When I ...

When I ...
Bab 21



Membaca perasaan? Dea tak mengerti. Kemudian, ia mendelik, menatap tercengang pada Dean.


Apa maksudnya Dean ... tapi ... ah, tidak! Mana mungkin! Dean memang sering menemuinya, menggodanya, tapi mungkin memiliki rasa suka padanya ini pasti salah!


Dea mendorong perlahan tubuh Dean dengan kedua tangannya seraya berkata, "Minggir! Nanti ada yang lihat."


"Kalau ada yang lihat, memang kenapa? Apa kamu malu?" tanya Dean, tersenyum jail.


"Dean!" sergah Dea, yang tadinya berpaling kini menoleh padanya dengan mata melotot.


Dean menurutinya, menjauhkan tubuhnya sambil terkekeh. Melihat wajah merah dan kekesalan yang ditunjukkan Dea membuatnya geli.


"Dasar." gumam Dean memalingkan wajah, lalu pergi meninggalkan Dea yang terheran-heran dengan sikap aneh Dean.


Dea penasaran, ingin tahu tentang apa yang ada dipikirkan Dean. Namun, untuk apa? Bukankah ini sama saja membuat celah? Dea sudah bertekad untuk tidak melibatkan seorang pria dalam hidupnya. Ia tidak ingin semua orang tahu tentang aibnya, terlebih Dean yang sudah mengenal sedikit tentangnya.


Biarlah. Ia harus kembali fokus bekerja. Ia kembali ke dapur, membuatkan minuman untuk karyawan lain. Diraihnya sebuah toples berisi kopi sachet. Namun, tiba-tiba ia tertegun karena sesuatu hal terlintas dalam pikirannya.


Tunggu dulu! Jika Dean yang mengantarkan makanan-makanan itu, berarti, pria itu tahu alamat rumahnya dong?


Dea mengigit bibir bawahnya, resah. Apakah ia perlu pindah rumah?


-;-;-;-


Masa liburan telah habis, Alena berat harus merapikan barang-barangnya ke dalam koper. Ditatapnya kamar besar milik Dea, pandangannya terhenti pada foto Dea yang terletak di atas nakas.


Kalau ia pergi, maka janjinya pada keluarga ini ingkar. Walaupun keluarga ini sangat mengerti, tapi ia merasa tidak bersalah.


Hari ini adalah hari terakhirnya untuk mencari Dea. Tidak akan ia sia-siakan. Haris belum pulang sekolah, ia bisa pergi sendiri dengan motor untuk mengisi waktunya yang sedang lowong pagi ini.


Yah, daripada bengong. Pikirnya.


Karena tidak ada petunjuk satu pun, Alena akan mencari secara random. Kebon Sirih, lokasi yang akan disisirnya hari ini. Dengan dibekali aplikasi Maps yang ada di gadget-nya, ia akan berkeliling di sekitar wilayah itu.


Mama yang baru keluar kamar, dengan dipapah oleh seorang pembantu, melihat Alena berjalan menuju ke arah pintu. Ia berseru memanggil, dan gadis itu langsung berhenti dan menoleh.


"Iya, Tante?" sahut Alena sembari tersenyum.


"Mau ke mana?"


"Jalan-jalan aja."


Sendirian? Mama jadi cemas. "Nggak tunggu Haris?"


"Nggak usah, Tante," jawab Alena. "Aku mau cari Dea sampai ketemu. Besok 'kan aku mau balik ke Jogja."


Iya, sedih rasanya mengetahui gadis itu akan pulang. Mama tidak memaksa, memang sudah saatnya Alena kembali menjalani kehidupannya yang biasa.


"Iya, tapi kalau sendirian kamu bisa nyasar," ujar mama khawatir.


"Nggak apa-apa. Kan, ada aplikasi Maps di HP. Aku pergi dulu, ya?" Alena melirik bibi di sebelahnya. "Jaga Tanteku, ya?"


Pembantu yang berumur setengah baya itu mengangguk mantap. "Beres, Non."


Alena hanya tersenyum, lalu keluar dari rumah ini menuju garasi. Bunyi deru motor terdengar, lalu lenyap perlahan di balik pagar rumah yang catnya telah terkelupas. Mama memandangi kepergian Alena dari jendela, berharap gadis itu selamat dan tidak tersesat.


"Tak apa jika tidak bisa bertemu dengan Dea sekarang. Yang terpenting, dia baik-baik saja," gumam wanita itu.


Alena menyusuri jalan yang padat dan ramai, lalu memasuki kediaman penduduk dengan laju yang pelan. Ketika bertemu dengan seseorang, ia menghentikan motor dan bertanya pada mereka sambil memperlihatkan foto Dea.


Jawaban yang sama selalu tertutur oleh orang-orang yang ditanyainya sambil menggeleng-gelengkan kepala: "Nggak tahu, Mbak. Nggak pernah lihat".


Ia mencari lagi, sampai kepemukiman warga di daerah lainnya. Meski tak menemukan Dea, ia terus mencari tanpa henti. Hanya perutnya keroncongan saja yang membuatnya berhenti di sebuah restoran cepat saji.


"Cheese burger deh," pesan Alena, setelah alama berpikir. "Minumannya fanta."


Di luae panas-panasan, baru ketemu tempat adem dan menuntaskan rasa lapar. Pukul 3 adalah waktu yang telat untuk makan, tapi setidaknya perut diisi daripada nanti pingsan di jalan 'kan?


Pesanannya akhirnya datang. Ia membawa nampan berisi makanan dan minuman pesananya ke bangku yang kosong. Selama di Jakarta, ia tidak pernah berfoto. Biarkan dibilang norak, memfoto menu makan siangnya, lalu berfoto di dekat kaca jendela yang terdapat logo restoran ini.


Ia tertegun hasil jepretannya tanpa sengaja memfoto seseorang di belakangnya. Pria yang difotonya itu mirip dengan seseorang.


"Reza?" Ia mengernyit.


Haruskah dikejar? Ia ragu. Burger hangat yang masih terbungkus ini menunggunya untuk disantap. Tapi jika melepaskan Reza, ia tidak bisa mendapatkan informasi soal Dea. Siapa yang tahu, mungkin selama ini Dea bersama dengan pria itu.


Akhirnya, ia membuat keputusan. Diambilnya burger itu, dimasukkan ke dalam tasnya, lalu mengejar Reza yang tadi dilihatnya melangkah keluar restoran. Ia berhenti di parkiran, melihat ke sekeliling.


Mana pria berjaket abu-abu dan bercelana hitam panjang itu? Ah, matanya yang tajam melihat sosok itu sedang menghampiri sebuah taksi berwarna biru. Sebelum Reza masuk ke dalam taksi, ia harus buru-buru mengejarnya.


Alena hampir sampai pada pria itu, mengulurkan tangan, lalu menepuk pundaknya. "Reza!" serunya.


Pria itu tak menyahut, tapi menoleh. Alena terkejut. Ternyata yang dipanggilnya bukan Reza, hanya orang lain yang berpakaian sama.


"Maaf, ya, Mas," kata Alena, tersenyum malu.


Alena menghela napas kecewa. Mungkin, yang difoto itu bukan Reza. Ia gusar, gara-gara salah orang, makan siangnya jadi berantakan gini! Minuman di mejanya pasti sudah di bersihkan oleh petugas restoran. Huft.


"Maaf, Mbak manggil saya?"


Suara seorang pria terdengar di belakangnya. Suaranya sangat familiar. Ia menoleh. Dan benar saja seperti dugaannya, suara familiar itu memang Reza.


Alena yang sama sekali tidak takut oleh siapa pun, mencengkram kerah baju Reza. Rahangnya mengeras, tatapannya penuh kebencian. Segala yang ada di dalam hati dan pikirannya akhirnya dimuntahkan langsung lewat kata-kata.


"Dasar cowok pengecut! Nggak bertanggung jawab! Jangan cuma enaknya aja, terus lo ninggalin Dea yang lagi hamil!"


Reza mendelik, tercengang, tak dapat mengatakan apa pun. Semua yang dikatakan Alena memang benar, dan jujur, ia mengaku menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.


Pria itu menunduk, ekspresinya berubah muram. Melihat hal itu tergambar di wajahnya, Alena tersenyum sinis.


"Jangan bilang lo nyesel? Telat!" bentak Alena, melepaskan tangannya dari kerah baju Reza dan mendorongnya. "Dea udah pergi ke Jakarta, nggak tahu pergi ke mana. Apa lo nggak pikir gimana nasibnya sekarang? Dia masih pertahanin janin itu, dan memilih membesarkannya sendiri."


Reza menaikkan wajahnya, terkejut. Gadis yang dicintainya pergi dengan membawa buah cinta mereka yang belum lahir. Ia khawatir, apa Dea baik-baik saja. Sungguh, jika saja egonya tak menguasainya, maka Dea tidak akan seperti ini.


Dihampirinya Alena, menatap dan berkata dengan sungguh-sungguh. "Aku mau bantu cari Dea."[]