
"Iya," sahut Rachel. "Kalau Kakak mau, aku bisa masukin Kakak jadi karyawan magang di sana. Oh, iya! Abangku juga magang di sana."
Abang? Apa maksudnya pria yang bernama Dean? Aneh, papanya punya perusahaaan, kenapa mau aja jadi karyawan magang? Apa dia bodoh?
"Kok magang?" tanya Alena.
"Iya. Katanya mau belajar usaha dari nol." Kemudian, Rachel terkekeh. "Baru kali ini, dia berubah sedrastis itu? Dia menolak jabatan jadi direktur, padahal udah lulus kuliah di Inggris. Tapi dia malah milih jadi karyawan magang."
Alena terpukau. Ternyata pria nyebelin itu sedewasa itu, ya? Baru kali ini dia bertemu dengan cowok kayak gitu. Coba aja Dea pacaran sama tuh cowok.
🌸🌸🌸
Tiba-tiba Dean terbatuk dan hampir memuncratkan air yang diminumnya. Ia mengumpat, lalu mengelap mulutnya dengan tisu.
"Siapa sih yang ngomongin gue?" gumamnya.
Diliriknya jam yang ada di dinding. Tidak disangka sudah sore! Dean jadi teringat sesuatu. Dan sebelum lupa, ia segera mengirim pesan pada Dea.
"De, kapan periksa kandungan?" tulis Dean.
Dean mengetuk-ketuk mejanya dengan resah. Lama sekali gadis ini membalas. Memangnya, sedang apa dia?"
Ting!
Begitu mendengarnya, Dean buru-buru meraih ponselnya.
"Nanti sore." Begitulah jawaban pesan dari Dea.
"Kalau gitu, gue anterin, ya?"
"Nggak usah." Ish, gadis ini! Kalau giliran menolaknya, jawab pesannya cepat sekali.
Tapi, walaupun begitu, Dean tetap tidak akan menurutinya. Bertepatan pukul 4 sore, Dean segera bersiap, berlari ke pantri, menghadang Dea yang baru saja akan pulang.
"Dean?" tanya Dea, matanya membulat karena pria itu tiba-tiba muncul di depannya.
"Yuk!"
"Mau ke mana?" tanya Dea sambil berjalan duluan
Dean menyusul sambil menjawab, "Emangnya, harus jawab di sini?"
Dea terhenyak. Ya, ia mengerti dengan yang dimaksud oleh Dean.
"Kan aku udah bilang—" sahut Dea menahan rasa gemasnya.
"Bodo! Gue nggak mau dengerin!" Dean langsung menutup kedua telinganya.
Terserahlah. Dea juga menyerah. Kalau cowok ini mau mengantarkannya ke klinik, ayo aja deh!
🌸🌸🌸
Kata dokter, kandungan Dea sudah tiga bulan, bayinya juga dalam keadaan sehat. Melegakan. Dea bersyukur sekali.
Dean keluar dari ruangan dokter sambil tersenyum. Yah, itu karena dokter berkali-kali menyebutnya sebagai suami Dea. Yang lebih bagus lagi, Dea tidak memprotes.
Setelah menebus obat, mereka langsung pulang. Saat menuju ke tempat motor Dean terparkir, pria itu terus-terusan membuat Dea terpana.
"Hati-hati kalau berjalan. Usia kandungan lo masih rawan," kata Dean.
Dea diam sejenak. "Iya, aku tahu."
"Makan teratur, jangan makan sembarangan."
"Lo lagi ngidam nggak? Mau gue beliin apaan?"
Langkah Dea memelan, lalu berpikir, "Em ... kayaknya nggak ada."
"Biasanya, orang hamil suka rujak." Dean memberi ide.
"Aku nggak suka buah yang rasanya asam."
Ketika Dean sedang berpikir, tiba-tiba Dea tersandung. Dengan sigap, Dean menahan tubuhnya yang hampir saja terjatuh.
Dea terkejut, dan situlah pandangannya dengan Dean saling bertemu. Namun, kali ini ia tak menghindar. Ia nikmati ketampanan wajahnya dan senyum di bibir pria itu.
Entahlah perasaan apa ini? Dan ketika ia tersadar, ia merasa bahwa perasaan ini salah dan tidak seharusnya!
Ia buru-buru menegakkan badannya, lalu menjauh sedikit. Kekecewaan terlihat pada garis wajah Dean.
"Yuk, pulang," kata Dea, berjalan cepat dengan perasaan grogi.
"Dea, pelan-pelan! Tungguin gue!" seru Dean seraya berlari menyusulnya.
Tanpa mereka tahu, ada seseorang di balik sebuah tembok yang sedang diam-diam memotret mereka.
Beberapa pohon itu tersebar di kantornya, menyebabkan gosip dari mulut ke mulut para karyawan.
"Benaran, itu Dean sama OB itu!" seru seorang wanita berbaju putih, terkejut melihat foto itu dari ponsel temannya.
"Aku nggak nyangka Dean kayak gitu?" komentar gadis si pemilik ponsel.
Lalu, wanita berbaju abu-abu berkata dengan penuh kedengkian, "Paling si OB itu yang merayu Dean buat tidur sama dia."
"Jangan nuduh sembarangan ah!" tegur seorang karyawan pria yang berdiri di belakang ketiga wanita itu. "Siapa tahu cuma mirip."
"Tapi ya, kata si Heni, dia pernah melihat si OB itu lagi muntah-muntah di westafel."
"Si Rana juga pernah lihat."
Berita kehamilan Dea sampai ke telinga Winda, yang saat itu tengah melintas di dekat mereka. Ia tak habis pikir, tapi juga penasaran akan kebenaran gosip itu.
"Eh, lagi ngomongin apa?" tanya Winda, menghampiri meja mereka.
"Ini." Salah satu perempuan itu memperlihatkan foto-foto hasil jepretan orang misterius itu.
Winda terkejut, tak percaya. Namun, salah satu dari gadis itu menjelaskan dugaan mereka bahwa Dean yang menghamili Dea.
"Gue mau ke toilet dulu," gumam Winda, setelah mendengarkan ucapan itu.
Sambil berjalan, Winda memikirkan gosip itu. Jujur, ia tak mempercayainya. Ia tahu Dean jahil, tapi dia tidak sebejat itu. Dan Dea, mana mungkin dia hamil.
Maunya diabaikan saja gosip itu. Akan tetapi, suara seseorang sedang muntah terdengar sesampainya ia di depan toilet.
Ia mendelik. Pelan tapi pasti, memasuki toilet. Ia mengintip, dan kemudian melihat sosok wanita berseragam OB dengan jelas, sedang muntah di westafel.
Didekatinya sosok itu, lalu dipanggilnya dengan ragu. "Dea?"
Yang dipanggilnya menoleh dengan wajah pucatnya, menatap Winda yang agak syok.
"Ya, Mbak Winda? Ada yang bisa saya bantu?" Dea berkata sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangannya.
"Dea, kamu lagi hamil?"[]