When I ...

When I ...
Episode 54 - Percayalah



Rebecca melempar tasnya ke ranjang, hampir mengenai Tia yang sedang bermain ponsel.


Tia tersentak, lalu menoleh. "Kenapa lo? Kayak habis dipecat?" selorohnya sambil tergelak.


"Bingo! Gue emang dipecat," sahut Rebecca, ketus sambil membuka stokingnya.


Tia terlonjak, duduk di atas ranjang. "Lo nggak bercanda, kan?"


"Lo nggak lihat muka gue?"


"Cemberut. Tapi kenapa?" Tiba-tiba, ia kembali berseru, "Lo ngerayu Dean?"


"Malah, gue peluk dia!"


Tia syok. Sahabatnya ini sudah melewati batas!


"Gila lo! Bukannya gue udah bilang, 'BERHENTI JADIIN DEAN AMBISI LO!' Cari yang lain. Masa depan lo masih panjang. Lo bisa cari cowok setipe Dean."


"Yang kayak Dean itu nggak ada!" bantah Rebecca. "Dia sempurna. Tipe gue banget! Nggak ada satu pun cowok yang bisa disamain sama dia!"


"Emang. Tapi bukan berarti nggak ada yang jauh lebih baik dari Dean!" tukas Tia.


Rebecca mengambil bantal, menutup kedua telinganya yang panas sambil berbaring. Sementara Tia ternganga melihat ulah sahabatnya yang bebal ini.


-;-;-;-


Selingkuh. Hal yang terpikirkan oleh Dea ketika mencium aroma parfum yang bercampur di baju Dean. Aroma parfum wanita itu begitu menusuk, hingga menimbulkan kecurigaan.


Wajah pucat dan ekspresi kaget yang diperlihatkan Dean menambah dugaannya.


"Dea," jawab Dean gagap. "Aku akan jawab, tapi kamu harus janji untuk mendengarkan semua penjelasan aku. Setelah itu, terserah kamu; mau marah, mau cakar, atau bentak-bentak aku, silakan. Asal ... jangan minta cerai."


Dea semakin sesak. Jangan-jangan firasatnya itu benar! Namun, ia mengangguk dan memasang telinga, bersiap untuk mendengarkan apa pun yang mungkin menyakitkan hatinya.


"Kamu ingat Rebecca?" tanya Dean, menatap serius.


Rebecca? Apa wanita yang merusak kameranya, saat mereka bulan madu dulu adalah perempuan yang merayu Dean?


Dea mengangguk.


Dean menelan air liur, gugup, lalu perlahan berkata, "Waktu dia menggantikan kamera kita, dia bilang kalau dia suka sama aku. Dan sekarang, dia kerja di kantor sebagai sekertaris aku."


Perempuan itu begitu dekat dengan suaminya? Dea menutup mulutnya karena terkejut.


"Sehabis rapat, dia minta aku untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Alasannya, dia memiliki trauma karena pernah dilecehkan oleh supir taksi online." Dean melanjutkan. "Tapi sesampainya di depan di rumahnya, Rebecca peluk aku dan bilang cinta sama aku. Emang seganteng apa sih aku, sampai dia tertarik sama aku?"


Bibir Dea bergetar, air mata terjatuh tanpa terasa. Cobaan berat lagi menghadang di awal pernikahannya.


Dean tak tega melihat kesedihan di wajah cantik istrinya. Dibawanya Dea di dalam pelukannya, menenangkan kegundahan hati yang juga sedang dirasakannya.


"Kamu percaya aku, 'kan? Aku cuma cinta sama kamu, aku nggak mungkin mengkhianati cinta kita. Kamu tahu, 'kan, nggak mudah bagiku untuk mendapatkan kamu?"


Dea mengangguk. Perjuangan Dean begitu sulit untuk meluluhkan hatinya, hingga mereka bisa sampai di ambang pernikahan.


"Aku khawatir, Dean," gumam Dea. "Kalau Rebecca bisa merebut kamu dari aku...."


"Ssstt!" potong Dean. "Itu nggak akan terjadi. Aku sudah pecat dia."


Itu tidak cukup menenangkan hatinya. Dea melepaskan pelukannya, dan menatap Dean dengan cemas.


Dean menghela napas. Keraguan itu juga yang dipikirkannya. Meskipun begitu, ia berharap kalau Rebecca akan menyerah.


-;-;-;-


Bukan hanya Dea dan Reza yang makan siang bersama, tapi Dean dan Alena ikut juga. Dean meminta Dea untuk ikut karena ingin menamai bayi itu. Sedangkan Alena, memang sejak awal janjian sama Dea.


Tapi, kedua wanita itu justru pusing di antara dua pria yang saling mendebatkan masing-masing nama yang direkomendasikan.


"Nggak! Devan itu nama yang cocok buat anak gue," kata Dean.


"Anak lo?" sindir Reza. "Gue bapak kandungnya. Gue yang pantas ngasih nama anak gue."


"Nggak bisa gitulah!"


"Lo harusnya ngalah. Gue biarin anak gue pake nama belakang lo, sedangkan nama depannya harus dari gue!" Reza bersikeras.


Dean tersenyum sinis. Ia tetap tidak terima, sehingga perdebatan itu berlangsung cukup lama. Dea dan Alena sampai bingung dan bosan melihat kelakuan pria itu. Tak tahan lagi, Alena akhirnya turun tangan untuk menengahi mereka.


"Setop, setop, setoooooop! Lo berdua nggak berhak kasih nama."


Dean dan Reza menoleh padanya, lalu saling menyahut, "Terus, siapa?"


"Dea. Soalnya, Dea kan yang mengandung dan melahirkan anak itu," kata Alena.


Dean tersenyum menang. Kalau begitu, nama yang akan diambil Dea pasti nama yang direkomendasikannya. Ia yakin karena Dea istri yang patuh pada suami.


"Dea, menurutmu, siapa nama anak kita? Kamu setuju, 'kan kalau nama anak kita Devan? Biar kayak artis itu loh. Satu keluarga huruf depan namanya 'a' semua. Kita ikutin aja, ya, Sayang."


Reza dan Alena mencibir. Bibir ketus Alena gatal untuk menyindir:


"Emang kamu artis?"


Dean melirik sinis, tapi Alena tidak terintimidasi.


"Nah, Dea," seru Alena. "Kalau kamu, gimana? Ada nama yang kamu pikirkan?"


"Em ... Elvano," jawab Dea setelah berpikir lama.


"Kok, nama itu?" protes Dean.


"Emang apa artinya?" tanya Alena, tersenyum sambil memangku dagu, tampak tertarik.


"Anugrah dari Tuhan."


"Bagus tuh namanya!" seru Alena menyetujui.


Meski tak puas dengan keputusan itu, akhirnya Dean dan Reza menyetujuinya juga. Setelah itu, Dea meminta izin untuk ke kamar mandi. Alena menawarkan diri untuk mengantarkan Dea, tapi dia menolaknya.


Ketika Dea akan ke kamar mandi, dari kejauhan, ia melihat wanita berwajah familiar. Karena takut salah mengenali, ia tak mengindahkan dan lewat begitu saja di samping wanita itu.


"Kamu Dea, 'kan?" Wanita itu tiba-tiba menyapa, praktis Dea menoleh.


"Iya," timpal Dea ragu, kemudian mengernyit. "Apa kamu kenal dengan saya?"


Wanita itu mengulurkan tangan. "Saya Rebecca."[]