When I ...

When I ...
Sebelas



Dea memandang ponselnya sembari memangku dagu pada sore itu. Sudah seminggu. Kalau tidak ada kabar, fix putus!


Lalu, ponsel itu diletakkan di atas meja belajarnya. Ia beranjak dari kursi menuju jendela kamarnya. Laman sempit itu kosong, di depan pagar hanya ada beberapa anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran sambil berseru riang. Shit! Bikin tambah bete!


Ke kamar Alena aja kali, ya? Pikirnya gitu. Belum ada selangkah, ia mendengar suara motor yang tak asing baginya. Ia mematung, menoleh ke arah jendela. Kedua mata cokelat bening itu membulat tak percaya.


Reza!


Entah angin apa yang membawanya datang. Mungkin ingin membicarakan soal hubungan ini? Wajah Dea perlahan memudar rona cerianya. Reza tidak akan membiarkan kegantungan cerita cinta mereka secara pengecut, jadi makanya dia ingin menegaskannya.


Ia menghela napas. Putus biarlah putus. Memang sudah seharusnya begitu. Ia membuka pintu dengan wajah muramnya, menyambut Reza yang baru sampai di depan pintu.


Cowok itu tidak kaget karena pintu terbuka sebelum diketuknya. Namun, ia baru terkejut karena bibir ranum Dea menyambutnya dengan senyum hambar.


"Ada apa, Reza?" tanya Dea.


"Bisa kita bicara?" kata Reza tegas tapi lembut.


"Duduklah. Akan aku buatkan teh...."


Dea akan beranjak, tapi tiba-tiba Reza meraih tangannya, lalu membawanya langsung pada dekapannya. Dea terbelalak, tak dapat berkata apa-apa, hanya menduga bahwa: inikah jawaban dari pertanyaannya barusan? Apalagi, Reza menegaskan dengan berkata:


"I miss you. Aku tidak tahan jika jauh darimu, Dea."


Air mata mengalir mewakili perasaanya yang begitu bahagia mendengar tutur lembut yang menghangatkan hati. Reza tetap mencintainya meski papanya telah bermain serong.


"Aku emosi saat itu. Aku seharusnya berpikir jernih. Aku tahu papamu bersalah, tapi semua itu tidak sengaja," kata Reza lagi, memelas. "Kamu benar, semua orang bisa berbuat salah. Aku pun begitu, membuatmu sedih karena keegoisanku. Maaf."


Dea buru-buru menghela tubuh Reza. "Nggak, Za. Kamu tidak perlu minta maaf. Aku bahagia karena kamu masih mencintaiku dan menerima kekuranganku. Itu sudah cukup."


Reza tersenyum. Ibu jarinya menyapu lembut air mata yang menitik di ujung mata Dea. "Kita baikan?"


Dea mengangguk sembari tersenyum. Kebahagiaan menghela air mata dan keresahannya yang terpendam selama seminggu ini. Menggenggam erat kedua tangan sang terkasih tanpa ingin berpisah lagi.


- ;-;-;-


"Ada cowok cakep!" Biasanya akan ada ucapan seperti itu kalau Dean berdiri di depan mobil Pajero putihnya.


Di sampingnya, adiknya sedang melipat tangan di dada sambil memanyunkan bibirnya. Kesal, melihat sang kakak berdiri di sini seperti patung pahat indah yang dipajang.


"Ayo, pulang!" Gadis tomboy itu menarik lengan Dean.


"Sabar dong."


"Emang nunggu siapa sih? Nggak usah kegenitan deh!" Lalu gadis itu berpaling dan bergumam jengkel, "Mentang-mentang punya muka ganteng."


Dean tersenyum melirik adiknya. Akhirnya, diakui juga ketampanannya ini. Ia menoleh lagi ke dalam lapangan kampus yang semakin sepi. Matanya menangkap sosok yang ditunggunya sembari tersenyum lebar.


"Dea!" serunya.


Tentu saja Dea mendengar, Alena juga. Adiknya Dean menoleh ke arah gadis itu. Sudah ia duga, pasti dia!


Dean akan menghampiri, tapi terdiam setelah melihat sebuah motor berhenti di depan Dea. Seorang pria berjaket hitam tengah mengobrol dengannya, dan Dea menimpalinya dengan senyuman. Ia menebak, cowok itu pasti yang bernama Reza. Mana mungkin Dea menolak boncengan dari cowok itu!


"Yuk, pulang," kata Dean lirih, berbalik, lalu masuk ke dalam mobil.


Kasihan juga melihat kakaknya patah hati. Gadis tomboy itu tak mengatakan apa pun meski ingin, masuk ke dalam mobil yang melaju tak lama kemudian.


Tak dinyana, hujan turun. Perjalanan Dea dan Reza menuju tempat kos Dea masih jauh. Reza menawarkannya untuk berteduh di tempat kosnya dulu. Dea setuju, lagipula hujannya tambah deras.


"Kuyup banget kamu, De," kata Reza sesampainya di dalam kamarnya, membuka jaketnya yang juga basah.


Dea tertawa kecil. "Iya, nih? Mana dingin banget."


"Ya udah, ganti baju."


"Baju apa? Aku nggak bawa salinan."


"Hmm ... sekalian aja nggak pake baju." Reza terkekeh.


Mentang-mentang sudah pernah melihat seluruh tubuh polosnya. "Hu! Maunya kamu!" seru Dea.


Reza terkekeh sembari membuka lemari kecil sebatas dadanya, mencari sesuatu. Dikeluarkan sebuah kaus berwarna hijau daun dari dalam lemari, yang kemudian diperlihatkan pada Dea.


"Pakai ini aja."


"Wow." Dea mengambil kaus itu. "Kayak baju hamil. Gede banget!"


"Itu kaus futsal. Kalau aku pake, sampai sebatas lututku. Kelonggaran, pula. Kalau nggak mau, ya nggak maksa."


"Ya nggak apa-apa deh!" kata Dea setelah menimbang-nimbang. "Nanti juga lama-lama diperetelin sama kamu."


Reza terkekeh sambil membuka kaus merahnya yang basah, menampilkan lekukan dari setiap otot dan dada bidang yang selalu Dea dekap.


Dea sudah selesai memakai baju. Melihat cowok itu bertelanjang dada, ia tergoda untuk menghampirinya. Kedua tangannya menyusup ke pinggang Reza, dipererat oleh pelukan manja sembari berkata lirih.


"Dingin, Rez."


Reza menggenggam jemari-jemari Dea, begitu lembut. "Mau yang anget?" Dan Dea mengangguk polos bagai anak kecil.


Pelukan itu dilepas, setelahnya Reza berbalik sembari tersenyum sensual. Ia membungkuk sedikit, lalu membopong Dea sambil menatapnya ke arah ranjang. Dibaringkan tubuh rapuh itu.


Tangannya mulai meraih rambut hitam Dea, mengelusnya hingga sentuhan itu turun ke pipinya. Dea merasakan getaran saat sentuhan demi sentuhan berlanjut. Gairah memuncak tatkala membiarkan tangan Reza menjelajahi pahanya dan menyusup ke area sensitifnya.


Dea mendesah. "Jangan. Geli, Reza."


"Tapi enak, kan?"


Sekejab saja, baju panjang itu dibuka, lalu dilemparkan asal. Dengan cepat Reza mempreteli pakaian dalam Dea hingga tubuhnya tak ditutupi oleh sehelai benangpun. Polos dan indah, membuatnya tergiur untuk mencicipi setiap manisnya ******* itu.


Ia mengecup, mengisap, dan membelai area sensitif Dea, yang tak mampu menahan rasa nikmat itu. Ia mendesah. Puncak nafsu muncul. Dikala mabuk hasrat itu menggebu, hal yang begitu diidamkan oleh mereka terjadi.


Hujan yang mengguyur semakin deras, memprovokosi mereka untuk terus melanjutkan surga dunia yang penuh dengan dosa. Desahan dan peluh kenikmatan mengiringi bersatunya tubuh dua insan itu lebih intim lagi. Hingga cairan itu keluar, membasahi dinding rahim Dea, yang diakhiri dengan lenguhan Reza.


Mereka terkapar di atas ranjang sambil mengatur napas. Permainan itu cukup melelahkan, hingga akhirnya mereka tertidur pulas.[]