
"Mungkin, bakal kayak gitu," gumam Dea.
Dean menatap Dea dengan mata membulat. "Mirip kayak cerita di sinetron," komentarnya.
Gadis itu melirik, dengan tangan memegang cangkir seperti di iklan yang ada di TV. Betapa imutnya Dea, membuat Dean terpana dan tak dapat menahan senyumnya.
"Kenapa?" tanya Dea, setelah menyeruput susunya sedikit.
Tawa Dean mereda, lalu menyahut, "Nggak ada. Cuma ingat sama hal-hal yang lucu aja."
Siang yang hampir menjelang sore. Dean dan Dea duduk di pantri sambil meminum segelas susu cokelat buatan Dean, bercerita tentang apa yang akan terjadi jika Dea bertemu dengan keluarganya.
Benar! Tidak ada pertemuan yang mengharukan antara Dea dan keluarganya di tempat kosnya. Semua itu hanya khayalan Dea, yang kemudian diceritakan pada Dean.
Dean sendiri juga tidak menemui Pak Martin, papa Dea, karena sebenarnya Dean tidak memberikan kartu namanya pada pria itu. Itu juga khayalan Dean.
Saat ia dan Pak Martin mengobrol sebentar di lorong, pria itu menerima telepon dari direktur perusahaan tempatnya bekerja, lalu pergi meninggalkan Dean.
Dean ragu, apa tepat bertindak seperti itu tanpa persetujuan Dea? Ia tak mau merusak hubungan yang sudah sedekat ini. Tahukah, betapa sulitnya melunakkan hati Dea.
Orang-orang berpikir bahwa ia sudah gila, terpikat pada seorang gadis yang sedang mengandung anak dari pria lain. Atau ada juga yang menanggap ia sudah kena pelet.
Konyol. Tapi menurutnya, mungkin panah cupit menancap terlalu dalam ke hatinya, sehingga cintanya pada Dea kuat.
Ia terkekeh. Cupit. Mana ada yang seperti itu? Di dalam mobil— sedang menyetir lagi!—sempat-sempatnya memikirkan hal yang tidak masuk akal begitu. Apalagi, Dea sedang duduk di sampingnya.
Untung saja, kemacetan jalan dan dalam kondisi yang lelah, membuat Dea terlelap. Ada juga kesempatan melihat wajah cantik Dea sepuas-puasnya. Pikirnya jail.
Kejailannya itu tak dapat menahan dirinya untuk mengulurkan tangan, lalu menyentuh pipinya. Namun, Dea tersentak dan terbangun.
Dean dan Dea membeku beberapa saat. Dea melirik pada tangan, lalu mengernyit. "Kamu mau ngapain?"
Bodohnya! Bikin malu! Buru-buru Dean menarik tangannya, salah tingkah, dan gelagapan saat memberi alasan. " Tadi itu ... gue mau buang debu di rambut lo ... iya! Debu!" Kemudian, ia terkekeh.
Dea naif, tapi juga tidak segampang itu percaya. Jelas-jelas tangan Dean mengarah ke pipi, bukan ke rambut. Namun, Dea tak ingin membahasnya.
Dean sendiri memaki-maki dirinya dalam hati atas hal konyol yang dilakukannya tadi. Menyesal mengatakan alasan bodohnya itu. Dea pasti kesal, meskipun tak tergambar di wajahnya kini. Gadis itu diam sambil memainkan ponsel, menyandarkan kepala ke dekat jendela mobil.
Keheningan ini menyiksa Dean. Akhirnya, ia berpikir mencairkan suasana dengan mencari sebuah topik pembicaraan.
Sebuah plang nama restoran memberikannya sebuah ide. Ia mendeham, lalu berkata, "Kita cari makan dulu sebelum pulang, yuk!"
"Nggak. Aku mau langsung pulang," jawab Dea dingin.
Telinga Dean pengang mendengar nada bicaranya itu. Ia tidak suka mendengar kata tidak. Jadi, ia tetap memaksa, sekalipun Dea menolak.
Dea terkesiap ketika Dean memarkirkan mobilnya di sebuah restoran Jepang. Katanya, "Enak juga makan bento hari ini?"
Seenak jidatnya! Dea memberontak, dengan tidak melepaskan sabuk pengamannya. "Kamu aja yang makan. Aku nggak."
Wah! Dean tersinggung. Masa ia harus membuka paksa sabuk pengaman Dea, lalu menariknya keluar dari mobil? Tidak mungkin! Ia tidak mau sekasar itu, apalagi Dea sedang hamil. Lagipula, matilah ia jika Dea sampai teriak nanti. Orang-orang akan salah paham, menganggap ia telah melakukan kejahatan.
"Dea, please. Turun, ya? Gue lagi ngidam mau makan di sini bareng lo," rayu Dean dengan lemah-lembut.
Lucu. Hampir saja Dea tertawa. Tapi berhasil ditahannya.
"Yang hamil 'kan aku. Kenapa kamu yang ngidam?" timpal Dea, ketus. "Kalau kamu memaksa, lebih baik aku keluar dari mobil ini dan pulang sendirian."
"Lo maunya makan apa?"
Dea menghirup napas dalam-dalam, lalu menghelanya. "Aku lagi nggak pengin makan apa-apa. Jelas? Kalo kamu mau makan di restoran ini, aku tunggu."
Sudahlah. Ia menyerah. Kalau memang maunya gitu, Dean turun dari mobil, memasuki restoran dengan langkah cepat. Tak lama kemudian, pria itu datang sambil membawa dua buah bungkusan.
Cepat sekali pria itu makannya, sampai membuat Dea heran. Setelah melihat bungkusan-bungkusan itu, Dea mengerti. Dean pasti ingin makan di rumah saja. Mungkin, di sana tidak ada meja yang kosong.
Entah sejauh apa mobil ini melaju, sampai tidak sadar kalau mereka sudah berhenti di depan gang menuju tempat kos Dea.
Dean membukakan pintu untuk Dea, lantas ia berjalan duluan sambil menenteng bungkusan. Untuk apa? Itu yang ditanyakan Dea dalam hati.
Mereka sampai di depan pagar tempat kos. Dea berdiri di samping Dean, dan berkata:
"Terima kasih sudah mengantarkanku sampai sini."
"Siapa juga yang mau nganterin lo. Gue ke sini juga mau sekalian mampir." Dean tersenyum jail, lalu mendorong ke dalam pagar itu.
Apa?! Dea terkejut, bergegas mengejar Dean dan mau menghadangnya di depan pintu.
Terlambat, Dean tak mau dihalangi. Ia juga bergegas berjalan ke pintu, membukanya, lalu menyapa ibu kos yang kebetulan ada di ruang tamu.
Di sana, juga ada dua anak kos lainnya yang sedang menoleh ke arah Dean dan Dea secara bergantian. Tercengang, lalu tersenyum pada pria tampan yang asing itu.
"Masuk. Ayo, gabung sama kita," kata ibu kos, tersenyum ramah.
"Nggak u...."
Dea akan menyahut, tapi Dean berjalan ke arah ibu kos tanpa mengacuhkan Dea. Bungkusan tadi diletakkan di atas meja, lalu dikeluarkan isinya.
Terdapat 3 kotak yang berisi 3 menu makanan Jepang yang berbeda. Ada takoyaki, shushi, lalu yang terakhir ramen seafood.
Dea menghela napas, menyerah. Apalagi, saat Dean mengajak mereka untuk makan malam bersama.
"Karena Dea nggak mau makan sendirian, makanya aku bungkus makanannya, supaya kita bisa makan bareng."
Menjengkelkan! Wajah Dea semakin tertekuk. Bisa-bisanya memakai dirinya sebagai alasan! Terlebih lagi, Dean mengatakannya sambil tersenyum meledek.
Huh! Lihat saja besok! Ia tak akan membuatkan minuman lagi untuknya!
Ibu kos menoleh pada Dea yang hanya berdiri agak jauh darinya. "Eh, Dea. Sini! Duduk di dekat Dean. Kita makan bersama. Makanannya kayaknya enak lho?"
"Tau nih, Dea!" timpal salah satu dari kedua gadis penghuni kos. "Pacarnya udah beliin juga. Malah bengong di sini?"
Pacar? Ketika mendengarnya ibu kos nyaris tersedak, Dean tersipu, sedangkan Dea memelototkan matanya.
"Bukan!"
Seruan Dea membuat semua orang menoleh padanya dan tercengang.[]