
Dean nyaris ternganga kala niat Dea itu terucap dari bibir cantiknya. Namun, setelah mencerna kalimat itu, Dean tersadar dan meletakkan sendoknya di piring.
"Gue nggak minta lo jawab sekarang," ujar Dean.
"Dan aku nggak butuh waktu lama untuk berpikir," tukas Dea cepat.
Dean melirik ke arah lain sambil berpikir sejenak. "Lo yakin?"
Tak ada lagi yang perlu dipikirkan ulang. Dengan mantap, Dea berkata, "Aku sudah putuskan untuk melupakan Reza. Tapi bukan berarti karena aku mencintaimu. Tolong, jangan paksa aku."
Dean tertawa kecil. "Lo bisa pegang janji gue."
Dea mengangguk, merasa cukup puas dengan kesepakatan ini. Sekarang, ia bisa menyantap martabak telur yang sejak tadi menganggur di piringnya.
"Oke. Terus, kapan kita bisa ketemu sama orangtua lo?" tanya Dean, ketika nasi gorengnya tinggal setengah piring.
"Besok."
Dean terbelalak. Besok?! Jeritnya di dalam hati.
Ini terlalu mendadak! Ia belum mempersiapkan semuanya, pertama dimulai dari pakaian.
Seluruh jenis model pakaian ia keluarkan dari dalam lemari, dipaskan ke badannya satu persatu. Lalu, latihan bicara di depan cermin seperti ini:
"Bapak, kedatangan saya ke sini untuk melamar anak Bapak, Dea—" Ia tersenyum beberapa saat, lalu berubah muram.
Sungguh memalukan sekali cara bicaranya itu.
Semua persiapan itu membuatnya susah tidur. Alhasil, ia terbangun dengan lingkaran mata hitam.
Kedua orangtuanya heran. Papa dan mama saling melirik, tapi tak berniat bertanya pada Dean.
"Rachel penasaran sama calon ipar kakaknya. Kamu nggak kasih tahu dia?" tanya mama, meletakkan roti panggang di meja Dean.
"Ya udah, Mama kasih tahu aja dia," sahut Dean santai.
Mama tak mau menanggapi lagi. Kemudian, topik pembicaraan dialihkan oleh papa yang dimulai dari sebuah pertanyaan.
"Kamu udah ketemu sama orangtuanya Dea?"
"Yap! Hari ini." Dean menjawab sembari tersenyum.
🌸🌸🌸
Pertemuan itu diadakan pada pukul 3 sore. Dea bilang, orangtua dan adiknya sedang berkumpul bersama jika akhir pekan begini.
Dea tak mau disambangi oleh Dean di tempat kos. Jadi, ia berdiri di depan gang.
Mobil Porche warna hitam mendekat ke arahnya tak lama kemudian. Dean keluar dari dalam mobil, agak tercengang.
Kenapa? Karena Dea begitu cantik dengan balutan baju hijau toska lengan panjang, yang dipadukan dengan rok berwarna salem. Rambut cokelatnya diikat cepol.
Dean menelusuri penampilannya dari atas sampai bawah, membuat Dea terheran.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Dea.
"Lo selalu cantik kalau pakai baju apa aja," puji Dean, terpukau.
Sejujurnya, Dea agak tersipu, tapi berusaha disembunyikannya. Lalu, ia mengernyit karena ada yang mengganggu di wajah Dean.
"Mata panda? Kamu begadang semalam?"
Dean terkekeh. "Iya. Eh, yuk kita jalan!"
"Tunggu sebentar!" Dea menahan Dean yang akan berbalik.
"Sini, aku pakein." Dea mencolek sedikit krim pekat berwarna cokelat muda dari dalam kotak kecil itu dengan ujung jari telunjuknya. Lalu, akan dioleskannya pada mata Dean.
Dean menghindar. "Apaan nih?"
"Concealer. Mata kamu itu bisa tersamarkan kalau pakai ini," kata Dea.
Senangnya. Senyum Dean terkembang lebar. Ia hanya diam sambil menatap Dea yang sedang mengoleskan krim itu di matanya. Baru kali ini, gadis itu perhatian padanya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Dea, yang ternyata menyadarinya.
"Senang aja. Lo perhatian gini pasti supaya gue terlihat lebih ganteng di depan keluarga kamu."
Gerakan Dea terhenti sejenak, sementara itu Dean berharap tidak ada sanggahan darinya. Bertambah senanglah pria itu jika Dea mengakuinya.
Namun, Dea hanya berkata, "Tinggal sedikit dikasih bedak. Kamu nggak masalah, 'kan?"
"Asal gue jadi kelihatan tambah ganteng aja," seloroh Dean, membuat Dea diam-diam tersenyum geli.
"Udah."
Melihat senyuman di bibir pria itu, menyadarkan Dea bahwa wajahnya begitu tampan. Akan tetapi, keterpanaan itu berlangsung hanya beberapa saat.
"Yuk, kita pergi." Dea berbalik, berjalan duluan menuju mobil Dean.
🌸🌸🌸
Mama memandangi langit. Ia duduk di ayunan besi yang catnya telah terkelupas, bersama dengan kedua anaknya, Naomi dan Haris, yang tengah bermain badminton di halaman.
Papa yang baru memasuki perkarangan rumah, mematung di sana, memandangi sang istri yang tengah termenung sedih.
Ia menghela napas. Ke mana Dea sekarang? Berbulan-bulan mencari. Telah lelah tubuh ini. Dan telah putus asa ini.
Dihampiri mama perlahan. Diusahakan senyum ini terkembang meski perasaan bertolak belakang.
"Ma," panggil papa, duduk di samping wanita yang dicintainya itu.
Raut wajah yang muram, terpaksa terlihat bahagia dengan senyum tipisnya. Sayangnya, papa tahu bahwa ekspresinya itu palsu.
"Papa mau minum teh?"
"Boleh," jawab papa.
Mama akan beranjak sambil berkata, "Ya udah, Mama ke dapur dulu, ya."
"Mama!"
Suara yang tak begitu asing berseru, membuat mama mematung dan terbelalak. Ia menyangka bahwa suara itu hanya halusinasinya saja. Namun, Naomi berseru memanggil nama seseorang, yang membuatnya berbalik.
"Kak Dea!"
Papa beranjak dari kursi. Mama yang tercengang lama, masih tak percaya bahwa gadis yang berdiri di sana adalah anak yang selalu ada di benaknya. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.
Mama merentangkan kedua tangan, menghampiri Dea sesegera mungkin, tak sabar mendekapnya.
"Dea. Jangan pergi lagi, Nak."
Dea tak dapat menahan tangisannya. Tangannya semakin erat mendekap tubuh mama yang semakin kurus.
"Nggak, Ma. Aku nggak akan pergi lagi," ucapnya lirih bercampur isak.[]