan menjawab beberapa pertanyaan dari dokter.


Dokter tersenyum, lalu berkata, "Selamat ya. Mbak sedang mengandung."


Dunia seakan runtuh saat itu juga. Ia mematung beberapa saat, mencoba mempercayai semua yang diucapkan oleh dokter. Rasanya ingin menangis, tapi berusaha ditahannya.


Ia pulang ke tempat kos sembari melamun. Kehamilan yang tidak direncanakan ini ... apa Reza akan menerimanya?


Ia mengurung diri di kamar, menangis sejadinya. Menolak untuk makan. Menolak untuk bertemu dengan siapa pun, bahkan dengan Reza. Cowok itu cukup cemas seharian itu, apalagi tidak ada satu pun teleponnya dijawab.


Alena juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Reza mendatanginya. Berarti tidak ada masalah dalam hubungan mereka. Lantas, kenapa dia seperti ini? Namun, ia tak melakukan apa pun. Pada saat akan mengetuk pintu kamar Dea, ia urung.


"Mungkin Dea lagi ingin sendirian," gumamnya sendirian, lalu pergi.


Pada Sabtu siang, Alena baru melihat sosoknya sedang duduk di dekat pohon mangga yang ada di halaman belakang. Ia menghampirinya, tapi merasa heran begitu melihatnya lebih dekat.


"Bengong aja lo! Entar kesambet penunggu pohon mangga lho," serunya mengagetkan Dea.


Dea sama sekali tidak terkejut, hanya menoleh dan tersenyum hambar. Alena semakin terheran.


"Kenapa lo? Elo sakit?" tanya Alena, memegang kedua pipi Dea, lalu menghelanya ke hadapannya.


"Le, gue mau jujur sama lo." Ada jeda sesaat ketika Dea berujar. Keberaniannya belum muncul, tapi pada akhirnya ia memilih untuk mengungkapkannya.


"Ngomong apa?" Mata Alena membulat. Kenapa rasanya jadi penasaran melihat raut wajah serius Dea?


"Gue hamil, Le."


Alena mematung, ternganga. Hampir ia tak percaya dengan ucapannya. Itu terdengar seperti sebuah lelucon.


"Jangan nge-prank-in gue deh! Nggak lucu!"


"Gue serius, Le. Gue hamil anak Reza," tukas Dea, berusaha menegaskan keyakinan Alena.


"Serius lo? De ... gimana bisa? Gue udah bilang sama lo, kan...?"


"Iya, Le. Gue tahu ini salah. Gue nggak bisa nolak waktu Reza minta berhubungan," sesal Dea sembari merenung.


"Tapi lo tahu konsekuensinya, kan?" Alena melunak meski emosinya masih menggebu.


"Iya. Reza juga tahu. Dia menyarankan gue buat minum pil antihamil."


Alena semakin mendidih mendengarnya. Keteraluan cowok itu! Ia sangat tahu risiko akan obat itu kalau dikonsumsi. Ia tak bisa mengatakan apa pun, kecuali terus mendengar ceritanya.


"Terus?"


"Gue nggak minum. Gue nggak mau nanggung akibatnya, tapi gue juga nggak mau hamil," desah Dea, lalu menutupi wajahnya.


Alena menghela napas. Semua sudah terjadi, sudah terlambat bagi Dea untuk menyesalinya. Diletakkan tangannya di atas pundak Dea. Sebagai sahabat, hanya bisa memberi dukungan agar Dea terus kuat menjalani semua ini.


"Apa Reza udah tahu soal kehamilan lo?" tanya Alena kemudian.


Dea menggeleng. "Gue takut, Le. Selama ini gue udah bohongin dia soal obat antihamil itu. Gue selalu bilang kalau obatnya gue minum, tapi sebenarnya obat itu gue buang."


"Ya, tapi lo harus tetap bilang sama dia. Gimanapun juga, dia harus tanggung jawab!" cetus Alena. "Hari ini dia wisuda, kan? Gue rasa nggak masalah ngomongin hal ini."


"Gue ragu, Le." Dea menoleh pada Alena. "Dia mau nikahin gue kalo dia udah kerja."


Alena geram. Dasar cowok! Kalau gini bakal rumit. Ia tahu bagaimana sikap Reza itu. Ia sendiri juga ragu kalau Reza mau bertanggung jawab.


"Udah, lo nggak usah pesimis dulu. Lo harus bisa bilang sama Reza soal kehamilan lo ini," kata Alena. "Nanti sore, gue anterin lo ke tempat kosnya Reza, oke?"


Dea berpikir sejenak. Dalam keraguan, ia mengangguk. Setidaknya, dukungan Alena memberikannya sedikit kekuatan untuk berani bicara pada Reza.


Dipeluknya sahabatnya itu. Tangis haru mengiringi ucapannya. "Makasih, Le. Cuma lo yang ngertiin gue."


- ;-;-;-


"Ada apa nih?" tanyanya, lalu melirik Dea yang sedang menunduk murung.


"Kita habis jalan-jalan tadi," jawab Alena santai.


"Oh. Gue ambilin kalian minum dulu ya?" Reza akan beranjak, tapi Alena buru-buru mencegah.


"Nggak usah," sahut Alena sembari berdiri. "Gue cuma mau mampir bentar. Lo sama Dea ngobrol aja dulu, gue mau ke rumah saudara gue di deket sini." Kemudian, ia beringsut menghadap Dea. "Nanti gue jemput lo, ya, kalau udah selesai."


Dea mengangguk pelan dengan wajah muramnya. Lalu, Alena berjalan keluar setelah berpamitan dengan Reza, meninggalkan mereka di dalam ruangan ini.


Reza tersenyum menatap Dea setelah menutup pintu. Menghampirinya, lalu tangannya merangkul pundak Dea, menghelanya sampai ke dalam pelukannya. Wajahnya didekatkan, mencium pipi Dea. Tetapi hal itu tidak membuat suasana hati Dea membaik.


"Aku kangen," bisik Reza.


"Rez, ada yang mau aku omongin," kata Dea, menelan air liurnya.


"Mau ngomong apa?" Bibir Reza mulai menjelajah ke leher Dea, mengecupnya pelan.


Hening. Dea sampai berkeringat karena terlalu takut untuk berbicara. Sebisa mungkin keberaniannya dikumpulkan, tapi tetap gagal. Dada ini terasa sesak karena debaran jantung yang semakin tak menentu. Sungguh, sulit untuk mengatakan dua kata itu saja.


"Kenapa diam?"


"Em ... Reza. Aku ... aku hamil...." Dea menutup matanya, ucapannya menggantung.


Reza mendelik. Perlahan, tubuhnya dijauhkan dari Dea. Yang tadi itu, hampir tak dapat dipercaya. Ia menunduk, mencoba mencerna ucapan itu. Terdiam dalam rasa frustasi yang meledak.


"Gimana bisa?" tanya Reza dingin dan datar.


Dea tercengang. "Hah?"


Reza mengangkat kepalanya, menatap Dea, lalu tersenyum sinis sambil menoleh ke arah lain. "Bagaimana bisa kamu hamil? Bukannya kamu sudah minum pil antihamil?"


Tak ada jawaban dari mulut Dea, menguatkan dugaannya.


"Kamu nggak minum pil itu, kan?" Reza meradang.


Dea masih merunduk, jari-jarinya bergerak gelisah. "Minum kok. Mungkin obatnya nggak ampuh," jawabnya pelan.


Tak habis pikir! Reza beranjak, berjalan mondar-mandir sambil meremas rambutnya dengan frustasi. Hatinya geram. Semuanya jadi kacau!


Ia menoleh pada Dea dengan tatapan marah. "Gugurkan bayi itu!"


Dea terkejut, bagai ditabuh oleh genderang. Tak ayal air matanya mengalir. Setega itukah dia? Sepengecut itukah dia? Apa sulit baginya untuk bertanggung jawab?


"Nggak. Aborsi itu risikonya sangat besar, Rez," tolak Dea keras.


"Dea, coba pikirin. Kalau kamu hamil, kamu akan putus kuliah, sedangkan aku belum bekerja. Nggak. Aku belum siap menikah."


Dengan sigap Dea berdiri menghadap Reza. "Kalau soal pekerjaan, aku bisa minta papaku yang cariin...."


"Nggak, aku nggak mau ngemis sama orangtua kamu," sela Reza cepat.


"Tapi, Rez...."


"DEA!" teriak Reza. "Gue mau lo gugurkan bayi itu!"


Dea terpaku. Baru kali ini Reza berkata sekasar itu. Ia tak kuasa menahan air matanya lagi. Ia tetap kekeh dengan keputusannya. Jika memang Reza tidak mau bertanggung jawab, baik, biar dia yang menanggungnya sendiri.


Ia mundur selangkah setelah menyambar tas selempang kecilnya yang tergeletak di ranjang. Menatap Reza sejenak, lalu keluar dari ruangan itu dengan air mata bercucuran.


Ia berlari di pelataran jalan Malioboro yang ramai, menyusuri trotar. Sekarang ia hancur. Entah sanggup atau tidaknya untuk terus hidup. Atau apa sebaiknya ia mati saja? Berjalan pelan di jalan raya yang ramai, menabrakkan diri pada mobil Pajero putih yang sedang mendekat ke arahnya.


Pandangannya nanar mengarah pada mobil itu. Berhenti melangkah, lalu menutup mata.[]