When I ...

When I ...
Tujuh



Matahari sore menyising di sebelah Barat, menembus jendela kereta hingga menerpa senyum cantik di bibir Dea.


Ia bahagia karena mama mau menerima papa, meskipun hubungan itu masih mendingin. Pagi tadi, papa ke rumah sakit untuk menjenguk sebelum ke kantor.


Masalah sudah selesai. Ia bisa bernapas lega sekarang. Ia bersandar, lama-kelamaan matanya terpejam lalu terlelap.


Kereta yang ditumpanginya sampai pada Minggu Subuh. Ia terhuyung turun dari kereta sambil mengucek matanya. Rasa lapar tiba-tiba membelalakkan matanya.


"Nanti saja ah, makanannya," gumamnya. Ia tak sabar ingin menyantap nasi uduk Mbak Sumi yang ada di dekat kostnya.


Dea menaiki ojeg online menuju ke tempat kost. Hari Minggu sepi, semua penghuni kost menutup rapat-rapat pintu kamar mereka.


Ia membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba sepasang tangan menyentuh pundaknya, membuatnya terlonjak. Hampir saja, sebungkus nasi uduk yang masih hangat jatuh dari tangannya.


"Dooor! Kaget ya?" seru Alena terkekeh.


"Udah tahu nanya." Dea merenggut sambil masuk ke kamar.


Alena mengendus. Hidungnya yang mancung mencium aroma sedap dari Dea. "Baunya enak, tapi bercampur sama bau asem badan lo."


"Sialan!" umpat Dea, meletakkan ranselnya di ranjang.


Alena terkekeh, lalu mengambil bungkusan nasi yang diletakkan Dea di sebelah ransel Dea. "Nasi uduk Mbak Sumi?"


"Iya!" sahut Dea, tiba tiba merenggut bungkusan itu dari tangan Alena. "Dan ini cuma buat gue. Kalo lo mau, beli dong? Buruan! Nanti keburu ludes."


"Okelah." Dengan sigap Alena berdiri. "Gue beli nasi uduk, lo mandi ya? Ada yang mau gue omongin."


"Iya. Buruan sono!" Dea mengibas-kibaskan tangannya.


Dea selesai mandi, bersamaan dengan datangnya Alena bersama dengan nasi uduknya. Gadis itu mengeluhkan antreannya yang lama karena warungnya ramai pada Gea yang tengah memakai kaus biru ketatnya.


"Mau ngomongin apa lo, Le?" tanya Dea, tubuh langsingnya yang indah berbalik menghadap Alena. Sambil mengikat rambutnya, ia menghampirinya.


"Soal mas-mu itu," jawab Alena dengan mulut penuh, sehingga suara tidak begitu jelas.


Melihat nikmatnya Alena menyantap makanan itu, perut Dea ikutan tak sabar untuk diisi. "Reza? Kenapa dia?"


"Dia jalan bareng sama Vika."


Kunyahan Dea semakin memelan. Cemburu? Sedikit. Namun, ia sangat yakin akan cinta Reza padanya, meski Vika menyukainya dan berusaha mengejarnya.


"Terus kenapa?"


"Kenapa? Kok, ekspresi lo biasa aja?" Alena heran dengan sikap santai Dea.


"Terus gue harus gimana? Kejadiannya kan udah lewat?"


"Maksud gue, lo nggak cemburu? Banyak temen kampus gue yang langsung ngelabrak cewek yang ngedeketin pacarnya."


"Kayak di sinetron," komentar Dea, lalu menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


Alena semakin bingung, makanya tak menanggapinya lagi. Lebih baik meneruskan makan dari pada mengobrolkan topik alot yang tidak penting. Mungkin bagi Dea, itu bukanlah masalah yang besar.


"Le, kalo lo dalam posisi gue, lo bakal apain si Vika?" tanya Dea, selang beberapa saat.


Alena memandang skeptis. Ternyata pikirannya salah, Dea punya rasa cemburu juga. Lantas, ia mendeham.


"Gue akan tanya sama pacar gue: 'lo suka sama tuh cewek? Kalo lo suka, terusin deh, tapi kita putus!'."


Semudah itu? Tapi ia tidak mungkin melakukan. Alena tidak tahu sudah seberapa jauh hubungannya dengan Reza. Cowok itu sudah tahu luar-dalam dirinya; setiap inci tubuhnya saja dia sudah lihat.


Setiap mampir ke tempat kost Reza, mereka sering bercumbu, tidur bersama, bergelut di ranjang sambil menikmati setiap sentuhan di bagian intim tapi tidak sampai berhubungan badan. Mereka sepakat untuk melakukannya jika sudah sah menjadi suami-istri.


Meskipun Dea masih perawan, tetap saja ia merasa rugi.


"Makanya itu tadi gue tanyain gitu. Gue sih nggak mau rugi waktu mempertahanin pacar yang nggak setia," ujar Alena, terdengar seperti sindiran.


Dea tak menanggapi lagi. Mereka menghabiskan sisa makanan, lalu mencuci piring. Setelah itu?


Maunya lanjutin tidur, lalu belajar. Namun, yang dilakukannya adalah duduk di teras bersama dengan Alena sambil tertawa mengenai cowok-cowok yang mengejarnya.


Selepas menertawakan tingkah konyol Joni, Alena berkata, "Sekarang, lo mau ngapain? Kenapa nggak ke rumah mas ganteng-mu itu?"


"Gue mau belajar. Besok kan mau ujian," jawab Dea, menerawang lagi keputusannya itu.


"Emang nggak kangen?" goda Alena, menyenggol lengan Dea.


Bagaimana tidak rindu? Seminggu tidak ketemu. Perginya saja tidak bilang. Tetapi ia merasa ragu karena Reza pasti marah soal kepergiannya itu.


"Wong dia aja nggak hubungi aku," jawab Dea beralasan. Tapi kemudian, ia tertegun menyadari bahwa pria itu tak pernah menanyakan kabarnya lewat telepon maupun pesan. Apa dia tak merindukannya.


"Alah! Kayak nggak tau aja! Cowok emang gitu, apalagi yang tipenya kayak mas-mu itu."


Dea melirik heran, kenapa Alena tidak pernah sudi menyebut nama Reza? "Iya juga. Tapi males ah!" Lantas, ia beranjak dari kursinya. "Aku lagi mau kejar target nilai."


"Yo weis, aku juga nggak maksa, cuma kasih saran. Kalo nggak diikutin, ya terserah."


Dea tipe cewek yang selalu ragu-ragu dan kadang tidak berprinsip. Kejar target cuma gayanya, ujung-ujungnya ia berangkat juga ke tempat kost Reza sore ini dengan motor matiknya.


Beberapa pria duduk di luar sembari bermain gitar dan makan kacang. Begitu ramai. Salah satu cowok mengenalnya, lalu menyapa.


"Hai, Dea? Mana aja lu?"


"Eh, Ferdi. Iya, ada urusan, jadi nggak pernah mampir," jawab Dea semringah.


"Nyari Reza?"


"Iya!" sahut Dea segera. "Mas Reza ada?"


Sepertinya Ferdi kurang yakin, makanya ia menoleh pada kedua temannya yang duduk di sebelah kanannya yang tampak ragu. Kemudian, cowok yang duduk di dekat Dea menyahut.


"Kayaknya ada deh tadi. Gue sempat lihat dia habis bawa plastik putih. Mungkin habis dari minimarket."


Dea melirik ke arah ruangan yang berada di pojok lorong sekejab. "Oh. Makasih ya?"


Langkah kecilnya berjalan cepat menuju ke ruangan yang ditempati Reza tanpa buang waktu. Ia akan mengetuk pintu, tapi ia mematung kala keraguan terbesit. Perlahan tangannya turun dan bibirnya terkatup rapat sambil menunduk.


Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Ia tersentak melihat wajah tampan yang sangat dirindukan muncul dengan ekspresi sama tapi hanya sekejap. Air mukanya berubah dingin, sama halnya dengan sikapnya.


"Masuk," kata Reza mempersilakan.


Aura aneh terasa. Dea enggan masuk, tapi akhirnya kaki itu masuk ke dalam, lalu duduk di tepi ranjang.


"Aku mau ambil gelas dulu," kata Reza setelahnya.


Tak ada yang berubah di dalam ruangan ini ketika Dea memperhatikan di sekitarnya. Bingkai putih kombinasi warna merah muda yang terpajang foto mesranya dengan Reza masih berdiri di nakas dekat ranjang ini.


"Apa kabar?" tanya Reza sambil membawa dua buah gelas begitu masuk ke dalam kamar. Pria itu meletakkan gelas-gelas itu di sebuah meja penuh buku-buku dan laptop, kemudian menuangkan soda berwarna hitam pada masing-masing gelas.


"Baik," jawab Dea tercekat, masih merasa tak enak karena waktu itu. Apalagi, nada bicara Reza yang dingin membuatnya gugup.


Reza menyerahkan segelas minuman pada Dea. "Bagaimana urusan di Jakarta? Sudah selesai?"


Dea meremas gelas yang ada di pangkuannya. Takutnya, Reza akan menanyakan soal kekhilafan papanya. "Sudah." Akhirnya, ia menjawab dengan seadanya sembari menunduk.


"Lalu, apa yang kamu lakukan sewaktu keluargamu tahu bahwa papamu berselingkuh?"


Dea mendelik, seketika menaikkan wajahnya, menatap Reza. Jadi, dia tahu?[]