When I ...

When I ...
Episode 41 Penyesalan yang datang terlambat



Dea menatap Reza sangat lama, sampai matanya pedih dan mengeluarkan air mata.


 


 


Mengapa baru sekarang? Di saat ia mulai siap melepasnya, dan melanjutkan hidup dengan menerima orang lain.


 


 


Kenapa tidak pergi selamanya? Apa dia lupa dengan sikap dan ucapannya yang menyakitkan hati Dea dulu?


 


 


Dea tak sudi menatapnya lagi. Ia beranjak dari kursi, akan pergi. Namun, Reza meraih tangannya dan menahannya.


 


 


"Beri aku kesempatan untuk bicara. Please," melas Reza.


 


 


Dea menutup matanya. Kedua tangannya terkepal kuat ketika di hadapannya terdapat dua pilihan yang sulit. Akan tetapi, ego akhirnya itu ditahannya.


 


 


Perlahan, ia kembali duduk, begitu juga dengan Reza. Beberapa saat mereka terdiam, tapi Dea hanya menunduk, sementara Reza masih mengenggam tangannya.


 


 


"Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu, memulai.


 


 


Dea menarik napas dalam. Terlambat untuk menanyakannya, dan ia pun tak tertarik untuk menjawabnya.


 


 


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Dea, dingin.


 


 


Reza terdiam sesaat, merasakan perbedaan sikapnya. "Kamu masih marah?"


 


 


"Jika kamu hanya berputar-putar, aku akan pergi—"


 


 


"Baiklah." Buru-buru Reza menyahut.


 


 


Di saat yang sama, Dean memilih tempat duduk di samping meja Dea, membelakangi mereka, sehingga mereka bisa dengan bebas berbicara dan ia juga bisa mendengarkan percakapan itu.


 


 


"Dea, batalkan pernikahanmu dengan pria itu."


 


 


Rahang Dea mengeras, meradang mendengarnya. Seenaknya dia pergi, lalu datang ke hadapannya untuk meminta membatalkan pernikahan! Mudah sekali baginya untuk mengolok-olok hidupnya!


 


 


"Aku tidak mengenalnya, tapi dia tidak akan bisa menjadi ayah yang baik buat anak kita," lanjutnya.


 


 


Tangan Dean terkepal kuat, geram.


 


 


 


 


Dasar arogan! Rasanya, Dean akan menghantamkan tinjunya ke wajah pria itu.


 


Dea menatap Reza lamat-lamat tanpa ekspresi. Kemudian, ia berkata, "Sudah selesai? Sekarang, giliranku."


 


 


Ia melepaskan genggaman tangan Reza perlahan, membuat pria itu bingung dan cemas.


 


 


"Aku selalu meyakini pilihanku, sehingga aku tidak pernah salah dalam melakukan suatu hal. Tapi ketika aku ragu, lalu seseorang memengaruhiku untuk keluar dari prinsipku, maka yang terjadi adalah sebuah kesalahan besar," katanya sarkastik.


 


 


Ia rasa, Reza mengerti. Makanya, pria itu bereaksi. "Aku tahu, yang kulakukan salah. Tapi aku sudah bilang padamu waktu itu. Kalau saja kamu menurut, mungkin kehamilan itu tidak—" Reza terdiam dan tertegun melihat senyuman sinis Dea.


 


 


"Terlalu sering aku mendengar saran orang-orang agar aku memutuskan hubunganku denganmu, tapi aku menutup telingaku. Aku terlalu buta, sehingga aku memahami semua sikapmu. Untuk kali ini, cukup, Reza. Hubungan kita selesai."


 


 


"Tidak akan pernah selesai!" tukas Reza. "Kamu dan aku masih terhubung karena bayi itu."


 


 


Dea tak kalah menyela cepat. "Bahkan kamu tidak menanyakan keadaan anak kita. Aku tidak yakin, apa kamu peduli pada anak ini atau tidak."


 


 


Dengan perasaan gusar sekaligus sedih, Dea beranjak dari kursi. Reza cepat-cepat meraih tangannya.


 


 


"Dea, aku mohon, kasih aku kesempatan," pinta Reza.


 


 


"Lepaskan, Reza!" Dea meronta.


 


 


Di sanalah Dean mulai bergerak, menghela tangan Reza, lalu menghela Dea agar berdiri di belakangnya.


 


 


"Kalau dia minta lepasin, jangan maksa dong!" bentak Dean.


 


 


"Siapa lo? Minggir! Jangan ikut campur!" sergah Reza, menghela tubuh Dean.


 


 


Namun, Dean menepis tangannya. Semakin marahlah ia. Hanya saja, ia berusaha menahan diri. Kalau tidak, Reza bisa habis di tangannya.


 


 


"Siapa bilang? Urusan Dea, juga urusan gue. Karena gue calon suaminya Dea."[]