When I ...

When I ...
Episode 49 — Janji yang berakhir dengan menyakitkan



Puas jalan-jalan, Dea dan Dean kembali ke resort. Karena sudah memasuki senja hari, Dea memutuskan untuk mandi.


 


 


Pikiran jail Dean muncul. Ia bergegas beranjak ketika Dea mengambil handuk, lalu dipeluknya pinggang Dea dari belakang.


 


 


"Mandi bareng, yuk!"


 


 


Bisikan penuh sensual di telinga Dea, membuat jantungnya bergetar. Kedua pipinya langsung bersemu merah.


 


 


"Apaan sih?" gumam Dea.


 


 


"Kenapa malu? Memang salah kalau aku melihat semua yang udah jadi milik aku?"


 


 


"Dean...." Dea mencoba melepaskan pelukan Dean, tapi malah dipererat oleh suaminya.


 


 


"Ya, udah. Tapi besok-besok, kamu nggak boleh nolak."


 


 


Dean perlahan menjauhi tubuhnya dari Dea, yang kemudian langsung memasuki kamar mandi. Pria itu kembali duduk di ranjang. Ponselnya berdering, panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


 


 


"Halo," jawab Dean.


 


 


"Halo, Mas. Ini aku Rebecca."


 


 


"Oh, iya. Ada apa?"


 


 


"Kayaknya, saya nggak bisa gantiin kameranya. Soalnya, aku mau ke Malioboro—ada urusan. Mungkin, besok malam baru balik"


 


 


"Selow aja," sahut Dean, tersenyum, sambil duduk di ranjang.


 


 


"Em ... Mas ada waktu?" tanya Rebecca, setelah lama terdiam.


 


 


"Kenapa?" Dean mengernyit.


 


 


"Aku mau ngajak Mas makan malam." Rebecca mengatakannya dengan agak tersipu.


 


 


Ajakan yang mengejutkan. Dean agak bingung juga untuk menerimanya, sebab tidak enak juga jika ditolak.


 


 


Dean menggaruk kepalanya. "Em ... nggak bisa kayaknya."


 


 


"Oh, ada janji sama dia, ya?"


 


 


Mendengar nada bicara kecewanya, Dean bertambah tidak enak hati.


 


 


"Em ... tapi lain kali bisa, kan?"


 


 


"Diusahakan," jawab Dean, ragu.


 


 


"Oke. Udah dulu, ya? See you."


 


 


Suara Rebecca terdengar riang di sana. Lalu, ia menutup teleponnya sambil membayangkan makan malam yang menyenangkan dengan Dean.


 


 


  -;-;-;-


 


 


Rencana untuk jalan-jalan seharian telah dirancang. Namun, melihat Dea terbaring dengan tubuh lemas dan kepalanya terasa sakit, Dean terpaksa membatalkannya.


 


 


"Kita ke rumah sakit aja, ya?" Dean menyarankan, begitu cemas.


 


 


"Nggak usah," lirih Dea. "Istirahat aja juga sembuh kok."


 


 


Dean berlutut di samping ranjang, menggenggam jemari Dea, lalu menciumnya. Dea bisa merasakan hangatnya hati Dean, yang begitu mengkhawatirkannya.


 


 


Perlahan, Dea memejamkan mata, terlelap dalam sekejab. Sementara Dean, berpindah ke sampingnya, berbaring, menunggunya dengan setia.


 


 


Pada saat makan siang, Dean turun ke bawah untuk membeli makan siang untuknya dan Dea.


 


 


"Sini, aku suapin," kata Dean, menyendokkan sesuap nasi untuk Dea.


 


 


"Nggak usah, aku bisa makan sendiri," kata Dea, suaranya lemah. "Aku udah baikan. Kamu makan punya kamu aja."


 


 


Dean mengalah, tak ingin memaksa. Mereka makan bersama, walau Dea kesulitan menelan makanan karena merasa mual.


 


 


Melihat isi piring Dea masih penuh, Dean berinisiatif untuk mengupas sebuah apel untuk istrinya.


 


 


 


 


Siapa yang tak bahagia mendapatkan pria yang begitu perhatian di saat seperti ini. Dea tersenyum seraya mengangguk. Dimakannya sepotong apel yang disuapkan oleh Dean.


 


 


"Sayang, nanti malam aku mau ketemuan sama Rebecca. Dia mau menggantikan kameranya," kata Dean kemudian. "Dia juga mau ajakin aku makan malam sekalian."


 


 


Dea heran melihat suaminya yang ragu-ragu mengatakan hal itu. Apa Dean berpikir kalau ia akan cemburu? Dea tersenyum geli jika memang benar.


 


 


"Pergi aja. Aku nggak apa-apa," katanya.


 


 


Dean tercengang. "Kamu nggak ikut?"


 


 


"Em ... nggak kayaknya. Aku nggak mau bikin dia nggak nyaman karena aku pasti bakal mual-mual di sana. Kamu aja yang pergi."


 


 


Jika memang seperti itu, meski masih merasa khawatir, Dean akan menyetujui ajakan Rebecca. Ia berjanji, akan pulang cepat, dan pergi setelah Dea selesai makan malam.


 


 


Di dekat resort, ada sebuah restauran. Rebecca dan Dean janjian ketemu di sana pada pukul delapan malam.


 


 


Rebecca dan Dean memesan makanan yang sama, steak ayam saus tomat. Mereka mengobrolkan banyak hal, bahkan Dean menceritakan hal yang lucu.


 


 


Sungguh pria yang menyenangkan. Itukah yang membuat wanita jatuh cinta padanya, selain ketampanannya?


 


 


Meski Rebecca teman ngobrol yang cocok, tapi Dean merasa agak gelisah. Pikirannya tertuju pada Dea. Ia berusaha sebisa mungkin secepatnya menyelesaikan makan malam ini.


 


 


"Terima kasih atas makan malamnya," kata Dean, mengelap mulutnya. "Saya harus kembali ke resort."


 


 


Yah, mengecewakan. Malam indah ini dilalui hanya sekejab. Apa mau dikata, Rebecca menurutinya. Mereka keluar dari restoran, ia membayar makanannya.


 


 


Karena jarak resort dengan restoran tidak begitu jauh, mereka berjalan kaki sambil membicarakan beberapa hal.


 


 


Dean cukup kagum, karena gadis berusia 25 tahun itu memiliki pengalaman bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Jakarta.


 


 


"Em ... jadi, kamu masih magang?" tanya Rebecca.


 


 


"Ya, begitulah," sahut Dean. "Apa kamu pikir, aku anak seorang pengusaha?"


 


 


Tidak peduli! Siapa pun Dean, hatinya telah kepincut padanya, tanpa memandang apa yang dimilikinya.


 


 


"Ya ... habisnya kamu kelihatan tampang CEO gitu," jawab Rebecca.


 


 


"Wah! Aku berharapnya kalau kamu menganggap aku kayak boyband Korea," seloroh Dean, kemudian tergelak.


 


 


Rebecca turut tertawa. Pria ini selalu bisa mengocok perutnya dengan humor recehnya.


 


 


"Kamu itu lucu banget, ya? Aku suka."


 


 


Rebecca tersentak, menyadari ucapannya yang meluncur dengan bebas tanpa disaring.


 


 


"Maksud kamu?" tanya Dean tercengang.


 


 


Sudahlah, terlanjur basah! Rebecca mengangkat kepalanya. Masa bodo jika ia dianggap konyol, tidak punya harga diri, atau wanita buruk di mata Dean.


 


 


Ia menghadap Dean, berkata dengan nada serius tapi detak jantungnya berdegup kencang. "Dean, aku suka sama kamu dari awal kita ketemu."


 


 


Dean terkejut mendengarnya. Pesona apa yang dipunyanya sehingga Rebecca memiliki perasaan terlarang ini.


 


 


"Eng ... aku tahu kamu udah punya pacar—"


 


 


"Maaf, bukan pacar. Istri," sela Dean.


 


 


Rebecca menoleh, tercengang. Hatinya hancur seketika, menjadi kepingan yang bertebaran seperti bintang di angkasa.


 


 


"Jadi, jangan berharap banyak." Dean menambahkan. "Terima kasih kameranya. Aku permisi."


 


 


Istri. Kata yang terngiang di setiap langkahnya. Pupus sudah. Harapan tinggal harapan. Ia hanya dapat meratap. Memang, tidak seharusnya hati ini bermain-main dengan ambisi untuk memiliki.


 


 


Mungkin memang benar, alangkah baiknya jika Rebecca melupakannya.[]