
Apa memang terlihat begitu? Kedekatan Dean dan Winda kurang dari 3 bulan, atau sejak Dean bekerja sebagai pegawai magang di perusahaan ayahnya.
Tak ada yang tahu identitas Dean, yang merupakan anak pemilik perusahaan, termasuk Winda.
Dean pria yang supel, menyenangkan, kadang jahil. Winda yang penyabar dan open minded, selalu menanggapi semua sikapnya dengan santai.
Lalu, kedekatan itu, apa menumbuhkan sebuah perasaan? Bercanda, ya?
Jika ada yang pernah memainkan ponsel Winda, maka mereka bisa melihat sebuah foto mesranya dengan seorang pria yang terpampang pada layar ponselnya. Pria berwajah Arab itu adalah tunangannya Winda.
Siapa yang mengetahui hal itu? Hanya pria kepo macam Dean saja yang tahu. Dia dengan lancangnya mengambil ponsel Winda, lalu tanpa sengaja melihat foto itu.
Ia tersenyum senang melihat Dean bersama dengan gadis itu. Hubungan mereka bisa menjadi bahan untuk membalas kejailan Dean waktu itu.
"Ehem!" Winda menyenggol lengan Dean, yang saat itu sedang baru keluar dari ruang kerja mereka.
Dean menoleh dan tersenyum. "Eh, Winwin. Mana aja lo? Gue cariin juga."
"Basi! Bukannya yang harusnya lo cari itu si OB cantik itu?" goda gadis berlesung pipi itu.
"OB cantik?" Dean mengernyit. "Saha?"
Pura-pura nggak tahu lagi! Winda mendecakkan lidah. "Siapa lagi. Dea lah!"
"Oh. Kalau itu emang tiap hari gue nyariin dia."
Akhirnya mengaku juga, 'kan? Kalau gitu, Winda tersenyum senang mendengarnya, dan bisa bebas meledek Dean lagi.
"Jadi ... sejak kapan nih, jadiannya?"
Jadian? Apa Winda menganggap Dea telah menjadi pacarnya? Jadi geli mendengarnya!
Dean terkekeh. "Menurut lo, gue sama dia serasi nggak?"
Winda mengacungkan jempolnya. "Pake banget! Tapi, kayaknya hubungan lo berdua jadi bahan gosip karyawati yang lain."
"Terus, lo ikutan menggosip? Gue nggak nyangka. Cewek rasional kayak lo suka menggosip." Bagus! Ada saja bahan ledekan pria ini.
Alih-alih kesal, Winda membantahnya sambil terkekeh. "Enak wae! Gue nggak sengaja dengar aja."
"Oh. Baguslah kalau gosipnya menyebar, apalagi kalau sampai ke telinga si bos. Siapa tahu, dia mau membiayai pesta pernikahan gue sama Dea," celetuk Dean asal.
"Ngaco!" seru Winda.
Dean tertawa renyah. Idenya untuk menggoda Winda muncul. "Lo juga mau nikahannya dibayarin sama bos. Entar gue yang atur."
Tentu saja, Winda menanggapinya dengan tertawa. Pria itu sangat lucu, meskipun kadang jail dan menyebalkan. Mungkin hal itulah daya pikat Dean selain ketampanannya. Dea pasti luluh disuguhkan oleh candaan khas pria itu.
-;-;-;-
Reza berdiri di ruangan kerjanya, menghadap ke sebuah kaca jendela besar yang memperlihatkan pemandangan indah kota New York.
Kemegahan kota ini tak membuatnya bahagia. Gaji besar, pekerjaan yang menjamin masa depan tak bisa menggantikan kerinduannya terhadap Dea.
Ia tinggal di sebuah rumah bertingkat dua, bersama dengan paman, bibi, serta kedua adik sepupunya. Wajahnya terlihat lelah ketika memasuki rumah, ia tersenyum pada pamannya yang sedang menyapanya.
Sebuah kamar di lantai dua adalah kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang, termenung sesaat. Terpikir olehnya, apakah ibunya telah menemukan Dea?
Jam segini, mungkin sudah pagi di Jakarta. Ia bisa menghubungi ibunya, yang kini tinggal bersama dengan keponakan dari adik ibunya.
"Halo, Reza." Suara riang dari ibunya menyambutnya.
"Apa kabar, Ma?" tanya Reza, parau.
"Baik. Ibu lagi ngobrol nih, sama kakak sepupumu, Gio."
Reza tersenyum getir. Baguslah, jika wanita itu merasa dalam keadaan baik. Kini, tinggal menyatakan niatnya.
"Bagaimana, Bu? Apa sudah menemukan Dea?"
Tidak ada suara di sana. Apa sang ibu marah? Teringat saat ia membicarakan soal Dea padanya. Raut wajah ibu terlihat tidak suka. Nada bicaranya terdengar dingin dan gusar, bahkan terkesan enggan membahasnya.
"Bu?" Panggil Reza pelan dan agak sangsi.
Entah mengapa, Reza tak percaya bahwa niat ibunya itu tulus.
"Aku mau kembali ke Jakarta untuk mencari Dea," ucap Reza tegas, tapi berusaha selembut mungkin agar tidak menyakiti perasaan sang ibu.
"Reza! Dengar Mama!" sergah ibunya. "Kalau kamu ke sini, kamu melepas kesempatan emas kamu. Pekerjaan kamu itu menjanjikan masa depan kamu. Lagipula, kalau kamu menganggur, bagaimana kamu bisa membiayai Dea dan anak kamu?"
Hati bertentangan, tapi pikiran membenarkan ucapan sang ibu. Reza menyerah, menyetujui apa yang disepakati tadi.
Percakapan terputus. Wanita itu mendesah gusar sambil menggerutu, "Gadis itu, susuk apa yang dipakai sampai Reza begitu mencintainya?"
Pria yang bernama Gio itu menatap bibinya, tak berani membantah tuduhan tak berdasar itu. Bibinya itu adalah wanita yang keras, dan ia tak mau membuat suasana hatinya rusak gara-gara pendapatnya.
Istrinya pun sepertinya sependapat. Meski tak mengenal Dea, tapi wanita itu yakin bahwa Dea tidak seperti yang dituding oleh bibi mertuanya.
Dia menatap pada Gio, memikirkan sebuah ide untuk membuat suasana bibinya membaik.
"Bude. Sore nanti, mau ya, temenin Nia belanja ke supermarket? Nia mau beli perlengkapan kebutuhan buat Indra," kata wanita berbadan mungil dan berwajah teduh itu.
Wanita itu tampak berpikir. Sifat Reza membuatnya cukup stres, dan ia butuh waktu untuk menyegarkan diri. Jalan-jalan keluar, sepertinya tidaklah buruk. Ia mengangguk setuju dalam kegusaran yang tersisa.
Gagasan Nia berhasil, suasana hati wanita itu membaik setelah melihat-lihat beberapa pakaian di dalam mall. Kini, mereka beranjak ke supermarket, yang terletak di lantai dasar.
Wanita itu duluan, sementara Nia di belakang sambil menuntun Indra yang berusia dua tahun itu.
"Bude, aku mau ke rak yang di sana dulu, ya?"
"Eh, sekalian saja. Bude mau lihat-lihat saja kok," kata wanita yang senang bersanggul itu.
Nia meletakkan Indra di atas keranjang belanjaan, mendorongnya ke arah rak khusus perlengkapan bayi. Dalam beberapa saat, keranjang telah penuh, dan waktunya untuk membayar semua belanjaan itu.
Entah angin apa—bahkan, bermimpi saja tidak. Namun, takdir mempertemukan wanita itu dengan Dea.
Langkah terhenti, bersamaan dengan datangnya Dea ke antrean meja kasir. Mata tajamnya melirik sekejab pada pria yang berdiri di sebelah Dea.
"Mama?" Dea masih menyapa wanita itu, seperti saat ia masih berhubungan dengan Reza.
Bibirnya mengembangkan senyum misterius. Wanita itu menoleh ke belakang sedikit, berkata pada Nia.
"Nia, Bude mau bicara sama perempuan ini dulu, ya." Kemudian, wanita itu mengalihkan tatapannya pada Dea. "Dea, bisakah kita bicara berdua?"
Undangan ini tidak mengejutkan Dea, meski tidak tahu apa yang ingin dikatakan wanita itu.
Dea menoleh pada Dean. "Dean, tolong bayarin dulu belanjaannya. Nanti aku bayar."
Perasaan tak tenang menyergap hati pria itu. Ia menahan tangan Dea, berbisik, "Gue ikut."
"Dean. Please, jangan ikut campur," tukas Dea, lalu menghela tangan Dean.
Wanita itu berjalan duluan, setelahnya Dea menyusulnya di belakang. Dia membawa Dea mengobrol di sebuah restoran cepat saji yang tidak begitu banyak pengunjung.
Mereka saling bertatapan, tetapi wanita itu menatapnya dengan agak berbeda. Senyumannya masih tetap utuh di bibirnya, tapi Dea tidak dapat menebak artinya.
Jika Dea tahu, bahwa wanita itu memiliki sebuah kebencian karena Dea telah membawa sebuah malapetaka yang dapat menghancurkan masa depan anaknya. Sebagai ibu, tentu ia takkan membiarkan hal itu.
"Pesanlah. Kita mengobrol sambil makan," kata wanita itu, menunjuk daftar menu yang ada di meja.
Dea sama sekali tidak tertarik untuk menyantap apa pun. Yang diinginkannya adalah mendengar ucapan wanita yang pernah dihormatinya itu.
Dea menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya pelan. "Mama apa kabar?"
"Baik," jawab wanita itu, setelah terdiam sejenak. "Kamu sepertinya ... juga terlihat sehat. Apa bayi yang ada di dalam kandunganmu baik-baik saja?"
Dea menduga bahwa Reza pasti sudah memberitahukan soal kehamilannya pada ibunya. Akan tetapi, ia tidak menimpali. Malah, ia menanyakan hal yang lain.
"Bagaimana kabanrnya Reza, Ma?"
"Dia sedang menata masa depannya di Amerika," timpalnya tanpa basa-basi. "Oleh sebab itu—"
Sebuah amplop berwarna cokelat dikeluarkan dari tas tangannya, menyodorkannya ke meja Dea.
"Gugurkan anak itu."[]