
Dea melirik ponselnya. Tidak ada pesan maupun telepon. Waktu telah menunjukkan pukul 3 lewat 45 menit, sebentar lagi gilirannya untuk masuk ke dalam ruang periksa.
Suara notifikasi terdengar, hatinya senang. Namun, pesan yang masuk bukan dari Dean, melainkan dari Reza.
"Kamu lagi ngapain? Apa kamu sudah periksa kandungan? Aku baru sampai di Jakarta. Bisa nggak, besok kita ketemuan?"
Dea menghela napas, lalu membalas pesan Reza.
"Aku lagi di rumah sakit, baru aja mau periksa kandungan. Kamu apa kabar?"
Ternyata rasa penasaran Reza tak puas jika hanya mengirim pesan. Setelah ia membaca pesannya, ia langsung menelepon Dea.
"Halo, Dea. Kamu sama siapa ke sana?" tanya Reza, ketika Dea mengangkat teleponnya.
"Sama supir. Dean lagi rapat sama investor, tapi katanya mau datang kok." Jelas sekali terdengar suara kecewa Dea.
"Share alamat rumah sakitnya. Aku langsung OTW!"
"Rez...."
Telepon ditutup begitu saja. Betapa kerasnya pria itu! Sebenarnya, ia tidak mau Reza ke sini, takutnya Dean merasa tidak senang jika dia ada di sini. Namun, Reza terus-terusan memaksanya. Mau tidak mau, Dea memberitahukan alamat rumah sakit itu.
-;-;-;-
Dean terbelalak. Wanita ini menggodanya dengan pelukan. Apa dikira ia akan tergoda?
Dihempaskannya Rebecca dari pelukannya. "Apa yang lo lakuin! Sadar! Gue udah punya istri!"
Rebecca meraih tangan Dean dan menggenggamnya. "Emang kenapa? Gue rela jadi istri kedua lo!"
Cukup! Dean tidak lagi bisa mentoleransinya lagi! Ia keluar dari mobil, berjalan ke pintu samping dan membukanya.
"Keluar!" Dean menarik tangan Rebecca, memaksanya keluar dari mobil. "Lo dipecat!"
Rebecca terkejut. Ia berseru memanggil Dean yang tak mengacuhkannya dan terus melajukan mobilnya.
"Sial!" umpatnya sambil menghentakkan kakinya.
Kalau begini, rencana untuk mendapatkan Dean gagal. Rebecca menyalahkan sikap tidak sabarannya. Andai saja, ia bisa mengambil hati pria itu pelan-pelan, pasti akhirnya ia akan menjadi istri pria itu.
-;-;-;-
Dean mengebut untuk sampai di rumah sakit, meskipun tidak tepat waktu. Sesampainya di sana, Dea sudah keluar dari ruang dokter kandungan bersama dengan Reza.
Bukan main terkejutnya ia, apalagi melihat Reza memegang pinggang Dea. Di dalam hati ia merutuk. Air mukanya berubah gusar.
Buru-buru, ia menghampiri dan menarik Dea ke sisinya. "Maaf, aku baru sampai. Tadi itu, macet banget."
Dea terdiam. Senyuman berubah murung seketika. "Nggak apa-apa," jawabnya dingin.
Dean terhenyak. Nada bicara Dea seakan menyatakan bahwa kesalahannya ini tidak termaafkan olehnya.
"Em ... bagaimana keadaan bayinya? Jenis kelaminnya cewek atau cowok?" tanya Dean, mengalihkan.
Dean semakin tidak mengerti. Ia melirik Reza yang juga mengernyit melihat perubahan sikap Dea.
"Kalau gitu, gue juga mau balik. Taksi gue udah nunggu di bawah," kata Reza.
"Bareng sama gue aja." Dean menawarkan.
"Nggak usah," sahut Reza. "Kasihan Dea. Dia pasti capek."
"Aku nggak apa-apa," timpal Dea cepat. "Jangan nolak tawaran Dean. Biar Dean antarin kamu sampai rumah."
Reza tak bisa menolak. Akhirnya, mereka pergi bersama setelah menebus resep vitamin untuk Dea. Namun, perjalanan ini menjadi canggung. Dea tidak bicara sama sekali, sibuk bermain ponsel.
Reza yang duduk di belakang, menatap pasangan itu. Ia mengerti jika wanita hamil begitu sensitif. Tapi, yang terjadi pada Dea bukan sekadar kemarahan biasa.
Tadi, Dea begitu tegar dan paham pada kesibukan Dean sebagai seorang direktur. Bahkan, dia tersenyum melihat Dean datang. Tapi begitu berada di dekat Dean, ekspresinya berubah.
"Dean, besok gue minta izin buat ajakin istri lo makan siang," kata Reza.
Dean melirik sinis. "Makan siang bareng gue aja. Rencananya gue juga mau ajakin Dea makan siang."
Seolah tak mendengarkan ucapan Dean, Dea melirik Reza dan bertanya dengan nada bicara biasa:
"Berapa hari kamu di Jakarta?"
"Lima hari. Aku mau membicarakan soal nama bayi kita," jawab Reza.
Bayi kita? Dean dongkol mendengarnya.
"Ngomong-ngomong, apa jenis kelaminnya?" tanyanya, nimbrung.
"Oke. Besok kita ke restoran biasa aja."
Alih-alih menjawab Dean, Dea menimpali Reza. Semakin kesal lah Dean, sampai menggerutu pelan:
"Kacang mahal."
Reza terkekeh. Kasihan juga pria itu karena tidak ditanggapi oleh Dea, meskipun gadis itu merasa tersindir.
"Jenis kelaminnya cowok, Dean," katanya kemudian.
Karena suasananya semakin tidak mengenakkan, perjalanan ini dilalui dengan keheningan. Dea juga begitu. Jangankan bicara, menoleh saja tidak.
Sesampainya di rumah, Dea langsung menuju ke kamar. Dean menyusul. Ia meminta penjelasan atas sikapnya tadi.
Dea yang sedang menghadap ke belakang sambil mengambil pakaian tidur di lemari, dipeluknya dari belakang. Meskipun sedang marah, Dean berusaha bersikap lunak dan lembut.
"Kamu kenapa? Kok aku dicuekin? Kalau kamu marah, aku minta maaf," bisik Dean.
Dea terdiam. Jemarinya menggenggam piyama ungu. Keraguan menguasai hatinya. Haruskah ia mengatakan dugaannya?
"Apa kamu selingkuh?"[]