When I ...

When I ...
Episode 26



Kisah tua yang pernah mama ceritakan pada Dea beberapa tahun yang lalu, membekas dalam ingatannya.


 


 


Dia menunjuk pada satu foto dalam sebuah album foto usang yang sudah rusak di beberapa bagian. Katanya, ketika Dea terlahir ke dunia, tangan mama yang hangat menyambutnya dan mendekapnya.


 


 


Mama selalu merentangkan tangan ke arahnya sembari menghampirinya, meskipun Dea telah pandai berjalan ketika usianya beranjak satu tahun.


 


 


Waktu berlalu, kebiasaan mama tak pernah berubah. Dea yang telah tumbuh menjadi gadis cantik selalu disambut oleh pelukan saat memasuki rumah. Air mata berderai, kata rindu terucap—padahal hanya satu semester saja mereka tak bertemu.


 


 


Apa hari ini mama akan seperti itu? Tidak. Harusnya seorang anak yang melangkah ke sana, menghampiri wanita yang telah memberikan seluruh dunianya hanya untuknya, mendekap, meleburkan kerinduan bersama dengan deraian air mata haru.


 


 


Dea tersedu-sedu, betapa menyiksanya batin ini karena telah membuat sang ibu harus merasakan sebuah kesedihan yang amat dalam akibat perbuatannya.


 


 


Naomi turut hanyut, berdiri di samping mereka, lalu memeluk mereka dengan perasaan bahagia tanpa tangisan. Menurutnya, bukankah air mata tak cocok untuk momen bahagia ini?


 


 


Ibu kos tersenyum bahagia dan bersyukur Dea dipertemukan lagi dengan keluarganya. Ia menyapa dan mengatakan bahwa Dea baik-baik saja selama berada di sini. Hal itu membuat keluarga Dea terlihat lega.


 


 


Mereka berbincang sebentar, dengan disuguhkan segelas teh hangat dan makanan ringan. Mama membujuk Dea untuk kembali ke rumah sambil menggenggam tangannya lembut.


 


 


Dea tentu saja ingin. Hanya saja, ia merasa ragu. Apa ia pantas kembali, setelah mencoreng nama keluarganya dicorengnya dengan sebuah aib?


 


 


Ia menatap pada ibu kos, yang mengangguk sambil tersenyum selagi berpikir. Mama mendesakknya lagi. Lalu, ia menoleh, menatap lamat-lamat beberapa saat.


 


 


"Baiklah."


 


 


Mama, papa, dan adik-adiknya tersenyum senang. Naomi langsung menggandeng lengan Dea. "Ayo, Kak. Aku bantuin Kakak beres-beres."


 


 


Haris sigap beranjak dari sofa. Sendirian di sini bersama dengan para orang-orang yang sudah tua pasti rasanya garing. Sebelum kedua gadis itu pergi, ia segera berseru:


 


 


"Aku juga ikut bantuin, ya, Kak?"


 


 


Naomi cemberut, memprotes. "Iiihh ikut-ikutan aja!"


 


 


Dasar perempuan! Suaranya berisik kayak kaleng rombeng. Cukup mendengar adiknya mengoceh, Haris menghindarinya dengan menggandeng tangan Dea yang sedang lowong, lalu menghelanya pelan sembari berkata:


 


 


"Ayo, Kak. Buruan beresin barang-barang Kakak."


 


 


Adik-adiknya yang sangat menggemaskan, membuat Dea tersenyum geli. Mereka selalu saja saling ribut dan mengganggu, tetapi itulah yang dirindukan olehnya. Hari ini, ia akan selalu melihat kedua adiknya itu, bercanda dan bercerita dengah mereka.


 


 


-;-;-;-


 


 


Apa mesin pengharum ruangannya tidak dimatikan? Kamarnya begitu wangi ketika pintunya terbuka. Seprai diganti, tak ada debu, begitu rapi dan bersih. Pasti pembantunya di rumah ini tak pernah bosan membersihkan kamar yang selalu ditinggalkan oleh tuannya ini.


 


 


Naomi masih menggandeng lengan Dea, sementara Haris meletakkan koper kakaknya ke dalam kamar. Ia berjalan masuk sambil mendengarkan cerita-cerita Naomi.


 


 


Haris tak tahan ingin menggoda adiknya itu dengan berkata mencemooh, "Cerita apaan sih, Nom? Kak Dea nggak bakal dengar cerita-cerita nggak penting kamu itu."


 


 


"Iiih! Sirik aja! Kak Dea pasti dengar kok. Kalo nggak mau dengar, tutup aja tuh kuping pakai kapas," sahut Naomi ketus.


 


 


"Sekalian aja tutup hidungnya pake kapas. Emangnya Abang mayat apa?" Haris terkekeh.


 


 


Naomi tidak menimpalinya lagi karena malas. Meladeni orang jail macam abangnya itu tidak berfaedah, yang ada banyak mudharatnya. Salah satunya bikin emosi, yang malah membuatnya cepat tua.


 


 


Naomi sudah akan bersiap kembali bercerita. Gadis itu sepertinya tak mengerti situasinya. Tidak lihat apa, kakaknya sedang lelah? Makanya, Haris langsung merangkul bahu adiknya, menyeretnya keluar meski Naomi berusaha memberontak.


 


 


 


 


Dea tersenyum sangsi, menganggukkan kepalanya sedikit. Haris itu ada-ada saja memperlakukan adik bungsunya seperti itu. Selama ia tak ada, mereka pasti terbiasa bercanda seperti itu?


 


 


Ia menggelengkan kepala dan tertawa kecil. Ketika pintu telah tertutup rapat, ia membaringkan tubuhnya ke ranjang.


 


 


Langit-langit kamarnya dihiasi oleh pin bintang yang membentuk rasi Virgo. Ide itu ia cetuskan ketika Naomi memutuskan untuk tidur sendiri.


 


 


Ia menghiasi kamarnya dan Naomi sesuai dengan zodiak masing-masing. Hanya Haris yang tidak mau karena zodik hanya untuk perempun. Terlebih lagi, ia tak percaya pada ramalan perbintangan.


 


 


Haris bilang: "Soal masa depan bukan ditentukan oleh ramalan. Hanya Tuhan yang tahu seperti apa kehidupan kita nanti. Masa depan itu misteri bagi kita."


 


 


Dea tertawa kecil. Si jail itu punya sifat dewasa yang tersembunyi.


 


 


Ngomong-ngomong soal misteri, Dea jadi kepikiran sebuah pertanyaan. Bagaimana bisa orangtuanya menemukannya di sini? Apa ada seseorang yang memberitahukannya? Tapi siapa?


 


 


Dan ... Dea mempertanyakannya saat makan malam berlangsung.


 


 


Ada kejanggalan ketika pertanyaan itu dilontarkan. Papa dan mama saling menatap, bingung, dan gugup. Semakin membuat Dea curiga.


 


 


"Apa ... papa sama mama sewa detektif?" Dea berusaha memancing mereka.


 


 


"Em ..." gumam papa sambil berpikir mencari alasan. "Iya. Sebenarnya tadi itu...."


 


 


Papa menceritakan semuanya, termasuk pertemuannya dengan Dean—hanya saja, ia tak mengatakan identitas pria itu.


 


 


"Siapa pegawai itu, Pa?" desak Dea.


 


 


Papa panik, keringat mengucur di dahi. "Em ... Papa lupa. Eh! Itu makanannya udah mau dingin. Sup iga kalau udah dingin nggak enak lho?"


 


 


Papa menghindar. Dea hanya diam saja, lalu melanjutkan makannya. Biarlah jika papa ataupun mama tidak mau mengatakannya. Lagi pula, itu tidaklah terlalu penting lagi sekarang.


 


 


Namun, ia tetap akan sangat berterimakasih dengan sangat tulus pada pria itu.


 


 


Di tengah-tengah keheningan yang beberapa saat melanda, dipecahkan oleh ucapan mama. Dea mendongak dan menyahut.


 


 


"Dalam waktu dekat, kita cari Reza. Kita tidak bisa menunda pernikahan kalian. Perut kamu semakin lama, semakin membesar lho."


 


 


Kemudian, papa menimpali, "Kita cari sekali lagi ke tempat kediaman orangtua Reza. Waktu itu, rumahnya dalam keadaan kosong. Katanya, orangtuanya Reza pergi ke rumah kakak laki-lakinya."


 


 


Mendengar nama Reza, bibir mungilnya membentuk senyum getir. Ia menatap makanannya dengan tak berselera, dan mengaduk-aduknya.


 


 


"Tidak usah," gumam Dea lirih.


 


 


Papa, mama, dan kedua adiknya tercengang. Papa menanyakannya, dan inilah jawaban Dea:


 


 


"Dari awal, Reza tidak ada niat untuk menikah. Lantas, untuk apa memaksakannya bertanggung jawab pada apa yang tidak diakuinya?"


 


 


Dea mengelus perutnya. Papa dan mama mengerti, Reza tak mau mengakui bayi ini. Benar apa yang dikatakan oleh Dea. Jadi, keputusan mereka sudah bulat untuk tidak menikahkan Dea dengan Reza, meskipun awalnya mereka saling mencintai.


 


 


"Lagipula," tambah Dea. "Aku sudah memutuskan untuk membesarkan bayi ini tanpa seorang ayah. Anak ini sudah cukup mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu."[]