
Tubuhnya terasa lemas ketika memasuki rumah. Ia mematung menemukan Dea sedang duduk di ranjang sambil menoleh padanya.
Meski begitu, Dean tersenyum tipis sambil menghampirinya. "Kamu nggak tidur?" Tangan Dean mengelus pipi Dea.
"Kebanyakan tidur, malah jadi nggak bisa tidur," timpal Dea.
"Pasti karena nggak ada pangeran ganteng yang nemenin tidur, 'kan?" seloroh Dean, lalu membawa Dea dalam pelukannya.
Alih-alih merasa senang, justru yang dirasakannya sebuah keanehan.
"Kamu kenapa?" gumam Dea.
Dean terhenyak. Dilema kembali menyergap. "Kenapa tanya begitu?"
"Aneh aja. Degup jantung kamu cepat banget."
Dean sudah merasa panik ketika kecurigaan Dea meluncur. Beberapa kata telah disiapkan. Namun, Dea kembali menambahkan:
"Kamu habis lari?"
Napasnya terhela diusahakan tanpa suara, lalu Dean terkekeh. "Ya. Aku takut karena ada orang aneh yang ikutin aku."
"Oh. Terus, gimana makan malamnya?"
"Lancar kok," jawab Dean gugup.
Hening beberapa saat, lalu Dean merasakan pelukan Dea semakin erat. Hanya saja, sekejab kemudian Dea melepaskan pelukan itu. Dean terhenyak. Pikirnya, Dea mungkin tak mempercayainya.
"Oh, iya. Ini kameranya." Tiba-tiba Dean berseru sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya. "Warnanya biru. Rebecca minta maaf terus. Dia bilang, kamera ini belinya di Malioboro."
Dea menyimak ucapannya sambil tersenyum.
"Em ... kalo ngomongin tempat itu, aku jadi ingat sama awal pertemuan kita deh."
Kenapa jadi bicarakan soal masa lalu? Apa Dean sedang mencoba mengalihkan perhatiannya? Dea menatapnya lamat-lamat.
"Waktu kamu ketemu aku, bagaimana kesan kamu ke aku?" tanyanya, setelah lama hening.
"Em ... buatku kamu cewek cantik, yang sayangnya jutek," sahut Dean, bersemangat.
"Terus, kenapa kamu suka sama cewek jutek?" sindir Dea sembari tersenyum mengejek.
"Aku nggak suka sama cewek yang suka deketin cowok, genit, dan terkesan murahan. Waktu di Inggris, cewek kayak gitu banyak yang dekati aku."
Dea tertawa mencemooh. "Sok ganteng banget."
"Nggak percaya?" sahut Dean, agak tersinggung. "Kamu tahu, nggak? Papa aja sampai kesal karena aku dikuliahin jauh-jauh sampai ke Inggris, tapi malah jadi playboy."
"Ooooh...."
"Masih nggak percaya juga? Lihat dong muka aku! Bule, ganteng kayak Justin Bieber."
Sontak, Dea tertawa terbahak-bahak. Ada saja topik pembicaraan yang membuatnya kembali riang. Dean juga tertawa, tapi kemudian bertanya:
"Tapi, kenapa cewek cantik yang jutek ini," Dean mencubit pelan bibir bawah Dea, "kenapa malah nggak tertarik sama aku?"
"Aku pikir, cowok berpakaian tanpa lengan, memakai topi terbalik, dan celana jins robek-robek itu cuma preman. Sama sekali nggak menarik."
"Okeeeee. Terus, kenapa sekarang kamu mencintai cowok itu?" Dean memangku dagunya.
Dea terhenyak dan tersipu sembari menunduk. "Males, ah, ngulanginnya."
"Tapi aku nggak bosen dengarnya."
Tapi Dea tetap bersikeras untuk tidak mengatakannya. Ia berbaring, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
Dean tidak menyerah. Ia tetap menagih jawaban itu. Disergapnya kedua tangan Dea, lalu menahannya di samping kepalanya. Didekatkan wajahnya ke arahnya.
"Mau ngapain?" tanya Dea.
"Bilang dulu, baru boleh tidur," goda Dean.
Dea terdiam lama. Pandangan sendu disertai senyuman menghiasi wajahnya.
"Aku pikir, kelembutan dan perhatian kamu adalah penyebab cinta ini tumbuh. Tapi aku salah mengartikannya. Cinta tidak pernah memiliki alasan. Siapa pun kamu, seperti apa pun kamu, cinta tetaplah cinta. Asal masuk akal," jawabnya.
Dean tidak menyangka bahwa jawaban ini yang akan didengarnya. Kata-kata yang indah dan dalam, membuat hatinya begitu bahagia.
Tak perlu meminta izin, bibir cantik ini dikecupnya penuh kasih dan lembut. Begitu manis bagai cinta ini.
-;-;-;-
Rasanya seluruh hati dan raganya luruh. Patah hati yang cukup parah. Kenapa? Karena Dean adalah pria yang diinginkannya. Sayangnya, pria itu lepas dari genggaman.
Sahabatnya yang sedang duduk di sebuah sofa, menyingkirkan majalahnya, lalu memandang heran pada Rebecca.
"Kenapa lo? Udah ketemu Dean?" tanya gadis itu.
Rebecca menghela napas. "Udah."
"Terus, kok lemas gitu?"
"Dean udah punya istri," gumam Rebecca, lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Temannya itu beranjak karena kaget. Fakta yang hampir tidak bisa dipercayanya. "Sumpah lo?"
"Iya," hela Becca, pandangannya kosong mengarah pada langit-langit kamar.
"Kalo gitu, lo harus setop jadikan Dean sebagai ambisi lo."
Ambisi. Apa semudah itu direlakan?
"Tahu deh," sahut Becca, setelah cukup lama hening.
Sahabatnya itu bingung. Ia tahu Rebecca takkan pernah menyerah jika sudah menargetkan ambisinya. Tapi tetap saja salah. Hanya saja, ia harus mengatakan apa? Saran apa pun tak akan didengarnya.
"Kamu jadi pindah?" Ia mengalihkan.
Rebecca menjawab, "Jadi. Bulan depan."[]