
Dean terlonjak dan meletakkan ponselnya di atas bantal saat terdengar suara ketukan.
"Masuk!" serunya.
Pintu langsung terbuka, dan Rachel berlari ke arah kakaknya.
"Jangan buat gue penasaran terus! Cepat kasih tahu semuanya!" cetusnya.
"Apaan sih? Nggak ngerti gue," kata Dean, mengernyit.
Rachel duduk di atas ranjang dengan jengkel. "Soal Abang sama kak Dea. Kok kak Dea bisa hamil anak Abang, sedangkan kak Dea waktu itu pacarannya sama Reza?"
Suara Rachel yang begitu keras, membuat Dean panik. Pria itu bergegas menutup pintu kamarnya, sebelum menjawab Rachel.
"Oke! Tapi, please, kecilin volume suara lo!"
Rachel membuat gerakan seolah sedang meresleting mulutnya.
"Ceritanya agak rumit." Dean melirik sejenak, lalu mendeham. "Ada fakta yang harus lo tahu. Abang lo ini cowok berengsek."
Rachel terkekeh dan mencemooh. "Nggak usah lo bilang, gue juga tahu!"
"Yee ... ngeledek lagi!" seru Dean. "Mau dengar ceritanya nggak?"
Dengan sisa tawanya Rachel menjawab, "Oke. Gue pasang kedua telinga gue."
"Jadi gini. Waktu itu, gue datang ke tempat kosannya Dea. Gue ajak dia makan malam. Terus, minumannya gue campur sama obat tidur. Gue bawa ke hotel, terus...."
Dean sengaja menggantung ceritanya agar adiknya itu merasa penasaran.
"Lo pasti memperkosa kak Dea. Ya, 'kan?" tebak Rachel.
"Ya, gitu deh!"
Wajah terkejut dan tak percaya terlihat jelas pada gadis itu. Abangnya memang jahil, tapi yang dilakukannya di luar dugaan. Ia tercengang cukup lama untuk mencerna semua itu, sampai akhirnya ia bergumam:
"Aku benci sinetron, karena ceritanya yang nggak masuk akal. Tapi ternyata, kehidupan seperti itu ada juga di kehidupan ini."
Dean terkekeh. "Rachel, sinetron juga berasal dari kisah nyata. Hanya saja, sedikit didramatisir supaya menarik."
"Huh! Bagiku tidak ada menarik-menariknya sama sekali," komentar Rachel, ketus.
Adiknya ini benar-benar menggemaskan. Dean mencubit pipinya sambil tertawa.
-;-;-;-
Dean tidak bekerja hari ini karena mamanya memintanya untuk membeli cincin pernikahan dengan Dea.
Seperti rencana keluarga itu, pernikahan diadakan secara sederhana di rumah Dean. Itupun atas permintaan kedua calon mempelai itu. Jadi, yang mereka persiapkan tidaklah banyak.
Dean mendatangi Dea sekitar jam 10. Yang menyambutnya adalah mama, yang kemudian mengajaknya mengobrol sejenak di ruang tamu.
Pria itu sangat sopan dan lucu. Mama tak pernah berhenti tertawa karena cerita-cerita Dean. Sayangnya, obrolan mereka terhenti karena Dea muncul bersama dengan Alena.
"Dea," kata mama. "Dean mau ajak kamu keluar."
Dea mengernyit, menatap mama dan Dean bergantian. "Ke mana?"
"Ciee ... udah nggak panggil 'gue-elo' lagi ceritanya?" celetuk Alena, tersenyum jail. "Gue ikut, ya?"
"Ih, Kakak," tegur Naomi. "Mau ngapain ikut? Yang ada, Kakak jadi nyamuk di sana." Kemudian, ia terkekeh.
"Mending, Kak Alena ikut Haris aja," timpal Haris.
Alena mengiyakan saja ajakan Haris, membiarkan dua pasangan itu pergi ke sebuah mall untuk membeli sepasang cincin.
"Dea, ada event di sana!" seru Dean saat mereka menaiki eskalator. "Kita lihat sebentar, yuk!"
Dea mengangguk mengikutinya, bahkan tidak masalah ketika pria itu mengenggam tangannya dan menariknya hingga ke dekat panggung.
Entah event apa, saat itu panggung sedang diisi oleh sebuah band khusus untuk mengisi acara-acara seperti ini.
Band itu selesai menyanyikan sebuah lagu. Lalu, Dean meminta izin pada Dea untuk naik ke panggung. Setelah itu, berbisik pada vokalis band.
Pria itu mengambil microphone, lalu berkata, "Para hadirin, Mas Dean ini ingin menyanyikan lagu untuk pacarnya. Beri tepuk tangan!"
Dean menerima microphone yang diberikan oleh pria tadi. Ia mendeham, menatap ke arah Dea yang tampak tersipu.
"Dea, aku nggak bisa melamar kamu dengan romantis. Jadi, aku mau menyanyikan ini buat kamu," ucap Dean, hingga semua orang yang ada di sana mendengarnya.
Alunan suara keyboard yang disusul oleh lantunan lagu "Janji Suci" oleh Dean. Meskipun suaranya tidak terlalu bagus, tapi Dea terharu dan tersenyum.
Suasana semakin romantis, ketika Dean mengulurkan tangannya pada Dea, lalu membawanya ke atas panggung.
Mereka saling menatap. Kemesraan mereka mengundang para pengunjung untuk melihat lebih dekat dan mengabadikan momen itu.
Nyanyiannya berakhir, hanya tinggal alunan suara keyboard. Di saat itu, Dean meraih tangan Dea dan mengecup punggung tangannya, lalu berujar:
"Jadilah istriku Dea, yang akan selalu berada di sisiku. Aku memang tak bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi aku akan berusaha melakukan apa pun demi kamu."
Dea semakin tersentuh. Senyumnya melebar, bersamaan dengan menitiknya air mata bahagia. Kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Aku senang banget," kata Dean tersenyum. "Boleh aku peluk kamu?"
Dea menunduk, mengangguk pelan. "Boleh."
Sangking bahagianya, Dean langsung memeluk Dea. Tak peduli banyak pasang mata yang melihat mereka. Toh, mereka turut terenyuh.
-;-;-;-
Sebelum pulang, Dean minta izin untuk ke kamar mandi. Katanya sudah kebelet ingin buang air kecil.
Dea ditinggal di kafe sambil menghabiskan minumannya dan bermain ponsel. Tanpa disadari, seseorang berdiri di dekatnya, lalu menyapa.
"Dea."
Ia terhenyak, ibu jarinya berhenti menari di atas layar smartphone. Suara familiar itu ... ia tidak salah dengar, 'kan?
Untuk memastikannya, Dea mendongak. Matanya membulat begitu melihat sosok pria yang sudah diniatkannya untuk dilupakan selamanya.
Dean yang baru selesai dari toilet, melihat Dea sedang bersama dengan seorang pria dan mengenggam tangannya.
Ya, Reza. Dia sudah kembali untuk merebut Dea darinya![]