When I ...

When I ...
Episode 45—Mendung 2



Gendis tertawa bersama dengan menantu adiknya di teras. Reza yang baru turun dari kamar bergabung dengan mereka karena ipar dari sepupunya itu memanggilnya.


Sepiring martabak disodorkan padanya, lalu wanita berperangai lembut itu menuangkan secangkir teh poci yang masih hangat.


Gendis melirik sambil mengibas-kibaskan kipasnya dengan senyum sinis pada Reza. Tatkala itu, ia berkata:


"Mel, aku terkejut sekali waktu ketemu teman sekampusku waktu di Jogja. Dia ke mal bersama dengan anak dan calon menantunya, mau fitting gaun pengantin."


"Masa sih, Bude?" Melly merespons.


"Iyo! Tapi yang buat aku terkejut itu, ternyata, calon menantunya itu si Dea."


Sontak, Reza menoleh pada ibunya, terkejut. Melly pun sama, lalu melirik pada Reza dan menegur dengan gugup pada Gendis.


"Bude...."


"Opo? Wong Reza sama Dea sudah pisah. Dea mau menikah. Seharusnya, adik iparmu itu pakai akal sehatnya. Buat apa mengejar perempuan yang bakal jadi milik orang lain?" protes Gendis, ketus.


Melly semakin tidak enak hati, apalagi melihat Reza menggenggam erat gagang cangkirnya.


Tak tahan, Reza meletakkan cangkirnya di meja, lalu berdiri. "Bu, bisa berikan aku alamat rumah Dean?"


"Untuk apa?" tanya Gendis. "Jangan buat keributan di sana. Bagaimanapun, Ibu sama mamanya Dean itu berteman."


"Aku mau memakai akalku yang nggak sehat ini untuk bicara dengan Dean," sindir Reza.


"Tidak. Kalau kamu buat masalah dengan anak itu—"


"Nggak, Bu," sela Reza. "Aku cuma mau ngomong sama dia aja. Nggak lebih."


Gendis berpikir sambil melirik gelagat anaknya itu. Entah bisa dipercaya atau tidak omongannya.


"Yo, weis. Ibu kirim nanti alamatnya."


Reza langsung menyambar kunci motornya yang ada di dalam kamar, langkahnya melebar menuju bagasi. Setelah mendapatkan alamatnya, motor pun dilajukannya ke perumahan mewah pinggir kota.


Saat ia ke sana, satpam yang berjaga mengatakan bahwa Dean belum pulang dari kantor. Akhirnya, ia menunggu sekitar setengah jam di depan rumah itu.


Ia berdiri di samping pagar sambil bersandar, memikirkan kata yang tepat untuk diucapkan pada pria itu.


Dari kejauhan, sebuah mobil Porche hitam perlahan mendekat. Ia terkesiap, menunggu kedatangan Dean. Namun, mobil itu tidak berhenti, malah membunyikan klakson agar seorang satpam membukakan pagar.


Karena Dean tak mengacuhkannya, Reza menghampiri mobil itu, mengetuk kaca mobil hingga pria itu mau membukanya.


"Ada apa?" tanya Dean dingin.


"Gue mau ngomong sama lo," jawab Reza, nada bicaranya serius. "Ada waktu?"


Dean menghela napas, lalu menoleh pada Reza kembali. "Kalau lo mau ngomongin pernikahan Dea sama gue, lo salah alamat. Seharusnya, lo ngomong ke Dea. Gue udah lepasin dia."


Reza tercengang. "Tapi, tadi ibu lo sama Dea udah fitting gaun pengantin."


"Gue emang belum ngomong, ke orangtua gue. Gue nunggu keputusan Dea," jawab Dean, agak termenung, suaranya memelan.


"Kenapa lo mau melepas Dea?" tanya Reza. "Bukannya lo cinta sama dia?"


"Cinta, bukan berarti memiliki. Gue nggak bisa bahagia, kalau melihat cewek yang gue cintai nggak bahagia sama gue."


Bahagia?


Reza terdiam. Melihat kesempatan terbuka lebar, justru membuatnya enggan untuk meraihnya. Ia merasa bersalah sudah merusak kebahagiaan Dean yang sudah di depan mata. Tapi ia juga berhak bahagia, karena ia mencintai Dea dan ingin membesarkan anaknya.


Langkahnya perlahan mundur menjauh dengan menyimpan sesal di dada. Dean masuk ke dalam rumah, sementara Reza pergi melajukan motornya.


-;-;-;-


Seharian tak menelepon, padahal ponselnya sengaja diletakkan di dekatnya.


Ia beranjak dari ranjang menuju jendela kamar, menyibakkan gorden tak bermotif warna merah muda itu.


Dalam renungan sambil menatap langit kosong tak berbintang, lintasan masa lalu muncul dalam benak.


Masa di kosan, Dea selalu melihat sosok Dean dari jendela sambil menelepon. Pria itu ingin mengajaknya keluar sambil mencari makanan.


Ia tersenyum. Oleh karenanya, ia berharap sosok itu muncul di depan rumahnya sambil melambaikan tangan ke arahnya.


Akan tetapi, hanya jalanan kosong yang dilihatnya. Tak ada Dean yang tersenyum, menghubunginya dan menyuruhnya turun untuk menemuinya di luar.


Wajah muram tak dapat di sembunyikan. Harapan semu itu dienyahkan, lalu ia beranjak dari sana.


Akan tetapi, ia mendengar suara derum motor dari luar. Ia kembali berbalik, menyibakkan sedikit gorden dan mengintip.


Matanya terbelalak. Rezalah yang datang, mendongak ke arah jendela kamarnya.


Ia tersentak, buru-buru menutup rapat gorden. Rasa gelisah, jengkel, dan penasaran bercampur aduk. Pria itu, ngapain ke sini?


Masa bodo. Lebih baik, ia tidur. Biar saja Reza di luar kedinginan kena angin malam.


Ia berbaring, menyibakkan selimut ke seluruh badan, memejamkan mata dalam beberapa saat sebelum suara ketukan pintu kamarnya menganggunya.


"Kamu udah tidur, Dea?"


Yang berseru adalah mama. Dea buru-buru membukakan pintu, lalu mempersilakan wanita itu masuk.


"Reza ada di luar. Katanya, dia mau ngomong sama kamu," kata mama, menggandeng Dea sampai ke tepi ranjang.


Dea memalingkan wajah sambil bergumam, "Bilang saja kalau aku sudah tidur."


Mama duduk di samping Dea, menimpali dengan heran. "Dea, masalah nggak akan selesai kalau begini terus. Alena udah cerita, dan menurut Mama sebaiknya kamu kasih dia kesempatan untuk bicara, dengarkan dia. Baru kamu ungkap semua yang ada di hati kamu."


Dea menghela napas panjang, matanya terpejam merenungkan semua saran mama.


Ya, masalah akan terus berjalan di tempat jika ia menghindar. Dean telah pasrah, dan satu-satunya solusi dari semua ini adalah keputusannya.


Ia menatap mamanya lamat-lama, kemudian berkata, "Iya, Ma. Aku akan temui dia."[]