
Memangnya, kalau tanda-tanda orang jatuh cinta itu langsung berubah perilakunya?
Itulah yang diherankan oleh mamanya Dean.
Wanita itu berlari ke arah Dean yang sedang menuju ke garasi. Hampir saja dandanannya berantakan karenanya.
Dean melirik mamanya yang begitu cantik dengan setelan baju lengan panjang dan rok biru muda, juga make up ala ibu-ibu arisan.
"Mau ke mana, Ma? Kece banget?" Anak ini, sempat-sempatnya menggoda mamanya pagi-pagi gini!
"Antarkan Mama, ya?"
"Hayuk! Ke mana?"
"Ke tempat Jeng Nara. Kamu tahu, 'kan?"
Dean mengangguk setuju. Rumah teman mamanya itu tidak begitu jauh dari tempat kos Dea. Ia dan mamanya berjalan ke garasi mobil. Mama menghampiri mobil sedan hitam milik Dean, akan membuka pintu belakang mobil.
Wanita itu tercengang dan berhenti membuka pintu mobil lebih lebar lagi. Pasalnya, Dean duduk di atas motor, bukan masuk ke dalam mobil.
"Kamu ngapain, Dean?" tanya mamanya heran.
"Katanya mau pergi?" jawab Dean, lalu memakai helm.
Mama menghampiri, menatap skeptis. "Pakai motor?"
"Kenapa memang? Kan, biar akting aku sebagai anak magang jadi semakin meyakinkan."
Naik motor? Rambut yang sudah di-blow rapi, dan make up cetar membahananya jadi rusak kalau naik motor. Tidak usahlah!
"Pak Kardi! Pak Kardi!" Lantas, mamanya berteriak memanggil salah satu supir.
Pria kurus berkulit kuning langsat itu sigap menghampiri wanita itu. "Iya, Nyonya?"
"Antarkan saya ke rumah Jeng Nara!" perintahnya.
"Lho? Mama nggak jadi bareng aku?" tanya Dean cepat menyela sebelum mamanya beranjak.
"Emoh!" sahutnya merutuk.
Ya, sudah kalau begitu. Dean terkekeh, memutar kunci motornya, lalu melajukannya ke tempat tujuan utamanya. Ia tersenyum geli dan menduga-duga, bagaimana reaksi Dea saat ia menjemputnya dengan motor?
Tak lain dan tak bukan. Heran!
Dea menatapnya, memiringkan kepala dengan kedua tangan terlipat ke dada. Apa pria ini salah makan?
Benar, 'kan? Dean terkekeh melihat ekspresi gadis itu, sampai mengundang pertanyaan dari mulut Dea.
"Kenapa? Apa yang lucu?"
Dean mendeham. "Nggak. Cuma ... lo ngga nanya kenapa hari ini gue naik motor?"
Dea memutar matanya. "Iya, kenapa?"
"Karena mobil itu gue balikin ke pemiliknya." Dean tersenyum, terlihat santai, tapi sebenarnya ingin menunjukkan aktingnya.
"Balikin ke papa kamu?" timpal Dea mencemooh.
Waduh! Mati pucat Dean disentil begitu. Jangan bilang kalau Dea tahu kebualannya ini?
Melihat ekspresi Dean, gadis itu tersenyum sinis. "Jangan heran begitu. Semua orang sudah tahu status adikmu, yang merupakan putri kedua dari pengusaha tekstil tersebar di sekitar kampus."
Memang percuma membohongi seorang gadis cerdas. Kalau sudah ketahuan begini, Dean bisa bersikap santai.
"Iya, deh gue ngaku. Emang, gue anak dari pengusaha tekstil —"
"Dan anak pemilik perusahaan tempat kamu magang," tukas Dea, kemudian mengulurkan tangan kanannya seperti meminta sesuatu.
"Ini apaan?" tanya Dean melirik ke arah telapak tangan Dea.
"Helm buat aku. Kita nggak bakal sampai ke kantor kalau terus berdiam di sini, sedangkan waktu terus berjalan."
Benar juga! Bisa-bisa mereka terlambat gara-gara keasyikan mengobrol. Dean bergegas memberikan sebuah helm berukuran agak kecil yang berwarna putih pada Dea.
Sementara Dea naik ke atas motor, Dean memakai helm. Mesin motor dihidupkan, tapi Dean belum melajukannya.
"Udah siap?" tanya Dean, sedikit menoleh ke belakang.
Siap apa? Dea bergumam heran dalam hati. Tapi dijawab juga. dengan ragu. "Siap."
"Siap dari Hongkong!" celetuk Dean.
Dean meraih kedua tangan Dea, yang kemudian dilingkarkan ke pinggang. Setelah itu, ia berseru:
"Ini baru yang namanya udah siap! Pegangan yang kuat, jangan dilepaskan meskipun merasa risi. Oke?"
Terserahlah, Dea ikut saja. Memang, ia tidak nyaman dan canggung jika dalam posisi ini. Tapi benar kata Dean, lebih baik menyingkirkan egonya daripada nyawa yang tidak selamat.
Seperti kebiasaannya, selalu minta dikepoin sama Dea. Ia memberi sebuah pertanyaan padanya, yang tengah fokus pada jalanan di depannya.
"Dea. Lo nggak nanya, kenapa gue magang di perusahaan papa gue?"
Dea menghela napas. Pikiran tenangnya, sebenarnya, tak mau terusik oleh sebuah obrolan yang tidak penting untuk ditanggapi. Tapi terserah sajalah, Tuan Dean!
"Iya, coba cerita."
Dean tersenyum. Semangat untuk membanggakan diri di depan Dea muncul. "Ehem! Sebenarnya, gue pengin memulai semua karier gue dari nol."
"Em ... oke—" Dea mengangguk, bingung mau menanggapinya bagaimana lagi.
Dean melirik kecewa. Cuma itu yang terucap dari Dea? Tidak ada kata-kata sebagai bentuk penghargaan gitu? Atau paling tidak, bilang begini: "Itu baru bagus!".
Huft! Apa sedingin ini Dea padanya?
Kenapa mendadak diam? Sepertinya, Dea menyadari akan sikapnya pada pria itu. Jadi tidak enak hati.
"Ehem! Kamu unik," ujar Dea setengah hati.
Pria itu tertegun. Unik. Itu pujian atau cercaan?
"Maksudnya?" tanyanya minta penjelasan.
"Kebanyakan anak orang kaya itu manja, nggak mau hidup susah."
"Ada kok," tukas Dean cepat. "Elo yang terlahir dari keluarga berada nggak manja, dan nggak cengeng."
"Cara didikan orangtua kan beda-beda."
Dean tersenyum mencemooh. "Setelah anak lepas dari orangtuanya, anak yang akan mencari jalannya sendiri. Dan itu dipengaruhi oleh cara pemikirannya sendiri."
"Kata siapa?" sahut Dea, tersenyum sinis.
"Kata gue lah!"
Entahlah, apa kesimpulannya ini benar atau tidaknya. Sejak kecil, kasih sayang orangtuanya selalu ditumpahkan pada mereka. Akan tetapi, sifatnya dan adiknya berbeda. Dean terkesan agak manja, tengil, semaunya sendiri. Sedangkan adiknya, Rachel, lebih suka melakukan halnya sendiri, dan tomboy.
Didikan orangtua mungkin berpengaruh sebagian, tapi juga tergantung dari sifat turunan dari orangtua. Hanya saja, sifat Dean itu berasal darimana? Ayahnya seorang pria mandiri dan pekerja keras, dan ibunya seorang wanita cerdas yang anggun.
Namun, tak selamanya seseorang akan seperti itu. Memang terdengar klasik, tapi karena "sesuatu hal" itulah yang mengubah cara berpikirnya itu.
Enam bulan yang lalu, saat ia masih menganggur dan menghabiskan waktunya di Yogya. Setelah menjemput Rachel ke kampus, adiknya itu berusaha mengorek sesuatu hal darinya.
"Bang, lo beneran suka sama kak Dea?"
Dean tergelak sambip memutar pelan setirnya ke kanan. "Iya, gue serius suka banget sama dia."
Akan tetapi, Rachel tidak percaya, malah mencemooh. "Alah! Paling cuma cinta pagi ke sore aja. Sekarang cinta, eh ... besok ada yang lebih cantik lagi, udah lupa deh sama kak Dea!" Ia bersandar pada jok mobil.
"Yeee. Gue serius mermaid!" seru Dean. "Lihat muka gue! Tampan ganteng gini, masa lo nggak percaya."
Sama seperti Dea, Rachel benci sama orang yang tingkat kepercayaan dirinya tinggi seperti abangnya ini. Ia mencibirnya dengan setengah berseru:
"Musyrik percaya sama lo, Bang!"
Dean tertawa keras.
"Tapi, gue kasih tahu, ya. Kayaknya, persentase keberhasilan buat dapetin kak Dea itu cuma 1 persen deh!" Lanjut Rachel.
Yang didengar dari adiknya itu membuatnya sempat down, tapi tak lama. Dean sangat berterima kasih pada Tuhan karena memberikan mulut pedas kepada adiknya. Kalau bukan karena itu, pikirannya takkan terbesit untuk mengubah persentase keberhasilan 1 persen menjadi 100 persen.
Asanya memang sempat hilang sewaktu Dea pergi. Namun, harapannya begitu kuat untuk menjadikan gadis itu sebagai pemilik hatinya.
-;-;-;-
Belum cukup lima menit dari pukul delapan, motor Dean telah sampai di kantor. Saat motornya akan diparkirkan, dua orang gadis, yang juga karyawan di perusahaan ini, melihat mereka.
"Dean sama OB itu? Nggak salah?" sindir seorang gadis berbaju biru, yang bernama Sarah. "Mereka pacaran?"
Temannya yang bernama Yuli itu menaikkan kedua bahunya. "Bukannya Dean pacarnya Winda?"
"Nggak tahu juga. Ngakunya sih teman dekat."
Kebetulan, Winda memasuki lapangan parkir untuk mengambil barang yang ketinggalan di jok motor matiknya. Maka, tak sengajalah ia mencuri dengar ucapan kedua gadis itu, lalu ia melihat ke arah dua insan yang sedang mereka bicarakan.
"Kasihan Winda. Cintanya bertepuk sebelah tangan," komentar Sarah.
"Iya! Lagipula, tuh cewek pake susuk apa sih, sampai bisa deketin Dean?"
Keduanya pergi, lalu tak sengaja berpapasan dengan Winda. Wajah keduanya pucat, takut mendengar ocehan yang membawa namanya.
Namun, Winda bersikap wajar. Ia tersenyum dan menyapa, seolah tak terjadi apa pun. Setelah mereka membalas sapaannya dengan gugup, keduanya bergegas pergi dari hadapannya.
Winda masih bergeming di sana, melihat betapa mesranya Dean yang sedang membukakan helm untuk Dea. Tatapannya datar, siapa pun tak bisa menerka apa yang dipikirkan olehnya.[]