
Dean menyingkirkan tangannya yang menutupi mata. Ia terbangun saat matahari belum menyingkap sinarnya.
Ponsel yang ada di nakas diraihnya. Deretan daftar panggilan tak terjawab dan beberapa pesan muncul di layar ponsel—semuanya dari nomor Dea.
Dua hari ini, ia memang sengaja tak menghubungi dan menemui gadis itu. Dan kini, waktunya ia memberitahukan pembatalan pernikahannya pada orangtuanya.
Ia berhenti di ambang pintu masuk ruang makan, menatap keluarganya yang terlihat bahagia. Wajahnya berubah muram. Apakah ia tega melenyapkan senyum di bibir mereka?
Rachel yang menyadari keberadaan abangnya. "Bang! Yuk, sarapan!"
Dean tersenyum tipis, lalu menghampiri mereka. Mama menghidangkan sesendok nasi goreng, sementara Rachel mengisi gelasnya dengan air putih.
"Rachel, apa kamu udah menelepon bude Lita?" tanya mamanya.
"Belum, Ma," jawab gadis itu seraya mengunyah makanan. "Nanti aku telepon."
"Bude Lita pasti senang mendengar berita ini," timpal papa.
Dean hanya memperhatikan mereka dengan murung. Makanan enak ini tak membuatnya selera, sehingga tidak dihabiskan.
"Pa, Ma," kata Dean, meletakkan sendok di atas piring. "Aku mau membatalkan pernikahanku dengan Dea."
Wajah mereka kaget bukan kepalang. Papa mencoba tenang saat menanyakan alasannya.
"Kenapa? Apa kamu ada masalah sama Dea?"
Dean menunduk. "Aku nggak siap buat nikah."
Mamanya melotot dan berseru marah, "Kamu gimana sih? Dulu, kamu yang bilang mau menikah, sekarang kamu bilang tidak siap? Kamu pikir pernikahan itu main-main? Persiapan kita udah hampir 100 persen!"
"Maaf, Ma," sesal Dean.
"Dean! Sebaiknya, kamu pikirkan lagi keputusan itu!" kata papa murka.
Itu adalah keputusan final. Semalam, ia sudah memikirkannya baik-baik.
"Aku akan bicarakan hal ini dengan orangtua Dea." Dean beranjak dari kursi. "Aku berangkat."
Mereka tak habis pikir dengan pria. Menatap kepergiannya dengan gusar dan cemas. Citra memegang kepalanya, terduduk lemas.
"Bagaimana ini?" gumamnya.
Rachel memutar otak. Mana mungkin hal seperti itu dibiarkan olehnya? Diambilnya ponselnya dari dalam saku celana panjangnya, mengetik super cepat di atas layar.
"Halo, Kak. Abang Dean mau membatalkan pernikahan," katanya.
Mama menoleh pada Rachel. "Kamu nelepon siapa?"
"Kak Dea," jawab Rachel, menutup telepon.
"Ngapain kamu telepon dia?" seru mama, tidak setuju. "Kalau Dea syok gimana? Dia, 'kan lagi hamil, Racheeeel."
Oh, iya! Rachel tak memikirkannya sampai ke situ. Ia menggigit bibir bawahnya, cemas. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada gadis itu?
"Terus, dia bilang apa?" tanya papa.
"Katanya, kak Dea akan coba ngomong sama bang Dean."
Semoga saja berhasil. Dan semoga saja keadaan Dea tidak down setelah mendengar berita mengejutkan itu.
Ting!
Rachel tertegun mendengar sebuah pesan masuk dari Dea. Dahinya mengernyit, heran.
"Hah?"
"Kak Dean udah pulang? Tadi, aku dapat kabar dari kak Alena. Katanya, kak Dea sakit."
Dean langsung mengendarai mobilnya dengan cepat setelah mendapatkan pesan dari Rachel.
Hatinya berdebar kencang karena sangking cemasnya. Ia sampai menekan klakson berkali-kali, kesal karena kemacetan yang sering terjadi setiap sore.
Sebelum Magrib, Dean sudah sampai di rumah Dea. Kedatangannya disambut oleh mamanya Dea. Dean mencium tangannya, dan langsung menanyakan keadaan Dea.
"Dea sedang istirahat di kamar," kata mama. "Tubuhnya lemas karena muntah-muntah terus, terus dia pingsan di kamar mandi."
Tubuh Dean melemas dan semakin cemas. Ia meminta izin pada wanita itu, lalu langsung berlari ke kamar Dea. Sesampainya di sana, ia berdiri sejenak untuk menenangkan diri. Diketuknya pintu kamar itu sambil berseru:
"Dea, ini aku Dean."
"Masuklah," seru Dea.
Dean membuka pintu kamar itu. Sekejab tercengang, ketika menemukan ranjang Dea kosong. Tapi kemudian, ia menemukan sosok Dea sedang berdiri di samping jendela. Langkahnya cepat memasuki kamar dan menghampiri gadis itu.
"Kamu sakit apa? Bagaimana dengan keadaan bayinya?" tanya Dean gugup dan tergesa-gesa.
Dea tersenyum geli. "Kamu cuma cemas sama keadaan bayi ini aja?"
Dean menghela napas. "Bagaimana keadaan kamu?"
"Kalau kamu khawatir, kenapa kamu membatalkan pernikahan kita?"
Tatapan Dean menyendu. Gadis itu digiringnya lembut menuju ke sebuah kursi yang ada di depan meja hias. Ia berlutut di depan gadis itu. Ujung jari telunjuknya menyeka poni yang menutup mata Dea.
"Aku hanya ingin kamu bahagia," ucap Dean lirih.
"Memangnya, kamu tanya siapa yang bisa membuatku bahagia?" tanya Dea.
"Orang yang kamu cintai, Reza."
Kedua mata indah yang sangat dipuja Dean, menatapnya lamat. "Seharusnya, kamu dengarkan semua penjelasan aku waktu itu. Perasaan aku ke Reza tidak penting lagi dibahas, karena perasaan itu sudah tidak ada sejak seseorang menyentuh hatiku dengan kelembutannya."
Dean tercengang, matanya membulat. Jadi, ia sudah salah paham, dan Dea meluruskannya dengan menceritakan percakapannya dengan Reza kemarin malam.
Di teras rumahnya, Dea dan Reza berbicara dengan tenang, saling mendengarkan tanpa menyela.
"Maafkan aku, Dea," kata Reza. "Saat itu, aku dalam keadaan kesal, sehingga aku tidak bisa berpikir jernih. Aku menyesal telah berkata kasar, meninggalkanmu, dan membuatmu menderita. Aku menyayangimu dan bayi kita."
Dea menghela napas. "Aku sudah memaafkanmu."
Rona wajah Reza menjadi cerah. Ia tersenyum, lalu meraih dan menggenggam tangan Dea. "Jadi, apa kamu mau menikah denganku?"
Dea kembali membuatnya kecewa. Genggaman tangan itu dilepaskannya perlahan, lalu berkata, "Reza, memaafkan bukan berarti semua yang terlewati bisa kembali lagi. Kenangan bersama denganmu memang tak bisa terhapus, tapi cinta ini sudah hilang sejak lama."
Reza menegak. Musnah sudah harapannya. Hatinya hancur berkeping-keping. Tak hentinya ia menyalahkan kebodohannya dulu.
Teringat akan ucapan Dean tadi; pria itu melepaskan Dea demi kebahagiaanya. Tapi kebahagiaannya bukan bersama dirinya, melainkan bersama dengan Dean.
"Baiklah, aku terima keputusanmu. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu?" kata Reza. "Aku ingin mengelus perut kamu."
Dea mengangguk, lalu mendekat. Reza mengulurkan tangannya, mengelus lembut perut Dea yang belum terlalu tampak.
Ada getaran yang dirasa oleh Reza; terharu, rasa bahagia yang mungkin juga dirasakan oleh para calon ayah. Akan tetapi, ia sedih karena tidak bisa menggendongnya, mendengar kata "ayah" yang terucap dari bibir mungilnya.
Sudah merasa cukup, Reza menarik kembali tangannya. "Terima kasih, Dea. Jaga anak ini. Berikan kasih sayang padanya."[]