
Alena dan Naomi mengobrol bersama mama di ruang tamu. Telepon dari calon besannya menjadi topik pembicaraan mereka.
"Besok, Dea akan fitting gaun," kata mama.
"Mama nggak ikut?" tanya Naomi.
"Nggak. Besok Mama ada acara sama ibu-ibu arisan."
Pandangan mereka teralihkan pada Dea yang baru memasuki rumah. Alena menyapa, entah dengar atau tidak, Dea langsung melintas menaiki tangga.
Mereka bertiga tercengang dan saling pandang. Kenapa pulang-pulang wajah Dea jadi kusut begitu? Mungkinkah pasangan itu sedang bertengkar?
Bisa dibilang hampir benar, tetapi Dea tak mengerti apa masalahnya.
Disandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia menunduk, matanya menyendu. Perlahan, tangan kanannya mengelus dadanya.
Di sini, kenapa terasa sakit ketika pria itu sama sekali tak menatap wajahnya tadi? Bahkan, Dean tidak mengantarkannya sampai di dekat pagar. Ucapannya tadi, seriuskah? Jujur, hatinya seperti dipukul begitu kencang, sangat menyesakkan.
"Dean...." gumamnya, disusul isakan kecil.
-;-;-;-
Mama Dean memiliki sebuah toko butik langganan di sebuah mall—temannya yang punya. Beberapa rekomendasi gaun pengantin ditunjukkan oleh temannya itu, sehingga Dea tinggal memilihnya saja.
"Semua gaun ini memiliki pasangan setelan untuk pengantin pria," kata wanita yang bernama Rebecca itu. "Pilih saja yang kamu suka."
Dea memasrahkan semuanya pada mama Dean dan Rachel. Semua gaun itu indah dan cantik.
"Bagaimana dengan kalau coba satu-satu saja," saran Rachel.
"Ide bagus," sahut mama setuju. Lalu, ia mengamit lengan Dea, menghelanya ke ruang ganti yang ada di dekat sana.
Sembari menunggu di sofa, seorang wanita menghampiri dan menyapa mamanya Dean.
"Citra?"
Wanita itu menoleh, lalu berdiri. "Oh, Gendis? Apa kabar?"
"Baik," jawab wanita berpakaian kuno dan bersanggul itu. Dia adalah ibunya Reza. Tatapannya teralihkan pada seorang gadis cantik bergaya tomboy. "Siapa ini? Ayu tenan."
"Ini anak aku, Rachel," jawab Citra.
Rachel langsung menyambar tangan Gendis dan menciumnya.
"Oh, anak gadis kamu yang kuliahnya di kampus Reza?"
"Reza?" Rachel mengernyit. "Reza yang mana, ya, Tante?"
Gendis memperlihatkan foto seorang pria tampan berkulit sawo matang yang tersimpan di ponselnya.
"Oh. Iya, aku kenal, Kok. Dia, 'kan mantan—"
Suara tirai ruang ganti terdengar, sontak Rachel dan kedua wanita itu menoleh pada sosok yang keluar bagai bidadari dengan memakai gaun pengantin putih.
Gendis tercengang, sama halnya dengan Dea ketika pandangan mereka saling bertemu.
Fakta yang mengejutkan. Ternyata, mantan calon menantunya akan menikah dengan anak temannya ini? Ia tersenyum geli. Dunia ini ternyata sangat sempit.
Keberadaan mamanya Reza, membuat hatinya was-was. Sejak tadi, ia memperhatikan wanita itu ketika sedang asyik mengobrol dengan Citra. Ia cemas kalau Gendis akan mengatakan sesuatu tentangnya. Melegakan, ternyata yang dipikirkannya tidak terjadi.
"Bagaimana tanggapan abangmu, Hel?" tanya mamanya.
Rachel melirik ponselnya. Wajah cemberut ditunjukkannya. "Belum, Ma. Mungkin abang lagi sibuk."
Dea beranjak dari sofa sambil berkata, "Ma, aku mau ke toilet dulu, ya."
Kemudian, tiba-tiba Gendis berdiri. "Sekalian aja sama Tante. Aku juga mau ke kamar mandi," katanya sambil melingkarkan tangannya ke lengan Dea.
Dea terkejut, tapi tak kuasa menolak karena tak ingin Rachel dan calon ibu mertuanya curiga.
Lantas, mereka berjalan bersama keluar dari toko menuju kamar mandi. Awalnya, tidak terjadi obrolan sepanjang jalan. Namun, saat mereka di luar butik, Gendis berkata dengan nada sindiran.
"Pintar juga kamu merayu anak temanku. Pakai susuk apa, sehingga Dean dan anakku bisa suka sama kamu?"
Sebenarnya, Dea marah, tapi ditahannya. "Apa maksud Tante? Saya nggak pakai susuk."
"Mana mungkin! Kalau tidak, kenapa Dean sampai mau menikah dengan perempuan yang jelas-jelas hamil anak orang lain? Saya bisa menebak. Keluarganya Dean tidak ada yang tahu soal ayah dari anak yang kamu kandung itu."
Sudah cukup wanita itu mengiris hatinya dengan lidah tajamnya. Dea sangat tersinggung, dan ia melepas gandengannya dari lengan wanita itu.
"Apa pun yang Anda katakan, saya tidak peduli. Tolong, katakan pada Reza agar jangan mengganggu saya lagi."
"Tanpa kamu sarankan, saya sudah berusaha memisahkan kamu dengan Reza. Saya tidak sudi menerima anak haram itu menjadi salah satu keturunan darah biru keluarga saya," sahut Gendis ketus.
-;-;-;-
"Bang, Cantik nggak?" Begitulah yang tertulis di bawah foto yang dikirimkan oleh Rachel.
Sejak awal, Dean tak pernah bosan memuji kecantikan Dea pada adiknya.
Dea bagai bagai bidadari, yang sulit untuk digapainya. Gaun putih itu menambah keanggunannya yang tidak akan membuatnya jenuh.
Akan tetapi, ia tak bisa menikmati kecantikan itu. Permasalahan kemarin membuat hatinya mendung. Biasanya selalu bersemangat mengunjungi Dea setelah pulang kerja, kini mobilnya langsung dilajukan ke rumah.
Ia menyipitkan mata, tatkala melihat sosok seorang pria berdiri di dekat rumahnya.
Reza. Mau apa dia? Saat ini, ia sedang malas berhadapan dengan pria itu. Dean tak turun dari mobil, membunyikan klakson agar ada seorang satpam yang membukakan pintunya.
Karena tak kunjung keluar dari mobil, Reza berinisiatif untuk menghampiri dan mengetuk kaca mobil Dean.
Kaca jendela itu perlahan turun. Lalu, sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Dean.
"Ada apa?"
Mata tajam Reza menatap serius. "Gue mau bicara sama lo."[]