
Dea menatap langit biru yang terbentang luas, ombak yang berdesir, dan nyanyian burung camar yang sedang terbang.
Kakinya berpijak di atas pasir putih di bibir pantai. Topi yang dipakainya terbang. Lalu, ia mengejarnya.
Topi itu terjatuh di dekat kaki seorang pria, yang kemudian mengambilnya. Dean tersenyum, berjalan menghampiri Dea sambil memakai topi itu.
"Panas-panas gini malah berdiri sendirian di pantai," katanya.
Dea merenggut topi itu, dan memakainya. "Namanya juga jalan-jalan. Masa cuma di dalam rumah."
"Nggak apa-apa, 'kan kita bulan madunya di sekitar Jogja?"
Bibirnya menyunggingkan senyum. Dea memutar tubuhnya, lalu kedua tangannya menggenggam lembut tangan besar suaminya.
"Ke manapun, aku tetap senang. Lagipula, kita tidak mungkin pergi jauh," ucapnya.
Dean merangkul tubuh wanita itu, disirami oleh sinar matahari dan hembusan angin pantai. Pasangan saling mencintai itu melangkah di sepanjang pantai, saling berpegangan, dan saling memancarkan senyum kebahagiaan.
Pantai Jogan, destinasi yang sengaja Dean pilih. Seperti dugaannya, Dea terpesona melihat air terjun di dekat bibir pantai.
Dea duduk sebuah batu dekat air terjun. Dean mengarahkan kamera padanya, lalu memotretnya. Namun, tanpa sengaja, seseorang menabrak lengannya.
"Eh, maaf." Suara wanita yang lembut mengalun ke telinga Dean.
"Nggak apa-apa," jawab Dean, menoleh pada seorang wanita setelah mengambil kamera yang terjatuh.
Seorang wanita berambut cokelat, panjang, dan bergelombang. Matanya ditutupi oleh kacamata hitam. Bibirnya yang bulat dan tebal bergincu merah, terlihat menggoda. Pakaiannya cukup seksi, tapi tak membuat Dean tergoda.
"Becca!" seru seorang gadis di belakangnya sambil menghampiri gadis itu. "Lo nggak apa-apa—? Hah? Kameranya rusak!"
Wanita itu dan Dean melihat kamera yang ada di tangannya. Karena gadis itu merasa tidak enak hati, dia meminta maaf lagi.
"Maaf, ya, Mas. Nanti saya ganti," katanya.
Dean tersenyum. "Santai aja!"
Rebecca terus memaksa, hingga akhirnya Dean menyerah. Dea yang baru sampai di depan mereka,
menanyakan apa yang telah terjadi.
"Nggak apa-apa kok, Sayang," jawab Dean, merangkul Dea. "Kameranya jatuh, terus rusak."
Oh, sudah punya pasangan. Rebecca kecewa, padahal berharap bisa mengenal pria tampan di depannya.
"Maaf, ya, Mbak," kata Rebecca pada Dea. "Saya ganti kameranya deh."
Wanita memiliki intuisi yang kuat. Melihat penampilan wanita ini, Dea merasakan perasaan yang kurang mengenakkan dalam hati dan pikirannya. Entah ini rasa cemburu atau bukan.
Namun, ia tak mau berburuk sangka. Mungkin dugaannya salah. Ia tersenyum, memaafkan dan membiarkan kedua gadis itu pergi setelah memberitahukan resort yang mereka sewa.
"Ganteng banget, ya, tuh cowok," komentar teman Rebecca, ketika mereka sudah jauh dari pasangan itu. "Kayak artis Korea. Hehehe."
Rebecca hanya tersenyum. Jujur, ketampanan Dean memikat hatinya.
"Sayangnya, dia udah punya pacar," kata gadis itu lagi.
"Emang kenapa? Kalo nggak jodoh, boleh dong digaet," sahut Rebecca jail.
"Hahaha. Ketemu cuma sekali. Jangan ngarep berlebihan deh!"
"Ngarep aja, emang dilarang?" sahut Rebecca, meledek.
Bagi Rebecca, apa yang tidak mungkin. Jika suatu hal telah dipilihnya sebagai objek ambisinya, maka ia akan berusaha meraihnya sampai dapat. Tapi Dean, apa mungkin?
Pertemuan pertama. Bisakah pertemuan ini terjadi selanjutnya?[]
Maaf bab ini cuma sedikit. Nggak konsen nulis karena mata perih banget. Selamat membaca.