
Dea mendadak diam sejak kembali dari kamar mandi, bahkan bergegas minta pulang dengan alasan ingin istirahat.
Mau tidak mau, makan siang mereka selesai lebih cepat. Dean mengantarkan Dea ke rumah, sementara Alena pulang bersama dengan Reza.
Dean memperhatikan istrinya sejenak. "Kamu kenapa?"
Dea melirik, lalu menunduk lagi, senyumnya hambar. "Rebecca menemuiku tadi."
"Apa kata dia?" tanya Dean, kaget.
Dea menceritakan semua yang terjadi dan ucapan-ucapan Rebecca yang menyakiti hatinya. Dean bahkan terkejut bahwa istrinya berani menampar wanita itu.
"Aku merasa nggak enak sama dia karena sudah melakukan itu," kata Dea setelahnya.
"Kamu takut kalau dia balas dendam?" tanya Dean.
"Yang aku takutkan, dia merebutmu dariku," gumam Dea sedih.
Alih-alih cemas, Dean malas tersenyum senang mendengar ucapan Dea. Tangannya diulurkan, mengelus lembut rambut cokelat lurus Dea dengan lembut.
"Nggak akan ada yang bisa merebut aku dari kamu, Sayang," katanya. "Aku tetap milik kamu selamanya."
-;-;-;-
Pagi-pagi sekali, Rebecca sudah ada di kantor, dengan berpakaian rapi, dan membawa sepucuk amplop di tangannya. Padahal, ia sudah dipecat, untuk apa datang lagi ke sini?
Saat berjalan menuju ruang HRD, ia berpapasan dengan Dean. Pria itu tercengang sambil melangkah pelan. Namun, lama-lama wajahnya dipalingkan, dan sikapnya menjadi acuh tak acuh.
Rebecca tahu bagaimana perasaan Dean. Tak apalah jika memang sikapnya seperti itu, tapi ia tetap menyapanya. Setidaknya untuk yang terakhir kali.
"Hai, Pak Dean."
Dean terpaksa berhenti di depannya, tersenyum kecut sekilas. "Untuk apa kamu ke sini?"
Rebecca mengacungkan sepucuk surat beramplop putih. "Aku ditelepon sama HRD karena udah beberapa hari nggak masuk. Mungkin karena kamu belum memecatku secara resmi. Maka dari itu, aku akan menyerahkan surat pengunduran diri."
Dean hanya meliriknya, tidak mengambil, ataupun berniat membacanya. Ia juga tak ingin menanyakan alasan pengunduran diri wanita itu, karena Rebecca pada akhirnya yang memberitahukannya.
"Aku akan bekerja di perusahaan lain di luar kota. Maaf, karena aku sudah mengganggu rumah tangga kamu sama Dea."
Terkejut, tapi menaruh curiga. Dean menaikkan alisnya, meneliti senyuman dan sikap Rebecca. Benarkah yang diucapkannya memang tulus?
Rebecca menghela napas. Jika memang ketulusannya diragukan, maka ia ikhlas. Ia berpamitan dengan Dean, lalu pergi dari hadapannya tanpa menoleh lagi.
Meski perasaan pada Dean belum hilang, Rebecca tetap merasa lega. Ia tersenyum. Sekarang, waktunya menghadapi masa depan dengan percaya diri.
Cinta? Em ... akan ia cari siapa pun yang mau menerimanya dengan ketulusan murni. Seperti cinta Dean pada Dea.
... -;-;-;-...
Bulan demi bulan tergelincir tanpa disadari. Perut Dea semakin membuncit dan tinggal menunggu kapan bayi ini lahir.
Kehidupan rumah tangga Dea dan Dean semakin harmonis. Tidak ada pertengkaran, apalagi pelakor yang mengganggu. Rahasia mengenai ayah biologis si bayi juga masih terjaga. Lagipula, Reza tidak ingin menghancurkan hubungan dua keluarga yang telah terjalin baik itu.
Soal nama bayi sekarang. Mamanya Dean membicarakan ini bersama dengan Dea dan Rachel di taman belakang mereka. Wanita itu sedang menata tanamannya, sementara Dea dan Rachel duduk di atas ayunan sambil mendengar ocehannya.
"Jadi, apa nama yang kamu persiapkan untuk si bayi?" tanya mamanya Dean.
"Em ... Namanya Danial Arslan," jawab Dea, mengelus perut buncitnya setelah merasakan tendangan dari si bayi.
"Wah, bagus tuh namanya," sahut Rachel, kemudian mencari arti nama anak itu di internet.
Citra tersenyum. "Siapa yang memberikan ide nama itu?"
"Pastinya bang Dean dong!"
Dea hanya tersenyum; tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Sebab, nama itu hasil perundingan antara Dean dan Reza.
Reza mengalah ingin memberikan nama si bayi dengan awalan huruf "d". Disodorkannya beberapa rekomendasi nama dan artinya pada Dean. Lalu, Dean dan Reza memilih dan mempertimbangkannya.
Dean merasa puas dengan keputusan bersama dengan Reza. Sesuai kesepakatan, nama belakang bayi itu adalah nama belakang Dean.
Danial Arslan Wijaya. Kapan kamu lahir ke dunia ini? Semua orang menantikannya, termasuk Dea.
Dea beranjak dari ayunan besi, dengan dibantu oleh Rachel.
"Ma, aku mau ke kamar dulu," kata Dea.
Citra bertanya saat melihat Dea meringis, dan wajahnya yang memucat. "Kamu baik-baik aja?"
"Perut aku agak sakit, Ma," keluh Dea.
"Nggak tahu, Hel."
Dea semakin merintih kesakitan, tak kuat bagi dirinya untuk berdiri. Citra buru-buru membantu Rachel untuk membawa Dea ke ruang tamu.
Setelah Dea didudukkan di sofa, Rachel menghubungi Dean tanpa buang waktu.
"Bang, ka Dea mau melahirkan, nih!"
Dean beranjak dari kursi kebesarannya, tiba-tiba berseru cemas, "Ya udah, bawa Dea ke rumah sakit. Nanti, gue sama papa bakal nyusul ke sana."
Rachel juga menghubungi Alena, dan Dean mengabarkan hal itu pada Reza, yang bergegas terbang ke Jakarta dengan pesawat.
Kelahiran anak pertama memang mendebarkan. Dean gelisah sepanjang jalan, menyetir dengan kecepatan tinggi, dan tak sabaran ketika jalan agak macet.
Papa yang duduk di sampingnya, tertawa kecil ketika melihat sikapnya itu. "Papa jadi ingat waktu mama melahirkan kamu. Papa jadi kacau, cemasnya bukan main ketika melihat mama kesakitan."
Dean menoleh sejenak. Lalu, papanya kembali melanjutkan.
"Nanti, kamu temani Dea melahirkan. Dia butuh kamu agar dia bisa tetap kuat melahirkan bayi kalian."
Dean berpikir sejenak, lalu mengangguk sambil berpikir. Ya, dia akan menemani Dea, disaat sedang melahirkan, maupun dikala susah dan senang, sampai maut yang memisahkan.
"Dea mana, Ma?" cecar Dean, yang bergegas menghampiri mamanya.
"Dia ada di ruangan ini." Mama menunjuk pada sebuah kamar yang ada di belakang mereka.
Dean langsung berlari menghampiri ruangan persalinan meskipun sebenarnya merasa gugup. Ia melihat Dea sedang berbaring kesakitan di ranjang, dengan ditemani oleh seorang suster dan dokter.
"Saya suaminya. Saya mau menemani istri saya melahirkan," kata Dean pada dokter.
Sang dokter mengijinkan. Dean cepat-cepat bergeser di samping kanan Dea, menggenggam tangannya yang penuh keringat dingin.
"Aku udah nggak kuat, Dean," gumam Dea.
Dean menatap wajah pucat Dea, mengelus kepalanya, dan mencium tangannya. "Kamu harus kuat. Di sini ada aku."
Dea mengangguk. Dengan sisa tenaganya, ia berusaha melahirkan bayi. Dean juga memberikannya semangat, mendoakannya dalam hati ketika mata Dea hampir tertutup karena tak tenaganya hampir habis.
Akhirnya, bayi berkulit putih dan bersih itu lahir. Tangisannya kencang, hingga terdengar sampai di luar. Orangtua Dea dan Dean, serta yang lainnya tersenyum sambil mengucap syukur.
Dean keluar dari ruang persalinan dengan wajah lesu. Aneh, bukannya senang karena sudah menjadi bapak, malah wajahnya masam gitu.
Citra menghampiri dan bertanya padanya, "Ada apa, Dean?"
"Anaknya bukan laki-laki, tapi perempuan," jawab Dean.
"Ya, ampun! Dikira kenapa?" gelak Citra. "Nggak apa-apa. Kadang prediksi dokter bisa salah. Dulu, waktu Mama melahirkan kamu, USG memperlihatkan bahwa Mama akan melahirkan bayi cewek. Eeeh! Pas lahir, bayinya ternyata cowok."
Ya, mau bagaimana lagi? Terpaksa Dean dan Reza merundingkan nama yang cocok untuk si bayi. Reza menghela napas ketika tahu bayi yang lahir malah bayi perempuan.
Bayi itu masih tak bernama sampai Dea dibolehkan pulang dari rumah sakit. Dea melihat kegalauan Dean, ketika pria itu sedang menatap layar laptop.
Berapa kali Dean mendesah, melihat deretan rekomendasi nama bayi di beberapa situs internet.
Dea menghampirinya, lalu merangkul lehernya dan memangku dagunya di pundak Dean. "Aku tahu harus kasih nama siapa?"
"Siapa?" tanya Dean, menoleh sedikit.
"Sebuah tokoh fiksi di novel yang aku baca. Davina."
"Namanya yang cantik."
Respons yang diberikan tampak jelas bahwa Dean merasa tak puas. Lantas, Dea berkata lagi:
"Nggak masalah namanya siapa. Yang penting, bayinya sudah lahir. Sekarang, kebahagiaan kita sudah lengkap."
Benar juga. Dean berbalik, tersenyum menatap istrinya. Ia meraih kening Dea, memberikan sebuah ciuman hangat untuknya.
"Ya, Sayang. Aku bahagia sekarang. Memiliki kamu, menjadi suami dan seorang ayah.
Dea tersenyum. Laptop Dean ditutupnya. "Kita tidur, yuk!"
Dean beranjak. Tanpa diduga, ia menggendong Dea, lalu berkata, "Yuk!"[]
...—Tamat—...
Em ... oke. Maaf kalo alur ceritanya mungkin terlalu terburu-buru. tapi aku merasa kalo mungkin sebaiknya tamat ceritanya dibab ini aja. Makasih yang udah baca, vote, komennya. maaf nggak bisa balas komenan yang lucu2. aku cuma bisa like komen kalian.
Sekali lagi, makasih banyak. kalau berkenan, baca novel aku yang lainnya. sampai jumpa di novel yang lain ya?