When I ...

When I ...
Duabelas



Tak terdengar lagi rintik air yang turun di atas genteng, setelah 30 menit waktu berlalu dalam kenikmatan duniawi yang sesat.


Dea terbangun, merasakan rasa sakit pada selangkangannya sesaat ia akan duduk. Lalu, ia termenung, menemukan dirinya hanya berbalut selimut, tertidur di samping Reza yang sedang membelakanginya.


Tadi itu.... Tiba-tiba matanya terbelalak. Sekelebat kejadian berputar balik di dalam otaknya, menampilkan ingatan sebelum dirinya terlelap karena kelelahan. Seketika, ia menyadarinya, bahwa dirinya sudah "tidak perawan lagi".


Air mata menitik. Kecemasan hebat melanda. Ia meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Bodoh! Begitu umpatnya di dalam hati. Bisa-bisanya ia terjerat oleh nafsu, hingga melupakan prinsip yang dibuat? Bagaimana dengan masa depannya nanti? Apa ia akan hamil sebelum lulus kuliah? Tidak! Papa dan mamanya akan kecewa jika mengetahui hal ini!


Reza membalikkan badannya, terkesiap melihat Dea tengah duduk sambil menutupi wajahnya. Ia beranjak dalam kebingungan, lalu bertanya pada Dea.


"Kenapa?"


Dea berhenti menangis sesaat, menoleh dengan mata nanar. "Apa yang kamu lakuin? Kenapa kamu ..." Ia tak sanggup mengucapkan keadaan yang membuatnya semakin terpukul jika mengingatnya.


"Oh. Terus, kamu merasa menyesal melakukannya?" ujar Reza santai.


Iya lah! Kegusaran Dea memuncak. "Kenapa kamu melakukannya? Bukannya kita udah berkomitmen untuk melakukan ini sesudah kita nikah?"


Reza mendecak. "Dea, emang kenapa kalau kita ngelakuin sekarang? Toh, kita mau nikah...."


"Aku lulus 2 tahun lagi, Reza!" potong Dea, meledak.


"Iya! Tapi nggak masalah juga kok, aku akan lulus sebentar lagi. Kita ngelakuin atas suka sama-suka--kamu juga menikmatinya, kan? Terus, kenapa harus dipermasalahkan? Lagian, aku ngiler setiap dengerin cerita teman-teman yang sudah ngeseks sama pacarnya."


"Itu kan, teman-teman kamu! Kamu nggak usah terpengaruh sama mereka dong!"


Perdebatan ini semakin menjengkelkan. Meski Reza tak tahan dengan rengekan Dea, ia tak mau hal ini menjadi pertengkaran yang menyebabkan hubungan mereka renggang lagi. Ia menghela napas, mencoba tenang. Tangannya diulurkan, meraih pundak Dea, lalu didekapnya gadis itu lembut hingga tangisannya terhenti.


"Dea, semuanya udah terjadi. Kita nggak bisa memutar waktu yang sudah lewat."


Dea yang sudah sedikit luluh, berkonfrontasi dengan nada memelas. "Tapi aku takut, Rez. Gimana kalau aku hamil?"


"Ya, kamu tenang aja. Aku akan beliin kamu obat antihamil."


Begitu sepelekah masalah itu? Apa dia tidak memikirkan risiko yang terjadi jika minum pil itu? Ia akan mandul. Ia tak mau jika harapannya melahirkan bayi di tengah kehidupan rumah tangganya pupus kelak.


"Nggak. Aku nggak mau. Risikonya terlalu besar kalau aku sering meminumnya."


Reza kehilangan akal, kesal menghadapi kekeraskepalaan Dea. "Ya, terus, kamu mau kuliah kamu putus karena kehamilan kamu? Aku belum siap menikah. Aku mau kerja dulu, baru nikah. Pokoknya, kamu harus minum pil itu. Lagian, kita nggak sering juga kok berhubungan badan. Jadi, kamu nggak akan minum obat itu tiap hari."


Dea terpaksa mengalah. Perdebatan ini telah membuat Reza marah sampai memalingkan wajah. Ia tak mau memperkeruh suasana hati Reza, terlebih ia sudah tidak suci lagi. Ia tak mau kehilangan Reza. Tidak!


- ;-;-;-


Perut keroncongan, sejak tadi ditahannya karena hujan tak mau berhenti. Kebetulan, cuaca sudah mereda, jadi Alena keluar kamar untuk mencari tukang bakso yang suka mangkal di ujung gang.


Bersamaan dengan itu, Dea baru saja memasuki pekarangan kos-kosan. Ia tersenyum, menghampirinya.


"Dea!" serunya.


Gadis yang dipanggilnya menoleh sejenak dengan wajah masam dan lelah. Ia terkejut. Ada apa ini? Bukannya senang habis ketemu pacar? Bertengkar lagi kah keduanya? Hidungnya juga menangkap bau parfum aneh di tubuh Dea.


"Baru pulang?" tanya Alena.


"Iya," jawab Dea sembari membuka kunci pintu kamarnya. "Neduh dulu di rumah Reza."


"Neduh?" Alena tersenyum mengejek sambil melipat kedua tangannya di dada. "Neduh atau pacaran?"


Dea tak mengacuhkannya, malah masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Alena mengernyit, lalu turut masuk ke dalam.


"Napa lo? Berantem lagi?" tanyanya, setelah duduk di pinggir ranjang.


Dea tetap tak menjawab, membereskan semua buku-bukunya ke dalam rak.


Alena memiringkan kepala. "Haloooo! Gue gue di sini! Gue bukan angin tahu!" serunya seraya melambaikan tangan.


Tiba-tiba, Dea menghentikan kegiatannya, lalu menoleh pada sahabatnya. "Le, gue mau istirahat dulu."


Dia mengusirnya? Alis Alena dinaikkan sebelah, tak percaya bahwa sahabatnya baru sekali ini mengatakan hal itu. Oke, berprasangka baik saja, mungkin Dea sedang lelah dan ingin sendirian.


"Nggak. Nanti aja gue makan."


"Oke. Bye."


Pintu itu tertutup. Sejenak merasa tidak enak hati karena sudah memperlakukan Alena sedingin itu. Tubuhnya terhuyung menuju ranjang, lalu berbaring. Perlahan air mata menitik pada pelupuk mata, diam, hanya terisak pelan.


Maaf, itulah yang ingin disampaikan pada Alena. Andai ia berani, andai ia sanggup, ia akan mengatakan bahwa separuh hidupnya hancur. Kesuciannya terenggut oleh ulahnya sendiri. Alena pasti akan marah jika hal itu diketahuinya. Dia yang sering bilang kalau: keperawanan harus dijaga baik-baik.


Lalu, bagaimana seterusnya? Apa hanya tadi saja ia melakukan perbuatan dosa itu? Tidak. Reza justru semakin ketagihan melakukannya.


Awalnya hanya seminggu sekali, berlanjut setiap dua minggu sekali. Seperti kata-katanya, Reza memberikan obat antihamil yang ia beli dari temannya. Reza menyuruhnya minum setelah mereka berhubungan badan.


Karena didesak dan rasa takut akan kehamilan, Dea terpaksa meminumnya. Tapi beberapa detik kemudian, ia muntahkannya karena berubah pikiran. Obat itu akhirnya dibuang di depan selokan rumahnya. Dan setiap Reza bertanya apakah sudah meminum obatnya, Dea mengangguk dan terpaksa berbohong.


"De, lo udah mens?" tanya Alena, suatu malam, sambil memainkan ponselnya.


Dea terhenyak, berhenti menulis. Benar, sekarang bulannya! Langsung saja, ia meletakkan penanya, lalu meraih ponselnya. Setiap bulan, ia selalu mencatat kapan waktu datang bulan di sebuah aplikasi. Setelah dicek, harusnya datang bulannya jatuh pada hari ini.


Alena terkejut dan mengalihkan pandangan dari ponsel, kala melihat Dea tiba-tiba berdiri.


"Gue mau ke kamar mandi bentar," kata Dea sambil lalu.


Dengan cepat Dea masuk ke kamar mandi, sampai pintunya ditutup dengan kencang karena sangking waswasnya. Diturunkan celana dalamnya. Betapa leganya, ada bercak darah di sana. Berarti, ia tidak hamil.


Bulan berikutnya, Reza sering mengajaknya ke tempat kosnya untuk berhubungan intim lagi. Sekarang, hampir setiap hari mereka melakukannya, dan untungnya pada bulan berikutnya datang bulannya keluar seperti biasanya.


Tiga bulan berlalu. Kabar baik didapatkan pada pagi awal musim kemarau. Reza datang ke kampusnya, menjemputnya seperti biasa, lalu membawanya ke tempat kos.


Dea tampak cemas dan enggan. Di saat ia tengah meletakkan tasnya di meja belajar, Reza mendekapnya dari belakang.


"Sayang, aku pengin," bisiknya.


Dea mendelik, melepaskan kedua tangan kekar itu dari pinggangnya. "Katanya kamu mau ngomongin sesuatu." Ia langsung berbalik. "Apa itu?"


"Ya, tapi kita 'begituan' dulu ya?" Tangan Reza mulai nakal membuka kancing kemeja merah muda Dea.


"Reza." Dea menghela tangan cowok itu. "Apa harus setiap hari kita melakukan ini?"


Reza mengeryit, terlihat gusar. "Jadi, kamu menolak?"


"Rez, aku takut kalau...."


"Hamil? Memang kamu nggak minum obatnya?"


Dea mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Melihat reaksinya itu, Reza mulai menduga-duga dan curiga.


"Kamu tidak minum, iya kan?" tudingnya.


"Aku minum," jawab Dea terbata.


"Terus, kenapa harus cemas?" cecar Reza.


Cowok itu berjalan perlahan mendekati Dea yang tengah gemetar dan menunduk. Pelukannya meredakan kekhawatiran yang merayap di dadanya. Sebuah ciuman di bibir, lagi-lagi membuatnya luluh untuk menaiki ranjang, bercumbu, memuaskan hasrat bersama dengan Reza.


Sesuai janjinya, Reza mengatakan perihal yang membuat Dea lega dan bahagia. "Aku akan diwisuda lusa."


- ;-;-;-


Dea terbangun oleh batuk mendadak yang membuatnya sampai ingin muntah. Ia mendekap mulutnya, lalu bergegas ke kamar mandi sebelum mengeluarkan isi perutnya di dalam kamar.


Perasaan khawatir mendera. Ia muntah dengan berusaha tanpa bersuara karena takut terdengar oleh penghuni kos lainnya. Ia tertunduk lemas, berpegangan pada westafel. Pikiran yang selama ini menghantuinya kembali muncul.


Apa ia ... tidak mungkin! Ia akan memastikannya dengan melihat di aplikasi kalender menstruasi di ponselnya. Ia terhenyak, menutup mulutnya. Tanpa disadari, ternyata datang bulannya sudah terlambat satu minggu! Pada kalender itu menyatakan, bahwa ia sedang mengandung 4 minggu.


Hampir saja ia menjatuhkan ponselnya karena syok. Kehancuran ini tak dapat membendung air mata untuk tumpah dari pelupuk matanya. Akhirnya, yang ditakutkan terjadi.


"Bagaimana ini?"[]