
Dea tersenyum setelah menceritakan semua pembicaraannya dengan Reza. Rasa lega dan bahagia menyelimutinya sampai saat ini. Tak ada lagi penghalang, hanya tinggal meyakinkan pria yang ada di depannya ini.
"Masa lalu hanya untuk dikenang di tempat lain, sedangkan masa depan adalah langkah yang harus ditempuh. Aku hanya ingin bersamamu, tanpa harus dibayang-bayangi masa lalu," ucapnya.
"Jadi?" tanya Dean, ucapannya menggantung.
"Aku mencintaimu," lirih Dea.
"Apa? Aku nggak dengar."
Dea sebal kalau Dean hanya suka sekali berpura-pura karena ingin menjailinya. Maka, ia mendekatkan wajahnya, lalu bibir pria itu dikecupnya beberapa saat.
Dean terkejut, bahkan sampai terpaku lama. "Tadi itu ... hanya sebentar. Bisa kamu lakukan sekali lagi?"
Dea cemberut. "Dean!" tegurnya sekaligus tersipu.
Pria itu tertawa jail. "Oke."
Dean mengubah posisinya. Kali ini, Dean yang mencium bibir Dea. Begitu lama dan manis, sampai tak ingin diganggu. Sayangnya, harus terhenti karena suara ketukan pintu.
"Aduh, siapa sih? Ganggu aja!" gumam Dean pura-pura kesal, membuat Dea terkekeh.
"Dean," panggil Dea. "Makan malam di sini, ya?"
- ;-;-;-
"Cinta", hanya ucapan itulah yang terngiang dalam benaknya, sampai ia bersenandung selama perjalanan pulang.
Bibirnya diusapnya dengan ibu jarinya, mengenang kecupan manis yang takkan pernah terlupakan.
Rachel menyaksikannya saat itu, menghampiri Dean yang sedang berjalan menuju tangga.
"Udah baikan?" tanyanya ketika di dekat Dean.
"Udah, dong," sahut Dean riang.
"Berarti akting kak Dea meyakinkan dong?"
Dean mengernyit. "Akting? Maksudnya?"
Rachel bercerita bahwa dirinya menghubungi Dea setelah Dean pergi tadi pagi. Ia meminta gadis itu untuk berbicara dengan Dean, dan Dea menyanggupinya dengan membuat sebuah rencana.
Siangnya, Rachel mendapat pesan dari Dea tentang rencananya. Dan sesuai intruksi, Rachel mengirimkan pesan pada Dean pada sore harinya.
Dea juga menyuruh semua orang di rumahnya mengatakan bahwa Dea sedang sakit. Tentu saja, rencana itu berhasil membuat Dean terperangkap.
"Oh, gitu?" kata Dean agak jengkel, kemudian bergumam sangat pelan. "Dasar cewek itu!"
"Ha? Apa Bang?" tanya Rachel, tak mendengar gumamannya.
"Em ... nggak. Aku mau ke kamar."
Sebenarnya, Dean merasa dikerjai. Tapi mana sanggup ia kesal karena gadis itu telah membuat hatinya berbunga dengan ucapan cintanya.
-;-;-;-
Hari yang ditunggu tiba. Meski hanya pernikahan sederhana dan tidak banyak yang diundang, pernikahan Dea dan Dean berjalan dengan lancar.
Senyum bahagia terpancar dari pasangan dan kedua keluarga. Ucapan selamat dan tersuratkan dengan ikhlas oleh para tamu.
Dea kini, tinggal di rumah Dean dengan limpahan kasih sayang dari anggota keluarga itu. Rachel mendekorasi kamar Dean menjadi kamar pengantin yang cantik.
"Kak, dipakai, ya?" kata Rachel menyerahkan sebuah kado berkotak kecil pada Dea.
Dean keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah, menatap Dea yang tengah duduk di ranjang sambil memperhatikan benda itu.
"Kamu beli itu?" tanya pria itu, duduk di dekatnya.
"Kadonya Rachel."
Dean tertawa terbahak-bahak. Adiknya itu sedang menjaili kakak iparnya. "Coba pakai."
"Nggak mau!" tolak Dea, memasukkan kembali lingerie itu.
"Aku pengin lihat, pose terseksi istriku ini," goda Dean.
Dea menunduk, tersipu. "Mesum banget jadi orang."
Barang-barang yang ada di atas ranjang, dibereskan lalu ditepikan ke atas meja kerjanya. Setelah itu, ia kembali ke atas ranjang. Ia menarik ujung selimut sampai menutupi perut Dea.
"Yuk, tidur," katanya.
"Tidur?" tanya Dea heran.
Dean yang akan berbaring, terhenti dan kembali duduk. "Iya. Emang kenapa?"
"Bukannya kita akan...." Pipi Dea memerah. Saat mengatakan hal itu, ia sangat gugup dan malu.
"Apa?" desak Dean.
"Ya, kamu tahulah!"
Oh, itu! Dean mengangguk sembari tersenyum geli. Tatapan lembut pria itu membuat Dea perlahan menaikkan wajahnya dan menatapnya.
"Dea, meskipun kita udah nikah, tapi aku belum bisa menyentuh kamu. Kamu tahu hukum agama itu, 'kan?"
Dea mengangguk paham. Lalu, ia merebahkan tubuhnya, bersamaan dengan Dean. Lampu pun padam, mereka terlelap sambil berpelukan.
-;-;-;-
Koper-koper Rachel telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Alena juga datang ke kediaman keluarga Dean untuk pergi ke Jogja bersama dengan gadis itu.
Alena memeluk Dea. Air matanya hampir saja tumpah karena telah melihat sahabatnya bahagia.
"Jangan lupa mampir ke Jogja," katanya.
"Tenang aja, nanti kita nyusul ke sana," sahut Dean.
"Ngapain?" tanya Rachel, mengernyit. "Jangan bilang kalau Abang mau honeymoon di sana."
"Kenapa emangnya? Masalah?"
"Payah nih! Kak Dea, jangan mau. Minta bulan madu ke Korea gitu."
Dea terkekeh, sedangkan Dean cemberut, memprotes ide itu. Katanya kalau ke sana, Dea malah asyik foto-foto sama oppa-oppa yang ganteng.
Dean memeluk dan mencubit pipi adiknya yang tomboy itu. Sebelum pergi, Alena berpesan agar Dean menjaga Dea.
Papa merangkul pundak Dean, setelah mama merebut lengan Dea untuk berjalan bersama ke ruang tamu. Mereka duduk bersama, dengan disuguhi teh oleh seorang pelayan.
"Dean, Papa mau menaikkan jabatan kamu di perusahaan. Bagaimana?"
Alih-alih senang, Dean malah terkejut. Apa secepat ini ia naik jabatan?[]
Hai, maaf nggak update karena lagi-lagi aku sakit. Lagi musim ini, jangan lupa jaga kesehatan ya.